Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com

Tuesday, March 10, 2015

KADO CINTA BUAT IBU

 KADO CINTA BUAT IBU



Ibu,
Engkau adalah goa pertapaanku. Tempatku bersemayam, di rahim yang penuh dengan cinta. Sejuk bersama zikir yang Kaulantunkan setiap saat. Hangat bersama peluk rindu dan kasih sayang. Engkaulah ibuku, yang sekian waktu lamanya aku meringkuk di rahimmu yang indah. Penuh kasih. Bertabur cinta. Ibu, aku damai dalam surga rahimmu. Karena Engkau selalu menjagaku. Memilihkan aku makanan dan minuman yang thoyyibah, baik, bergizi, dan sehat. Maka, aku pun tumbuh, besar bersama laksa peluk cintamu yang tak berkesudahan.

Ibu,
Tibalah waktunya aku lahir. Menginjak dunia dengan taruhan sengal napasmu. Dengan cucuran peluh dan keringatmu. Dengan segenap jiwamu, untuk mempertahankan keberadaanku. Engkau taruhkan hidup dan matimu. Engkaulah ibu, yang memantik api kehidupanku. Untukku, anakmu yang Kauharapkan bersama kisah sukses masa depanku.

Aku pun menginjak dunia. Bersama tangis yang mengharapkan air susumu. Aku hadir dengan tangis. Engkau sambut hentak tangisku dengan senyum indahmu. Aku hadir bersama tingkah nakalku, Engkau datang bersama elus dan kasih sayangmu. Sungguh, cintamu berhulu tak berhilir. Sayangmu laksana samudra tak berpantai. Kasihmu adalah bumiku, dan pelukmu adalah langitku.

Ibu,
Engkaulah madrasahku. Tempatku belajar, memperoleh pendidikan. Kaudidik aku dengan cinta dan kasih sayangmu. Kauperlakukan aku laksana dian yang tak boleh padam. Engkaulah guruku, yang menunjukkan siapa Tuhanku.

Engkau ajari aku cara menetek. Engkau ajari aku cara makan dan minum yang benar. Engkau ajari aku cara merangkak, berjalan, dan berlari. Bila aku terjatuh, hatimu merasa luluh. Perasaanmu begitu rapuh, karena tak ingin aku terluka. Namun, Ibu, Engkau tegakan hatimu, sebagai bentuk pendidikan untukku. Untuk kebaikanku. Untuk masa depanku.

Kalimat tauhid yang Engkau ajarkan, adalah bagian dari teori alamiah madrasahmu. Aku pun tumbuh dan besar dengan pengenalan akan Tuhanku. Allahn swt.

Ibu,
Dalam menjagaku Engkau begitu sabar. Engkau selalu tabah. Ikhlas dengan hati yang tulus. Biarpun aku berulah. Meskipun aku bertingkah. Walaupun aku bersalah. Namun, sabar dan ikhlasmu selalu mengiringi langkahku. Tak ada dendam. Tak timbul amarah yang berkepanjangan. Itulah, Engkau ibuku yang selalu jaga untukku.

Waktu tak pernah berlalu tanpa kasihmu. Tanpa sabar dan ikhlasmu. Tak ada waktu luang, baik siang maupun malam. Adamu, Ibu, tanpa berbatas waktu.


Ketika aku masih kecil, damai dalam tidur di sampingmu. Engkau pun tersenyum, karena aku dalam keadaan aman. Jika pun aku terbangun, merengek atau pun dalam hentak tangisku, begitu segera, Engkau merengkuhku, dalam peluk cinta yang bergelora. Aku pun diam, dalam hangat lezat air susumu. Ibu, jagamu sepanjang hayat. Awasmu segenap jiwa cinta yang bersemayam di lubuk hatimu yang paling dalam.

Ibu,
Tak mungkin aku mampu membalas pengorbananmu. Tak mungkin aku kembalikan sepenuh cinta padamu. Karena pengorbananmu tak mungkin bisa kuhitung dengan harta.

Ibu, Engkau selalu berkorban untukku. Berkorban jiwa dan raga. Merelakan segenap waktumu hanya untukku. Bahkan, air matamu membuncah, jika aku tidak nyaman dalam hidupku. Itulah, Engkau Ibu, yang selalu mawas untuk aku, anakmu.

Tak pernah terpikir sedikit pun, jika apa yang telah Engkau berikan, akan diminta kembali suatu waktu. Tidak, sekali lagi tidak. Karena cintamu adalah ikhlas semata.

"Kasih Ibu kepada beta. Tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia."[1]

Ibu,
"kalau aku ikut ujia// lalu ditanya tentang pahlawan//namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu//lantaran aku tahu//engkau ibu dan aku anakmu." [2]

Ibu, Engkaulah pahlawanku. Berkorban demi aku anakmu. Engkau rela dirimu susah, sakit, dan sengsara. Asalkan aku, anakmu tetap dalam damai. Ibu, Engkau pahlawan yang tak bergelar kehormatan. Karena kasihmu adalah cinta yang selalu berpeluk sayang. Memberi, tidak untuk meminta kembali.

Ibu,
Setulus cintamu itulah sifatmu. Karakter yang terpatri, tetap mengembang merbakkan bunga kasturi. Setulus cintamu nan suci. Berkelindan dalam hidupku tanpa henti. Ibu, larik maafmu berdiksi ampunan. Tanpa diminta, tanpa dinyana. Berkelebat bunga-bunga surga, selalu, menyertai aku anakmu. Ibu, muara cintamu berhilir di pelupuk hidup dan matiku.

Selagi gelora kasih, masih hayat bersama napasmu, maka sebagitu tulus nuansa cintamu. Engkau ada untuk napasku. Engkau tercipta untuk detak jantungku. Ibu, biarkan aku dalam kasihmu yang tulus, karena Engkaulah bidadari surgaku[3].

Ibu,
Sekejap saja aku berlalu dari awasmu, laksa rindumu berpadu. Rindu berpeluk. Rindu mengecup gemas pipiku. Bahkan, biarpun aku sudah dewasa. Teruntuk rindu ini, tertanam, terhunjam, dan berurat berakar di keping hatimu yang paling dalam. Maka, aku pun damai, seiring basah bibir bersama doamu. Terjaga dari beribu marabahaya. Lantaran doa rindu yang Kauhulurkan untukku.

Aku damai bersama doa rindumu. Aku damai bersama ridhamu. Aku damai bersama cinta berkalung pelangi, berselendang aurora cakrawala. Ibu, jangan pernah Kautinggalkan aku, tanpa setulus cinta dan rindhamu.

Ibu,
Kini aku sudah paham. Arti dan kedudukanmu di sisi Allah. Arti dan kedudukanmu di sisi Rasulullah. Betapa besar pengorbananmu untukku, anakmu. Ketika Allah swt berfirman:

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)[4]

Ibu, jelas sekali dalam ayat ini aku diperintahkan untuk berbakti. Selalu patuh dan ta'at kepadamu. Karena Engkaulah yang mengadungku selama 9 bulan. Menyusuiku selama 2 tahun. Kurang lebih 30 bulan lamanya, aku terus dalam pengasuhan cintamu. Tidak, bahkan untuk selamanya. Selama napasmu masih mampu Kauhela.

"Ribuan kilo jalan yang Kau tempuh. Lewati rintang untuk aku anakmu. Ibuku sayang masih terus berjalan. Walau tapak kaki, penuh darah, penuh nanah. Seperti udara kasih yang Engkau berikan. Tak mampu 'ku membalas. Ibu,..."[5]

Ibu, begitulah, nyanyi itu terus aku dendangkan. Lagu itu menjadi kado cinta untukmu. Untuk ibu yang kasihnya tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Ibu, cintamu masih terus bertahan, meski keringat darah menderas di setiap tapak langkahmu.

Ibu,
Agung tempatmu menjadi perhatian serius dari Rasulullah saw. Beliau menempatkan dirimu di singgasana kehormatan. Maka sabda Nabi pun bersenarai:

"Dari Abu Hurairah radhiyallaahu‘anhu , belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi saw menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)[6]

Ibu, lantaran kedudukanmu yang begitu terhormat, maka derai air mataku seringkali tertumpah. Menganak sungai. Karena dosa yang telah kuperbuat. Karena salah yang telah kulakukan. Karena kata-kata yang seringkali menyakiti hatimu. Maka, ampunilah aku, Ibu. Maafkankah aku, Ibu. Tanpa maafmu, tanpa ridhamu, aku akan terperosok ke jurang kegelapan yang paling dalam. Akan berkubang di neraka yang paling curam. Ibu, maafkan anakmu ini. Hanya kado cinta yang akan menghantarmu, menuju renta usiamu. Maka tersenyumlah untukku.

Ibu,
Kado cinta untukmu, Ibu, adalah jelma rindu yang menghampar sejuta makna kasih. Katika kembang surga, melantunkan doa-doa, dan Engkau bermunajat bersama sayang kepadaku. Aku pun tersedu, menatap langit, menggores layar kelakuanku. Maka sederat lukisan salah dan dosa padamu, beriring, berbaris, menumpahkan sebentuk pinta. Ibu, pintaku padamu, maafkan segala kesalahanku. Ampuni segala dosaku. Sugguh, bersama kado cinta ini, Engkau dalam peluk cintaku padamu.

Ibu, sebentuk pengharapanku, hapuslah air matamu. Semoga aku mampu menjagamu. Tempat sandaranmu ketika Engkau tak lagi mampu berdiri. Inilah aku, anakmu yang ingin menggantikan detak jantungmu. Aku ingin membagi napasku. Agar Engkau, Ibu, tak bersengal di ujung waktumu.

Ibu, kini Engkau telah renta. Rambutmu sudah memutih. Kulitmu pun sudah keriput. Tapi semangat kasihmu, masih mengalir di relung hatiku. Elusan tanganmu masih terasa nirwana, menyentuh sejuk perasaan kalbuku. Engkau masih ada, biar ujung senja mulai berlipat. Tawamu seindah bunga di taman firdaus.

Ibu,
Semoga aliran doaku ini, mampu membuatmu tersenyum. Memberikan kesejukan nuansa, di haribaan cinta dan kasihmu.

"Robbigh firlii waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbayaanii shoghiraa."

Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu-Ayah), dan kasihanilah keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidikku (dari) kecil."

Ibu,
Di penghujung goresan kado cinta ini, aku, anakmu ingin selalu bersamamu. Ingin selalu di pelukmu. Ingin selalu dalam cinta dan ridhamu. Terimalah kado cinta ini, dan senyum tangismu selalu bermuara di relung kehidupanku. Maafku padamu, Ibu.
***


Note: Teruntuk ibuku yang kini sudah di usia senja. Doaku selalu untukmu. Dan doamu senantiasa menyertaiku. Amin.




[1] Larik lagu dengan judul ‘Kasih Ibu’ karangan Ibu Sud
[2] Sebagian dari larik puisi D. Zawawi Imron yang berjudul ‘Ibu’
[3] Judul lagu ‘Bidadari Surga’ oleh Ust. Jefri Al-Bukhari (alm)
[4] Terjemah Al Qur’anul Karim (Qs. Al-Ahqaaf : 15)
[5] Larik lagu dengan judul ‘Ibu’ oleh Iwan Fals
[6] Sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, hadits shahih.

Monday, March 9, 2015

Kebahagiaan Dalam Memberi

Kebahagiaan Dalam Memberi Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Suatu sore, seorang mahasiswa berjalan bersama rekannya.

Ketika mereka melihat sepasang sepatu butut di tepi jalan. Mereka yakin sepatu tersebut milik seorang pekerja rendahan yang bekerja dihutan.

Sang mahasiswa berpaling pada rekannya seraya berkata, "Bagaimana kalau kita sembunyikan sepatunya,lalu kita bersembunyi dibalik semak-semak dan melihat apa yang terjadi kemudian."

Rekannya itu menjawab, "Sobatku, kita tidak seharusnya bersenang2 dengan mengorbankan orang miskin.

Engkau dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, dan itu akan mendatangkan kesenangan besar dalam dirimu. Caranya adalah memasukkan uang kedalam kedua sepatu bututnya. Setelah itu kita bersembunyi untuk melihat reaksi orang tersebut."

Mahasiswa itu pun melakukan apa yg dikatakan rekannya,lalu mereka bersembunyi di balik semak2. Tak lama kemudian, si empunya sepatu keluar dari hutan dan bergegas mengambil sepatunya. Ketika memasukkan salah satu kakinya,ia merasakan ada benda yg mengganjal. Ia pun merogoh ke dalam sepatu. Ia nampak terkejut dan terheran karena ada uang dalam sepatunya. Ia memegang sambil menatap uang tersebut, lalu melihat ke sekeliling apakah ada org di sekitarnya. Tapi,ia tidak melihat seorangpun disana. Lalu ia memasukkan uang tersebut kekantongnya,sambil memasang sepatu
... baca selengkapnya di Kebahagiaan Dalam Memberi Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Jangan Menyerah

Jangan Menyerah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Arya berjalan menuju ke lapangan. Ia akan berlatih bersama Rendi. Ia masuk tim sepak bola sekolahnya yang akan bertanding melawan tim dari sekolah lain. Arya kelas 5 SD Mekar Sari. Rendi adalah sahabatnya yang juga anggota tim sepak bola sekolah mereka.

Arya dan Rendi berlatih bersama setiap hari minggu. Mereka menggunakan seragam berwarna merah dan putih. Mereka juga membawa bola mereka sendiri. Kata Mama Arya, jangan pernah menyerah. Jika itu keinginan kalian, maka lakukanlah yang terbaik. Guru olahraga mereka juga bilang begitu.

Arya dan Rendi menepati janji mereka. Mereka selalu berlatih setiap minggu sore. Mereka berlatih di lapangan dekat rumah Arya. Mereka berlatih juga tak kenal menyerah. Di sekolah, kadang-kadang mereka berlatih saat jam istirahat. Tapi mereka berlatih di lapangan sekolah. Saat sore minggu, Rendi berjalan menuju rumah Arya.
Tok, tok, tok. Rendi mengetuk pintunya. “Assalamu’alaikum, Arya, ayo ke lapangan. Sudah siap belum?” Tanya Rendi.
“Yaaa, Sebentar!” Balas Arya.
Sesaat kemudian Arya sudah keluar dari rumah. Ia menemui Rendi, kemudian berjalan bersamanya menuju lapangan.

Saat di lapangan, Arya dan Rendi bermain hom pim pa. Mereka menentukan siapa yang memulai duluan dengan cara itu. Rendi menang, ia mengambil bola dari tangan Arya, dan menentukan jarak lalu menendangnya. Arya bersiap menangkap bola di dep
... baca selengkapnya di Jangan Menyerah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Friday, March 6, 2015

HIDUPKAN SUKSESMU VS SUKSESKAN HIDUPMU

HIDUPKAN SUKSESMU VS SUKSESKAN HIDUPMU

Tanpa saya sengaja, dan inilah mungkin yang dimaksud dengan ‘luck’ dalam salah satu bahasannya BILLY BOEN, dalam bukunya “Hidupkan Suksesmu; Rangkuman Pikiran & Nilai Untuk Suskses”.  Ketidak-sengajaan saya adalah, tiba-tiba buku motivasi ini berada di tangan saya, dan saat ini masih dalam proses ‘baca’ saya. Saya berkunjung ke rumah teman, dan di atas sofa teman saya, tergeletak sebuah buku yang saya maksud. Tanpa ba-bi-bu, saya pun langsung terterik dengan judul yang tertulis di cover buku tersebut.

Sementara saya masih terus berusaha menelaah makna dari setiap artikel yang ada di dalamnya, saya merasa tertarik untuk kemudian menyentuh tuts laptop, dan menuliskan sesuatu yang terlintas di benak saya. Tentu, hubungannya dengan buku BILLY ini. Tentang sukses, tentang sesuatu yang harus dilakukan menuju kesuksesan.

Hidupkan Suksesmu berbeda dengan Sukseskan Hidupmu. Entahlah! Tiba-tiba saja terlintas di benak saya, frase kalimat Sukseskan Hidupmu, setelah membaca judul buku Hidupkan Suksesmu. Menurut pemahaman saya, terdapat perbedaan antara kedua frase di atas.

Hidupkan Suksesmu, berarti kesuksesan itu sudah ada pada diri setiap person. Hanya bagaimana kemudian, kita dituntut untuk menghidupkan yang awalnya ‘mati’. Atau men-survive-kan yang asalnya suri. Pada diri tiap orang, telah disematkan benih-benih sukses, yang kemudian hidup-matinya sukses itu tergantung kepada kerja dan karakter personal itu sendiri. Jika dihubungkan dengan ‘kemagnetan’ (kebetulan saya guru Fisika, dan saat ini tengah menjelaskan gejala kemagnetan kepada murid saya), maka magnet elementer itu sudah ada pada setiap bahan/benda. Hanya saja magnet elementer itu masih acak dan tidak dalam satu arah yang sama. Maka untuk menjadikan gaya magnet yang berdaya guna, diperlukan tiga hal; 1) digosok dengan magnet tetap, 2) dialiri arus listrik, dan 3) dengan cara induksi. Ketiga cara tersebut dapat diaktualisasikan sebagai bagian dari rencana manusia untuk menuju puncak sukses. Atau dengan bahasa Mas Billy, menuju “Young On Top”.

Sukseskan Hidupmu, berarti kesusksesan itu masih belum ada. Sama sekali, atau hanya sebagaian kecil saja. Jadi, menurut pemahaman saya, pemilihan judul ‘Hidupkan Suksesmu’ lebih berdaya makna daripada ‘Sukseskan Hidupmu. Tetapi, ini hanya sebatas wacana diri, yang bisa jadi dalam pemahaman dan pemaparan yang lain bisa kurang lebih sama, atau malah lebih baik untuk yang kedua. Gitu deh!





INDAHNYA BERBAGI

Mencermati buku Mas Billy ini, (maaf saya masih belum tuntas membaca, saat artikel ini ditulis),  terlintas dalam pikiran saya tentang arti besar dari berbagi. Baik itu yang berupa materi, atau hanya sebatas ikut prihatin, dan berbela sungkawa atas permasalahan orang lain. Baik itu tentang tanah longsor, sunami, kecelakaan, peperangan, dan lain sebagainya.

Kita tercipta sebagai makhluk sosial. Itu artinya, kita tidak bisa hidup sendiri. Kita pasti membutuhkan pertolongan orang sekitar. Untuk menolong, tidak harus menjadi kaya, atau tidak mesti menjadi seorang pejabat. Pertolongan begitu mudah, semudah kita ingin dan akan menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Mas Billy bukanalah seorang Muslim. Tetapi, untuk sekadar berbagi kebahagiaan, pada saat ‘LEBARAN’, Mas Billy tidak segan-segan untuk mengucapkan ‘SELAMAT LEBARAN’ bagi yang merayakannya. Berbagi kebahagiaan tidak harus seagama, namun senasib tercipta sebagai manusia adalah bagian terpenting untuk saling berbagi kebahagiaan. Maaf, bagi yang tidak setuju dengan pernyataan ini, saya tidak bermaksud untuk me-rival-kan, antara yang pro-ucapan selamat keagamaan dengan yang kontra. Mari kita terus berbagi untuk suatu kebahagiaan, karena hanya dengan cara berbagi, kita dibedakan antara human dan nonhuman. Mungkin, begitu!

Saya pun Berlinangan Air Mata, salah satu artikel yang sempat membuat hati saya terharu. Melihat dan memahami, betapa masih ada anak-anak di sekitar kita yang membutuhkan kasih. Meski kita bisa memberi tanpa mengasihi, tetapi kita tidak bisa mengasihi tanpa memberi. Anak-anak yatim, adalah mereka yang memerlukan kasih sayang kita. Memerlukan uluran lembut tangan kita. Agar mereka tidak merasa sunyi di antara hiruk-pikuk kehidupan dunia. Agar mereka memahami, bahwa masih ada kerabat ‘jauh’ yang peduli, dan bersedia berbagi kebahagiaan dengan mereka. Semoga!





UNTUK SUKSES BUTUH KEMAUAN YANG KUAT

Sukses, adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk direalitaskan. Setuju? Bisa jadi ada yang setuju, dan yang tidak setuju juga, mungkin, banyak. “Untuk Sukses Dibutuhkan Kemauan yang Kuat”, itu kata Mas Billy. Kemauan yang kuat tentu harus dibarengi dengan usaha (ikhtiar) yang maksimal. Adakah usaha yang tidak maksimal? Tentu! Kok bisa? Yeee....!

Saya seorang tenaga guru. Untuk mencapai taget pembelajaran, saya harus punya kemauan. Kemauan saja tidak cukup, tetapi harus kemauan yang kuat, disertai dengan ikhtiar yang maksimal. Tidak sedikit seorang guru yang punya kemauan untuk menuntaskan pembelajaran, tetapi, karena tidak disertai dengan kemauan yang kuat, maka goal tersebut tidak tersampaikan. Dan kesuksesan pembelajran hanya sebuah slogan yang terus didengungkan untuk sesuatu yang tidak tercapai.

Seorang nelayan, untuk mendapatkan ikan yang banyak (diinginkan), maka mereka harus berjuang, bertarung , dan berkorban untuk menaklukkan ganasnya gelombang dan badai. Dengan kemauan yang maksimal dan kegigihan yang benar-benar gigih, maka para nelayan akan memetik hikmah dari daya upaya dan kemauannya yang tertanam kuat di dalam dirinya. Akankah ikan yang diinginkan akan didapat? Jawabannya, entu ‘YA’.

Semula, saya adalah seorang perokok, Mas Billy juga. Terus, dengan sebuah tekat dan kemauan yang kuat, saya berusaha untuk berhenti dari kebiasaan kurang baik ini. Hasilnya? Alhamdulillah, sudah sekitar lima tahunan, saya tidak lagi menyentuh yang namanya ROKOK. Sama sekali, ya benar-benar ‘cerai’ dari yang namanya merokok.

Tentu, ada yang bertanya, “Kok bisa ya?” Jika ada kemauan, lakukan ikhtiar maksimal, maka jalan akan terpampang. Jika ada yang mengatakan, bahwa sudah seringkali mencoba untuk shutdown dari merokok, tapi tidak bisa dipisahkan dari merokok, maka kemauan itu masih perlu di-review agar menjadi sebuah will power untuk mencapai tujuan.



DITRAKTIR VS MENTRAKTIR

Satu lagi hal menarik yang sempat ‘in’ di benak saya adalah, “Ditraktir vs Mentraktir.” Anda lebih suka ditraktir atau mentraktir? Tentu jawabannya akan berbeda-beda. Ada yang suka ditraktir, ada juga yang suka mentraktir. Ditraktir, tidak perlu menjadi orang yang di bawah, miskin, atau status sosial yang lebih rendah. Ditraktir, bisa jadi atasan, orang yang lebih kaya, atau pun status sosial yang lebih baik daripada yang mentraktir.

Padahal, saya sependapat dengan Mas Billy, bahwa mentraktir itu bernilai ‘lebih.’ Ada ‘rasa’ yang mungkin tidak terungkapkan ke permukaan, manakala kita menjadi ‘lebih’ daripada ‘tidak lebih’.

Apa sih, kelebihan dari mentraktir? Rasa memberi, ya memberi adalah bagian dari kelebihan mentraktir. Di samping itu, mentraktir akan memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Dengan demikian, kita kembali kepada ‘ungkapan cinta’ yang harus dirasakan olah orang lain. Ungkapkan ‘cinta’mu, dengan sepenuh hati, ikhlas, dan tanpa pamrih. Maka, sunah alam akan memberikan ‘umpan balik’ untuk kembali ‘the best’ kepada diri kita sendiri. Gitu deh, mungkin!

Mentraktir adalah bagian dari rasa kasih. Cinta yang akan menghidupi suasana di sekitar kita. Biasakan mentraktir, dan jarangkan ditraktir. Karena dengan mentraktir, kita akan menjadi orang yang memberi. Sedangkan lebih banyak memberi, adalah salah satu bagian untuk mencapai kebahagiaan.


07/03/2015

HIDUPKAN SUKSESMU VS SUKSESKAN HIDUPMU

HIDUPKAN SUKSESMU VS SUKSESKAN HIDUPMU

Tanpa saya sengaja, dan inilah mungkin yang dimaksud dengan ‘luck’ dalam salah satu bahasannya BILLY BOEN, dalam bukunya “Hidupkan Suksesmu; Rangkuman Pikiran & Nilai Untuk Suskses”.  Ketidak-sengajaan saya adalah, tiba-tiba buku motivasi ini berada di tangan saya, dan saat ini masih dalam proses ‘baca’ saya. Saya berkunjung ke rumah teman, dan di atas sofa teman saya, tergeletak sebuah buku yang saya maksud. Tanpa ba-bi-bu, saya pun langsung terterik dengan judul yang tertulis di cover buku tersebut.

Sementara saya masih terus berusaha menelaah makna dari setiap artikel yang ada di dalamnya, saya merasa tertarik untuk kemudian menyentuh tuts laptop, dan menuliskan sesuatu yang terlintas di benak saya. Tentu, hubungannya dengan buku BILLY ini. Tentang sukses, tentang sesuatu yang harus dilakukan menuju kesuksesan.

Hidupkan Suksesmu berbeda dengan Sukseskan Hidupmu. Entahlah! Tiba-tiba saja terlintas di benak saya, frase kalimat Sukseskan Hidupmu, setelah membaca judul buku Hidupkan Suksesmu. Menurut pemahaman saya, terdapat perbedaan antara kedua frase di atas.

Hidupkan Suksesmu, berarti kesuksesan itu sudah ada pada diri setiap person. Hanya bagaimana kemudian, kita dituntut untuk menghidupkan yang awalnya ‘mati’. Atau men-survive-kan yang asalnya suri. Pada diri tiap orang, telah disematkan benih-benih sukses, yang kemudian hidup-matinya sukses itu tergantung kepada kerja dan karakter personal itu sendiri. Jika dihubungkan dengan ‘kemagnetan’ (kebetulan saya guru Fisika, dan saat ini tengah menjelaskan gejala kemagnetan kepada murid saya), maka magnet elementer itu sudah ada pada setiap bahan/benda. Hanya saja magnet elementer itu masih acak dan tidak dalam satu arah yang sama. Maka untuk menjadikan gaya magnet yang berdaya guna, diperlukan tiga hal; 1) digosok dengan magnet tetap, 2) dialiri arus listrik, dan 3) dengan cara induksi. Ketiga cara tersebut dapat diaktualisasikan sebagai bagian dari rencana manusia untuk menuju puncak sukses. Atau dengan bahasa Mas Billy, menuju “Young On Top”.

Sukseskan Hidupmu, berarti kesusksesan itu masih belum ada. Sama sekali, atau hanya sebagaian kecil saja. Jadi, menurut pemahaman saya, pemilihan judul ‘Hidupkan Suksesmu’ lebih berdaya makna daripada ‘Sukseskan Hidupmu. Tetapi, ini hanya sebatas wacana diri, yang bisa jadi dalam pemahaman dan pemaparan yang lain bisa kurang lebih sama, atau malah lebih baik untuk yang kedua. Gitu deh!





INDAHNYA BERBAGI

Mencermati buku Mas Billy ini, (maaf saya masih belum tuntas membaca, saat artikel ini ditulis),  terlintas dalam pikiran saya tentang arti besar dari berbagi. Baik itu yang berupa materi, atau hanya sebatas ikut prihatin, dan berbela sungkawa atas permasalahan orang lain. Baik itu tentang tanah longsor, sunami, kecelakaan, peperangan, dan lain sebagainya.

Kita tercipta sebagai makhluk sosial. Itu artinya, kita tidak bisa hidup sendiri. Kita pasti membutuhkan pertolongan orang sekitar. Untuk menolong, tidak harus menjadi kaya, atau tidak mesti menjadi seorang pejabat. Pertolongan begitu mudah, semudah kita ingin dan akan menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Mas Billy bukanalah seorang Muslim. Tetapi, untuk sekadar berbagi kebahagiaan, pada saat ‘LEBARAN’, Mas Billy tidak segan-segan untuk mengucapkan ‘SELAMAT LEBARAN’ bagi yang merayakannya. Berbagi kebahagiaan tidak harus seagama, namun senasib tercipta sebagai manusia adalah bagian terpenting untuk saling berbagi kebahagiaan. Maaf, bagi yang tidak setuju dengan pernyataan ini, saya tidak bermaksud untuk me-rival-kan, antara yang pro-ucapan selamat keagamaan dengan yang kontra. Mari kita terus berbagi untuk suatu kebahagiaan, karena hanya dengan cara berbagi, kita dibedakan antara human dan nonhuman. Mungkin, begitu!

Saya pun Berlinangan Air Mata, salah satu artikel yang sempat membuat hati saya terharu. Melihat dan memahami, betapa masih ada anak-anak di sekitar kita yang membutuhkan kasih. Meski kita bisa memberi tanpa mengasihi, tetapi kita tidak bisa mengasihi tanpa memberi. Anak-anak yatim, adalah mereka yang memerlukan kasih sayang kita. Memerlukan uluran lembut tangan kita. Agar mereka tidak merasa sunyi di antara hiruk-pikuk kehidupan dunia. Agar mereka memahami, bahwa masih ada kerabat ‘jauh’ yang peduli, dan bersedia berbagi kebahagiaan dengan mereka. Semoga!





UNTUK SUKSES BUTUH KEMAUAN YANG KUAT

Sukses, adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk direalitaskan. Setuju? Bisa jadi ada yang setuju, dan yang tidak setuju juga, mungkin, banyak. “Untuk Sukses Dibutuhkan Kemauan yang Kuat”, itu kata Mas Billy. Kemauan yang kuat tentu harus dibarengi dengan usaha (ikhtiar) yang maksimal. Adakah usaha yang tidak maksimal? Tentu! Kok bisa? Yeee....!

Saya seorang tenaga guru. Untuk mencapai taget pembelajaran, saya harus punya kemauan. Kemauan saja tidak cukup, tetapi harus kemauan yang kuat, disertai dengan ikhtiar yang maksimal. Tidak sedikit seorang guru yang punya kemauan untuk menuntaskan pembelajaran, tetapi, karena tidak disertai dengan kemauan yang kuat, maka goal tersebut tidak tersampaikan. Dan kesuksesan pembelajran hanya sebuah slogan yang terus didengungkan untuk sesuatu yang tidak tercapai.

Seorang nelayan, untuk mendapatkan ikan yang banyak (diinginkan), maka mereka harus berjuang, bertarung , dan berkorban untuk menaklukkan ganasnya gelombang dan badai. Dengan kemauan yang maksimal dan kegigihan yang benar-benar gigih, maka para nelayan akan memetik hikmah dari daya upaya dan kemauannya yang tertanam kuat di dalam dirinya. Akankah ikan yang diinginkan akan didapat? Jawabannya, entu ‘YA’.

Semula, saya adalah seorang perokok, Mas Billy juga. Terus, dengan sebuah tekat dan kemauan yang kuat, saya berusaha untuk berhenti dari kebiasaan kurang baik ini. Hasilnya? Alhamdulillah, sudah sekitar lima tahunan, saya tidak lagi menyentuh yang namanya ROKOK. Sama sekali, ya benar-benar ‘cerai’ dari yang namanya merokok.

Tentu, ada yang bertanya, “Kok bisa ya?” Jika ada kemauan, lakukan ikhtiar maksimal, maka jalan akan terpampang. Jika ada yang mengatakan, bahwa sudah seringkali mencoba untuk shutdown dari merokok, tapi tidak bisa dipisahkan dari merokok, maka kemauan itu masih perlu di-review agar menjadi sebuah will power untuk mencapai tujuan.



DITRAKTIR VS MENTRAKTIR

Satu lagi hal menarik yang sempat ‘in’ di benak saya adalah, “Ditraktir vs Mentraktir.” Anda lebih suka ditraktir atau mentraktir? Tentu jawabannya akan berbeda-beda. Ada yang suka ditraktir, ada juga yang suka mentraktir. Ditraktir, tidak perlu menjadi orang yang di bawah, miskin, atau status sosial yang lebih rendah. Ditraktir, bisa jadi atasan, orang yang lebih kaya, atau pun status sosial yang lebih baik daripada yang mentraktir.

Padahal, saya sependapat dengan Mas Billy, bahwa mentraktir itu bernilai ‘lebih.’ Ada ‘rasa’ yang mungkin tidak terungkapkan ke permukaan, manakala kita menjadi ‘lebih’ daripada ‘tidak lebih’.

Apa sih, kelebihan dari mentraktir? Rasa memberi, ya memberi adalah bagian dari kelebihan mentraktir. Di samping itu, mentraktir akan memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Dengan demikian, kita kembali kepada ‘ungkapan cinta’ yang harus dirasakan olah orang lain. Ungkapkan ‘cinta’mu, dengan sepenuh hati, ikhlas, dan tanpa pamrih. Maka, sunah alam akan memberikan ‘umpan balik’ untuk kembali ‘the best’ kepada diri kita sendiri. Gitu deh, mungkin!

Mentraktir adalah bagian dari rasa kasih. Cinta yang akan menghidupi suasana di sekitar kita. Biasakan mentraktir, dan jarangkan ditraktir. Karena dengan mentraktir, kita akan menjadi orang yang memberi. Sedangkan lebih banyak memberi, adalah salah satu bagian untuk mencapai kebahagiaan.


07/03/2015

Tuesday, March 3, 2015

Akibat Parzinahan

Akibat Parzinahan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Seperti mentari yang tak kunjung tiba, terhalang gumpalan awan hitam yang membumbung tanpa memberikan celah. Seperti siap tertendang dari Bumi tampa tahu akan singgah di belahan dunia yang mana. Amira hanya terdiam dan tak mampu berkata-kata, kesalahan yang telah ia lakukan dengan kekasihnya Rival selalu terngiang-ngiang di pikirannya, “KOTOR” begitulah yang ia pikirkan pada dirinya sendiri. Seperti daging busuk dengan bau menyengat menempel pada tubuhnya sendiri.
“kenapa aku bisa melakukannya aku BODOH, bagaimana jika aku hamil, mungkin aku akan di bunuh sama bapak” lirihnya dalam hati di tengah tamparan-tamparan penyesalan. “sayang makasi ya yang kemarin, aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun” pesan singkat dari pacarnya Rival sedikit menenangkan dan membangunkannya dari lautan penyesalan.

Amira sebenarnya anak yang baik, dia selalu mengikuti apa kata Bapaknya, namun semuanya terjadi begitu saja tanpa ia pikir panjang. Di sisi lain Amira tidak mau kehilangan Rival jika tidak menuruti apa maunya karena Amira terlalu mencintai Rival.

Rasa takut yang tidak menentu kini ia rasakan, di sisi lain dia takut azab Allah di akhirat dan di sisi lain Amira takut Azab Allah di dunia. “tapi ah tidak ada seorangpun yang tahu dan Rival pasti menikahiku” Amira coba berpikir lurus di t
... baca selengkapnya di Akibat Parzinahan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sunday, March 1, 2015

Pangeran Bungkuk

Pangeran Bungkuk Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Alkisah, di sebuah kerajaan, sang raja memerintah dengan bijaksana dan dicintai oleh rakyatnya. Raja mempunyai seorang putra berwajah tampan dan cerdas, tetapi sayang tubuhnya agak bungkuk. Akibatnya, pangeran menjadi pendiam, minder, dan tidak percaya diri. Keadaan ini membuat Raja risau dan sedih karena bila kelak tiba saatnya sang pangeran harus naik tahta, dia pasti tidak dapat memerintah rakyatnya dengan baik dan bijaksana. Para penasihat raja yang setia sangat memahami kegundahan hati junjungannya. Maka setelah berembuk berulangkali, diam-diam para penasihat memesan sebuah patung kepada pemahat istana yang akan dihadiahkan kepada sang pangeran kelak di hari ulang tahunnya.

Saat tiba hari itu, hadiah diberikan kepada sang pangeran. Di dekat hadiah itu, ada tulisan: “Untuk calon pemimpin kami, atas nama seluruh rakyat yang mencintai pangeran.”

Kemudian kain penutup dibuka dan tampak sungguh menakjubkan, sebuah patung berwajah tampan sang pangeran dengan tubuh tegak dan tegap, penuh wibawa. Dan ukuran patung
... baca selengkapnya di Pangeran Bungkuk Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1