Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com

Wednesday, February 12, 2014

DIALOG KAKI DAN SANDAL JEPIT



DIALOG KAKI DAN SANDAL JEPIT

Kaki adalah anggota tubh yang paling bawah. Kaki punya peranan yang sangat vital. Tanpa kaki, maka aktifitas kita akan terganggu. Meski ada juga orang yang sukses tanpa kaki, hal itu karena adanya keistimewaan yang luar biasa. Maka kaki yang kita miliki harus kita syukuri.

Sandal jepit adalah alas untuk kaki. Ada banyak macam dan model sandal jepit. Dari yang paling murah hingga yang paling mahal. Dari harga ribuan, hingga harga ratusan ribu. Tetapi konotai sandal jepit adalah  alas kaki yang murah meriah, yang tidak harus menggeluarkan uang banyak untuk mendapatkannya.

“Wah,  aku bangga jadi  alasmu, Kaki!”, kata sandal jepit suatu hari.
“Maksud Kamu apa?”, tanya kaki agak acuh tak acuh.
“Aku kan yang menyebabkan Kamu enak berjalan-jalan? Kemana-mana tidak merasa sakit. Tidak tertusuk duri. Tidak terantuk kerikil-kerikil tajam. Jadi, aku bangga dong bisa berjasa padamu”, sandal jepit panjang lebar menjelaskan pada kaki.
“Oh, itu toh yang Kamu maksudkan?”, kata kaki masih tak acuh.
“He eh!” sandal jepit pun kurang semangat.
“Tapi aku juga bangga kok. Tanpa aku, Kamu hanya bisa mematung. Tidak bisa berbuat apa-apa!” kaki mencoba beranalog.
“Iya juga sich. Tanpa Kamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa!” timpal sandal jepit akhirnya.

Dialog antara kaki dan sandal jepit di atas tentu masih panjang. Ada banyak hal yang bisa mereka bicarakan. Saat pergi belanja ke pasar. Saat jalan-jalan di kebun dan pematang sawah. Ketika pergi memancing. Atau pun saat sekedar jalan-jalan santai di halaman sekitar rumah.

Tentu, dan masih dalam tentu. Mesti, dan mesti dalam situasi yang lain. Ketika mereka pergi  untuk mencuri, merampok, berzina, menjarah, dan banyak  lagi perbuatan maksiat lainnya. Tentu saja dialog mereka semakin menarik. Karena mereka jujur. Apa adanya. Bahkan khusus kaki dalam al Quran dijelaskan,

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka  terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS . Ya Sin : 65)

Pada suatu hari di halaman masjid,

“Lhoo, Kaki. Aku bukan milikmu. Aku milik kaki lain”, suaru sandal jepit sambil berteriak.
“Aku tau. Tapi mau gimana lagi?” jawab sandal jepit sambil mengangkat  bahu dan kedua tangannya.
“Ya, lepaskan aku!” sandal jepit mencoba meronta.
“Mana bisa? Aku ini terkendali oleh otak tau!” jawab Kaki sambil mendelik.
“Terus, gimana nich?” sandal jepit semakin bingung.
“Coba kamu berteriak sekuat tenanga. Bilang bahwa kamu bukan miliknya!”. Sandal jepit pun setuju.
“Haiii..... Aku bukan milikmu!” teriak sandal jepit. Melolong, membahana ke seluruh penjuru.

Suara sandal jepit menmbus langit ke tujuh. Menerobos ruang-ruang sempit di lorong-lorong bumi. Tetapi usaha si sandal jepit sia-sia. Tidak berguna sama sekali. Dia pasarah, berkelana di kegelapan tanpa ujung.

NOTE :
Pada hari Jum’at, 11 Januari 2013 sandal jepitku hilang ketika akan pulang dari masjid. Aku tidak berusaha untuk mencarinya. Karena “hanya“ sandal jepit. Aku hanya berharap, sandal jepitku bahagia bersama kaki orang lain.

Bisa jadi bukan hanya sandal jepit yang bisa berpindah kaki. Termasuk juga sandal-sandal yang mewah yang harganya cukup mahal. Dan anehnya, kehilangan ini bisa terjadi di masjid, tempat ibadah dan rumah Allah.

***




FINALLY, THE LOVE COMES TO ME



FINALLY, THE LOVE COMES TO ME



Tidak seharusnya saya apatis terhadap jodoh. Karena sesungguhnya, jodoh itu rencana Tuhan. Allah telah menggariskan, kapan jodohku datang dan menjadi pendamping hidup dalam setiap sisi kehidupan. Aku kadang masih terus menyalahkan takdir. Jika sampai saat ini, aku masih melajang. Padahal, segala macam ikhtiar telah aku lakukan.



“Itu sudah takdirmu, Di!”

“Tidak. I don’t like the takdir.”

“Don’t speak like that!”

“Why not?”

“Tidak kenapa-napa juga. Tapi ada hikmah di balik all the problems.”

“Hikmah apa? Until now I’m still a lone? Umurku sudah berapa? Apa aku harus jadi bujang lapuk? Huhh......”



Seringkali, dalam kesendirianku aku mengeluh. Memungkiri nikmat Tuhan yang telah banyak Dia berikan. Aku dalam galau. Berada dalam keadaan perih yang berkepanjangan. Aku ingin segera medapatkan pendamping. Ingin segera memiliki momongan. Aku ingin segera menikmati kehidupan berumah tangga. Rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.



Banyak cara sudah yang aku lakukan. Baik mendatangi teman-teman sebaya. Mendatangi guru-guru yang sekiranya bisa membantu. Mendatangi banyak kiayi yang mempunyai pesantren. Di dalamnya banyak santriwati yang mungkin bisa aku jadikan teman dalam suka maupun duka. Tetapi, semua itu sia-sia. Tidak ada yang bisa mempertemukan antara aku dan jodohku. Pikiranku semakin runyam, tidak karuan. I’m anxious.



“Makanya, kalau cari jodoh jangan terlalu pilih-pilih!”

“Yang pilih-pilih siapa?”

“Ya kamu lah. Buktinya, sudah mendekati kepala tiga you still don’t find your love.”

“Padahal aku sudah pasrah. Yang penting,  dia mau menerima aku apa adanya.”

“Tidak usah terlalu dirisaukan!”

“Tapi kenyataan the love is not coming yet.”



Kembali aku teringat masa-masa yang lalu. Saat aku berkenalan dengan seseorang. Ia begitu cantik, keibuan. Sungguh I do love her, and she loves me. Pesona anggun jiwanya, menjawab segala tanya dalam diriku. Dia (sekarang mantan tunangan), sebentuk kharisma yang menjelma di ruang hatiku yang paling dalam.



Tetapi Tuhan belum menjawab doaku. Tanpa adanya sebab yang pasti, aku dan dia sepakat untuk berpisah. Berpisah dalam keindahan suasana. Karena, aku, dia, dan kedua orang tua masing-masing sama-sama menyadari bahwa jodoh belum saatnya. Dan cinta tidak harus saling memiliki. We love each other but we can’t have each aother.



Dan waktu pun terus berlalu. Hari-hariku masih dalam kesendirian. Aku terus saja dalam kesah. Dalam rindu kepada harimku. Entah ada dimana? Dalam keputus-asaan aku masih teringat Tuhan. Meski kadang aku menyalahkannya. Hanya sebatas resah karena si dia tak kunjung datang. Tidak lebih. Dan tidak keterlaluan.



Pada tanggal 22 Desember 2000, the answer comes. Aku melangsungkan pernikahan dengan gadisku. Tanpa diawali pacaran. Dan perkenalan pun begitu singkat. Pastinya, Tuhan telah menjawab segalanya. The love comes to me. Dan bukti dari cinta itu, kami telah diwarisi gadis kecil yang lincah, cerdas, imut, periang, dan beragam indah di dalamnya.



Tuhan, terima kasih atas karunia ini. Maafkan aku yang berpikir salah kepada-Mu. Karena kebodohanku. Karena ketidak-tauanku. One more, pardon me my God. I’ll always meet you on the night. Give me the power.

KUTUNGGU CINTAMU DI PINTU SURGA



KUTUNGGU CINTAMU DI PINTU SURGA

Pagi itu angin berhembus lirih. Matahari tidak begitu terik. Awan tipis bergelayut di cakrawala. Ada banyak cerita yang harus kulalui dalam hidup ini. Dan di pagi ini, begitu kuat impianku menjelma bayangan-banyangn masa lalu. Illustrasi wajah Andin, melukis seluruh ingatanku. Di masa lalu.

“Din, sudah lama menunggu?”
“Gak juga kok. Baru saja datang.” Jawab Andin lembut. Bagai derai pesona bidadari di taman firdaus.

Di taman itu. Di sudut kampus tempat aku dan Andin menimba ilmu. Aku berdua dengan Andin menikmati suasana asri. Indah di antara bunga-bunga yang bermekaran. Di antara gemercik air taman yang mengalir perlahan. Ikan-ikan kecil berenang ke sana ke mari, seakan merayakan kometmen kami berdua. Kesepakatan untuk saling mencinta. Merindu, saling memberi dan meminta.

“Aku ingin ikatan yang sempurna.” Dalam hening beberapa saat.
“Maksud Mas?”
“Aku berharap ikatan kita sempurna di sisi Allah.” Andin hanya diam. Menunggu kelanjutan bicaraku. “Begitu juga di mata orang-orang sekitar kita.” Lanjutku.
“Aku juga berharap begitu Mas. Agar kita tidak berdosa dengan khalwat seperti ini.”
“Aku setuju Din.”

Andin adalah gadis sederhana. Kesederhanaan itu melahirkan inner bauty. Pesona aura tingkah lakunya, melahirkan decak kagum orang-orang di sekitarnya. Bukan kecantikan membiaskan nafsu. Tapi sebuah kecantikan yang menebarkan kharisma. Anggun jiwa dan raganya menebarkan sinar Islam yang memesona.

Waktu terus berlalu. Meninggalkan banyak cerita. Tentang hidup dan cinta. Rindu dan kesempurnaan bunga surga.

“Besok aku ke rumahmu Din.” Smsku pada Andin.
“Ada apa Mas?”
“Untuk melamar Kamu, Din.”
“Sudah yakin dengan keputusanmu, Mas?”
“Tidak ada yang perlu aku ragukan.”
“Ya sudah, kalau itu keputusan Mas.”

Hari Jum’at. Aku, ayah dan ibu bersiap-siap. Pagi-pai sekali kami berangkat ke rumah Andin. Untuk menemui kedua orang tuanya. Waktu yang aku tunggu. Untuk mewujudkan cinta aku dan Andin. Dalam sebuah ikatan yang diridhai Allah swt.

Di dalam mobil aku membayangkan wajah Andin. Wajah yang selalu aku rindu. Wajah yang melahirkan larik-larik cinta. Senantiasa menjadi bunga di dalam hari-hariku. Karena jiwaku dalam jelma jiwa Andin. Dan cinta Andin berpadu dalam cintaku.

Sampai di rumah Andin. Ada banyak orang yang keluar masuk di rumah sederhana tersebut. Aku mengira itu bagian dari kedatangan aku dan rombongan. Untuk melamar Andin. Sebagai bagian dari tulang rusukku. Yang telah ditetapkan di lauhul mahfudz. Allahu akbar. Jadikan Andin sebagai hiasan dalam hidup dan matiku.

“Ada apa ini? Kok banyak sekali orang?” tanyaku pada seseorang yang tidak aku kenal.
“Andin telah tiada Dik.”
“Apa? Andin tiada? Maksudnya apa?” tanyaku beruntun. Tersekat dalam tanya yang gamang.
“Ya Dik. Andin telah dipanggil yang Mahakuasa.”

Remuk hatiku melihat keadaan itu. Aku masuk menyeruak di antara kerumunan. Aku tidak peduli. Walau banyak orang yang merasa heran dengan kedatanganku. Hanya kedua orang tua Andin yang memaklumi keadaanku.

“Andin, jangan tinggalkan Mas,...” hanya itu kata keluh yang keluar dari mulutku. Aku melihat lipatan kertas di tangan Andin. Kuambil kertas itu. Dan lentik tulisan cantik tertera di sana.

“Mas Umar, Allah telah mengambil hakku. Hak untuk hidup bersama dirimu di dunia. Tapi aku tunggu dirimu di sana. Di pintu surga. Cintaku selalu ada untukmu.”

Sumenep, 12 Februari 2014



Biodata :
Rusdi el Umar tinggal di Sumenep Madura.  Alamat surat  SMP Negeri 1 Masalembu, Jl. Raya Masalima Masalembu Kode Pos 69492. Bisa berkomunikasi melalui FB; Rusdi el Umar atau twiter; umar_rusdi. Alamat email  rusdiumar@gmail.com.






SAMUDRA MAHABBAH



SAMUDRA MAHABBAH

Cinta di ujung malam
Mengejar hamba dalam aliran kerak darah
Terbakar di lembar nestapa
Menuju aura-Mu menghunjam alif-Mu

Luruh dalam samudra mahabbah
Di sebait asma
Menebar pusara laut rindu
Karam di dasar kemilau cinta
Aku terjejak di kerak keranda
Ingin menyatu dalam aliran darah
Makhsyuk berderai di tirai kuasa-Mu

Engkau,
Dalam cintaku pada-Mu
Mengejar bayang berkelindan

Sumenep, 20 Mei 2013

Wednesday, December 25, 2013

LELAKI KALAH

Aku tidak mengerti, mengapa aku selalu mengalah. Tepatnya, selalu kalah. Padahal aku laki-laki, yang seharusnya menjadi pimpinan dalam sebuah rumah tangga. Kenyataannya, aku selalu di bawah. Aku diam, padahal bukan pendiam. Aku tidak bisa marah, padahal aku bisa. Aku membisu, padahal hatiku berkata-kata, mengata-ngatai, dan terus bicara. Aku kalah. Aku lelaki kalah. Aku terpecundang oleh keangkuhan istriku sendiri.

Takut kepada istri? Mungkin itu predikat yang teramat pantas untuk diriku. Statusku sebagai suami hanya sebatas legal formal. Tidak lebih dari sebuah pajangan bunga di atas meja kamar tamu. Atau malah jauh lebih rendah dari itu. Terkadang timbul di benakku, "Aku ini lelaki apa?" Entahlah! Aku suami yang takut istri. Meski hatiku selalu berontak, namun hal itu hanya di angan saja. Realitasnya, aku hanya diam. Diam dan diam.

Sementara, istriku adalah perempuan yang punya segudang kata. Tanpa ada permasalahan yang pasti, ia terus nyerocos. Aku yang salah lah. Aku tidak begini, tidak begitu. Mengapa begitu, tidak begini. Aku lelaki banci, tidak becus ngurus anak. Tidak ini lah, tidak itu lah. Dan,...terus saja kata-kata itu meluncur dari bibirnya yang tipis, sinis.

Istriku memang cantik, meski tidak cantik amat. Tetapi, kecantikannya akan sirna begitu saja, andai saja Anda tahu kelakuan buruk istriku. Dia tidak mengenal waktu, situasi, dan kondisi. Bahkan, meski ada temanku di rumah, jika ia lagi kumat, maka cacian, kata-kata kotor, dan makian terus saja meluncur dari mulutnya. Hingga, temanku yang sedang berkunjung tidak enak sendiri.

"Hans, aku pulang saja ya!" Begitu biasanya temanku berkata padaku. Di rumahku, keharmonisan hanya sebatas wacana, dan hayalan belaka.

Aku lelaki kalah. Sekali saja aku bicara, maka istriku akan membalasnya dengan puluhan kali. Atau bisa ratusan, bahkan ribuan. Dengan emosi yang meledak-ledak. Tinggi berapi-api. Hingga matanya memerah, ludahnya muncrat ke mana-mana. Ia mau menang sendiri. Seribu alasan, bahkan yang tidak logis sekalipun, untuk membenarkan dirinya sendiri. Ia juga mau benar sendiri. Meskipun ia nyata-nyata salah, ia berlindung di balik kata-katanya yang pedas dan tajam. Menusuk jantung hatiku.

"Kenapa tidak Kauceraikan saja wanita seperti itu," suatu hari Faqih, temanku bicara padaku. Ia turut geram ketika aku curhat tentang rumah tanggaku.
"Bukan aku tidak mau, Qih. Tapi aku juga memikirkan Anis, putriku."
"Daripada makan hati?" Faqih masih agak emosi.
"Ya juga sih!"
***


Rumahku surgaku. Seharusnya begitulah konsep dalam sebuah keluarga. Tetapi apa nyana? Kenyataannya, rumah bagiku tidak ubahnya sebuah neraka. Suasananya begitu gerah, panas, dengan kondisi rumah tangga yang berhaluan darah tinggi. Seringkali aku hanya diam, kalah, atau mengalah. Tetapi, diamku tidak serta merta membuat istriku juga diam. Malah semakin menjadi-jadi. Pintu yang ditutup dengan kasar, peralatan dapur yang terbanting, atau benda apa saja yang tiba-tiba terbang dan pecah. Huh, begitu suasana rumah yang teramat kolbas[1].

Maka, Anis, anakku satu-satunya, putri semata wayang tidak betah di rumah. Setelah pulang sekolah, sehabis makan, biasanya ia pergi. Entah ke mana perginya. Mungkin ke rumah temannya, juga bisa jadi ke rumah saudara sepupunya. Aku juga kurang perhatian. Aku dipaksa abai terhadap anak sendiri, oleh ulah istriku yang sudah kelewat batas. Hatiku, terkadang menangis.

Tidak dengan istriku, ia tetap dalam keangkuhannya. Kesombongannya telah menutupi setiap salah yang ia perbuat. Tidak terbersit sedikit pun penyesalan. Bahkan ketika Anis, sudah tidak betah di rumah. Ia hanya melenguh dengan tatapan miris di hadapanku.

"Itu salahmu sendiri!" Angkuh dari mulut istriku. Benar-benar menjijikkan.

Istriku melimpahkan semua salah padaku. Aku jadi stress. Batinku terperangkap di kubang neraka yang diciptakan istriku. Aku kalah, aku mengalah. Aku menekan dadaku sendiri yang tiba-tiba sakit bagai hantaman martil. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku tidak kerasan di rumah. Aku muak dengan situasi di rumahku sendiri.

Maka, jika Anis merasa sumpek, tidak betah di rumah, aku pun demikian. Aku seringkali melakukan kesibukan di luar rumah. Bertandang ke rumah teman sampai larut. Jika sudah demikian, istriku biasanya sudah tidur. Jadi tidak ada keributan. Aku pun tidur di kamar sebelah atau kamar tamu. Hem, benar-benar keluaga yang berantakan.

Tetapi, esok paginya, perang itu akan ditabuh bertalu-talu. Keras, sekeras-kerasnya. Tanpa henti, berdentam bersama menepinya tirai malam. Lama-lama aku tidak kuat. Aku tidak mampu bertahan, diam. Cekcok pun terjadi. Lebih kencang, keras, dan tak ada jeda. Haruskah rumah tangga ini dipertahankan?

"Kita bercerai saja!" Aku lontarkan kalimat itu dengan luapan emosi. Aku sudah tidak mampu, tidak kuat mempertahankan keutuhan rumah tangga yang bagaikan neraka.

"Tidak akan ada perceraian itu! Aku belum puas membuatmu lebih sengsara!"

Apa? Membuatku sengsara? Salah apa aku? Aku tidak paham dengan apa yang diinginkan istriku. Mengapa ia ingin aku hidup sengsara. Tidakkah seharusnya, suami istri itu saling berbagi. Saling menyinta dan berbagi kasih? Oh my God! Apa-apaan ini?
***

Mempertahankan rumah tanggaku adalah seperti menggenggam api. Begitu jauh, seperti langit dan bumi. Bagai barat dan timur, yang tidak mungkin menjadi sebuah persimpangan. Mustahil dan teramat tidak mungkin. Aku sudah tidak peduli. Aku harus menikah lagi. Dengan wanita yang menerima aku apa adanya. Mencintaiku dengan segenap jiwanya. Tidak perlu cantik, tetapi hati yang menerima, bersyukur, jauh lebih bisa dinikmati dari hanya sekadar kecantikan fisik. Tanpa persetujuan istriku, aku akhirnya menikah lagi. Seorang wanita sederhana. Kecantikannya, gaya hidupnya, penampilannya, dan kepribadiannya juga bagitu sederhana. Aku mencintainya, sebagitu ia mencintaiku. Aku hidup bersama, bahagia, di sebuah rumah yang teramat sederhana.

Aku ajak Anis bersamaku. Bersama ibu tirinya. Ia pun mau dan menerima ibu baru sebagai ibunya. Ada rasa haru yang tak tertahan, ketika melihat anakku dan istri baruku bercengkrama, layaknya seorang ibu dan anak yang sesungguhnya. Kutemukan surga itu di sana. Di petak rumah yang bersahaja, di kedamaian hidup yang sesungguhnya.

Akhirnya, aku bercerai dengan istri pertamaku. Tidak ada gunanya mempertahankan rumah tangga yang tidak harmonis. Selalu cekcok dan tidak saling menghormati. Rumah tangga yang seperti ini, tidak perlu dipertahankan. Biarlah kita mencari kebahagiaan masing-masing.

Terakhir aku dengar, katanya mantan istriku ada di sebuah lokalisasi. Tidak penting bagiku, di mana pun ia berada. Aku sudah bebas dari tanggung jawab. Apa pun yang ia perbuat, di luar kekuasaanku. Ia bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Hanya saja, masih terngiang kata-katanya dulu, selagi aku masih bersamanya.

"Tidak akan ada perceraian itu! Aku belum puas membuatmu lebih sengsara!"

Aku terkadang jadi was-was sendiri, jika kata-kata itu benar adanya. Tapi, aku berserah diri kepada Tuhan. Semoga, aku, anakku, dan istriku kali ini selalu dalam lindungan-Nya.
***

Waktu terus berlalu, membawa ragam kisah manusia di seluruh dunia. Bermacam persoalan yang akan meninggalkan jejak sejarah, manis-pahit, hitam-putih, sedih-gembira, dan lain semacamnya. Berbilang masa, dan jejak-jejak kita semakin terlihat nyata di dalam kehidupan dunia ini. Aku masih terus berkubang di belantara kekalahan yang tak kunjung berakhir.

Tiba-tiba saja aku menderita sakit yang tidak diketahui asal usulnya. Di sudut perutku bagian kiri, terasa diaduk-aduk. Sakit luar biasa. Tidak seperti sakit biasa. Seperti terdapat berlaksa duri yang mencengkeram perutku. Sudah berkali-kali aku memeriksakan diri ke dokter. Dokter tidak menemukan penyakitku. Tiap kali aku memeriksakan diri, dokter bilang tidak terdapat apa-apa. Tidak ada penyakit yang terindikasi secara medis. Tetapi, aku sendiri yang merasakan sakit, terus berasa dalam sebuah penderitaan yang teramat sangat. Sakit yang tak tertahankan.

“Penyakit apa Dok?” suatu hari setelah sekian kali aku memeriksakan diri. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. Sekan aku tidak mampu bertahan, ingin mati saja rasanya.
“Tidak ada penyakit medis yang Saudara derita,” Dokter Burhan pun heran. Ia seakan tidak percaya terhapa kenyataan yang ia hadapi.

Dengan tangan hampa, aku pulang. Istriku dengan setia menemaniku. Memberikan motivasi dan dorongan, bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Dengan jalan yang mungkin tidak bisa kita prediksi. Dengan cara yang tidak kita sangka-sangka. Istriku mengajakku untuk lebih dekat kepada Tuhan, Allah swt. Malam-malamku pun selalu aku gunakan untuk bermunajat kepada-Nya.

Anis, anakku belum tahu keadaanku. Setelah lulus dari SMP, ia melanjutkan ke sebuah Pondok Pesantren. Ia sendiri yang menghendaki. Entah tahu darimana, informasi tentang pondok yang ia inginkan. Aku dengan perasaan senang yang meluap-luap, menyetujui keinginan Anis. Di pondok, ia bisa belajar ilmu Agama. Belajar segala pengetahuan yang ingin ia dalami. Termasuk juga etika bergaul, hubungan antara orang tua, guru, tetangga, dan lain sebagainya.

Ada yang bilang aku terkena sihir. “Sihir?” gumamku dengan perasaan tidak menentu. Aku begitu awam dengan ilmu hitam, santet, gendam, dan sebagainya. Sihir, salah satunya yang semula tidak pernah aku bayangkan.

“Mungkin istri pertamamu masih sakit hati,” beberapa kerabat dan tetanggaku bilang seperti itu.
“Benarkah?” Hanya itu yang keluar dari mulutku, sebagai ketidakpercayaan atas penyakit yang aku alami. Sungguh, semula aku tidak percaya dengan sihir. Tetapi pada akhirnya aku pun bisa mengetahui bahwa sihir itu nyata. Benar adanya. Bahkan Rasulullah saw pernah disihir oleh Lubaid bin al A’shom al Yahudi, sehingga Rasulullah saw menderita sakit. Kemudian Allah swt menurunkan surah al-Falaq dan Annas sebagai obatnya.

Hingga pada suatu ketika, saat sakit itu begitu meremukkan tubuhku, aku merasakan sesuatu yang tidak baik. Seakan ajalku sudah akan tiba. Maka, aku ingin sejenak, biar hanya sebentar untuk bertemu dengan Anis, anakku satu-satunya. Sebelum ajalku tiba, aku ingin memeluknya. Ingin mengatakan kepadanya, bahwa aku sangat menyayanginya, mencintainya dengan segenap jiwa dan raga.

Anis pun diparani ke pondoknya. Ia datang dengan perasaan yang hancur. Selama ini, ia tidak tahu kalau ayahnya dalam keadaan sakit. Bahkan, hingga saat-saat yang sangat mendebarkan. Anis menangis di pangkuanku. Aku berbisik kepadanya. Dengan perasaan yang sungguh menghancurkan hatiku. Aku masih ingin tetap bersamanya. Sampai ia dewasa, mandiri, dan mendapatkan jodoh yang ia cintai, dan mencintai Anis apa adanya.

“Anakku, tidak usah sedih. Ayah masih tetap akan terus bersamamu,” dengan linang air mata yang tak tertahankan. Tumpah membanjiri kedua pipiku. Anis semakin erat memelukku.
“Jangan pergi Ayah!” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut anakku.

Tiba-tiba Anis melepaskan pelukannya. Ia kemudian pergi ke kamar mandi. Rupanya, ia mengambil air wudhu’. Benar saja, tidak lama kemudian ia membawa al-Quran dan membacanya di sampingku.

Suara Anis mengalun indah. Meresap di antara desah kesakitanku. Lambat laun, suara ayat-ayat Allah swt itu merasuki pori-pori keimananku. Hatiku bergetar hebat. Merasakan nikmat yang luar biasa. Seakan-akan, sakit yang selama ini aku derita berangsur menghilang. Menyelusup di antara ayat-ayat Quran yang dibacakan anakku. Anis terus saja membaca. Ayat demi ayat. Entah firasat apa yang telah merasuk dalam pikiran anakku. Hingga ia bermaksud untuk menyembuhkan penyakitku dengan ayat-ayat al-Quran. Dengan kehendak Allah swt.

Anis menghentikan bacaannya. Aku berpaling kepadanya. Ia tersenyum, aku pun menyambutnya dengan senyum. Ada riak-riak bahagia di antara aku dengannya.

“Ya Allah, terima kasih, telah Engkau anugerahkan kepadaku Putri yang sholihah,” suaraku bergetar, kebahagiaan muncul bersama hilangnya penyakitku, perlahan-lahan. Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin.

Sumenep, 25122013
***







[1] Bahasa Madura, artinya panas sekali.