Saturday, January 13, 2018

SEPENGGAL EPISODE

Raisa gadis yang cantik, cerdas, dan ramah. Matanya teduh berbulu lentik. Berwajah oval, sebaris bibirnya yang manis berhias senyum. Anggun perawakannya, menyiratkan laksa pesona kemilau pelangi. Sesiapa yang memandangnya, akan berbilur pesona taresna karenanya. 

Aku, dengan segala yang ada, meretas puing-puing rindu di telaga hati yang paling dalam. Dengan wajah gelimis, membentuk raut yang biasa. Hanya memburai debu-debu jalanan, di balik suci cinta yang aku karamkan di hati Raisa. Begitulah! Cinta bermula rindu, dan desah seruling asmara pun bertaut puja, berkalang puji. 

"Aku mencintaimu, Raisa," kataku di saat senja berlabuh. Raisa diam. Berpaling pada raut senja yang mewarna jingga. Ada rasa sesak di dadaku. Entahlah! Raisa mungkin tidak mencintaiku. Aku harus memahami, siapa aku sebenarnya. Wajah awam dan harta pun tak ada. Maka, Raisa tidak mungkin memilihku sebagai kekasih, pangeran, dengan keistimewaan yang mewarna. Tetapi, biarlah, cinta ini berlabuh di dermaga tak berair, tanpa riak gelombang. Aku terhempas di lembah luka, nestapa.
*** 

Waktu menabuh perjalanan. Detak detik pun berlalu bersama garis-garis nasib sang insan. Akhirnya, labuh cintaku berhilir di hati Anna. Dialah tempatku berkeluh kesah. Menumpahkan sisa cinta yang tercampakkan. Dan Anna, menerimaku dengan segala adanya. Cinta pun berpeluk rindu, berkubang asmara. Begitu pun dengan Raisa. Wajahnya yang cantik tidak sulit untuk memperoleh pendamping hidup. Raffi, adalah tempat ia berlabuh. Dengan kemewahan harta yang melimpah. Semula, semua berjalan dengan harap dan asa. Namun, seiring sang waktu, Raffi yang termasuk play boy kelas jet-set, kembali pada gejolak tak puas hanya dengan satu wanita. Raisa pun tersisih, terbuang, dan bahkan tercampakkan. 

"Mau ke mana lagi, Mas?" Malam itu Raisa berkata pada Raffi yang berbaju necis, memasuki mobil avanzanya.
"Urusanku!" Ketus, acuh, Raffi  menjawab tanpa menoleh.
 Dada Raisa bagai dihantam berjuta peluru kendali. Hatinya miris, teriris sakit. Air mata membuncah, jatuh di pipinya yang halus dan cantik. Sesal pun terkuak dari hatinya yang terdalam. 

"Inikah balasan dari salah pilih?" Raisa paham, bagaimana sakitnya hatiku saat ditolak cinta. Bukan! Bukan hanya penolakan, tapi lebih dari itu, sebuah penghinaan. Aku dilecehkan. Aku dihinakan. Hanya karena aku bukan orang berharta. Tentu aku sakit hati. Tapi, begitulah kehidupan. Rencana Tuhan, jauh lebih lebih indah dari yang kita perkirakan. 
"Hanya karena aku miskin?"
"Tentu!"
"Tidakkah harta itu hanya titipan?"
"Itu menurutmu. Menurutku, harta itu yang akan membuatku bahagia!"
"Subhanallah," aku mengelus dada. Sakit!
*** 

Aku bahagia dengan keadaanku saat ini. Meski episode cinta pertamaku adalah Raisa. Tapi, Tuhan memberikan jalan lain untukku. Anna adalah yang terakhir, meski bukan yang pertama. 

"Mas, ada tamu di luar," Anna, istriku berkata pagi itu.
"Siapa?" Jawabku.
"Entah! Coba saja lihat di luar." Jawab istriku. Aku letakkan majalah sastra yang tengah kubaca. Kemudian aku melangkah ke luar. Betapa aku terkejut, ternyata di luar Raisa berdiri dengan raut kesedihan. 
"Kok ada di sini?" Aku bertanya heran padanya. Ia hanya menunduk. Raut wajahnya semakin buram, muram. Ada laksa kepedihan yang ia tahankan. 
"Mas, suruh masuk saja!" Istriku berkata dari dalam. Aku pun mengajak Raisa masuk. Ada rasa enggan pada mulanya. Tapi, setelah dipaksa, akhirnya ia pun mau. 
"Apa yang terjadi dengan dirimu, Raisa?" Di ruang tamu kami berbincang. Raisa terlihat begitu sedih. Dari kelopak matanya yang lentik, air mata membasahi pipi. Masih kelihatan sisa-sisa kecantikannya. Tentu, rasa itu, yang dulu pernah hadir di kelopak hatiku, masih terus membayang. Menampilkan diorama kisah cinta yang lalu terkikis oleh bingkai zaman. 
"Anna adalah bagian dari jiwaku," aku mencoba menenangkan pikirku dengan realitas hidup. 

Kemudian Raisa bertutur. Menceritakan kisahnya yang pilu. Hidup dengan Raffi adalah neraka. Tidak ada keharmonisan. Semua berakhir dengan derai air mata. Ia tercampakkan. Hatinya lebur, hancur oleh ulah suaminya. Kata-kata kotor begitu mudahnya terlontar. Pukulan dan tamparan begitu saja melayang. Begini salah, begitu salah. Tidak ada sejumput harmonis yang bisa ia dapatkan dari pernikahan itu. Raisa menyesal. Menangis di dalam pelukan Anna yang mencoba menenangkannya. Aku galau, di antara persimpangan pikiran yang tak bertuju. 

Entahlah! Aku menatap langit-langit rumahku. Siluet diorama masa lalu terbayang di benakku. Saat aku terdampar, terkapar oleh jalinan cinta yang terbakar. Sementara, di depanku kini, pelakon drama kehidupan cinta itu ada. Mengisahkan segala kemelut keadaan cintanya. Menceritakan penyesalannya. Dengan derai air mata yang terus tertumpah. Aku mengelus dadaku. Begitu sakit, bergetar amarah yang meluap. 

"Tak perlu Kau kasihani!"
"Maafkanlah! Ia telah menyesal dengan perbuatannya."
"Jangan! Ia perempuan yang telah mencampakkanmu!"
"Tidak! Memaafkan itu jauh lebih utama!" 

Begitulah! Keadaan menghentak hatiku. Dadaku bergoncang. Antara marah dan rasa kasihan. Aku berada di persimpangan. Ragu menghantam hatiku. 

"Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?"
*** 

Anna adalah yang terakhir bagiku. Dialah matahariku, mutiara yang selalu merbakkan bunga-bunga cinta. Aku mencintainya. Sungguh, aku adalah jiwanya. Dan dia adalah bagian dari jiwaku. Apa pun yang terjadi, Anna adalah sepenggal napas yang selalu kuhela dalam setiap tarikan detak jantungku. 

"Mas, sudah sekian lamanya kita menikah," kata Anna suatu hari.
"Ya, kenapa?" Jawabku acuh tak acuh.
"Tapi,...kita belum dikaruniai si buah hati."
"Tuhan belum berkenan."
"Aku khawatir, Mas!"
"Sabar, dan terus berdoa!" 

Memang benar. Sampai detik ini aku belum dikaruniai si buah hati. Seorang anak yang akan menjadi pelipur duka. Menjadikan suasana indah bersama celoteh nakal anakku. Itu semua hanya sebuah fatamorgana. Hayalan-hayalan yang terus saja membayang. Menghantam relung hatiku. Meski aku tidak pernah putus pengharapan, karena setiap aku dan istriku memeriksakan diri ke dokter, ia menjelaskan bahwa aku dan Anna, istriku, sehat-sehat saja. Hanya saja, Allah swt belum berkenan memberinya. 

"Aku rela,... Mas menikah lagi," senja ini Anna berkata sambil merebahkan wajahnya di bahu kiriku. Aku tersentak, kaget. Tidak percaya dengan apa yang ia katakan.
"Makdud kamu, An?"
"Raisa mencintaimu dengan sepenuh jiwa." Aku semakin terkejut.
"Tidak!" Kataku tegas. "Aku tidak ingin terluka untuk kedua kali. Dan Engkau tahu itu!" Aku tidak mengerti, mengapa tiba-tiba Anna berbicara begitu. Tentang Raisa, orang yang tidak ingin aku ingat lagi namanya. Tapi ini Anna yang memulai. Istriku yang sudah menjadi bagian dari darah dan dagingku. Aku tidak ingin menyakiti hatinya sedikit pun. Anna telah menyembuhkan luka dalam, di relung hatiku. "Tolong, jangan katakan itu lagi," aku memandang Anna. Di telaga matanya ada bulir air mata. Aku percaya, cinta Anna padaku tak akan pernah surut. Sampai kapan pun. Anna tersenyum. Teduh wajah itu berhias bibir takwa. Sebening biru langit di senja itu. Kemudian ia bertutur. Bahwa Rasul pernah bersabda;

"Cintailah seseorang itu secara biasa-biasa saja, karena bisa jadi orang kamu cinta menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah terhadap seseorang itu secara biasa-biasa saja, sebab bisa jadi orang kamu benci menjadi orang yang kamu cintai." 

Mengapa harus Raisa? Tak adakah wanita lain dari dia? Meski harus kuakui bahwa di balik benci tersimpan cinta, di balik marah ada rindu. Tapi, waktu telah mengikis segalanya. Aku telah berusaha tuk melupakannya. Dan itu bisa dengan datangnya cinta Anna. Oh, betapa sebuah si malakama. Ketika Anna, dengan mahkota cinta suci, menawarkan sebentuk cinta lama. Elegi kasih yang tumpah di alam mayapada. Aku gugu dalam mangu yang sunyi, sepi. 

"Sungguh! Aku ingin Raisa menjadi bagian dari kisah hidup kita." Anna kembali berucap tentang Raisa. Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi antara keduanya. Adakah konspirasi rahasia? Mungkinkah tersirat ikatan janji? Aku masih percaya Anna, sebagaimana ia tidak mungkin berbuat tidak baik terhadapku. Sekian lamanya aku berumah tangga dengannya, pastinya kami sudah paham luar-dalamnya hati kami masing-masing. 
"An, sebegitu pentingkah Raisa dalam hidupmu?"
*** 

Raisa terbaring tidak berdaya di ruang ini. Sebuah Rumah Sakit paling baik di kotaku. Bau obat-obatan khas menyeruak di rongga hidungku. Semula aku menolak diajak Anna untuk menjenguk Raisa. Rasanya sudah tidak perlu lagi. Tapi, Anna begitu merajuk. Ada semacam ikatan batin yang teramat kuat di antara mereka. Aku pun meloloskannya. Kupandangi tubuh Raisa yang tak berdaya. Selang infus menembus lengan kirinya. Tetes-tetes air itu kulihat satu-satu jatuh dari dalam tabung. Mengalir ke tubuh Raisah yang terlihat kurus. Kupandangi matanya, terpejam. Lentik bulu matanya masih terlihat. Bibirnya yang pucat, seakan menerbitkan senyum. Cepat-cepat aku berpaling. Sedikit demi sedikit mata Raisa terbuka. Air mata mengalir di pelupuk matanya. Anna dengan cekatan mengambil tissu dan membersihkannya. Raisa tersenyum. 

"Terima kasih An! Kau mau datang," bisik Raisa hampir tak terdengar.
"Aku datang bersama Mas ***r. Kau harus cepat sembuh!"
"Benarkah?" Sinar matanya berbinar. Wajahnya terlihat cerah. Ada gumpal bahagia karenanya.
"Benar, Raisa!"
"Maafkan aku, An!"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan!"
"Aku telah merepotkanmu!"
"Tidak! Aku tidak merasa repot."
"Tak ada duanya, hati yang setulus hatimu, An!"
"Lupakan saja!" 

Kemudian Anna menarik tanganku. Dipertemukannya tanganku dengan tangan Raisa. Aku menurut saja. Meski ini di luar mauku. Agama pun melarangnya. Tapi, kuanggap ini sebuah mudharat. Aku menggenggam tangan Raisa erat. Seakan kualirkan energi positif kepadanya. Kulihat mata Raisa kembali mengembang. Air mata mengalir deras. 

"Maafkan aku, Mas!" Aku tidak menjawab. Tepatnya, tidak mampu menjawab. Air mataku tumpah. Bagaimana pun, Raisa pernah ada dalam hidupku. Cinta Raisa pernah bersemayam di relung hatiku. Ia pernah mewarnai bilik hatiku dengan cinta. Sepenggal episode yang ia campakkan karena mengira cinta itu terdapat pada harta. Dunia telah menipunya. Tiba-tiba pegangan tangan Raisa lepas. Matanya terpejam. Sekuntum senyum terpaku di bibir indahnya. 
"Tidaaa....k," Anna menjerit sejadi-jadinya. Aku mendesah, "Innalillah wainna ilaihi roji'un." Para awak medis terburu-buru datang. Mereka berusaha merebut nyawa Raisa dari takdir. Bergumul dengan Malaikat Maut. Berupaya mengembalikan napas Raisa yang tersendat. Aku masih sempat melihat, senyum Raisa yang ranum. Dan lirik sinar matanya yang teduh ranau. 

"Adakah aku jatuh cinta lagi?"
***
x

No comments:

Post a Comment