Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com

Wednesday, May 1, 2013

CINTA DI ATAS BADAI




Aku baru tahu bahwa cinta itu buta. Aku baru memahami bahwa bahwa cinta itu segalanya. Aku baru menyadari bahwa cinta adalah sebuah pengorbanan. Cinta adalah memberi. Cinta adalah berkorban. Cinta adalah atas nama cinta, yang tulus untuk memberikan kasih tanpa diminta.

Mendung masih bergelayut di ufuk. Menampakkan warna merah saga, karena pancaran sinar mentari senja. Aku menatap langit merah jingga, di bawah lambaian pohon kelapa, di tepian pantai yang berpasir putih.

Saat itu, Amalia, yang biasa dipanggil Amel, duduk di atas pasir putih dan lembut ketika air laut lagi surut. Wajahnya yang cantik bersembunyi di balik balutan jilbab warna hitam. Senyum selalu menghias di bibir tipis merah delima. Alami tanpa polesan lipstik. Pesona kharisma seorang gadis beretika, memancar dari raut wajah dan sapa tingkah seorang Amel.

“Assalamu’alaikum,” sapaku pada senja itu.
“Wa’alaikum salam,” jawab Amel dan terlihat agak terkejut dan terkesima.
“Amel sendirian?”, selanjutnya aku berbasa-basi.
“Ya Mas. Lagi menikmati pesona sunset di pantai ini”. Amel menjelaskan.
“Ya. Tapi kok sendiri?” lagi-lagi aku mencoba berbasa-basi.
“Hemm.... Emangnya harus sama siapa?”. Jawab Amel sambil sedikit memalingkan wajahnya ke arahku. Diiringi sebaris tipis senyum bibir yang teramat manis.

Sungguh sebuah pemandangan yang sangat indah. Wajah itu menghunjam jantungku.  Begitu teduh, dan aku mahsyuk dalam sakau cinta yang tiba-tiba lahir di balik hati yang paling dalam. Ada sebentuk purnama dari wajah cantiknya. Aku hampir-hampir tidak percaya.

Tidak terlalu banyak yang bisa dibicarakan saat itu. Karena aku dan Amel masih terhalang oleh syari’at keyakinan. Bahwa dua insan yang berlain jenis tidak boleh berdua-duan dalam satu tempat. Yang ketiga adalah setan. Paradigma berpikirku masih berlaku, sekalipun gejolak cinta begitu menggebu.

Ya, hanya sebatas itulah aku dan Amel berbicara. Tidak lebih dan tidak terlalu jauh. Tapi sebentuk cinta sudah melekat kuat karena pertemuan itu. Dan di kemudian hari melahirkan sari-sari kerinduan.

“Apa pendapatmu jika seseorang jatuh hati padamu Mel?”. SMSku suatu ketika pada Amel. Dari pertemuan di senja itu, hari-hariku diliputi kerinduan terhadap wajah Amel. Entahlah, apakah Amel juga begitu? Aku tidak peduli.
“Tentu Amel lihat dulu orangnya. Agamanya, akhlaknya, dan pastinya juga kometmennya”. Balas Amel, juga melalui SMS.
“Kalau aku, menurutmu seperti apa?”
“Apakah orang itu Mas sendiri?” Amel balik bertanya.
“Insya Allah, kalau Amel adalah tulang rusukku yang hilang itu”.
“Semoga Allah merestui”, balas Amel di akhir SMSnya.

Amel adalah gadis sederhana yang saat ini masih belajar di sebuah pondok pesantren. Ia termasuk anak yang rajin. Banyak prestasi yang sudah ia raih. Tapi semua keunggulan yang ia miliki tidak menjadikan ia tinggi hati atau sombong. Bahkan banyak prestasi yang ia peroleh, menjadikan dirinya semakin tawadhu’ dan rendah hati.

Ta’aruf atau khitbah (pertunangan) akan segera aku lakukan. Itu karena Amel telah membuka pintu hatinya untukku. Aku tidak bertepuk sebelah tangan. Amel ingin berlabuh di belahan hatiku yang terurai kasih hanya kepada Amel.

Maka pada suatu hari yang telah ditentukan, kedua orang tuaku menemui orag tua Amel. Pertunangan atau khitbah. Ya, untuk lebih merapatkan rindu dan cinta di real yang telah digariskan. Selangkah menuju sebentuk halal hubungan antara aku dan Amel.

Namun apa yang terjadi?

“Maaf Bapak, Ibu. Kami bukan tidak menerima lamaran anak Bapak dan Ibu. Tetapi kami telah menerima lamaran dari orang lain”. Orang tua Amel akhirnya menjelaskan kepada kedua orang tuaku. Tentu saja aku kecewa. Aku marah pada diriku sendiri. Mengapa harus terlambat?

Badai begitu keras menghantam kehidupanku. Aku menggeliat menggapai asa. Tapi segalanya telah begitu kelam. Hidupku gelap. Cintaku, kini bertahta di atas badai.

“Ya Allah, jangan Kau tinggalkan aku sendiri”, desahku saat mendengar semua yang dikatakan kedua orang tuaku.

Sendiri aku mengurung diri. Aku tidak tahu apa yang mesti aku lakukan. Tapi, semua telah terjadi. Itu artinya aku harus menerima keadaan. Aku yakin, Amel juga tidak mau hal ini terjadi. Aku harus lebih mendekat lagi ke hadirat-Nya. Agar hidayah itu ada dan menjadi pegangan untuk kehidupan selanjutnya.

Malam jam setengah tiga. Adalah malam yang sangat mustajabah untuk menghatur doa. Aku bersimpuh kepada-Nya. Agar Amel, aku, dan keluarga Amel serta keluargaku diberi kesabaran dan ketabahan. Diberi kebahagiaan, baik di dunia dan di akhirat.

Sesaat setelah sujud terakhirku dalam tahajudku, tiba-tiba handphone bergetar. Dan nama Amel terbaca di screen Hpku.

“Mas, maafkan Amel”.
“Tidak apa-apa Amel,” jawabku. Tentu dengan gejolak emosional yang tidak karuan. Demi sebuah cinta, apapun yang terjadi, Amel harus dalam keadaan bahagia dan sempurna.
“Sehari sebelum orang tua Mas ke rumah, ayah dan ibuku telah menerima lamaran seseorang,” lanjut SMS Amel.
“Tidak apa-apa. Cintai dia apa adanya. Kasihi dia dengan segenap cinta sucimu. Karena dialah pangeranmu”. Entah dari mana kata itu bisa terucap. Tapi aku harus menyadari bahwa cinta itu tidak harus saling memiliki. Biarlah Amel bahagia dengan pengerannya. Dan aku sudah begitu bahagia jika Amel hidup dalam kebahagiaan.

Memang hatiku sakit. Dan semua orang normal pasti akan mengalami hati yang pedih ketika cintanya harus pupus di tengah jalan. Tapi aku yakin bahwa Allah punya rencana lain di balik itu semua.

Akhirnya Amel pun melangsungkan pernikahan. Sebuah pernikahan yang sederhana. Tidak berfoya-foya dengan pesta yang meriah seperti yang terjadi kebanyakan saat ini. Sebuah acara yang hanya memberikan i’lan (petanda halal) bagi pasangan. Aku pun pasrah dengan ini semua. Semuanya aku kembalikan pada yang di atas.

Sudah hampar enam bulan, Amel telah mengarungi rumah tangga. Aku tidak tahu keadaan Amel selama ini. Hanya saja harapan dan doaku semoga dia dan suaminya dalam lindungan Allah swt. Hingga pada suatu waktu Amel mengirim SMS padaku.

“Mas Umar, Amel tidak bahagia dengan pernikahan ini”. Aku terkejut menerima SMS seperti itu dari Amel. Padahal, sesungguhnya kebahagiaan Amel yang aku inginkan. Aku tidak ingin Amel menderita dalam setiap tarikan nafasnya. Itukah yang dinamakan cinta? Ataukah aku ini termasuk orang yang bodoh? Aku tidak peduli apapun namanya. Yang pasti Amel harus bahagia.
“Maksud Amel apa kok bilang seperti itu?”. Aku membalas pesan Amel.
“Ya, Amel tidak bahagia dalam rumah tangga Amel”.
“Amel bertengkar dengan suami?”.
“Tidak Mas”.
“Lalu kenapa?”

Akhirnya Amel menceritakan prihal rumah tangganya. Bahwa selama ini ia tidak pernah melakukan layaknya hubungan suami istri. Bahwa suaminya ternyata, maaf, tidak laki-laki alias impoten. Amel dan suaminya sudah membicarakan hal ini. Tapi usaha yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil.

Mendengar masalah ini, sebenarnya aku sangat terpukul. Aku tidak ingin masalah ini terjadi pada Amel dan suaminya. Sekalipun Amel adalah bagian dari cintaku yang pupus di tengah jalan. Tapi semua itu tidak akan membuat aku dendam atau sakit hati yang berkepanjangan. Aku ingin Amel dan suaminya membangun mahligai rumah tangga yang sempurna.

Entahlah, apa himah di balik ini semua. Pada akhirnya suami Amel berkeputusan untuk menceraikannya. Ia tidak rela Amel bersuami orang yang tidak normal. Ia tidak ingin memberikan kekecewaan yang lebih mendalam. Biarlah Amel menemukan orang lain yang lebih sepadan dan mampu membina rumah tangga dengan sebenar-benarnya.

“Biarlah kita berpisah saja Dik”, pada suatu ketika suami Amel berkata. Ada telaga bening di air matanya. Karena sesungguhnya ia masih mencintainya.
“Tidak adakah jalan lain selain perceraian Mas”, jawab Amel juga dengan nada sendu penuh penyesalan.
“Kita sudah berusaha sekian lama waktunya. Tapi Allah tidak memberikan jalan itu kepada kita. Mungkin inilah takdir. Semoga ada hikmah yang lebih besar di balik ini semua”.

Akhirnya Amel pun bercerai dengan suaminya. Aku tidak tahu apa yang mesti aku katakan. Kebahagiaan ataukah kesedihan. Bahagia jika akulah pendamping Amel selanjutnya, dan sedih jika ternyata aku tidak mampu menjadi suami yang baik. Kesempurnaan hanya milik Allah, tapi aku ingin sekali menajadi suami yang baik di sisi Allah swt.

Setelah kira-kira tiga bulan lamanya Amel bercerai dengan suaminya, sesuai dengan kaidah fiqih tiga kali suci, maka aku pun melamar Amel dan sekaligus dilangsungkan pernikahan. Sebuah perjalanan yang penuh dengan badai. Penuh dengan tantangan. Ada air mata. Ada susah yang selalu membayang sebelum pernikahan ini. Bahkan ada tebing yang tidak mungkin dilalui karena bagian dari kaidah syariat Islam.

Kami melangsungkan ijab kabul di sebuah masjid. Masjid itu kira-kira empat kilometer jaraknya dari rumahku. Aku naik mobil. Dan tidak berselang lama aku pun sudah tiba di sana. Akad pun dilangsungkan. Aku sangat bahagia. Karena satu hati satu cinta menyatu dalam ikatan suci, halal, dan disaksikan oleh kerabat dan para tetangga.

“Saya terima nikahnya Amelia binti Fahri dengan maskawin ayat-ayat suci al-Quran”. Begitu aku melaksanakan ijab kabul di masjid yang megah tersebut. Dan acara ijab kabul atau akad pernikahan pun usai.

Aku dan Amel pun pulang. Ada banyak cerita di hati masing-masing yang tidak terungkapkan. Ternyata kami masih dipersatukan dengan satu cinta, meskipun banyak badai yang harus kami lalui. Apa yang akan kami lakukan? Ada first night, malam pertama yang tidak mungkin terlupakan begitu saja.

Tetapi Allah punya rencana. Di tengah perjalanan kami pulang, tiba-tiba dari arah depan melaju tak terkendali sebuah bus, dan dengan kerasnya menghantam mobil yang kami tumpangi. Semuanya gelap. Masih terdengar Amel, istriku, menjerit menyebut nama Allah.
“Allaa....h”, teriak Amel dan aku berbarengan.

Setelah itu entah apa yang terjadi. Gelap, kemudian dari arah yang tidak diketahui sumbernya, kulihat sebuah taman yang begitu indah. Aku dan Amel menuju ke sana. Berpegangan tangan. Menyatukan hati dalam cinta yang damai. Di taman firdaus. Allahu Akbar. Lailaha Illallahu Allahu Akbar. Allahu Akbar Walillahilhamd.
****

Friday, April 26, 2013

MEMBUAT CERPEN AGAR MENARIK UNTUK DIBACA


Assalamu'alaikum...
Beberapa hari yang lalu ada sahabat yang bertanya melalui komen wall "bagaimana cara membuat cerpen agar menarik untuk dibaca" lebih kurangnya pertanyaan sahabat tersebut seperti itu. Sebenarnya ana sudah menjelaskan melalui komen yang sama, namun kurang pas rasanya kalau tips tersebut tersembunyi dan sebagian sahabat tidak mengetahui. Tidak ada salahnya kan ana share kembali.. :)

Membuat tulisan atau karangan menjadi menarik untuk dibaca mungkin hal yang wajib ya yang mesti terpenuhi dan dipenuhi oleh sang penulis. Sederhananya adalah rajin membaca dan mempelajari karya penulis lain, rajin berlatih menulis, dan percaya diri. Namun jawaban sesingkat itu tidak memuaskan sahabat-sahabat.
Cerpen yang menarik sudah tentu disukai pembaca dan sang penulis akan merasakan kepuasan tersendiri. Berikut tips membuat cerpen menjadi menarik untuk dibaca:

1. Bahasa yang tidak bertele-tele
Mau panjang atau pendek cara sahabat menuturkan salah satu kejadian yang jelas tidak bertele-tele, tidak mubazir alias terskema dengan baik dan fokus. Dibacanya enak dan renyah serta bermakna.

2. Judulnya unik
Tanda bahwa sebuah judul menarik adalah pembaca sudah suka padahal baru membaca judulnya saja.

3. Paragraf pembuka terkesan membuat penasaran
Cermat dalam memilih kata-kata yang membawa pembaca ingin melanjutkan lebih jauh lagi cerpen yang sedang dibacanya. Pembaca merasa penasaran.

4. Konflik yang menegangkan
Isi sebuah cerpen pada dasarnya merupakan sebuah konflik. Bisa konflik secara fisik maupun psikis. Perkelahian, pertengkaran merupakan beberapa contoh konflik fisik. Pertentangan batin, perbedaan pemikiran dan pandangan merupakan beberapa contoh konflik psikis atau batin.

5. Ending yang mencengangkan.
Terkadang pembaca terkenang-kenang pada ending yang mencengangkan. Ending semacam itu bisa berupa open ending, ending yang mengagetkan, dan ending yang ambigu.

Selain tips yang di atas, masih ada lagi tips pendukung lainnya:
1. Karakter yang unik

Ciptakan tokoh yang tidak biasa. Bisa melalui jenis pekerjaannya, keahliannya, penampilannya (cara berpakaian, bentuk tubuh, gaya bicara), atau sejarah hidupnya. Nama yang aneh juga bisa menjadi daya tarik.

2. Cari gaya tersendiri

Dalam taraf belajar dan eksplorasi, mempelajari karya (termasuk meniru gaya) penulis lain itu penting; bagi saya justru wajib. Bedakan antara ‘menjadi orang lain’ dengan ‘menulis seperti orang lain’. Yang pertama itu berkaitan dengan esensi atau jati diri, sedang yang kedua itu lebih pada gaya, bisa diadaptasi. Namun suatu saat gaya sendiri perlu dicari. Tidak berarti gaya ini harus dipertahankan abadi, bila suatu saat ingin mengubah gaya, dan ternyata pembaca suka, jangan segan-segan untuk menggantinya.

3. Jujur

Bila menuliskan hal-hal yang menjadi kegelisahan hati, aliran ide lebih lancar, menulisnya lebih nyaman, otomatis alurnya jadi asyik. Bila mencoba menjadi seperti orang lain rasanya berat sekali. Jadi tuliskan hal-hal yang menarik hati kita, yang bener-bener kita sukai. Bagaimana pun tema yang disuguhkan tetap prioritaskan suasana hati, larut dalam dimensi hati akan memberikan kekuatan tersendiri pada tulisan sahabat.

Sudah dapat ilmunya, sudah membaca, sudah pula berlatih namun merasa hasilnya masih kurang menarik? Di samping pantang menyerah, rasa percaya diri harus dimiliki. Jangan takut gagal atau dicela. Karangan yang sudah jadi, yang menurut kita tidak menarik, mungkin akan disukai pembaca. Jangan malu. Jangan disembunyikan. Jangan dihapus. Kirimkan saja ke teman yang suka membaca untuk minta pendapatnya atau diunggah ke blog, note FB, atau di mana saja yang kira-kira akan dibaca orang.
Sumber : https://www.facebook.com/groups/pena.indhis/permalink/521989087846926/

Sunday, April 14, 2013

ISTRIKU BIDADARIKU




Malam sudah semakin larut. Jam sudah mendekati tengah malam. Sesekali derap rintik hujan masih terdengar menyapu genteng rumahku. Musim hujan membuat suasana semakin hening. Aku masih saja berkutat di depan laptopku. Mencermati persiapan mengajarku untuk besok pagi. Maklum, besok aku kebagian supervisi. Jadinya, persiapannya harus benar-benar matang. Dari sejak tadi, istri dan ketiga anakku sudah pulas. Tidur dengan irama nafas yang teratur. Berlayar dengan alam mimpi masing-masing. Nampak mereka tenang dalam damai tidurnya.

Tidak berapa lama aku pun telah selesai dengan persiapan mengajar besok pagi. Ada perasaan lega. Lelah dan capek tiba-tiba datang menyergap. Aku pun menggeliat, beranjak ke pembaringan. Rasa pegal dan capek mengajakku untuk segera berhayal di dunia mimpi. Aku pun berbaring di samping istri dan anakku yang paling kecil. Kedua anakku yang lain tidur di kamar sebelah.

Tapi aku tidak bisa cepat-cepat tidur. Entahlah, alam pikiranku terus berjalan, menghayal jauh entah kemana. Aku pun tidak tau kenapa bisa begini. Resah pun jadi gelisah. Muara hayalku belum berlabuh di alam tidurku. Bantal pun terasa gerah, panas. Aku hanya  bisa bolak-balik di pembaringan yang terus saja terasa tidak nyaman.

Tiba-tiba anakku yang paling kecil merengek.

"Ma, mimik susu" katanya dengan logat bahasanya sendiri yang masih cadel. Maklum anakku yang bungsu ini berumur belum genap dua tahun. Tubuhnya mungil nampak seperti kurang gizi. Padahal dibandingkan dengan mbak dan masnya, dia paling terjamin gizi makan dan minumannya. Makannya pun dia banyak. Tapi biarlah, toh dia sehat-sehat saja tak kurang suatu apa.

Mendengar rengekan anaknya, istriku terbangun dan beranjak ke dapur. Sebentar ia melihat ke arahku yang juga masih belum tidur. Tanpa berkata apa-apa hanya sebuah senyum bangun tidurnya, ia terus pergi ke dapur. Membuatkan susu untuk si kecil. Tidak lama kemudian ia pun kembali sambil memberikan sebotol kecil susu hangat. Si kecil pun dengan tersenyum semangat menerimanya dan terus melahapnya.

"Eitt... jangan langsung mimik. Harus baca apa dulu?" cegah istriku dengan lembut. Si kecil hanya nyengir saja. Kemudian membaca bismillah seperti yang diinginkan mamanya.
"Bismillahirrahmanirrohim. Allahumma barik...." tentu dengan logatnya yang masih berlepotan.

Aku hanya tersenyum melihat itu semua. Ada rasa bangga ketika keluarga islami mengalir di relung keluargaku. Sungguh aku bersyukur dengan keadaan keluargaku.

"Alhamdulillah, tiada sia-sia didikanku selama ini. Istri yang sabar, setia, ikhlas, dan menerima apa adanya. Anak-anak yang sehat, cerdas, dan patuh kepada kedua orang tua". Bisikku dalam hati.

"Belum tidur Yah?" kata istriku melihat aku masih belum tidur dan masih mengelus-elus kepala si kecil.
"Belum Ma, baru selesai ngerjakan persiapan besok" jawabku sekenanya.
"Segera tidur pas Yah. Biar besok tidak ngantuk". Jelas istriku sambil merebahkan tubuh untuk tidur lagi.
"Ya Ma", jawabku. Padahal mataku masih belum bisa diajak istirahat. Hayalku masih terus menerawang.

Menjadi seorang istri itu bukan perkara gampang. Ada banyak pekerjaan yang menjadi tanggungan. Bukan sebuah kewajiban memang. Tapi seorang istri yang baik, tentu tidak akan tinggal diam dengan segala tanggung jawab di dalam sebuah rumah tangga. Maka pantaslah kalau Rasul saw bersabda,

"Sebaik-baik harta dunia adalah perempuan (istri) yang shalihah".

Tidak berapa lama kumandang adzan dari menara masjid terdengar. Istriku bangkit dari pembaringan. Aku pun mengkutinya. Menuju jeding untuk mengambil air wudhuk. Seperti biasa aku dan istriku sholat shubuh berjamaah. Sementara ketiga anakku masih lelap di waktu shubuh yang masih terasa menggigil.

Selepas sholat istriku seperti biasa mempersiapkan segalanya untukku dan anak-anakku. Memasak sarapan, menjerang air, membuat sayur. Belum lagi mempersiapkan keperluan anak-anak sekolah. Mempersiapkan mandi, menyiapkan sarapan, serta melayani si kecil jika akan pipis dan buang air besar. Sungguh sebuah pekerjaan yang teramat melelahkan jika kita kaji dan direnungkan.

Tapi istriku tidak pernah mengeluh. Dia lalui rutinitas keseharian dengan senyum. Itu yang membuat aku terkadang harus berpikir, bijak dalam hal banyak tingkah dan santun dalam kata dan sapa. Aku terkadang bersikap kurang baik dan bercakap kurang bijak. Tapi istriku tidak pernah mendendam.

"Ayah, ayo sarapan dulu" ajak istriku sambil beres-beres di meja makan.
"Baik Ma", jawabku sambil beranjak dari depan laptopku. Biasa, pagi-pagi browsing mencari berita-berita hangat atau sekadar update status di akun FB.

Kedua anakku sudah siap berangkat ke sekolah. Yang besar namanya Tiara, umurnya hampir sembilan tahun kelas empat SD. Adiknya kelas dua, berumur tujuh tahun lebih. Namanya Farhan. Kalau berangkat sekolah pasti selalu bersama-sama. Tentu, karena sekolahnya juga sekolah yang sama.

"Ayah, Mam, ... berangkat sekolah dulu. Assalamu'alaikum..." pamit kedua anakku dan tak lupa bersalaman.
"Wa'alaikum salam..." jawabku dan istri bersamaan.

Jam menunjuk angka tujuh kurang sepuluh menit. Aku pun berangkat ke sekolah untuk memberikan pelajaran kepada anak didikku. Tempat sekolahku mengajar tidaklah jauh. Hanya beberapa menit saja aku sudah sampai di kantor sekolah.

Di sekolah. Juga sebuah rutinitas. Sehari-hari kerja mengajar. Tidak ada pekerjaan lain. Ya, di sela-sela sibuk mengajar aku sempatkan untuk membaca. Kadang juga sempat menulis. Tetapi yang pasti tugas keseharianku adalah mengajar. Berkutat dengan lembar-lembar paket yang itu-itu saja. Tentu saja, terkadang rasa jenuh itu hadir dalam perasaanku.

Tapi apa hendak dikata. Mengajar adalah tugas dan kewajibanku. Jadi aku haru mampu mengusir rasa jenuh itu jauh-jauh. Melahirkan formula KBM dari yang semula bouring menjadi inspiring. Semoga saja apa yang aku lakukan mendapat berkah dari Allah swt.

Akhir-akhir ini dunia pendidikan dibikin heboh. Ribut dengan kurikulum baru. Ada yang pro ada juga yang kontra. Bahkan ada petisi untuk memprotes kurikulum tersebut. Entahlah jadi apa dunia pendidikan kita nanti. Semoga saja lebih baik, dan terus lebih sempurna.

Aku sendiri tidak terlalu pusing dengan perubahan kurikulum. Karena pada hakikatnya sebaik apapun sebuah konsep, tanpa dilandasi stigma pengabdian secara personal, maka model perubahan apapun namanya akan melahirkan kesia-siaan. Intinya sumber daya pengabdian personal yang harus dibangun menjadi paradigma pendidikan yang baik dan bijak.

Siang hari. Baru saja aku tiba dari mengajar. Hari begitu terik, setelah semalaman rintik hujan tiada henti. Cerah, beberapa lembar awan berkelebat, tapi tidak mampu menghalangi cerahnya mentari.

Selepas makan siang ditemani istri, aku duduk-duduk di serambi. Kulihat istriku sibuk mengumpulkan baju-baju kotor. Rupanya ia akan mencuci. Begitu  banyak, menumpuk baju dan celana yang kotor. Padahal tiap saat istriku selalu mencucinya. Terbersit dalam benakku,

"Mampukah aku melakukan hal banyak seperti istriku?". Gumamku terbang, melayang ke angkasa. Menyusuri langit jingga. Menyisiri bianglala. Karena yang dilakukan istriku bukan saja mencuci, tetapi juga banyak yang lainnya.

"Wanita itu unik. Anda dapati dia tersenyum seharian, tanpa mengetahui betapa dia menangis sepanjang malam".

Kalimat itu begitu menghunjam. Mencabik-cabik relung noraniku. Jiwaku karam dalam tangis yang panjang. Hatiku kelu mentahbiskan lelaku istriku yang tak mengenal lelah.

"Ma, istirahat dulu. Biar ayah yang nyuci", pintaku pada istriku.
"Gak apa-apa kok Yah. Mama juga gak ada kerjaan nih" jawab istriku. Jawaban yang begitu tulus. Setidaknya itu yang terberait dalam benakku.

Aku pun membantu istriku mencuci. Sebuah pekerjaan yang jarang sekali aku lakukan. Bahkan hampir tidak pernah aku lakukan. Ternyata mencuci itu bukan pekerjaan ringan, walaupun bukan pekerjaan yang teramat berat. Tapi dengan banyaknya cucian yang menumpuk, mencuci tentu bukan pekerjaan yang bisa dipandang sebelah mata.

Ternyata bekerja bersama-sama lebih membawa ke arah yang lebih positif. Ada emosional yang lebih dekat. Komunikasi yang lebih intens, dan hati yang lebih tulus dan lapang. Kebersamaan dari dua pemikiran yang disatukan melalui ikatan yang sah dan legal.

Malam sebelum tidur. Mata belum terpejam. Aku teringat kembali dengan peran berat seorang istri. Dari bangun tidur sampai tidur kembali, seorang istri tidak lepas dari aktivitas.

Bangun tidur, setelah shalat subuh ia telah harus mempersiapkan masakan untuk keluarga. Memasak mempersiapkan sarapan. Bersih-bersih rumah, menyapu lantai dan halaman sekitar, mengelap dinding dan kaca jendela. Mencuci barang-barang dapur yang kotor, dan membereskan semua tempat tidur.

Mempersiapkan anak-anak sekolah. Memandikan, merapikan pakaian seragam, menyetrika,  dan melayani mereka sarapan. Membersihkan si kecil yang pipis dan buang air besar, memandikan, dan menenangkannya jika ia rewel atau semacamnya.

Tak ada waktu untuk sejenak beristirahat. Cucian yang menumpuk, atau bahan makanan yang berkurang dan harus pergi  berbelanja. Maka aku harus berbisik pada desah angin, pada malam yang menggigil, pada kesabaran istriku,

"Maafkan aku sayangku, jika aku tidak belajar diam dari banyaknya bicara, tidak belajar tabah dari sebuah kemarahan, tidak belajar sabar dari suatu keegoisan, tidak belajar menangis dari sebuah kebahagiaan, dan tidak belajar tegar dari kehilangaan. Istriku adalah malaikatku dan istriku adalah bidadariku".

“Bangkitlah wahai jiwaku yang alpa. Sadarlah wahai noraniku yang salah. Yang selama ini tiada pernah menyadari akan peran serta seorang istri yang begitu setia, ikhlas, tulus, dan mengabdi semata-mata untuk kebahagiaan suami”.