Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Sunday, February 21, 2016

SMART SELLING TRAINING

SMART SELLING TRAINING
(Pelatihan Kecerdasan Menjual)

Terkendala oleh kondisi signal yang terperangkap di angkasa, entah jatuh ke mana dan entah pergi kemana, dengan sangat menyesal saya tidak bisa berperan serta dalam Kelas Hebat dari orang yang Hebat (Coach Zulfakar) untuk orang-orang yang hebat (peserta diskusi). Semoga saya juga termasuk calon orang hebat. Heheee,,,,

Materi smart selling adalah sebuah pelatihan yang mencerahkan, khusunya saya secara pribadi. Ada semacam ungkapan pencerahan bahwa dalam menjual ada hal-hal yang harus diperhatikan. Hubungan dan komunikasi personal adalah bagian dari sesuatu yang penting dalam hal ini. Begitu pun dengan gerak tubuh dan tatap wajah yang cerah, bergairah, dan penuh optimis merupakan hal lain yang harus kita perhatikan.

BOSSSS (berani, optimis, senyum, salam, sapa, dan sentuhan personal) adalah salah satu metode praktis dalam materi smart selling. Metode ini digagas oleh Coach Zulfakar , sebagai trainer handal dan hebat dalam Trainer OSB Corporation. Seseorang yang sudah sangat berpengalaman di bidangnya. Nah, dari Beliaulah saya mencoba untuk mengambil hikmah, manfaat, dan tata kelola penjualan sehingga mampu memberikan kebaikan untuk saya secara pribadi dan untuk orang-orang tercinta di sekitar saya.

1. Berani
Berani mengambil keputusan adalah salah satu bagian utama untuk sebuah harapan. Dalam hal ini adalah harapan untuk menjadi seorang seller yang baik. Yang memberikan manfaat untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

Berani mengambil keputusan artinya berani untuk mengambil resiko. Ada banyak keniscayaan setelah mengambil sebuah keputusan, tetapi hakikatnya tanpa adanya sebuah keputusan (baca: keberanian) tidak akan ada hasil yang dapat kita nikmati.

Berani mengambil keputusan adalah bagian dari kecerdasan personal. Ada keterampilan tertentu yang harus dijadikan sebagai karakter guna menjadi kebiasaan untuk tidak takut dalam mengambil sebuah keputusan. Berani menjadi bagian utama untuk meraih sebuah kesuksesan.

Berani bukan berarti harus bertindak gegabah. Karena tindakan gegabah adalah emosional keputusan tanpa adanya persiapan yang baik. Berani akan menjadi awal langkah untuk sebuah kesuksesan, sedangkan gegabah adalah sebuah kepastian kegagalan karena tindakan yang tidak cerdas.

Berani mengambil keputusan artinya sebuah ketetapan melalui suatu pemikiran. Rancang bangun sebelum mengambil keputusan telah dipastikan efeknya. Realitasnya keberanian adalah langkah awal positif untuk menghasilkan kesuksesan.

2. Optimis
Optimis adalah sebuah keyakinan akan sebuah harapan. Semacam kepastian dalam hal keputusan untuk melakukan hal terbaik di bagian penjualan. Selling adalah skill untuk mengajak seseorang tertarik kepada produk yang kita punya. Baik produk yang berupa materi atau jasa, akan menjadi prioritas untuk terus berupaya sukses.

Sehubungan optimis, betapa indahnya sebuah firman Allah swt dalam Surat Al-Inshirah;

“… karena. sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” (QS 94: 5-6)

Keyakinan yang membuat hati kita optimis untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Harapan seakan begitu nyata hingga tidak ada sedikitpun sikap pesimis untuk membelenggu keinginan yang kita idamkan.

Sebuah penjualan yang sukses diperlukan sikap optimis. Sebuah sikap yang akan mengantar kita pada gerbang kesuksesan penjualan. Pikiran kita disetting untuk menjadi bagian dari ke-optimis-an. Dan bagian dari optimis adalah kesuksesan penjualan yang mengagumkan. Demikian, Insya Allah!

3. Senyum
"Senyum itu shadaqah," (al-Hadits) adalah karena di balik senyum itu sendiri terkandung hikmah yang besar, luar biasa. Hingga Rasulullah saw menyatakan bahwa 'hanya' dengan senyum yang tulus, itu berarti kita sudah bershadaqah. Shadaqah adalah sebuah pemberian (biasanya berupa materi) kepada orang lain, dengan tanpa pamrih, semata karena Allah swt.

Senyum yang didasari oleh keikhlasan, benar-benar keluar dari hati nurani yang paling dalam, tanpa paksaan, dan tidak ada pamrih di balik senyum itu, maka tabassam itu akan melahirkan pikiran positif, jiwa yang bersih, semata untuk membangun sebuah istana cinta di atas pondasi komunitas sosial.

Senyum itu sungguh suatu hal yang sangat sederhana. Tidak perlu menguras energi, tanpa biaya sepeser pun, tapi jika dilakukan dengan hati yang tulus, semata-mata untuk keridhaan Allah swt, senyum itu akan mengalirkan energi positif yang dahsyat. Hati kita menjadi damai, hidup terasa tenang, karena energi positif pancaran dari senyum terus meliputi setiap gerak dan langkah kita.

Dalam penjualan diperlukan bangun komunitas senyum yang tulus.

Sebuah bangun komunitas sosial, hubungan yang harmoni, serta tautan keakraban dalam kehidupan bisa didasari oleh hati yang lapang, perasaan yang menerima, dan senyum yang tulus. Keindahan dari senyum yang terpancar dari hati yang paling dalam, akan menjadi perekat keakraban, dan menjadi penyemangat dalam koridor persaudaraan. Dari sebuah gerak bibir yang ikhlas, akan lahir sebuah hubungan yang erat mengikat. Satu dalam kancah kehidupan untuk mendapat nikmat "Mardhatillah."

Melalui senyum kita dapat membangun istana cinta kepada Allah swt. Senyum kepada-Nya dengan cara melaksanakan segala perintahnya, dan menjauhi segala larangannya (takwa). Berserah diri kepada Allah swt, selalu 'taqarrub', mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan cara zikir, shalat sunah, menyambung tali shilaturrahmi, dan lain semacamnya. Senyum cinta kepada Allah swt, adalah manefes  untuk selalu berada dalam tatanan hukum-hukum-Nya.

Begitu juga senyum dapat dibangun di atas cinta kepada Rasulullah saw. Dengan cara meneladani, menjadi generasi peneguh iman untuk selalu dalam kaidah sabdanya. Maka, senyum kepada Rasulullah saw adalah menjadikannya tauladan. Hingga takaran senyum itu termaktub dalam etika kenabian.

"Sesungguhnya aku diutus (Allah swt) untuk menyempurnakan akhlak mulia."

Begitu luas dan sempurnanya aplikasi senyum, sehingga senyum itu sendiri memiliki cakupan kehidupan yang lebih banyak. Kita pun akan tetap berada dalam lingkup harmonis pergaulan, jika saja senyum keakraban itu terus menghiasi wajah dan hati kita. Senyum yang tulus itu indah. Dan senyum yang indah adalah ibadah. Maka, istana cinta pergaulan pun semakin kuat dan kokoh. Sukses penjualan juga dipengaruhi oleh senyum yang ikhlas. Insya Allah!

4. Salam
Setelah senyum yang tulus, keceriaan wajah yang memancar indah dari sebuah komunikasi efektif, kemudian dilanjutkan dengan salam. Secara Islami, salam adalah kalimat "Assalamu'alaikum Wr. Wb." ungkapan khas muslim untuk mendoakan rekan atau metra bisnisnya. Memberikan salam artinya mengharapkan sebuah kebaikan untuk hidup dan kehidupan. Maka, dalam salam ada terkandung doa, yaitu saling mendoakan antara yang satu dengan lainnya. Dalam hal ini, tanpa kita sadari akan memberikan efek ikatan batin yang berpengaruh besar untuk komunikasi selanjutnya. Tetapi perlu dipahami bahwa kalimat-kalimat doa yang kita ungkapkan harus tulus, keluar dari hati yang paling dalam. Ikhlas untuk membangun sebuah hubungan timbal balik, antara penjual dan pembeli.

Salam adalah sebuah harapan kebaikan, baik untuk diri kita sendiri ataupun untuk orang lain. Dan kalimat harapan tidak harus pakem salam ala muslim. Kalimat-kalimat baik yang lainnya dapat dijadikan ungkapan doa untuk semua orang. Tanpa kecuali, baik muslim atau pun nonmuslim. Mereka perlu tambahan hidayah, meskipun hanya dengan ungkapan doa.

Tidak sulit untuk membiasakan kebaikan ini. Pun tidak perlu menguras tenaga dan apalagi menguras duit, hanya diperlukan kebiasaan untuk ikhlas memberi harapan, doa, dan keinginan lainnya.

Mari kita biasakan saling mendoakan, saling memberi salam, dan saling memberi pertolongan, maka di luar sana Sang Maha Penerima doa akan memberikan cinta dan kasih kepada kita, tanpa kita sadari. Percayalah, salam adalah ungkapan doa yang menjabarkan hakikat sebuah ketulusan, dan pastinya cinta.

5. Sapa
Ah, betapa tidak semua orang mampu memberikan sapaan keakraban untuk menjaga hubungan dan komunikasi yang baik. Tidak semua orang diberi kemauan untuk saling bertegur. Sapa terkadang menjadi sesuatu yang begitu mahal. Sulit dan tidak bisa dijadikan ungkapan yang mencerahkan.

Padahal, sapa begitu ringan. Hanya diperlukan ketulusan hingga menjadikan hubungan yang harmonis. Mampu berkomunikasi efektif, bermula dari awal sebuah sapa. Ungkapan sapa yang indah akan memberikan efek positif dalam sebuah kesuksesan penjualan.

Bayangkan! Jika ada seorang penjual tidak punya skill sapa bagi pelanggannya. Cepat atau lambat hal tersebut akan menjadikan ia pailit. Terafkir dari dunia penjualan, dan menjadi seorang penjual yang gagal. So, seorang seller yang baik adalah seorang yang punya kecerdasan menyapa kepada pelanggannya. Baik menyapa secara face to face, ataupun melalui media komunikasi. Semua punya arti tersendiri, meskipun yang pertama lebih baik karena secara langsung terlibat dalam komunikasi verbal.

6. Sentuhan personal
Menurut Coach Zulfakar, salah satu bentuk sentuhan personal adalah dengan cara penawaran langsung kepada pelanggan. Bisa datang langsung ke rumahnya, BBM, WA, Telepon, dan lain sebagainya. Dengan keterampilan ini (sentuhan personal) ada semacam bentuk pengakuan untuk sebuah pembicaraan yang intensif. Dimungkinkan, akhir dari sentuhan personal ini akan lebih mengarah kepada sebuah kesuksesan penjualan.

Sentuhan personal lebih kepada kemampuan seseorang untuk lebih intens dalam kaidah penjualan. Hingga akhirnya, penjualan yang kita tawarkan mendapatkan respon positif, dan sukses menjual menjadi kebanggaan tersendiri.

Tentu masih ada sentuhan-sentuhan yang lain, baik yang melibatkan diri sebagai penjual atau sang pelanggan (juga calon pelanggan). Begitu juga dengan sentuhan produk atau jasa yang kita tawarkan. Sentuhan-sentuhan tertentu terhadap bagian-bagian dari sistem penjualan akan memberikan efek positif untuk kelangsungan efektif sebuah penjualan.

Akhirnya, saya mohon maaf kepada Coach Zulfakar jika dalam jabatan ini tidak sesuai dengan dimaksudkan. Hanya karena keterbatasan pemahaman saya, sehingga tergelincir dari koridor yang diinginkan. Dan pastinya, ini adalah opini personal yang kebenarannya begitu bias. Tegur sapa menjadi bagian dari sebuah penyempurnaan karya. Mari kita tetap semangat, berkarya! Insya Allah. Amin!

Friday, March 6, 2015

HIDUPKAN SUKSESMU VS SUKSESKAN HIDUPMU

HIDUPKAN SUKSESMU VS SUKSESKAN HIDUPMU

Tanpa saya sengaja, dan inilah mungkin yang dimaksud dengan ‘luck’ dalam salah satu bahasannya BILLY BOEN, dalam bukunya “Hidupkan Suksesmu; Rangkuman Pikiran & Nilai Untuk Suskses”.  Ketidak-sengajaan saya adalah, tiba-tiba buku motivasi ini berada di tangan saya, dan saat ini masih dalam proses ‘baca’ saya. Saya berkunjung ke rumah teman, dan di atas sofa teman saya, tergeletak sebuah buku yang saya maksud. Tanpa ba-bi-bu, saya pun langsung terterik dengan judul yang tertulis di cover buku tersebut.

Sementara saya masih terus berusaha menelaah makna dari setiap artikel yang ada di dalamnya, saya merasa tertarik untuk kemudian menyentuh tuts laptop, dan menuliskan sesuatu yang terlintas di benak saya. Tentu, hubungannya dengan buku BILLY ini. Tentang sukses, tentang sesuatu yang harus dilakukan menuju kesuksesan.

Hidupkan Suksesmu berbeda dengan Sukseskan Hidupmu. Entahlah! Tiba-tiba saja terlintas di benak saya, frase kalimat Sukseskan Hidupmu, setelah membaca judul buku Hidupkan Suksesmu. Menurut pemahaman saya, terdapat perbedaan antara kedua frase di atas.

Hidupkan Suksesmu, berarti kesuksesan itu sudah ada pada diri setiap person. Hanya bagaimana kemudian, kita dituntut untuk menghidupkan yang awalnya ‘mati’. Atau men-survive-kan yang asalnya suri. Pada diri tiap orang, telah disematkan benih-benih sukses, yang kemudian hidup-matinya sukses itu tergantung kepada kerja dan karakter personal itu sendiri. Jika dihubungkan dengan ‘kemagnetan’ (kebetulan saya guru Fisika, dan saat ini tengah menjelaskan gejala kemagnetan kepada murid saya), maka magnet elementer itu sudah ada pada setiap bahan/benda. Hanya saja magnet elementer itu masih acak dan tidak dalam satu arah yang sama. Maka untuk menjadikan gaya magnet yang berdaya guna, diperlukan tiga hal; 1) digosok dengan magnet tetap, 2) dialiri arus listrik, dan 3) dengan cara induksi. Ketiga cara tersebut dapat diaktualisasikan sebagai bagian dari rencana manusia untuk menuju puncak sukses. Atau dengan bahasa Mas Billy, menuju “Young On Top”.

Sukseskan Hidupmu, berarti kesusksesan itu masih belum ada. Sama sekali, atau hanya sebagaian kecil saja. Jadi, menurut pemahaman saya, pemilihan judul ‘Hidupkan Suksesmu’ lebih berdaya makna daripada ‘Sukseskan Hidupmu. Tetapi, ini hanya sebatas wacana diri, yang bisa jadi dalam pemahaman dan pemaparan yang lain bisa kurang lebih sama, atau malah lebih baik untuk yang kedua. Gitu deh!





INDAHNYA BERBAGI

Mencermati buku Mas Billy ini, (maaf saya masih belum tuntas membaca, saat artikel ini ditulis),  terlintas dalam pikiran saya tentang arti besar dari berbagi. Baik itu yang berupa materi, atau hanya sebatas ikut prihatin, dan berbela sungkawa atas permasalahan orang lain. Baik itu tentang tanah longsor, sunami, kecelakaan, peperangan, dan lain sebagainya.

Kita tercipta sebagai makhluk sosial. Itu artinya, kita tidak bisa hidup sendiri. Kita pasti membutuhkan pertolongan orang sekitar. Untuk menolong, tidak harus menjadi kaya, atau tidak mesti menjadi seorang pejabat. Pertolongan begitu mudah, semudah kita ingin dan akan menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Mas Billy bukanalah seorang Muslim. Tetapi, untuk sekadar berbagi kebahagiaan, pada saat ‘LEBARAN’, Mas Billy tidak segan-segan untuk mengucapkan ‘SELAMAT LEBARAN’ bagi yang merayakannya. Berbagi kebahagiaan tidak harus seagama, namun senasib tercipta sebagai manusia adalah bagian terpenting untuk saling berbagi kebahagiaan. Maaf, bagi yang tidak setuju dengan pernyataan ini, saya tidak bermaksud untuk me-rival-kan, antara yang pro-ucapan selamat keagamaan dengan yang kontra. Mari kita terus berbagi untuk suatu kebahagiaan, karena hanya dengan cara berbagi, kita dibedakan antara human dan nonhuman. Mungkin, begitu!

Saya pun Berlinangan Air Mata, salah satu artikel yang sempat membuat hati saya terharu. Melihat dan memahami, betapa masih ada anak-anak di sekitar kita yang membutuhkan kasih. Meski kita bisa memberi tanpa mengasihi, tetapi kita tidak bisa mengasihi tanpa memberi. Anak-anak yatim, adalah mereka yang memerlukan kasih sayang kita. Memerlukan uluran lembut tangan kita. Agar mereka tidak merasa sunyi di antara hiruk-pikuk kehidupan dunia. Agar mereka memahami, bahwa masih ada kerabat ‘jauh’ yang peduli, dan bersedia berbagi kebahagiaan dengan mereka. Semoga!





UNTUK SUKSES BUTUH KEMAUAN YANG KUAT

Sukses, adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk direalitaskan. Setuju? Bisa jadi ada yang setuju, dan yang tidak setuju juga, mungkin, banyak. “Untuk Sukses Dibutuhkan Kemauan yang Kuat”, itu kata Mas Billy. Kemauan yang kuat tentu harus dibarengi dengan usaha (ikhtiar) yang maksimal. Adakah usaha yang tidak maksimal? Tentu! Kok bisa? Yeee....!

Saya seorang tenaga guru. Untuk mencapai taget pembelajaran, saya harus punya kemauan. Kemauan saja tidak cukup, tetapi harus kemauan yang kuat, disertai dengan ikhtiar yang maksimal. Tidak sedikit seorang guru yang punya kemauan untuk menuntaskan pembelajaran, tetapi, karena tidak disertai dengan kemauan yang kuat, maka goal tersebut tidak tersampaikan. Dan kesuksesan pembelajran hanya sebuah slogan yang terus didengungkan untuk sesuatu yang tidak tercapai.

Seorang nelayan, untuk mendapatkan ikan yang banyak (diinginkan), maka mereka harus berjuang, bertarung , dan berkorban untuk menaklukkan ganasnya gelombang dan badai. Dengan kemauan yang maksimal dan kegigihan yang benar-benar gigih, maka para nelayan akan memetik hikmah dari daya upaya dan kemauannya yang tertanam kuat di dalam dirinya. Akankah ikan yang diinginkan akan didapat? Jawabannya, entu ‘YA’.

Semula, saya adalah seorang perokok, Mas Billy juga. Terus, dengan sebuah tekat dan kemauan yang kuat, saya berusaha untuk berhenti dari kebiasaan kurang baik ini. Hasilnya? Alhamdulillah, sudah sekitar lima tahunan, saya tidak lagi menyentuh yang namanya ROKOK. Sama sekali, ya benar-benar ‘cerai’ dari yang namanya merokok.

Tentu, ada yang bertanya, “Kok bisa ya?” Jika ada kemauan, lakukan ikhtiar maksimal, maka jalan akan terpampang. Jika ada yang mengatakan, bahwa sudah seringkali mencoba untuk shutdown dari merokok, tapi tidak bisa dipisahkan dari merokok, maka kemauan itu masih perlu di-review agar menjadi sebuah will power untuk mencapai tujuan.



DITRAKTIR VS MENTRAKTIR

Satu lagi hal menarik yang sempat ‘in’ di benak saya adalah, “Ditraktir vs Mentraktir.” Anda lebih suka ditraktir atau mentraktir? Tentu jawabannya akan berbeda-beda. Ada yang suka ditraktir, ada juga yang suka mentraktir. Ditraktir, tidak perlu menjadi orang yang di bawah, miskin, atau status sosial yang lebih rendah. Ditraktir, bisa jadi atasan, orang yang lebih kaya, atau pun status sosial yang lebih baik daripada yang mentraktir.

Padahal, saya sependapat dengan Mas Billy, bahwa mentraktir itu bernilai ‘lebih.’ Ada ‘rasa’ yang mungkin tidak terungkapkan ke permukaan, manakala kita menjadi ‘lebih’ daripada ‘tidak lebih’.

Apa sih, kelebihan dari mentraktir? Rasa memberi, ya memberi adalah bagian dari kelebihan mentraktir. Di samping itu, mentraktir akan memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Dengan demikian, kita kembali kepada ‘ungkapan cinta’ yang harus dirasakan olah orang lain. Ungkapkan ‘cinta’mu, dengan sepenuh hati, ikhlas, dan tanpa pamrih. Maka, sunah alam akan memberikan ‘umpan balik’ untuk kembali ‘the best’ kepada diri kita sendiri. Gitu deh, mungkin!

Mentraktir adalah bagian dari rasa kasih. Cinta yang akan menghidupi suasana di sekitar kita. Biasakan mentraktir, dan jarangkan ditraktir. Karena dengan mentraktir, kita akan menjadi orang yang memberi. Sedangkan lebih banyak memberi, adalah salah satu bagian untuk mencapai kebahagiaan.


07/03/2015

HIDUPKAN SUKSESMU VS SUKSESKAN HIDUPMU

HIDUPKAN SUKSESMU VS SUKSESKAN HIDUPMU

Tanpa saya sengaja, dan inilah mungkin yang dimaksud dengan ‘luck’ dalam salah satu bahasannya BILLY BOEN, dalam bukunya “Hidupkan Suksesmu; Rangkuman Pikiran & Nilai Untuk Suskses”.  Ketidak-sengajaan saya adalah, tiba-tiba buku motivasi ini berada di tangan saya, dan saat ini masih dalam proses ‘baca’ saya. Saya berkunjung ke rumah teman, dan di atas sofa teman saya, tergeletak sebuah buku yang saya maksud. Tanpa ba-bi-bu, saya pun langsung terterik dengan judul yang tertulis di cover buku tersebut.

Sementara saya masih terus berusaha menelaah makna dari setiap artikel yang ada di dalamnya, saya merasa tertarik untuk kemudian menyentuh tuts laptop, dan menuliskan sesuatu yang terlintas di benak saya. Tentu, hubungannya dengan buku BILLY ini. Tentang sukses, tentang sesuatu yang harus dilakukan menuju kesuksesan.

Hidupkan Suksesmu berbeda dengan Sukseskan Hidupmu. Entahlah! Tiba-tiba saja terlintas di benak saya, frase kalimat Sukseskan Hidupmu, setelah membaca judul buku Hidupkan Suksesmu. Menurut pemahaman saya, terdapat perbedaan antara kedua frase di atas.

Hidupkan Suksesmu, berarti kesuksesan itu sudah ada pada diri setiap person. Hanya bagaimana kemudian, kita dituntut untuk menghidupkan yang awalnya ‘mati’. Atau men-survive-kan yang asalnya suri. Pada diri tiap orang, telah disematkan benih-benih sukses, yang kemudian hidup-matinya sukses itu tergantung kepada kerja dan karakter personal itu sendiri. Jika dihubungkan dengan ‘kemagnetan’ (kebetulan saya guru Fisika, dan saat ini tengah menjelaskan gejala kemagnetan kepada murid saya), maka magnet elementer itu sudah ada pada setiap bahan/benda. Hanya saja magnet elementer itu masih acak dan tidak dalam satu arah yang sama. Maka untuk menjadikan gaya magnet yang berdaya guna, diperlukan tiga hal; 1) digosok dengan magnet tetap, 2) dialiri arus listrik, dan 3) dengan cara induksi. Ketiga cara tersebut dapat diaktualisasikan sebagai bagian dari rencana manusia untuk menuju puncak sukses. Atau dengan bahasa Mas Billy, menuju “Young On Top”.

Sukseskan Hidupmu, berarti kesusksesan itu masih belum ada. Sama sekali, atau hanya sebagaian kecil saja. Jadi, menurut pemahaman saya, pemilihan judul ‘Hidupkan Suksesmu’ lebih berdaya makna daripada ‘Sukseskan Hidupmu. Tetapi, ini hanya sebatas wacana diri, yang bisa jadi dalam pemahaman dan pemaparan yang lain bisa kurang lebih sama, atau malah lebih baik untuk yang kedua. Gitu deh!





INDAHNYA BERBAGI

Mencermati buku Mas Billy ini, (maaf saya masih belum tuntas membaca, saat artikel ini ditulis),  terlintas dalam pikiran saya tentang arti besar dari berbagi. Baik itu yang berupa materi, atau hanya sebatas ikut prihatin, dan berbela sungkawa atas permasalahan orang lain. Baik itu tentang tanah longsor, sunami, kecelakaan, peperangan, dan lain sebagainya.

Kita tercipta sebagai makhluk sosial. Itu artinya, kita tidak bisa hidup sendiri. Kita pasti membutuhkan pertolongan orang sekitar. Untuk menolong, tidak harus menjadi kaya, atau tidak mesti menjadi seorang pejabat. Pertolongan begitu mudah, semudah kita ingin dan akan menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Mas Billy bukanalah seorang Muslim. Tetapi, untuk sekadar berbagi kebahagiaan, pada saat ‘LEBARAN’, Mas Billy tidak segan-segan untuk mengucapkan ‘SELAMAT LEBARAN’ bagi yang merayakannya. Berbagi kebahagiaan tidak harus seagama, namun senasib tercipta sebagai manusia adalah bagian terpenting untuk saling berbagi kebahagiaan. Maaf, bagi yang tidak setuju dengan pernyataan ini, saya tidak bermaksud untuk me-rival-kan, antara yang pro-ucapan selamat keagamaan dengan yang kontra. Mari kita terus berbagi untuk suatu kebahagiaan, karena hanya dengan cara berbagi, kita dibedakan antara human dan nonhuman. Mungkin, begitu!

Saya pun Berlinangan Air Mata, salah satu artikel yang sempat membuat hati saya terharu. Melihat dan memahami, betapa masih ada anak-anak di sekitar kita yang membutuhkan kasih. Meski kita bisa memberi tanpa mengasihi, tetapi kita tidak bisa mengasihi tanpa memberi. Anak-anak yatim, adalah mereka yang memerlukan kasih sayang kita. Memerlukan uluran lembut tangan kita. Agar mereka tidak merasa sunyi di antara hiruk-pikuk kehidupan dunia. Agar mereka memahami, bahwa masih ada kerabat ‘jauh’ yang peduli, dan bersedia berbagi kebahagiaan dengan mereka. Semoga!





UNTUK SUKSES BUTUH KEMAUAN YANG KUAT

Sukses, adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk direalitaskan. Setuju? Bisa jadi ada yang setuju, dan yang tidak setuju juga, mungkin, banyak. “Untuk Sukses Dibutuhkan Kemauan yang Kuat”, itu kata Mas Billy. Kemauan yang kuat tentu harus dibarengi dengan usaha (ikhtiar) yang maksimal. Adakah usaha yang tidak maksimal? Tentu! Kok bisa? Yeee....!

Saya seorang tenaga guru. Untuk mencapai taget pembelajaran, saya harus punya kemauan. Kemauan saja tidak cukup, tetapi harus kemauan yang kuat, disertai dengan ikhtiar yang maksimal. Tidak sedikit seorang guru yang punya kemauan untuk menuntaskan pembelajaran, tetapi, karena tidak disertai dengan kemauan yang kuat, maka goal tersebut tidak tersampaikan. Dan kesuksesan pembelajran hanya sebuah slogan yang terus didengungkan untuk sesuatu yang tidak tercapai.

Seorang nelayan, untuk mendapatkan ikan yang banyak (diinginkan), maka mereka harus berjuang, bertarung , dan berkorban untuk menaklukkan ganasnya gelombang dan badai. Dengan kemauan yang maksimal dan kegigihan yang benar-benar gigih, maka para nelayan akan memetik hikmah dari daya upaya dan kemauannya yang tertanam kuat di dalam dirinya. Akankah ikan yang diinginkan akan didapat? Jawabannya, entu ‘YA’.

Semula, saya adalah seorang perokok, Mas Billy juga. Terus, dengan sebuah tekat dan kemauan yang kuat, saya berusaha untuk berhenti dari kebiasaan kurang baik ini. Hasilnya? Alhamdulillah, sudah sekitar lima tahunan, saya tidak lagi menyentuh yang namanya ROKOK. Sama sekali, ya benar-benar ‘cerai’ dari yang namanya merokok.

Tentu, ada yang bertanya, “Kok bisa ya?” Jika ada kemauan, lakukan ikhtiar maksimal, maka jalan akan terpampang. Jika ada yang mengatakan, bahwa sudah seringkali mencoba untuk shutdown dari merokok, tapi tidak bisa dipisahkan dari merokok, maka kemauan itu masih perlu di-review agar menjadi sebuah will power untuk mencapai tujuan.



DITRAKTIR VS MENTRAKTIR

Satu lagi hal menarik yang sempat ‘in’ di benak saya adalah, “Ditraktir vs Mentraktir.” Anda lebih suka ditraktir atau mentraktir? Tentu jawabannya akan berbeda-beda. Ada yang suka ditraktir, ada juga yang suka mentraktir. Ditraktir, tidak perlu menjadi orang yang di bawah, miskin, atau status sosial yang lebih rendah. Ditraktir, bisa jadi atasan, orang yang lebih kaya, atau pun status sosial yang lebih baik daripada yang mentraktir.

Padahal, saya sependapat dengan Mas Billy, bahwa mentraktir itu bernilai ‘lebih.’ Ada ‘rasa’ yang mungkin tidak terungkapkan ke permukaan, manakala kita menjadi ‘lebih’ daripada ‘tidak lebih’.

Apa sih, kelebihan dari mentraktir? Rasa memberi, ya memberi adalah bagian dari kelebihan mentraktir. Di samping itu, mentraktir akan memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Dengan demikian, kita kembali kepada ‘ungkapan cinta’ yang harus dirasakan olah orang lain. Ungkapkan ‘cinta’mu, dengan sepenuh hati, ikhlas, dan tanpa pamrih. Maka, sunah alam akan memberikan ‘umpan balik’ untuk kembali ‘the best’ kepada diri kita sendiri. Gitu deh, mungkin!

Mentraktir adalah bagian dari rasa kasih. Cinta yang akan menghidupi suasana di sekitar kita. Biasakan mentraktir, dan jarangkan ditraktir. Karena dengan mentraktir, kita akan menjadi orang yang memberi. Sedangkan lebih banyak memberi, adalah salah satu bagian untuk mencapai kebahagiaan.


07/03/2015

Sunday, March 23, 2014

ANALISIS KONTEKS NASIHAT BIJAK



ANALISIS KONTEKS NASIHAT BIJAK
(Apresiasi terhadap sebuah wacana yang ditulis oleh Asma Nadia di Repubilka Online)


Tulisan ini bermula ketika saya membaca sebuah artikel di Republika Online (ROL), yang ditulis oleh Asma Nadia dengan judul: Nasihat Bijak yang Menyesatkan. Dalam KBBI saya, kata bijak adalah: selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir. Dengan demikian, maka nasihat bijak adalah nasihat yang didasarkan pada kebijakan logika, kepandaian dan kemahiran orang yang memberikan nasihat. Dalam tulisan Saudari Asma Nadia, nasihat adalah ungkapan dari orang tua terhadap anak. Dari guru kepada murid, juga dari orang yang lebih tua (senior) kepada orang yang lebih muda (junior). Maka, jika uangkapan (baca: nasihat) itu menyesatkan, maka tidak pantas lagi untuk diktatakan sebagai nasihat bijak. Lebih pas, kalau diungkapkan sebagai nasihat yang seakan-akan bijak, seolah-olah logis, atau nampaknya baik, tetapi sebenarnya “menyesatkan.”

Lebih jauh mari kita telaah pembahsana berikutnya. Kalimat “Yang penting kaya jiwa daripada kaya harta” atau “tidak perlu kaya yang penting bahagia.” Dalam pemahaman saya, kaya jiwa dan kaya harta adalah sebuah pilihan. Semisal dikatakan, “Anda suka kaya jiwa atau kaya harta?” Jadi, konteknya dalam hal ini lebih personal. Betapa banyak orang yang berharta, tetapi dengan harta yang ia miliki, karena tidak kaya jiwa, maka ia bisa frustasi bahkan yang lebih fatal bunuh diri (na’udzu biila min hadza). Memang, sebisa-bisanya, kita dapat memilih kaya jiwa sekaligus kaya harta. Dan ini adalah purna pilihan dari sebuah konteks penerapan dalam kehidupan. Namun jika tidak, tidak untuk kedua-duanya, maka kaya jiwa jauh lebih baik dari hanya sekadar kaya harta. Karena dengan jiwa yang kaya, maka harta masih bisa kita cari dengan usaha.

“Tidak perlu kaya yang penting bahagia,” ungkapan ini pun saya rasa tidak ada yang salah. Kebahagiaan dan kekayaan tidak selalu berbanding lurus. Bahkan Rasulullah saw, merasa kwatir jika ummatnya diuji dengan kekayaan. Dan beliau tidak merasa kwatir jika ummatnya diuji dengan kemiskinan. Hal ini pun terbukti, dalam sejarah kemunduran Islam, faktor utamanya adalah berkenaan dengan masalah harta, kekayaan, dan jabatan. Namun demikian, ikhtiar kita tentu saja mengacu kepada bahagia dalam kekayaan, atau kaya dalam kebahagiaan.

Rasulullah saw bukan tidak kaya? Benarkah? Kalau begitu Rasulullah saw kaya? Secara pemerintahan, Rasulullah saw mempunyai akses keuangan yang sangat luar biasa. Benar memang. Tetapi, kalau Beliau dikatakan sebagai orang kaya, sebentar dulu. Dalam sejarah kenabian kita, sudah tidak asing lagi, bagaiman kondisi rumah tangga Beliau. Bisa jadi hari itu Beliau berpuasa, hanya karena tidak ada sarapan di pagi harinya. Bahkan suatu ketika, Beliau mengganjal perutnya dengan bongkahan batu, hanya karena Beliau ingin menahan rasa lapar. Masih pantaskah Rasulullah saw dianggap kaya? Jika pun pada saat Beliau tidur, bekas pelepah kurma masih terlihat di tubuhnya. Seorang pemimpin (tertinggi) tidur beralaskan pelepah kurma? Berbeda jika Beliau berada di pihak rakyat, sebagai pemimpin pada masanya. Maka, dengan kebijakan ekonomi yang Beliau punya, tidak sedikit dari orang-orang kaya di sekitar beliau yang rela untuk mentasharrufkan (membelanjakan) hartanya di jalan fisabilillah. Secara pemerintahan, pada saat itu Islam berada dipuncak ‘ekonomi’ yang paling mengesankan.

“Rezeki tidak keman” atau “Memang Belum Rezeki.” Saya memahaminya sebagai ungkapan atau nasihat agar seseorang tidak tamak. Apa pun harus ia lakukan, dengan beragam cara, untuk memperolah rezeki. Tentu model karakter personal yang seperti ini tidak dipandang baik. Setidaknya, sebelumnya terdapat ungkapan pengantar, “Jangan terlalu berlebihan dalam bekerja. Seimbangkan dengan istirahat, shalat, dan juga untuk keluarga. ‘Rezeki tidak akan keman, kok!’”  Atau juga bisa diberi pengantar,”Jangan berputus asa. Usahakan lagi dan lagi. Jangan lupa berdoa, karena itu ‘Memang Belum Rezekimu!’” Ungkapan ini lebih kepada nasihat seseorang kepada orang yang diberi nasihat agar tidak berputus asa dalam mencari rezeki. Sehingga, ia (yang diberi nasihat) tetap semangat, berusaha, juga tidak lupa berdoa.

“Kalau jodoh nggak kemana” atau “Memang bukan jodoh.” Dalam sebuah keterangan (Hadits?) dijelaskan bahwa ada 3 hal yang telah ditentukan oleh Allah swt dari sejak azali. Yaitu rezeki, mati, dan jodoh. Maka ungkapan ‘Kalau jodoh nggak kemana’ atau ‘Memang bukan jodoh,’ adalah nasihat kepada seseorang yang telah berusaha maksimal, dengan segala daya untuk mendapatkan si dia, akan tetapi pada akhirnya ia gagal. Maka, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, semisal frustasi, tekanan batin, atau bahkan bunuh diri, dan bisa jadi mengeluarkan jurus ‘perdukunan’, maka ungkapan atau nasihat di atas, rasa-rasanya pantas untuk diberikan. Tentu saja, konteks permasalahannya bukan kepada keputusasaan, untuk tidak berbuat banyak demi mendapatkan harapan ‘cinta’ yang ia inginkan.

“Tuhan saja memaafkan.” Nasihat ini tidaklah salah. Karena sudah jelas Tuhan itu bersifat Al Ghaffar (maha pengampun). Tentu saja konteksnya akan lain, jika kalimat bijak (benar-benar bijak) ini dimaksudkan untuk hanya sekadar alibi terhadap sebuah kesalahan. Misalnya, seseorang selalu berbuat salah, dan selalu meminta maaf. Setelah maaf diberikan, lagi-lagi ia berbuat salah. Maka, orang dengan karakter seperti ini tentu tidak dalam konteks pembahasan maaf memaafkan. Intinya, memaafkan kesalahan orang lain itu sebuah hak, sedangkan meminta maaf atas kesalahan diri adalah sebuah kewajiban. Orang tidak akan dikatakan jelek, andai saja ia menggunakan haknya.

Akhirnya, tulisan ini tidak dimaksudakan sebagai pembanding dalam sebuah wacana atau artikel. Hanya sebagai bentuk menemukan korelasi yang benar terhadap sebuah uangkapan/nasihat. Dan tulisan ini, bukan sebuah kebenaran mutlak, karena mutlak benar itu adalah tidak mungkin, sedangkan kebenaran mutlak hanya milik Allah swt. Jabarkan sebuah nasihat bijak, sesuai dengan konteks personal yang kita hadapi. Insya Allah, wallahu a’lam bisshawab.


Sumenep, 23 Maret 2014


Sunday, February 16, 2014

RAHASIA MENJADI GURU HEBAT REALISASI MENUJU GURU PROFESIONAL YANG BERTANGGUNG JAWAB



RAHASIA MENJADI GURU HEBAT
REALISASI MENUJU GURU PROFESIONAL  YANG BERTANGGUNG JAWAB


Sumber gambar: http://manadolink.com/2013/07/28/gila-ada-orang-mati-terima-sertifikasi/



Menjadi guru yang sukses, yang dapat dipertanggung-jawabkan tidak segampang membalik telapak tangan, tetapi tidak sesulit mengeringkan lautan. Jika secara maksimal kita berusaha, menjadikan peran serta dalam kancah pedagogik dengan kerja prima, mengoptimalkan kapabilitas yang kita miliki, maka menjadi guru yang hebat, sukses, yang dapat dipertanggung-jawabkan bukan sesuatu yang tidak mungkin. Kemuskilan adalah sebuah tantangan, kesulitan adalah bagian dari proses, yang pada gilirannya akan mendatangkan kesuksesan besar, keberhasilan yang gemilang. 

Guru yang hebat adalah guru yang memiliki kriteria ; menyelesaikan tugasnya dengan nilai 100, menjadikan siswanya pintar secara kognitif, membangun kecerdasan afektifnya dengan baik, dan membentuk landasan psikomotornya dengan sempurna. 
  
Guru yang hebat dapat menyelesaikan tugasnya dengan nilai istimewa. Tugas dari seorang guru adalah ; sebagai pengajar, sebagai  pendidik, sebagai pejuang akademik, sebagai duta ilmu pengetahuan, dan sebagai pencerdas bangsa. Pendidik dan pengajar adalah dua kata yang berbeda, sekalipun juga ada kesamaannya. Pendidik lebih cenderung kepada aktifitas etika, moral, dan tingkah laku. Sedangkan pengajar, lebih berafiliasi kepada kecerdasan pengetahuan. Siswa yang cerdas belum tentu terdidik, dan siswa yang terdidik jauh lebih baik dari siswa yang hanya mengandalkan kecerdasannya. 

Korupsi, kolusi, dan nepotisme seringkali dilakukan oleh orang-orang yang cerdas tapi tidak terdidik. Pengamalan etika-moralnya benar-benar tidak terwujud, tingkah laku sopan santun dalam analis positif kinerjanya, benar-benar tidak ada. Sehingga yang terjadi adalah menghalalkan segala macam cara untuk memperkaya diri sendiri, atau melakukan banyak taktik yang cenderung ingin senang dan menang sendiri. Jika tekanan pendidikan lebih besar dari pengajaran maka kecenderungan menjadi apatis terhadap orang lain akan jauh lebih mengemuka. Hal logika seperti ini perlu dihindari, karena yang lebih optima adalah adanya keseimbangan antara kognitif, afektif, dan psikomotor. 

Hal-hal yang perlu dipahami, dicermati, dan diimplemintasi untuk menjadi guru yang hebat adalah sebagai  berikut :
1.      Mengenali potensi diri
2.      Mempunyai mimpi (cita) untuk menjadi hebat
3.      Membuat perencanaan yang matang
4.      Menguasai teori kounikasi  dengan sebaik-baiknya
5.      Mempu membangun team work yang kuat
6.      Mampu membangun networking yang kuat
7.      Menguasi metode pembelajaran dengan baik
8.      Mampu mengelola pembelajaran dengan baik
9.      Mempunyai semangat belajar yang kuat

Mengenal potensi yang ada pada diri sendiri adalah hal yang perlu kita pahami. Potensi adalah kemampuan yang datangnya dari dalam diri kita sendiri. Dengan mengetahui dan memahami potensi yang kita miliki, maka kita dapat memaksimalkan potensi tersebut untuk menjadikan kita sebagai guru yang hebat. Jika kita tidak mampu mengenal potensi yang ada pada diri kita sendiri, maka kita hanya akan menjadi guru yang biasa-biasa saja, atau bahkan cenderung apatis terhadap kondisi siswa yang seharusnya kita didik, bina, dan dikembangkan ke arah pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotor.

Mempunyai mimpi artinya mempunyai angan-angan atau cita-cita. Dengan ini kita akan termotifasi untuk menjadi guru yang hebat-profesional. Bermimpilah untuk menjadi guru yang hebat, maka mimpi itu akan menjadi kenyataan. 

Membuat perencanaan adalah sebuah karakter dari guru yang hebat. Perencanaan yang dikelola dengan matang, baik, dan terjadwal akan menghasilkan value yang maksimal. Rencanakan setiap kegiatan dalam proses KBM, maka hasilnya akan terlihat jauh lebih baik dari sebuah aplikasi yang dilakukan tanpa sebuah rencana. Jadi, perencanaan adalah sebuah energi yang akan membangkitkan semangat, kerja/kinerja, serta hasil yang memuaskan.

Untuk menjadi guru yang hebat, pahamilah teori komunikasi, kuasailah teknik-teknik mengajar, harus mampu membangun team kerja yang baik, harus memiliki kemampuan networking dengan dunia luar, menguasai pembelajaran sekaligus materi pelajaran, serta mempunyai tekat semangat untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan.

Pentingnya Etika Bagi Seorang Guru

Guru juga harus mempunyai etika yang dapat dipertanggung-jawabkan. Hal ini agar di mata para siswanya ia terlihat sebagai seorang yang patut ditiru dan digugu. Pantas dijadikan sebagi teladan sekaligus pahlawan. Sosok seorang guru adalah cemin bagi para siswa, bahkan oleh elemen masyarakat di lingkungannya. Maka mengatur ritme pembicaraan, irama dan norma ungkapan dalam kalimat perlu mendapat perhatian yang serius, yaitu terindikasi sebagai ucapan yang berkesan normatif. 

Penampilan fisik seorang guru juga perlu di perhttikan, seperti pakain yang rapi dan sopan, rambut yang tercukur rapi, kuku yang terpotong bersih, serta tingkah laku (body language) yang menunjukkan sikap dan pribadi seorang guru.

Makan dan minum, menjaga karisma sosial, teknik dan strategi pergaulan, dan semua aktivitas yang lain ; ibadah, berjalan, duduk, masuk dan keluar WC, dan lain sebagainya harus disesuaikan dengan norma agama, masyarakat, dan norma bangsa yang beretika (berakhlak) mulia (innam bu’itstu liutammima makarimal akhlaq), sabda Rasul SWA, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan/memperbaiki akhlak.

Guru adalah Pendidik Profesional dengan  tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sesungguhnya peserta didik mengharapkan guru yang menyenangkan, pintar, disiplin, komonikatif, simpatik, murah senyum, adil/tidak pilih kasih, tidak galak, humoris, dan menarik. Aplikasi karakteristik ini semua akan menjadikan seorang guru yang disenangi, dicintai, dan diminati oleh peserta didik. Sehingga keberadaannya akan menjadi dambaan, dan ketiadaannya akan menjadikan kegelisahan. Bukan ‘wujuduhu kaadamihi’ ada dan tiadanya sama saja, artinya guru yang biasa-biasa saja, atau bahkan guru yang adanya justru menjadikan peserta didik merasa risih atau tidak berminat.

Membangun Kewibawaan Guru

Guru adalah sosok yang dituakan, harus memiliki karakter kharismatik, serta kewibawaan yang harus diprioritaskan di hadapan para peserta didik. Dengan kewibawaan yang nampak pada sosok diri seorang guru, maka kepercayaan peserta didik akan menjadi sebuah kebutuhan yang seharusnya melekat kuat untuk memberikan motivasi yang maksimal dalam rangka pencarian keilmuan, keterampilan, serta upaya peningkatan etika dalam kehidupannya. Dengan demikian, gagasan atau ide tidak harus selalu keluar dari orasi atau cakapan seorang guru, tetapi juga harus tercover dalam tingkah laku keseharian. 

Untuk membangun pembelajaran yang berwibawa dan menyenangkan, hendaknya guru memilki kriteria sebagai berikut :

1.      Menghormati peserta didik

Sebagai seorang guru seharusnya juga menghormati peserta didik. Menghormati peserta didik artinya menempatkan peserta didik dalam kategori sisi kemanusiaan. Artinya, peserta didik adalah manusia biasa, yang bisa berbuat salah, mendambakan keseimbangan prilaku, mengharapkan pujian dan penghormatan. Jadi, tidak dibenarkan bagi seorang guru yang bijak, hebat, dan profesional untuk memanggil seorang siswa yang gemuk dengan panggilan ‘ndut’ misalnya. Karena hal demikian tidak baik dari segi kemanusiaan, dan akan menjadikan peserta didik rendah diri, dan bahkan mungkin akan apatis terhadap guru bersangkutan. Jadi berikan penghormatan yang layak kepada peserta didik, tanpa memberikan ‘laqab’ atau julukan yang akan memberikan rasa mender atau rendah diri.

2.      Melibatkan peserta didik dalam mengambil suatu keputusan 

Suatu keputusan jika kita bicarakan secara bersama-sama akan berdampak positif terhadap aplikasi keputusan itu sendiri. Jika para peserta didik diberi ruang yang lebih luas untuk ikut serta dalam pengambilan suatu keputusan, maka aksi dan reaksi dari keputusan itu sendiri akan semakin baik. Karena para peserta didik merasa mamiliki, ikut bertanggung jawab terhadap keputusan yang mereka ada (partisipatif) di dalam rumusan keputusan tersebut. Dengan demikian, melibatkan peserta didik dalam suatu keputusan akan berdampak signifikansi aplikasi keputusan itu sendiri.

3.      Menjadi pendengar yang baik

Menjadi pendengar yang baik artinya seorang guru memberikan perhatian yang serius terhadap keluhan, pertanyaan, maupun pernyataan dari seorang peserta didik. Dengan perhatian yang seksama, interaksi dua arah yang komunikatif, serta ungkapan rasa simpatik yang keluar dari seorang guru terhadap anak didiknya akan menjadikan sebuah paradigma positif di dalam dirinya. Sehingga, peserta didik merasa nyaman, damai, dan tentram ketika berhadapan dengan seorang guru. Jadi, dengarkan, perhatikan, dan berikan masukan-masukan yang konstruktif dengan sikap yang proaktif, sekaligus representatif terhadap setiap murid, maka guru tersebut akan menjadi guru yang selalu didambakan oleh siswa-siswanya.

Membentuk Pribadi Guru Kreatif

Guru kreatif adalah guru yang mempunyai banyak gagasan atau ide untuk menyampaikan suatu materi pelajaran dengan metode yang sesuai. Kreatifitas seorang guru perlu diperhatikan dan diaplikasikan dalam setiap tindakan pembelajaran untuk memberikan nilai lebih pada hasil kegiatan pembelajaran tersebut. 

Ada beberapa ciri atau karakter dari guru kreatif yaitu ; 1) Fluensy, artinya mampu memberikan dan menghasilkan ide-ide yang akurat sesuai dengan masalah yang dihadapi. 2) Fleksibility, yaitu guru mampu membuka pikiran untuk  menemukan solusi dari beragam problematika yang terjadi antar guru dengan siswa, atau guru dengan materi pelajaran, atau guru dengan siapa saja. 3) Originality, yaitu kemampuan guru untuk mengaplikasikan ide yang diangkat untuk memberikan solusi terbaik dari kreatifitas yang datangnya dari dirinya sendiri.

Guru kreatif juga dituntut untuk memiliki paradigma positif serta mempunyai kemampuan-kemampuan obyektif yang diantaranya : 1) Inovatif, yaitu kemampuan seorang guru untuk menemukan metode atau cara agar matei yang disampaikan kepada siswa dapat diceran dengan baik, siswa merasa senang, serta memanfaatkan berbagai peralatan/peraga untuk menunjang suksesnya suatu pengajaran. 2) Mudah bergaul, artinya seorang guru dituntut untuk mampu menjalin hubungan yang komprehensif, baik hubungan dengan siswa, guru dengan guru yang lainnya, guru dengan masyarakat, atau guru dengan lingkungan sekitarnya. 3) Mampu membaca karakter peserta didiknya, hal ini dimaksudkan untuk memberikan bimbingan personal sehingga dengan pengetahuan tersebut guru dapat menggunkan teknik atau metode yang sesuai. 4) Peduli pada peserta didik, dengan kepedulian ini diharapkan peserta didik tidak merasa bosan dengan guru, pelajaran, atau kondisi saat berlangsungnya pembelajaran. 5) Cekatan dan banyak akal, yaitu suatu karakter guru yang dengan kecekatannya, keuletan, serta beragam pikiran yang mampu diterapkan untuk memberikan pelajaran, bimbingan, serta pengawasan yang seksama terhadap peserta didik. 

Guru kreatif akan dapat memberikan nilai lebih dalam proses pembelajaran, karena dengan kreatifitasnya peserta didik dapat dibawa ke dunia mereka sendiri, sehingga mereka tidak merasa bosan, dan belajar dengan penuh perhatian dan dalam kondisi yang menyenangkan.



Sumenep, 22 Nopember 2010