Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com

Tuesday, February 12, 2013

APAKAH ALLAH SWT PERNAH EKSIS?

Blog / Apakah Allah SWT Pernah Eksis?

Banyak teman teman Muslim kita terlena atas hal-hal yang mendasar. Mereka menerima saja bahwa Allah itu ada. Allah itu berfirman kepada nabiNya. Dan Allah adalah Tuhan yang Mahakuasa. Memang Tuhan itu berbicara. Ia berfirman. Bila Ia BISU, maka konyollah umat yang mentuhankanNya!

 
TETAPI, Allah SWT sesungguhnya tidak pernah berbicara dengan Muhammad atau dengan umatNya di Arabia. Yang aktual berkata SEPIHAK hanyalah Muhammad sendiri, dan kata-kata ini disandarkan kepada sesosok Ruh yang tanpa jati-diri, yang mengatas-namakan lagi kata-kata tersebut sebagai wahyu, dari Allah SWT yang (sesungguhnya) bisu seribu bahasa. Muhammad dan Allah tidak saling berjumpa, tidak saling bersapa. Dan apa yang dialami oleh Muhammad disini adalah sejalan pula dengan pengalaman moyangnya Ismail, dimana Allah juga tidak pernah berbicara dengannya! Ismail tidak membawa Firman Allah. Ia tidak termasuk garis kenabian dan kitab. Ia juga bukan anak perjanjian yang telah Tuhan tetapkan bagi umat manusia lewat garis keturunan Ishak. Dan ini dikisahkan dalam Alkitab maupun Quran! (QS.29:27).

Selanjutnya, Allah SWT juga tidak Mahakuasa.
Semua Tuhan memang adalah pemilik kuasa adikodrati tertinggi. Per-definisi, Ia disebut Tuhan karena Ia adalah tuannya yang menguasai semesta alam. Tuhan tidak hanya berkata tentang diriNya: “I am the Almighty God”, tetapi justru harus membuktikannya. Bila tidak demikian, Ia bukan Tuhan sejati dan tidak layak disembah sebagai Tuhan.
Namun kembali Allah SWT hanya tuhan yang dislogankan Mahakuasa, dan disembah menurut slogannya, dan dipercaya bermukjizat dahsyat dengan firmanNya “KUN/JADI” dan dipercaya terjadilah itu. Tetapi lagi lagi sayang, faktanya sungguh tidak tersaji.  
Muhammad dan umat Allah di Arabia tidak pernah mendengar dan melihat bagaimana ALLAH SPEAK, (berfirman KUN), jadi bagaimana mereka  bisa melihat ALLAH DO (berbuat mukjizat)? Tak ada saksi mata yang melihat bagaimana Allah berkata sepatah kata KUN kepada Muhammad atau umat Arab, lalu itulah yang langsung terjadi didepan hidungnya. Semuanya kosong dari mukjizat.
Cukup  selintas saja untuk perbandingan dengan KUN-nya Yesus yang dicatat Injil:
“Dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang yang menderita sakit” (Matius 8:16). Atau dengan satu kata “Talita kum!” dan Ia membangkitkan orang mati! (Markus 5:41). Dan ini terjadi secara publik!

JADI, ALLAH EKSIS-KAH?
Sebetulnya, tatkala Allah SWT itu bisu dan tak berkuasa adikodrati, maka sudahlah cukup bukti bahwa itulah allah yang bukan Tuhan, by definition!
Tapi Quran, Muhammad dan Muslim tetap saja mengklaim bahwa ALLAH itu EKSIS, hadir dimana-mana, bahkan Allah dipercaya telah berkata:
“Kami lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya” (50:16).
Sayangnya itu hanya klaim kosong. Jangankan Allah ada sedekat urat leher setiap mahlukNya, bercakap-cakap satu kalipun tidak pernah Dia lakukan langsung kepada Nabi Terdekat-Nya! Walau nama nabiNya sempat disebutkan 4 kali dalam seluruh Quran, namun tidak seayat pun  Allah ada memanggil dia secara pribadi, berduaan, dan dekat, “Hai, (engkau) Muhammad…” .
Maka Islam tak dapat merujukkan manifestasi kehadiran Allah yang bisa dilihat atau dirasakan oleh Muhammad maupun umatNya. Allah bukan God that speak AND manifest Himself.
Allah-Islam tidak muncul dari eksistensi diriNya seperti yang disifatkan dengan istilah kekekalan “pada mulanya” (Kejadian 1:1, dan Yohanes 1:1), melainkan muncul dari Allah-pagan sesembahan orang tuanya, paman dan kakeknya dll yang tidak pernah masuk Islam, namun yang salah satu Tuhannya termasuk ALLAH (al-Ilah). Muhammad tidak pernah membatalkan sosok Allah pagan yang disembah orang-orang Arab. Ia malahan mengadopsikannya ke dalam Islam bersama dengan segala ritual-pagan seperti yang tampak jelas pada ibadah Haji, yang tidak dikenal oleh para nabi nabi sebelumnya.
Allah Islam dan Allah-pagan ini, Sama NAMANYA, sama KARAKTER-INTINYA.
Keduanya tinggal di BAIT yang sama.
Yang sama-sama bisu tidak berfirman.
Yang sama sama ditakuti dan dislogan sebagai “Yang Mahakuasa”,
tapi yang sama-sama pula tidak menampilkan ujud kuasanya yang bagaimana.
Beda Allah-Islam dengan Allah-Pagan sesungguhnya hanyalah satu bentuk reformasi Godship, ke-allahan yang tadinya politeistis kini secara misterius menjadi monoteis.
Allah Islam yang Esa disimbolkan oleh sisa tunggal hasil penghancuran 359 patung ilah-ilah lainnya oleh Muhammad di seputar dan di dalam Ka’bah. Muhammad menyisakan satu Batu Hitam disudut selatan Ka’bah yang sebelumnya juga merupakan sesembahan para pagan! Tidak ada orang yang tahu kenapa Muhammad menyisakan satu batu-wasiat, Batu Hitam eks-berhala yang pernah memberi dia kehormatan ketika dipindahkan ke sudut Ka’bah. Terlebih lagi kenapa batu itu harus diciumnya sambil memanggil nama Allah kepadanya:
“Labbaik allahuma labbaik” (Ya Allah atas panggilanMu aku datang kepadaMu, Hadis Muslim 1150)?
 
Muslim merefleksikan ini sebagai representasi dan lambang keberadaan ALLAH yang Tawhid. But how the existence of Allah could be represented by an idolized stone? Bagaimana Allah-pagan tiba-tiba bisa “direformasikan” hanya oleh ulah fisik Muhammad yang menghancurkan semua patung berhala kecuali SATU? Lalu yang satu itu boleh merepresentasikan ke-Esa-an Allah yang satu-satunya, yang berazazkan Tawhid? Semua ini hanya memperlihatkan betapa tangan Si dalang telah mewayangkan seorang tuhan yang berasal dari Allah pagan. Dan apabila sosok allah itu “seperti ada”, maka ia hanyalah hasil diada-adakan oleh manusia belaka!
Bandingkan dengan keberadaan Tuhan Alkitab yang menjumpai nabiNya,
yang juga ditegaskan di Quran, apalagi di Alkitab. Lihat betapa Allah hadir, eksis dihadapan para nabiNya:
ADAM, ketika Allah berkata: “Hai Adam… (2:33, 35; 7:19; 20:117, 120 dll)
NUH, dan Allah berkata: “Hai Nuh… (11:46, 48).
IBRAHIM, banyak dialog terjadi langsung… (2:124, 125, 126, 127-131, dll)
MUSA, banyak sekali dialognya menuntun Musa melawan Firaun dll. Cukup dikutib disini, “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (4:164)
ZAKARIYA, doa dan dialog langsung dengan Allah… (19:1-10)
YAHYA, dan Allah berfirman: “Hai Yahya…. (19:12).
ISA/ YESUS, bukan main banyaknya! Namun yang akan dikutib disini terambil dari Injil didua kejadian dahsyat yang berbeda, dimana Bapa Sorgawi muncul menampakkan keberadaanNya dihadapan saksi-saksi mata:
 “…terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “INILAH ANAK-KU YANG KUKASIHI, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:16-17).
“Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” (Lukas 9:35).

Akhirnya, sesungguhnyalah keberadaan Allah adalah kosong, dan ini diakui diam-diam dalam Buku yang tidak diedarkan lagi, yang berjudul “The Message of the Quran” yang setelah disertifikasi oleh Al-Azhar Al-Sharif Islamic Research Academy di Kairo (pada tanggal 27 Desember 1998), diakuilah oleh otoritas dengan rasa berat bahwa tidak ada bukti apapun untuk keberadaan Allah, dan memang tidak mungkin membuktikan-Nya.

Artikel ini dipetik dari: bacabacaquran.com

Apakah Allah SWT Pernah Eksis?

Apakah Allah SWT Pernah Eksis?

FHTH Miraj Dan Keagamaan Kita

FHTH Miraj Dan Keagamaan Kita


Hari ini, saya melihat agama tiba-tiba serupa dengan partai politik.
Yang dikedepankan adalah perburuan memperbanyak jemaah, kegaduhan menyerang (pihak) yang dianggap salah, seperti perusakan rumah ibadah yang sering terjadi ahir-akhir ini. Tak ubahnya parpol yang dibangun adalah wajah-wajah militan, laskar berani mati, dan kecakapan mengorganisasikan diri. Semakin militan, semakin dianggap religius, semakin berani “menyerang” keluar semakin dinobatkan sebagai pewaris para nabi...


(Dipetik dari tulisan Bp Asep Salahudin, Kompas 16 Juni 2012)

Relevansi Miraj justru terletak ketika sejarah pengalaman keberagaman sekarang jauh panggang dari api dengan nilai-nilai universal dan pesan substansial yang digemakan sang Nabi. Isra Miraj jadi semacam interupsi dari sikap “anomali” kita, dari perilaku keseharian yang kian jauh dari khitah agama yang otentik...

Mendiskusikan khitah agama hari ini justru penting ketika agama sudah kehilangan daya kritisnya. Agama sudah makin terpinggirkan dari kancah dinamika napas kemanusiaan. Andai pun agama hadir, yang acap kali tampil ke permukaan adalah agama yang sudah “dibajak” oleh kepentingan golongan (ormas) agama yang sudah tersandera oleh penafsiran yang serba tertutup, eksklusif. Nyaris yang muncul bukan suara agama seperti digemakan sang Nabi. Yang ada, lebih didominasi suara-suara yang sesungguhnya tak ada kaitannya dengan otentisitas agama, kecuali sekadar hasrat meneguhkan keunggulan kelompok, organisasi, dan laskarnya. Ya, agama yang sudah direduksi.

Hari ini, saya melihat agama tiba-tiba serupa dengan partai politik.
Yang dikedepankan adalah perburuan memperbanyak jemaah, kegaduhan menyerang (pihak) yang dianggap salah, seperti perusakan rumah ibadah yang sering terjadi ahir-akhir ini. Tak ubahnya parpol yang dibangun adalah wajah-wajah militan, laskar berani mati, dan kecakapan mengorganisasikan diri. Semakin militan, semakin dianggap religius, semakin berani “menyerang” keluar semakin dinobatkan sebagai pewaris para nabi...

… Fenomane globalisasi telah menjadi bagian dari budaya dunia (world culture) yang mengusung “budaya pop”. Salah satu tawarannya yang tidak kalah membahayakan dibandingkan dengan fundamentalisme fanatik dan bahaya laten komunisme adalah “agama pasar”. Tentu agama pasar yang menjadi poros kepercayaannya bukan lagi monoteisme dan kepasrahan kepada Sang Kuasa, tetapi dengan sempurna berkiblat kepada daulat uang: “Moneytheisme”…

Dalam agama pasar yang diperbincangkan bukan lagi karisma Tuhan, apalagi kehadiranNya (presence) yang “mengawasi” kita, melainkan tubuh dengan segenap aksesorinya. Tempat ibadahnya tentu bukan lagi di masjid, wihara, gereja, melainkan di mal, supermarket, hypermarket, dan pasar swalayan lainnya...

Ia merasa terpuaskan kalau “orang lain” berdecak kagum tentang aksesori yang dipakainya. Ia akan bangga seandainya orang lain menganggapnya berani berjihad ketika telah merusak tempat ibadah dan sekian tempat yang dianggap sarang maksiat...

Miraj sejatinya… membangun harmoni dengan sesama. Inilah khitah agama. Ini pula pembuktian kebenaran miraj seperti tercermin dalam sabdanya, “Mereka yang mengharap kasih dari langit harus menebar damai di Bumi”

ASEP  SALAHUDIN
Wakil Rektor IAILM
Pesantren Suryalaya
Tasikmalaya

Saturday, February 9, 2013

Mengapa Aku Tobat Dari Islam Liberal?


Mengapa Aku Tobat Dari Islam Liberal?
OPINI | 30 May 2012 | 04:48 http://stat.ks.kidsklik.com/statics/kompasiana4.0/images/ico_baca.gifDibaca: 2909   http://stat.ks.kidsklik.com/statics/kompasiana4.0/images/img_komen.gifKomentar: 112   http://stat.ks.kidsklik.com/statics/kompasiana4.0/images/ico_nilai.gif6 inspiratif
Dulu, diriku  termasuk anak muda yang mengandrungi pemikiran pemikiran produk Islam liberal, tapi itu dulu, sekarang aku  sudah tobat dari Islam liberal. Tentu ada yang bertanya,mengapa aku memutuskan tobat dari Islam liberal?

Dalam perjalanan hidup aku pernah merasa kebosanan yang amat sangat dengan kajian kajian Islam model lama kemudian tampa sengaja aku menemukan Islam Liberal, mereka menawarkan sesuatu yang ”baru” dalam mengkaji Islam.

Namun setelah ke sini sini aku pun menyadari bahwa ternyata apa yang mereka lakukan tidak lain hanyalah menyontek, ya, Islam liberal memang meniru Yahudi Liberal. Lihatlah bagaimana kaum Yahudi Liberal merontokan pondasi pondasi dasar agama Yahudi, di mana mereka setuju dengan pernikahan sejenis bahkan membuka jasa konsultasi pernikahan sejenis. Menurut mereka agama Yahudi bisa saja di rombak sesuai dengan perkembangan zaman.

Bandingkan dengan Islam Liberal, bagaimana mereka mendukung penuh Irshad Manji seorang aktivis lesbian, para aktivis Islam liberal juga telah menulis sebuah buku aneh yang mereka beri judul,” Indahnya kawin sesama jenis”. Apa enggak serem?

Kedepannya bisa jadi mereka akan merombak ajaran Islam secara besar besaran sebagaimana yang telah di lakukan oleh seniornya dari kalangan Yahudi Liberal. Tanda tandanya udah ada, lihat saja bagaimana mereka secara gigih mendukung RUU kesetaraan gender. Padahal sudah dari sononya laki laki dan perempuan itu beda.

Berbagai pemikiran aneh bin ajaib akan terus mereka keluarkan. Saat ini  banyak generasi muda Islam yang mengagumi Islam liberal, saya kira wajar aja mengingat generasi muda masih dalam proses pencarian.

Bersama kang Iyeng dan kang daniel, dua pemuda Islam yang aku kagumi,terutama kang daniel(berkaca mata) yang selalu membantu panti panti asuhan di tanah air.dok pribadi

Menurutku, Islam ya Islam, enggak ada Islam liberal, Islam moderat atau Islam radikal, itu semua adalah asesoris yang sengaja di tempelkan sehingga Islam tampak mempunyai banyak wajah.
Sekarang aku hanya menjalankan Islam tampa berminat lagi dengan pemikiran pemikiran aneh. PR umat Islam juga menumpuk, mengapa kita begitu asyik dengan dunia pemikiran yang melangit sedangkan kita sekarang masih tinggal di bumi?

Menurutku  menyantuni anak yatim, mengayomi fakir miskin lebih bermamfaat daripada tenggelam dalam dunia pemikiran aneh tapi tampa daya gerak dalam mengentaskan persoalan umat. Umat Islam yang miskin tidak butuh pemikiran aneh tapi mereka butuh uang untuk membeli beras dan minyak sayur.

Daripada tenggelam dalam dunia pemikiran yang aneh aneh mengapa kita tidak menyibukan diri membantu janda janda tua, abang abang becak, mbok mbok yang berdagang sayur. Daripada asyik masyuk dengan berbagai teori yang jelimet tentang Islam lebih baik kita terjun langsung ke lapangan, ikut bersih bersih lingkungan, mungutin sampah di jalanan atau membersihkan sungai sungai kita yang kotornya, nauzubillah.

Ya, sekarang aku lebih suka dengan generasi muda Islam yang mempraktekan Islam secara nyata daripada anak muda Islam yang kutu buku tapi diam saja melihat tetanganya kerja bakti. Aku lebih respek dengan generasi muda Islam yang bersih bersih got daripada anak muda Islam yang bangga paham berbagai teori teori tentang ajaran Islam tapi penampilannya dekil karena jarang mandi.

Aku suka dengan generasi muda Islam yang menjadi solusi nyata bagi lingkungan sekitarnya daripada generasi muda Islam yang asyik berdiskusi sampai pagi sehingga sholat subuhnya  kelewat. Aku senang dengan generasi muda Islam yang kamar kostnya tampak rapi dan bersih walau mereka tidak menguasai filsafat Ibnu Arabi. Daripada generasi muda islam yang katanya sudah banyak membaca teks teks berat tapi kamarnya berantakan seperti kapal pecah.

Sekarang, aku sudah tobat dari yang namanya Islam liberal dan kembali ke pangkuan Islam tampa embel embel.

Friday, February 8, 2013

DIALOG MUSLIM KRISTEN


DIALOG MUSLIM – KRISTEN
Kategori

Oleh: Ardiannur Ar Roya, Penggiat Diskusi di CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst)

Kebenaran Natal     

Kata Christmas (Natal) yang diartikan sebagai Mass of Christ atau disingkat dengan Christ-Mass adalah sebuah hari dimana dirayakan kelahiran dari “Yesus”. Biasanya rutin dilaksanakan setiap tanggal 25 Desember pada tiap tahunnya. Berbagai aktivitas pun dilakukan untuk memperingati hari ini seperti doa bersama, pesta, pohon natal, dan sejenisnya. Perayaan yang dilakukan oleh orang-orang kristen bahkan orang-orang non-kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma.

Pada dasarnya perintah untuk menyelenggarakan Natal tidak pernah ada dalam Bibel. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun sebenarnya merupakan hasil dari proses Sinkretisme (Penggabungan dua agama) antara Kristen Katolik dan juga budaya Paganis Politheisme Imperium Romawi pada saat itu. Ketika Kaisar Konstantin menjadi penganut Kristen Katolik, ia tetap tidak mampu meninggalkan adat atau kepercayaannya terhadap budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari kelahiran Dewa Matahari pada tanggal 25 Desember.

Karena itulah agar agama Katolik bisa diterima dan masuk ke tengah-tengah masyarakat Romawi maka dilakukanlah proses Sinkretisme tadi yakni dengan cara menyatukan perayaan kelahiran dari Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahirannya Son of God (Yesus). Kemudian pada konsili tahun 325, Kaisar Konstantin memutuskan untuk menetapkan bahwa tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran dari Yesus. Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik dan melakukan penyatuan kedua agama melalui proses Sinkretisme tadi, maka rakyat pun beramai-ramai memeluk agama Katolik. Bisa dikatakan ini adalah sebuah prestasi gemilang dari hasil proses Sinkretisme oleh Kaisar Konstantin dengan agama Paganisme Politheisme nenek moyang mereka. Pada akhirnya semenjak tahun 1100, Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di banyak negara-negara Eropa.

Budaya Latah dan Konyol ?

Sudah menjadi kebiasaan kalau tidak dikatakan budaya yang mengakar dan menyebar di rakyat Indonesia bahwa pesta atau perayaan terhadap satu momen itu sangatlah penting. Tidak hanya sampai di situ, rakyat Indonesia juga sangat terbiasa bahkan terbudayakan untuk memperingati berbagai hari-hari perayaan walau itu berasal dari asing.

Misalkan saja ketika kita masuk di pertengahan bulan Desember yakni minggu-minggu jelang 25 Desember, hari perayaan Natal. Kita bisa merasakan atmosfir yang terbentuk di sekitar kita ditujukan untuk memperingati dan menyambut datangnya perayaan Natal. Di jalan-jalan penuh dengan iklan ucapan selamat Natal, pergi ke pusat perbelanjaan maka kita disuguhi dengan suasana menyambut Natal mulai dari para karyawannya yang berpakaian seperti Santa Klaus, lagu-lagu rohani Kristen, dekorasi pohon Natal yang dihiasi dengan hiasan sedemikian rupa, dan lainnya. Bahkan media pun tidak lupa untuk mem-blow up akan perayaan Natal ini sedemikian rupa, disuguhi lah masyarakat Indonesia dengan film-film bernuansa Kristen dan Paganisme  Politheisme.

Kemudian ketika di akhir tahun, jelang tanggal 1 Januari. Kita mendengar bagaimana ramainya orang membicarakan apa yang ingin ia lakukan ketika tahun baru nanti, berpesta-pora menyambut tahun baru. Tahun baru memang dikatakan sebagai sebuah hari suci bagi umat Kristen di seluruh penjuru dunia, setiap tahun baru banyak orang di seluruh penjuru dunia keluar dari rumahnya kemudian meniupkan terompet, menyalakan kembang api, berpesta pora, dan mengucapkan “Happy New Year”. Hakikatnya, budaya ini telah lama dirayakan oleh orang-orang Yahudi jauh sebelum umat Kristiani merayakannya. Dan sekali lagi, di akhir tahun Indonesia benar-benar menjadi sebuah negeri yang  mayoritas muslim mendadak menjadi sangat kental ke-yahudi-annya.

Inilah fakta yang memprihatinkan dari sebuah bangsa yang ultra-latah. Bangsa yang ultra-latah ini akan sangat mengagungkan kebudayaan-kebudayaan dari asing di luar sana yang dianggapnya sebagai negeri maju dan berjaya, maka kemudian begitu mudahnya larut dengan budaya Natal, tahun baru, valentine, April mob, dan lainnya ke negeri kita. Hingga negeri ini memang pantas dikatakan sebagai sebuah negeri yang terjajah, mungkin tidak dijajah secara fisik namun tentu dijajah secara pemikiran. Benarlah jika dikatakan bahwa negeri yang terjajah akan mengikuti apapun yang dilakukan oleh negeri yang menjajahnya, termasuk kebudayaannya.

Mari kita pikirkan, apa hubungannya dengan mencontoh perayaan natal di bulan Desember, tahun baru di awal tahun pada bulan Januari, hari kasih sayang atau dikenal dengan hari Valentine pada pertengahan bulan Februari, april mob pada awal april, dan seterusnya dengan kemajuan yang mungkin bisa diperoleh oleh negeri yang mencontoh perayaan hari-hari tersebut? Tentu sama sekali tidak ada hubungannya. Lalu mengapa tetap dilakukan oleh rakyat Indonesia? Ya, inilah budaya ultra-latah dari masyarakat  Indonesia, sebuah budaya konyol.

Siapa Yang Intoleransi?

Natal merupakan perayaan yang seharusnya dikhususkan hanya untuk kaum-kaum Kristen namun berbeda dengan Indonesia. Berkat budaya latah serta pemikiran-pemikiran ‘nyeleneh’ dari segelintir orang maka Natal pun diopinikan sebagai sebuah ritual bersama bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa melihat ia seorang yang beragama Kristen atau tidak. Termasuk walaupun ia adalah seorang muslim.

Di satu kesempatan Nafsiah Mboy, Ketua Panitia Perayaan Natal Nasional sekaligus Menteri Kesehatan Indonesia usai bertemu dengan Presiden SBY, ia menyatakan bahwa Presiden SBY dan Wapres Budiono akan turut menghadiri perayaan puncak Natal Nasional yang akan diselenggarakan pada tanggal 27 Desember nanti. Mboy juga menyatakan bahwa presiden berharap penyelenggaraan puncak perayaan Natal 2012 ini bersifat inklusif, dan dapat dirasakan semua pihak, tidak hanya umat Kristiani. (antaranews.com, 7/12)

Pada kesempatan lain, mantan wakil presiden Jusuf Kalla yang notabene juga adalah seorang muslim menyampaikan dengan jelas ucapan selamat Natalnya pada masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pernyataan ini diucapkan bersamaan dengan kunjungannya ke NTT, yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. (voa-islam.com, 21/12)

Entah karena ketidak tahuan atau kesengajaan yang sengaja dilakukan dengan berbagai tujuan politisnya. Yang pasti  bisa mengedukasi pendangkalan aqidah umat muslim. Bagaimana tidak ? Melihat bagaimana ritual natal ini dijadikan sebagai sebuah ritual bersama yang bahkan dianjurkan sekali untuk juga dilakukan oleh umat muslim, minimal sekedar mengucapkan selamat natal dengan dalih toleransi, pluralism dan bahasa manipulative lainnya.

Bagi pemeluk beragam Kristen sah-sah saja merayakan Hari Natal ini. Tapi mempromosikan perayaan ini sedemikian rupa kemudian memberlakukannya untuk dan agar diikuti oleh semua rakyat Indonesia baik ia beragama Kristen atau bukan. Hakikatnya ini adalah tindakan intoleransi terhadap umat muslim. Kita lihat saja fakta di super market dan mall-mall serta pusat perbelanjaan lainnya yang tentu saja mayoritas pengunjungnya adalah umat muslim kemudian disuguhkan dengan lagu-lagu rohani umat Kristen terus menerus. Bahkan karyawan-karyawan sampai satpam tempat-tempat tadi yang mayoritas bahkan kita yakin ia beragama Islam, mereka diharuskan untuk memakai atribut Natal seperti topi Santa Claus, bajunya, dan lainnya.

Umat muslim pun diseru untuk mengucapkan selamat Natal bahkan bila perlu juga ikut merayakan dan memfasilitasi perayaannya. Ya, semua itu di bungkus dengan pujian menyesatkan bahwa umat muslim adalah umat yang tingkat toleransinya tinggi serta benar-benar nyata ikut berperan penting dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Konyolnya lagi jika umat muslim tidak melakukannya maka cap anti non-muslim, dan intoleran pun dilekatkan dengan sangat kuat.

Islam Menjaga Aqidah Umat Islam dan Menghargai Non Muslim

Dalam sebuah dialog menarik yang tersebar di berbagai situs internet serta jejaring sosial, ada pelajaran yang sangat baik pada dialog ini. Berikut cuplikannya :

Muslim                : Bagaimana Natalmu?
David                   : Baik, kau tidak mengucapkan Selamat Natal padaku? …..
Muslim                : Tidak, agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu,
        tapi masalah ini, agama saya melarangnya.
David                   : Tapi kenapa, bukankah hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain
        mengucapkannya padaku.
Muslim                : Mungkin mereka belum mengetahuinya. David, kau bisa mengucapkan “Dua
        kalimat syahadat”?
David                   : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu
        kepercayaan saya.
Muslim                : Kenapa? Bukankah hanya kata-kata? Ayo, ucapkanlah.
David                   : Sekarang, saya mengerti.

Dialog ini menggambarkan dengan sangat baik kepada kita tentang hubungan antara muslim dan non-muslim, khususnya berkaitan dengan Hari Natal ini. Logika yang sederhana namun cerdas cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda keyakinan ini.Sementara hari ini banyak orang yang dianggap “tokoh” masyarakat level Nasional/Lokal dari kalangan muslim karena sebab kebodohannya tampil sok humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan, pemimpin hebat kemudian mengucapkan “selamat natal” kepada umat kristiani tanpa disadari hal tersebut telah merusak akidah dirinya dan umat Islam.Tentu ini menabrak tuntunan Allah swt dan RasulNya.Sosok muslim yang kehilangan jati diri, “muslim KTP” yang eksis terlepas dari pakem dan manhaj hidup yang digariskan Rasulullah SAW.
Setidaknya ada 4 (empat) alasan mengapa aturan Islam melarang umatnya untuk mengucapkan selamat natal apalagi ikut merayakannya :

Pertama, Hari Natal bukanlah perayaan kaum Muslim.

Rasulullah telah menjelaskan dengan sangat tegas bahwasanya perayaan bagi Kaum Muslim hanya ada 2, yakni ketika Idul Fitri dan juga Idul Adha. Anas bin Malik RA berkata : “Ketika Rasulullah datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa Jahiliyah. Maka beliau berkata : Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian yaitu hari raya kurban (Idul Adha) dan hari raya Idul Fitri. (HR. Ahmad)

Telah jelas disampaikan oleh Rasulullah bahwa bagi umat muslim yang mengaku dirinya muslim dan beriman kepada Allah dan RasulNya maka baginya hanya ada dua hari perayaan besar disepanjang tahun. Tentu sebagai muslim yang taat, cukuplah petunjuk Nabi Muhammad Saw menjadi sebaik-baiknya petunjuk dan hanya itu yang kita jadikan panutan, dan cukuplah hanya yang berasal dari Allah dan RasulNya.

Kedua, mengucapkan Selamat Natal dan ikut merayakannya bahkan memfasilitasinya saja sama dengan menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa, beruntung, tercapai maksudnya, dsb.

Natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa al-Masih as) yang dalam pandangan umat Kristen saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan mereka sebagai orang kafir (QS. Al-Maidah : 72-75) yang tentu di akhirat kelak akan dijatuhi hukuman neraka nan pedih.

Umat Islam meyakini bahwa Nabi Isa adalah utusan Allah ke dunia, bukan anak apalagi Tuhan. Karena Demi Allah, Allah SWT tidaklah diperanakkan dan tidak beranak, ia Maha Esa dan Maha Kuasa, tak ada satupun yang mampu menandinginya bahkan tiada yang pantas untuk sekedar disamakan denganNya. Mengucapkan selamat Natal dan bahkan ikut merayakannya sama saja dengan mengakui apa yang dipahami oleh umat Kristen, dan sudah tentu itu adalah sebuah tindak kekufuran yang nyata yang bisa membuat pelakunya jatuh kepada kekafiran.

Ketiga, merupakan sikap loyal (wala) yang salah dan keliru

Loyal tidaklah sama dengan berbuat baik. Wala memiliki arti loyal, menolong, atau memuliakan orang yang kita cintai, sehingga apabila kita wala terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut. Oleh karena itulah, kekasih-kekasih Allah disebut pula sebagai wali-wali Allah.
Ketika kita mengucapkan selamat Natal, hal itu tentu dapat menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar lisan saja. Namun, seorang muslim secara tegas diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan orang kafir (QS. Al-Mumtahanah : 4). Bahkan Rasulullah pun dengan jelas mencontohkan kepada kita bagaimana Rasulullah dengan tegas mengingkari patung-patung sesembahan orang-orang kafir jahiliyah dan menghina sesembahan mereka serta menyampaikan bahwa yang patut disembah hanyalah Allah SWT dan Dia tidak perlu suatu perantara apapun.

Keempat, aktivitas mengucapkan Selamat Natal dan ikut merayakannya atau sekedar memfasilitasinya adalah aktivitas menyerupai orang kafir

Tentu bukan sesuatu yang aneh lagi jika pada faktanya ada sebagian muslim yang ternyata turut berpartisipasi dalam perayaan natal. Ketika di pasar-pasar, super market, mall-mall dan pusat perbelanjaan lainnya ada sebagian kaum muslim yang berpakaian dengan pakaian khas perayaan natal. Padahal Rasulullah Saw dengan tegas telah melarang kaum muslim untuk menyerupai kaum kafir. Sabda Rasulullah Saw : “ Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Alasan terpaksa karena pekerjaan atau takut dipecat menjadi alasan klasik yang kerap kali menjadi pembenaran untuk sebagian kaum muslim demi melakukan aktivitas menyerupai kaum kafir tadi. Padahal pekerjaan dan dipecat tidak ada hubungannya dengan rezeki yang Allah berikan, hal tersebut adalah sesuatu yang berbeda. Justru apakah demi segepok uang kita rela menggadaikan aqidah kita hingga kemudian kehilangan tempat di surga dan masuk ke neraka Allah SWT yang siksanya luar biasa pedih. Tidak adakah rasa takut terhadap hal tersebut hingga berani menggadaikan aqidah kita? Sesungguhnya Allah pasti akan mempermudah jalan hambaNya yang berusaha sekuat tenaga untuk taat pada aturanNya, termasuk mempermudah rezekinya.

Inilah alasan-alasan mengapa Natal tidak boleh ikut dirayakan oleh Kaum Muslim atau sekedar mengucapkannya. Walau begitu, bukan berarti Islam tidak toleran terhadap agama yang lain. Islam melakukan sebuah tindakan penjagaan aqidah umatnya yang memang menjadi ruh dan pondasi dari agama itu sendiri, dan kepada umat non-muslim yang lain, aturan Islam adalah aturan yang paling toleran dan tentunya menghargai perbedaan antar keyakinan beragama.

Islam tidak akan pernah memaksakan keyakinannya kepada pemeluk agama lain, bahkan sekedar mengganggunya. Karena sesungguhnya tidak ada paksaan untuk masuk pada Islam dan meyakininya. Bahkan dalam sistem negara islam yakni Khilafah Islamiyah yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh, mereka-mereka yang beragama selain Islam menerima perlakuan yang baik dan penghargaan yang luar biasa. Diperbolehkan bagi mereka melaksanakan keyakinan beragama mereka tanpa ada gangguan sedikitpun  tentunya dengan aturan tertentu, dan sekali lagi tidak ada paksaan bagi mereka untuk masuk pada Islam bahkan walau mereka berada di tengah-tengah negeri yang menerapkan aturan  Islam, Islam tidak akan pernah mengganggu mereka termasuk dalam perkara aqidah mereka. Karena itu Islam adalah agama yang toleran dan paling menghargai kepada agama selain Islam, namun tentu menolak pemahaman Pluralisme dan Sinkretisme yang merupakan satu pemahaman sesat dan tak layak diterima. Wallahu a’lam bi ash shawab.