Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com

Friday, December 30, 2016

MEMAKNAI KEHILANGAN TANPA KAWATIR DAN RASA TAKUT

(Apresiasi Puisi “Kehilangan yang Kautakutkan,” oleh: Muhammad Asqalani Eneste)

"Janganlah kamu takut dan kawatir, Allah bersama kita." (Alquran)

Kematian adalah bagian dari gejala alam yang sampai saat ini "belum" direlakan untuk segera bersua. Artinya, jiwa manusia yang terangkum dalam wadah fisik insan, berusaha untuk berhindar dari kematian itu sendiri. Hal ini begitu normatif, kewajaran yang terungkap dari kepastian "takut" untuk tercerabut dari dunia nyata. Bahkan orang bunuh diri pun belum bisa dipastikan bahwa mereka berani dengan mati.

Kematian adalah sebuah kenyataan. Setiap jiwa yang hidup, pasti akan mengalamai mati. Siapa pun saja, baik yang ateis (tidak percaya Tuhan) ataupun yang teologis (percaya Tuhan), merasa dan menyadari bahwa pada saatnya nanti kematian akan menjemput. Tentu saja ada perbedaan dalam menghadapi kematian, hal ini nampak jelas pada manusia yang percaya Tuhan. Persiapan untuk kehidupan yang kekal (akhirat) menjadi prioritas, meskipun pola dan caranya tidak sama. Bahkan, sekalipun keyakinan yang kepura-puraan.

"Tiap-tiap (jiwa) yang bernafas akan mati." (Alquran)

Memaknai ketiadaan ---saya lebih condong pada arti mati, meskipun ketiadaan bisa bermetafor pada banyak keadaan--- menurut Muhammad Asqalani Eneste adalah seperti dalam puisi (narasi?) yang ia ciptakan. "Kehilangan yang Kautakutkan" adalah puisi otokomunika sebagai bentuk otokritik untuk membangun kontemplasi yang lebih jauh, mendalam, dan mengena. Tentang suatu ketiadaan yang akan menemui sunyi, senyap, dan hanya rasa sedih yang menyisakan tangis dan air mata.

"|Kehilangan yang Kautakutkan|" adalah judul puisi yang dimaksud oleh pemuisi sebagai individu kritik, atau lebih tepatnya sebagai nasihat pribadi yang berdampak positif pada kehidupan sosial. Mengapa harus takut ketika diri sudah siap dengan amaliah syar'i sesuai dengan kaidah Ilahi? Atau, jika kita tidak ingin "was-was" menghadapi mati (ketiadaan), hendaknya kita bersiap diri selagi kesempatan masih ada.

Makna yang lebih bias dari sekadar ketiadaan adalah kematian, juga meniscaya untuk memberikan pemahaman yang bernilai luas. Ketiadaan adalah segala bentuk kenafian arti hidup. Dekadensi moral, hilangnya harta benda, dan kosongnya segala bentuk kenikmatan merupakan arti bias dari ketiadaan.

"Dan sungguh Kami uji kamu sekalian dengan sesuatu, seperti rasa takut, lapar, dan hilangnya harta benda, jiwa, dan juga buah-buahan. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar." (Alquran)

"Saat aku kembali, ketuk tak ada lagi, jemari sebagai yang kehilangan arti, dan cinta jadi sepasang lengang yang terus memanjang."

Kembali ke hadirat Ilahi Robbi, adalah sebentuk kepastian tempat kembali. Maka tidak ada lagi amaliah (ketuk tak ada lagi), usaha tidak akan berdampak (jemari sebagai yang kehilangan arti), ketika kematian itu sudah tiba. Tertutup sudah pintu usaha untuk sesalan waktu yang terbuang percuma. Pada saat kematian telah tiba, cinta hanyalah sebuah angan, dan senyap datang berkepanjangan.

Bolehlah kita membangun cinta kasih selama hayat di kandung badan. Cinta terhadap istri, anak cucu, dan cinta terhadap harta benda. Namun, ketika kematian itu datang, maka segala bentuk cinta akan terputus, dan tinggallah amaliah yang akan menjadi "saksi" persoalan tangung jawab selagi hidup di dunia. Sudah siapkah kita?

"Simpan, hitam dan cekung kantung matamu, kesedihan tak memiliki nama selain tangis, apa yang tak mampu kaujangkau, biarlah tak sentuh. Tak sentuh."

Tidak ada gunanya gundah diungkapkan, sedih dinyatakan, dan tangis diruahkan (disimpan). Semua kembali kepada amal perbuatan kita di dunia. Jika amaliah kita lebih condong kepada kebaikan, maka kita akan menemui Tuhan dengan wajah berseri bak bulan purnama. Tetapi jika amal buruk yang lebih dominan, maka wajah sesal dan sesak napas jiwa menjadi penanda akan dampak buruk dari lelaku kita selama hidup. Dan takdir telah menjelma menjadi kenyataan hidup yang tak punya arti. Tempat yang seburuk-buruknya tempat (neraka), telah disiapkan untuk menjadi penebus keserakahan dalam kehidupan dunia.

Saudara dan sanak kadang telah terpisahkan. Dekat tapi jauh, dan jauh tetapi begitu dekat. Tidak bisa dijangkau, dan tak mungkin untuk disandingkan. Maka, biarkan saja "tak sentuh. Tak sentuh." Hal yang sangat mustahil untuk tetap berlabuh di kehidupan yang sama. Yang satu dalam kehidupan dunia, dan yang lain pun di dunia lain (akhirat). Tentu, biarkan saja hal yang tak mungkin bisa tersentuh oleh kondisi jiwa yang tak sama. "Cekung kantong matamu" adalah bentuk kesedihan yang begitu akut, tersebab oleh ketiadaan, kematian, atau perpisahan karena ketiadaan/kematian.

"Jika ada sebersit doa, tak pernah kuharap kauanggit, jika tadah bukan tabah, jika Allah bukan sebagai sandaran hayah."

Bait ini membuat saya ambigu, pada serapan makna yang pasti. Umumnya, orang yang sudah meninggal berharap banyak doa dari yang masih hidup. Entah, mengapa Asqalani tidak berharap raupan doa (....serbersit doa, tak pernah kuharap kauanggit). Meskipun bisa niscaya,..

Di balik makna lain bisa berbias pada frase asindeton, yaitu penghilangan kata penghubung yang seharusnya ada untuk kesempurnaan kalimat yang efektif.

"Jika ada sebersit doa, (yang) tak pernah kuharap kauanggit, (karena tidak diucapkan dengan ikhlas), (atau) jika tadah (doa) bukan tabah (tulus), jika Allah bukan sebagai sandaran hayah (hidup)." Maka senarai doa yang seperti itu tidak pernah kuharap. Namun, jika doamu bernilai surga (tulus dan ikhlas), tentu hal tersebut adalah sepenuh harap.

"Sadar sayang, pingsanmu bukan karena tertimpa batang pisang di seberang nisan, tapi biji aku yang tak dapat lagi kausemayam."

Sadar sayang (istri/anak?), kesedihan dan tangis yang telah melanda kamu saat ini, bukan karena hal lain selain saatnya telah tiba (kematian). Tetapi, lebih dikarenakan karena jiwaku (biji?) telah terpisah dari raga. Dan itu artinya, kalian tidak bisa lagi menjalin kebersamaan denganku. Engkau di alam dunia dan aku di alam akhirat. Tentu, perbedaan ini tidak akan memberikan ruang untuk saling berinteraksi.

Harapan untuk menjalin cinta hanyalah sebuah kenangan. Tidak lebih, ketika dua jiwa saling berseberangan. Ketiadaan adalah kematian yang akan memisahkan dua jiwa, meskipun tetap saling menyinta.

"Cinta ternyata jarak, selamanya ada yang mengukur di sisa-sisa umur, bahkan cinta yang timbun bersama embun di pagi kubur.
Mirza Ovler 2015"

Sebesar apa pun cinta, ketika perpisahan telah tiba saatnya (kubur?), maka timbunan cinta hanya bermuara pada doa-doa, di pagi hari saat embun menitikkan kesedihan.

Meski telah terukir laksa cinta, hakikat takdir telah menjelma menjadi sebentuk tangis dan kesedihan. Maka, biarlah kita belajar dari ketiadaan, belajar dari kematian, dan belajar dari tangis dan kesedihan. Memaknai ketiadaan menjadi kicau irama doa, agar kita menjadi insan yang begitu sempurna untuk menyambutnya (mati/ketiadaan).

Tentu, tafsir dan apresiasi puisi ini jauh dari sempurna, terlebih lagi kesempurnaan itu milik Yang Maha Sempurna. Maka, kepastian makna juga ada pada pemuisi (Muhammad Asqalani Reborn), tentu saya berharap maaf jika apa yang saya ungkap tidak sesuai dengan imaji, maksud, dan kehendak yang semestinya. Semoga, apresiasi ini menjadi bagian dari ragam tafsir yang menuangkan manfaat. Hazanah pustaka yang bermuara pada hikmah (manfaat).
Salam semangat, dan hidup dalam karya yang hebat. Aamiin!


Monday, December 26, 2016

Dilahirkan 2 Kali

Dilahirkan 2 Kali Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Seorang Yahudi yang lolos dari hukuman tentara Nazi berkisah tentang hidupnya:

Tak ada kata yang bisa mengungkapkan secara penuh pengorbanan yang diberikan ibuku kepadaku anaknya yang bungsu. Masih sangat jelas peristiwa saat itu di benakku. Ketika itu aku berumur 19 tahun. Saya beserta begitu banyak orang Yahudi lainnya sedang digiring dan dibawa ke kamp konsentrasi. Kami tahu dengan amat pasti bahwa hari-hari hidup kami kini telah mencapai ujungnya. Kami dibawa untuk menemui ajal kami entah di mana.

Beberapa grup orang Yahudi yang lain telah kami lewati. Kami juga tahu bahwa kelompok yang baru kami lewati ini akan tetap menetap dalam ghetto, mereka tak akan menemui nasib sebagaimana akan segera kami terima.

Ketika aku melewati tempat di mana ibuku sedang berdiri, saat di mana kami tidak diperhatikan oleh tentara Nazi, ibuku memberikan kartu namanya kepadaku, mendorong aku ke samping lalu menempati barisanku.

Walaupun hal ini terjadi lebih dari 50 tahun yang silam, namun aku tak akan lupa setiap kata yang pernah ia ucapkan saat itu: "Anakku, aku telah hidup cukup lama. Engkau harus bertahan hidup, karena engkau masih terlampau muda."

Demikian bisik ibuku. Dan sejak saat itu aku tak pernah melihatnya lagi. Hampir semua anak dilahirkan cuman sekali. Tapi aku dilahirkan dua kali oleh ibu yang
... baca selengkapnya di Dilahirkan 2 Kali Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sunday, December 25, 2016

Kenangan Emak Tik

Kenangan Emak Tik Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Seorang ibu tak mungkin meninggalkan anaknya, tapi seorang anak pasti akan meninggalkan ibunya bahkan ada yang tak menghiraukan nasib ibunya.

Ketika melihat sosok Emak Ijah di telivisi aku lantas teringat dengan sosok Emak Tik. entah kenapa, ingatan ini muncul kembali padahal sudah hampir 6 bulan ini ia pamit untuk hidup di desa. mungkin, yang tak dapat terlupakan olehku adalah kecerewetannya ketika memararahiku serta nasibnya Emak Tik. Berbeda dengan cerita emak ijah di telivisi yang begitu indah karena cita-cita beliau untuk naik haji dan bagaimana perjuangan anaknya Si Abbas yang begitu mulia berkerja keras untuk mewujudkan impian ibunya emak ijah, itu hanya sekilas cerita emak ijah di telivisi yang begitu indah akan cita-citanya dan begitu mulia pengorbanan anaknya akan tetapi, berbeda dengan cerita emak tik di dunia nyata, kenangan itu muncul kembali ketika awal emak tik datang ke rumahku, Nampak terlihat jelas dari kejauhan sosoknya, wanita tua dengan badan yang tak mampu berjalan dengan tegak karena faktor dimakan usia, jalannyapun sudah tertatih-tatih begitu perlahan menghampiri rumahku yang berada di pojok paling pojok gang, awalnya aku tak habis pikir kenapa emak tik datang ke rumahku padahal ia bukan keluarga atau saudara kandung dari ibu atau ayahku, namun kami dengan senang hati menyambut kedatangannya, karena Nabi Muhammad SAW pernah berkata “muliakanlah tamumu dan anggap tamumu itu adalah sumber dari rezekimu.”

Kami sambut emak tik
... baca selengkapnya di Kenangan Emak Tik Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Thursday, October 27, 2016

Aku Juga Wanita

Aku Juga Wanita Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Entah berapa juta-juta kali kata-kata cemoohan dan cibiran itu keluar dari mulut setiap orang yang mengetahui keadaanya. Bahkan yang paling ekstrim ada yang sampai mengutuk dan memvonisnya sebagai penghuni neraka. Mereka tak sadar siapa mereka. Mereka manusia, bukanlah Tuhan. Sama seperti dia. Tapi inilah kelemahan manusia, selalu merasa diri menjadi paling baik dan paling suci dibanding manusia lainya. Bahkan yang mengutuk bukan hanya dari kalangan yang main-main. Yang paling mengerikan adalah kemarin, ketika acara pengajian rutin ibu-ibu setiap hari selasa. Sang penceramah membawa tema tentang kaum Nabi Luth. Tak ayal, semua mata tertuju padanya. Sakit, jelas terasa di hati. Tetapi dia mencoba bersabar. Ini adalah ujian dari Tuhan. Ujian seberapa kuat kah dia dalam perjuangan ini. seberapa layak kah dia menjadi yang sekarang ini. Dan dalam ujian itu, dia berharap Tuhan meluluskanya.

Dia bernama Anisa Septiani. Sebelum operasi lima belas tahun yang lalu, dia bernama Yayan Septiana. Ketika men
... baca selengkapnya di Aku Juga Wanita Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Tuesday, October 18, 2016

Benarkah Kak?

Benarkah Kak? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Di tepi hati nan lara, terusik kata tajam yang menusuk, layaknya angin mencekam yang menembus pori-pori jiwa. Walau usia semuda pucuk daun teh, angin yang merajam tetap dirasa, bahkan mungkin lebih terasa sengit. Tak hanya usia, bahkan mungkin nalarnya belum setinggi langit dan seluas samudra yang membentang, menyamai angan orang-orang yang tak lagi terbuai kasih dan menelusuri hidup dengan langkah tanggung jawab lebih. Yang dalam pikirnya lebih mendominasi porsi sangka buruknya dibandingkan prasangka baiknya.

Gambaran gadis kecil memang selalu penuh dengan warna hidup sederhana, makanya Aina gadis kecil yang lucu, dengan kepolosan tutur kata dan tingkahnya, lukis wajah yang cantik dengan keharuman parasnya saat orang lain memandang, dan terlebih keteduhan keluarga yang senantiasa menaburkan kasih sayang yang tak terhingga. Kasih Sang Pencipta tak berhenti, semua memang berjalan menyusuri garisnya, garis yang dipahat di masa yang sangat jauh di belakang. Kecakapannya yang lebih dibanding anak usia di atasnya, membuat dia dikenal juga sebagai gadis
... baca selengkapnya di Benarkah Kak? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Monday, October 3, 2016

Gila Ramalan

Gila Ramalan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Menurut kalian salah gak sih kalau gue itu tergila-gila sama ramalan? Ehm engga kan ya? Perkenalkan gue cika si ratu ramalan. Temen-temen gue ngasih julukan tersebut ke gue karena setiap hari gue selalu baca ramalan yang ada di majalah, dan internet buat mengetahui apa yang akan terjadi di hari-hari yang akan gue lewatin, hehe gimana gue pinter kan? Kata sahabat gue si kikan gue itu gila. astaga masih waras begini dibilang gila. kata kikan gue gak perlu baca-baca ramalan untuk tau apa yang akan terjadi di hari-hari gue. Gue sempet mikir begitu juga sih tapi anehnya tiap gue baca ramalan mengenai kejadian di hari gue, ramalan itu selalu benar dan terjadi. Mungkin itu yang membuat gue gila sama ramalan.

Hari ini adalah hari senin seperti hari-hari sebelumnya sebelum sampai gerbang sekolah gue mampir dulu ke toko majalah milik bang eko langganan gue. “pagi neng cika!” sapa bang eko. “pagi juga.” Jawabku. “mau beli majalah biasa kan neng? Nih sudah abang siapkeun.” katanya sambil menyodorkan sebuah majalah. “duh abang eko semangat sekali pagi ini, penglaris ya bang. Haha..” kataku tertawa “si eneng bisa aja. Ya iya atuh pembeli pertama kan buat penglaris neng, kumaha a
... baca selengkapnya di Gila Ramalan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Saturday, October 1, 2016

Bangkit

Bangkit Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Aku berjalan menyusuri lorong malam sepi nan gelap.
Pandanganku pada langit tua.
Cahaya bintang berkelap kelip mulai hilang oleh kesunyian malam.
Cahaya bulan malam ini begitu indahnya.

Hari ini benar-benar hari yang melelahkan?
Konflik dengan orang tua karena tidak lulus sekolah.
Hari ulang tahun yang gagal di rayakan?
Dan hadiah sepeda motor yang terpaksa di kubur dalam-dalam karena tak lulus, belum lagi si adik yang menyebalkan?

Teman-teman yang konvoi merayakan kemenangan, sedang aku?

Hari-hari yang keras kisah cinta yang pedas
Angin malam berhembus menebarkan senyumku walau sakit dalam hati mulai mengiris. Sesekali aku menghapus air mataku yang jatuh tanpa permisi.

Sakit memang putus cinta.
Rasanya beberapa saat lalu, aku masih bisa mendengar kata-kata terakhirnya yang tergiang-ngiang merobek otak ku.

“sudah sana… Kejarlah keinginanmu itu!, kamu kira aku tak laku, jadi begini sajakah caramu, oke aku ikuti.. Semoga kamu tidak menyesal menghianati cinta suci ini.” beberapa kata yang sempat masuk ke hpku, di ikuti telpon yang sengaja ku matikan karena kesal atau muak.

Aku termenung di pinggir jalan, memegang kepala
... baca selengkapnya di Bangkit Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu