Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com

Saturday, September 13, 2014

KISAH YUE-YUE YANG TRAGIS DAN DIABAIKAN 18 ORANG

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - KISAH YUE-YUE YANG TRAGIS DAN DIABAIKAN 18 ORANGYue Yue bocah yang berusia 2 tahun menjadi korban tabrak lari di pasar grosir di China selatan kemungkinan akan tetap dalam keadaan koma, menurut dokter senior di rumah sakit yang merawatnya. Qu fei fei, ibu Yue Yue, dalam penderitaan emosional berbicara tentang anaknya yang telah dinyatakan mati otak. Dia mengatakan kepada anak perempuannya: “Jangan menyerah , ibu tidak menyerah untuk menyembuhkanmu, biarkan ibu memiliki satu kesempatan lagi untuk mencintai dan memanjakan Anda ” Kejadian ini membangkitkan kemarahan orang-orang di China dan di seluruh dunia pada hari Selasa (18/10), menimbulkan tanda tanya besar apakah keajaiban ekonomi China telah membuat hilangnya moral dalam kebangkitannya. Yue Yue dibiarkan tergeletak di jalan oleh 18 orang yang lewat setelah akhirnya ditolong dan diselamatkan oleh orang ke-19 kini tetap dalam kondisi kritis di unit perawatan intensif rumah sakit militer Guangzhou jantung industri Guangdong China. Kepala bedah saraf rumah sakit, dikutip oleh surat kabar harian lokal Guangzhou, mengatakan bahwa Yue Yue menderita cedera parah di kepala dan sedang koma, hanya mampu bernapas dengan bantuan ventilator. Wang Weiming, kepala departemen bedah saraf di rumah sakit militer Guangzhou, mengatakan Yue Yue menunjukkan tidak ada gejala perbaikan dan sangat tidak mungkin untuk memulihkan kemampuan mentalnya. “Pasien in masuk kriteria kematian otak,” tambahnya, “tapi tubuhnya relatif masih memiliki refleks nyeri, sehingga dia tidak dapat d....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Friday, September 12, 2014

PAKAIAN KEBAHAGIAAN

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - PAKAIAN KEBAHAGIAANSuatu ketika, tersebutlah seorang raja yang kaya raya. Kekayaannya sangat melimpah. Emas, permata, berlian, dan semua batu berharga telah menjadi miliknya. Tanah kekuasaannya, meluas hingga sejauh mata memandang. Puluhan istana, dan ratusan pelayan siap menjadi hambanya. Karena ia memerintah dengan tangan besi, apapun yang diinginkannya hampir selalu diraihnya. Namun, semua itu tak membuatnya merasa cukup. Ia selalu merasa kekurangan. Tidurnya tak nyenyak, hatinya selalu merasa tak bahagia. Hidupnya, dirasa sangatlah menyedihkan. Suatu hari, dipanggillah salah seorang prajurit tebaiknya. Sang Raja lalu berkata, “Aku telah punya banyak harta. Namun, aku tak pernah merasa bahagia. Karena itu, ujar sang raja, “aku akan memerintahkanmu untuk memenuhi keinginanku. Pergilah kau ke seluruh penjuru negeri, dari pelosok ke pelosok, dan temukan orang yang paling berbahagia di negeri ini. Lalu, bawakan pakaiannya kepadaku.” “Carilah hingga ujung-ujung cakrawala dan buana. Jika aku bisa mendapatkan pakaian itu, tentu, aku akan dapat merasa bahagia setiap hari. Aku tentu akan dapat membahagiakan diriku dengan pakaian itu. Temukan sampai dapat! ” perintah sang Raja kepada prajuritnya. “Dan aku tidak mau kau kembali tanpa pakaian itu. Atau, kepalamu akan kupenggal !! Mendengar titah sang Raja, prajurit itupun segera beranjak. Disiapkannya ratusan pasukan untuk menunaikan tugas. Berangkatlah mereka mencari benda itu. Mereka pergi selama berbulan-bulan, menyusuri setiap penjur....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

MENGAPA KUCING SELALU MENGEJAR TIKUS

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - MENGAPA KUCING SELALU MENGEJAR TIKUSPada zaman dahulu sebenarnya kucing adalah sahabat baik tikus,tetapi… Pada suatu hari,kucing mendengar kerbau berkata:Kaisar Langit akan memilih 12 hewan sebagai shio manusia bagi yg ingin ikut silakan mendaftar. Malam itu juga sang kucing berkata kepada tikus: "Kita besok pagi pagi sekali kita akan ikut mendaftar, kalau aku tidak bisa bangun pagi, maka kamu harus membangunkan aku." Tikus berkata: "Baik." Esok pagi saat pendaftaran sudah dibuka, tikus sudah bangun pagi pagi sekali. Namun ia sengaja tidak membangunkan kucing untuk ikut pergi. Ia pergi mengendap endap dengan tidak membangunkan kucing. Setelah dengan pergi mengendap endap ia sampai di Kerajaan Langit. Ia menjadi yang paling pagi di tempat itu. Setelah itu, datanglah kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Merekalah adalah 12 hewan shio manusia sekarang ini. Setelah kucing bangun dan mendengar berita itu menjadi marahlah ia. Dan ia menetapkan dimanapun ada tikus aku akan mengejarnya walaupun sampai ke ujung bumi. Maka sejak saat itulah kucing dan tikus selalu bermusuhan. ....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

BUBUR 'BUKAN' ALA NURMAN KAMARU



Tadi malam, aku dan teman-teman kantor menonton reality show, Hitam Putih, dengan host Dedy Corbuzer dan bintang tamu Nurman Kamaru. Nurman Kamaru adalah mantan anggota brimob dari Gorontalu yang fenomenal lewat aksinya di youtube, dengan goyang India, Caiya-caiya.

Nurman Kamaru sempat menjadi tranding topick. Terkenal menjadi artis dadakan, dan diperbincangkan diberbagai media, baik cetak ataupun elektronik. Namun, seiring berjalannya waktu, popularitas spontanitas (edonom) itu meredup, dan tiba-tiba menghilang bagai tak berbekas. Bahkan, hingga terdengar kabar, bahwa Nurman Kamaru dipecat dari kesatuannya karena dianggap tidak disiplin dan membawa pengaruh jelek atas institusinya. Maka, berakhirlah sudah!

Hingga beberapa hari yang lalu, aku membaca berita di detik.com, kalau Nurman Kamaru, kini telah menjadi tukang bubur. Berjualan 'bubur Manado' bersama istri tercintanya. Mungkin saja banyak orang beranggapan, kalau Nurman salah langkah. Keliru dalam mengambil sebuah keputusan. Bagiku, Nurman Kamaru telah sukses membawa dirinya lepas dan bebas dari lingkaran yang serba 'terbatas'. Harus begini dan harus begitu. Mesti kerjakan ini, dan jangan kerjakan itu. Jiwa Nurman telah benar-benar merdeka.

Kembali ke Hitam Putih.

Mungkin tersebab oleh kondisi Nurman Kamaru mengubah haluan menjadi penjual bubur, maka terbersit dalam benakku untuk membuat bubur. Bukan bubur ala Nurman Kamaru, tetapi bubur ala aku sendiri.

Selepas dari shalat Jum'at, aku istirahat. Tidur. Melepas lelah setelah seharian beraktifitas. Aku beranjak dari pembaringan, dari atas kasur sederhana, satu-satunya. Tujuannya, untuk membuat bubur.

Pertama (tanpa kedua dan seterusnya).
Aku ambil segelas kecil beras. Mendekati penuh. Aku cuci, kemudian menjerangnya di atas kompor listrik, eh kompor gas. Hakikatnya, aku tidak tahu membuat bubur. Dalam pikiranku, yang penting airnya diperbanyak. Tidak lama, kemudian beras tersebut sudah terjerang di atas kompor. Api, aku nyalahin yang terkecil saja.

Tidak berapa lama, air plus beras itu sudah mendidih. Aku aduk terus, dan terus. Hingga akhirnya menggumpal, serupa bubur. Ah,...emang buat bubur kok. Jlep!

Setelah beberapa lama, dan dirasa sudah mateng, aku kemudian membuat rempahnya. Beberapa butir bawang putih, bawang merah, pala, garam, serta penyedap masakan. Kesemua bumbu diulek, kemudian digoreng. Ehmmm,...bau harum terasa di tenggorokan(?).

Setelah itu, aku jerang lagi bubur yang sudah masak. Benar gak ya, caranya. Bumbu goreng aku masukkan semuanya. Dirasa kurang air, aku tambah lagi air. Aiiihh, aneh ya cara masaknya? Hihihhh, kelihatan kalau bukan koki.

Jrenggg...
Setelah diaduk rata, bubur ala Nurman Kamaru, eh maksudku, bubur ala masakanku sendiri sudah siap. Terhidang di depan hidung.

Kalau bubur Nurman Kamaru, kata Dedy Corbuzer enak, maka bubur buatanku, kataku sendiri, jauh lebih enak. Wek, enak sendiri aja!

"Enak," kata Bung Dedy saat mencicipi bubur Nurman Kamaru. "Hanya ada yang kurang,..." lanjutnya mandek.

"Kurang apa?" Jawab Nurman.
"Kurang asin dan kurang banyak," disambut tawa penonton Hitam Putih.

Terus, menurut Anda, bubur buatanku enak gak ya? Jika yang mencicipi teman-teman pondokku dulu, maka jawaban 'enak' sudah pasti. Lho, apa hubungannya? Tanyakan pada rumput yang bergoyang!

Sumenep, 11092014

Wednesday, September 10, 2014

GEMA MALAM BERTAKBIR



PURNAMA SURGA BERTAUT

Senja di ujung kisah
Menjaring pelangi, runcing mentari
Mendawai mahligai purnama
di telaga maghfirah Ilahi

Sirah sebening istighfar
dendang nafiri berlabuh rindu
pucuk cintanya-Nya, redam angkara
di ruas sang waktu, di bibir malam

Ramadhan!
Bias dendang kelana jiwa
menyuluh kasturi, di rimba kasih
bertaut Rahmat-Mu, menebar cakrawala
melarung keabadian berhulur kasih

Bulanku, purna!

Purnama bergurat syahadat
Gemerlap dedaun, berpadu ampunan
berderai meneriak kawah rindu, melebur jiwa
lelangkah berselip lidah retak
berpucuk tirai sekerat ‘istighfar’

Rmadhan!
Marhaban ya cahaya surga
Tarian bidadari, jamah malaikat
Munajat shalawat, di mihrab cinta
Berkidung nyanyian mahligai rindu

Tirai ampunan, bertalu doa
Bertakbir salam, ya Allah!
Taut rinduku sebening hasrat
Di lembar pucuk ramadhan

‘Pintu ridha-Mu, surga berdawai
siluet tirai maaf, dari kobar nyala api-Mu’

BTP 28072014

Pagi di musim kemarau. Angin sepoi, semilir menggigilkan tubuh ringkihku. Setelah sholat subuh, Mbak mengajakku untuk pergi ke bawah pohon asam (nyandha' accem; Madura). Mengharap ada beberapa buah asam yang jatuh. Tentu, buah asam yang sudah masak, menjadi bagian dari rejeki kami saat itu. Dikumpulkan untuk beberapa hari lamanya. Kemudian dibawa ke pasar untuk dijual ke pedagang.

Embun musim kemarau masih menetes. Aku masih terlalu kecil saat itu, untuk merasakan makna hidup. Maka, ketika kudapatkan sebuah asam, buah kecut itu menggugah seleraku. Aku pun memakannya. Di pagi itu, kala mentari masih belum menampakkan diri.

"Lho, kok dimakan?" Kata Mbakku sambil menggendong adikku yang masih kecil.
"Kenapa?" Aku tidak mengerti.
"Kan kamu puasa?"
"Kan masih malam, Mbak!"
"Tidak boleh!" Jawab Mbakku sambil menjelaskan batasan-batasan puasa.

Ya, benar. Saat itu bulan Ramadhan. Semua orang Islam sedang melaksanakan ibadah puasa. Dalam benakku, puasa hanya tidak boleh makan pada waktu siang. Maksudku, saat matahari pagi belum nampak, aku kira, masih bisa makan dan minum. Maklum, aku masih begitu kecil, belum sekolah. Tapi sudah diajari untuk melaksanakan puasa.

Pada saat musim asam berbuah, di dekat rumahku ada sebuah pohon asam yang sangat besar. Kami, aku dan teman-teman sebayaku, biasa nongkrong di bawah pohon asam besar itu. Menunggu angin lewat, dan beberapa buah asam yang sudah matang berguguran. Dan kami berebutan. Gembira. Meski terkadang buah asam itu hancur karena diperebutkan. Kebahagiaan masa kanak-kanak kami begitu membekas. Tetap terbayang hingga waktu yang tak berhingga.
***

Hari Raya Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi. Seharusnya, kebahagiaan datang menghampiriku. Berangan baju baru, celana baru, songkok baru, dan lain-lain yang serba baru.

Namun, lebaran kali ini kebahagiaan itu harus kupendam. Pasalnya, sampai detik ini, hari raya tinggal dua hari lagi, orang tuaku belum membelikanku pakaian baru. Ingin rasanya aku menangis, bila mendengar teman-temanku membicarakan baju barunya masing-masing dengan rasa bangga. Ya, dengan rasa bangga.

"Bajuku warna merah. Ada garis-garis hitam di depannya." Kata Fudali.
"Kalau bajuku warba hijau. Kerahnya hitam." Arifin menimpali.

Aku hanya jadi pendengar. Aku sudah yakin, lebaran tahun ini tanpa baju baru. Ingin rasanya aku menangis. Berteriak minta dibelikan baju baru. Namun, aku tahu kondisi ayah dan ibuku. Bukan mereka tidak mau membelikan baju baru untukku. Tetapi, uangnya yang tidak memungkinkan. Kemiskinan telah merajai kondusi keluargaku.

Malam hari raya.

Hari Raya Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi. Seharusnya, kebahagiaan datang menghampiriku. Berangan baju baru, celana baru, songkok baru, dan lain-lain yang serba baru.

Namun, lebaran kali ini kebahagiaan itu harus kupendam. Pasalnya, sampai detik ini, hari raya tinggal dua hari lagi, orang tuaku belum membelikanku pakaian baru. Ingin rasanya aku menangis, bila mendengar teman-temanku membicarakan baju barunya masing-masing dengan rasa bangga. Ya, dengan rasa bangga.

"Bajuku warna merah. Ada garis-garis hitam di depannya." Kata Fudali.
"Kalau bajuku warba hijau. Kerahnya hitam." Arifin menimpali.

Aku hanya jadi pendengar. Aku sudah yakin, lebaran tahun ini tanpa baju baru. Ingin rasanya aku menangis. Berteriak minta dibelikan baju baru. Namun, aku tahu kondisi ayah dan ibuku. Bukan mereka tidak mau membelikan baju baru untukku. Tetapi, uangnya yang tidak memungkinkan. Kemiskinan telah merajai kondusi keluargaku.

Malam hari raya.
Aku pasrah tanpa baju baru. Meski hati ini menangis. Meski perasaan begitu membuncah. Harapan sekali dalam setahun. Tak berwujud. Biarlah. Sudahlah.

Di beranda rumah. Aku duduk bersama ibu dan adikku. Ibu dengan cinta mengelus keningku. Kulihat telaga matanya mengembang. Tidak, ibu bukan menangis. Aku tahu, ibu adalah orang yang tegar.

"Sabar Nak!" Kata ibu sambil membelai rambutku. Aku hanya diam. Adikku yang belum bisa bicara bermain mobil-mobilan di lantai. Ya, lantai tanah yang penuh debu. Siang tadi aku buatkan mobil-mobilan untuknya dari buah 'nyamplong'. Dan kulihat adikku menyukainya.

Allahu Akbar...Allahu  Akbar...
Walillahil hamd!

Takbir berkumandang di malam lebaran. Di menara-menara masjid. Di surau dan langgar. Juga di lapangan. Besok, semua orang Islam merayakan kemenangan. Kebahagiaan telah lulus melaksanakan ibadah puasa. Sukses menahan godaan iblis dan setan. Aku pun begitu. Tidak sehari pun aku lepas dari puasa Ramadhan. Alhamdulillah.

Saat semua teman-temanku bergembira. Aku hanya termangu. Ah, tidak. Aku pun bahagia. Aku tetap gembira meski tidak harus berbaju baru. Tidak mengapa. Aku tetap bahagia. Aku tunjukkan kebahagiaanku pada ibu. Dengan menyalakan kembang api yang dibelikan Paman, beberapa hari yang lalu. Oh, ternyata bahagia itu tidak harus berpakaian baru.

"Bu, Ayah kemana?" Dari siang tadi aku tidak melihat Ayah. Aku tidak tahu kemana Ayah seharian, hingga malam lebaran ini pun belum datang.
"Gak tahu," jawab ibu menggeleng. Senyum seakan dipaksakan dari raut bibir ibu.

Belum lama kami membincang Ayah, ia tiba-tiba muncul dari balik gelap malam. Cahaya patromak meyakinkan itu adalah Ayah.

"Ayah,..." Aku berteriak pada pada ibu. Antara gembira dan kegetiran yang tidak menentu.

Dengan wajah sumbringah, ayah membuka bungkusan plastik yang dibawanya. Allahu Akbar, pekikku dalam hati ketika kulihat apa yang dibawa ayah. Baju baru, sarung baru, songkok baru, dan juga sandal jepit baru. Untukku, untuk adikku, juga untuk ibu.

"Alhamdulillah. Ya Allah, terima kasih, telah Engkau berikan padaku Ayah dan Ibu yang menyayangiku tanpa batas!"

Jauh setelah aku besar, baru aku tahu bahwa Ayah mendapat uang untuk lebaran saat itu dengan cara menggadaikan barang berharga milik Ayah. Terima kasih Ayah!

Sumenep, Juli 2014

THINK WIN-WIN

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - THINK WIN-WINSeekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai. Tiba tiba datang seekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya. Lalu kelinci itu berkata : "Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang." Sang Rubah jantan merasa tertantang, "Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku ?" Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci. Sepuluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha rubah dan melahapnya dengan nikmat. Sang Kelinci kembali bersantai, sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai. Tiba tiba datang se-ekor serigala besar yang hendak memangsanya. Lalu kelinci berkata : "Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang." Sang serigala merasa tertantang, " Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku ?" Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci. Lima belas menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha serigala dan melahapnya dengan nikmat. Sang kelinci kembali bersantai, Sambil memasang payung pantai dan merebahkan diri diatas pasir. Tiba tiba datang se-ekor beruang besar yang hendak memangsanya. Lalu kelinci berkata :" Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang." Sang Berua....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Tuesday, September 2, 2014

WAKTU TERUS BERJALAN

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - WAKTU TERUS BERJALANToni dan Dedi telah lama menganggur. Bekerja tidak, bisnis pun tidak. Pekerjaan mereka sehari-hari hanya mengobrol di pos ronda sambil main catur. Saat mereka sedang asik main catur, tiba-tiba ada seorang perempuan cantik lewat. Toni langsung melihat perempuan itu dengan penuh kekaguman, “Wow, cantik bener…. ” sambil terus melihatnya. “Eh, jangan melihat terus, dosa tuch…” kata Dedi. “Astaghfirullah”, kata Toni sambil langsung memalingkan wajah ke papan catur. “Ton, kamu harus cepat menikah tuch… Usia kamu kan sebentar lagi sudah kepala tiga.” kata Dedi. “Iya yah… biar mata saya tidak jelalatan lagi. Banyak dosa nich…” katanya sambil tersenyum. “Ahamdulilah, kamu sadar. Takut dosa.” kata Dedi sambil tersenyum juga. “Kamu sendiri?”, kata Toni balik menyerang. “Saya sendiri kan tidak jelalatan kayak kamu.” kata Dedi menimpali dengan cepat. “Tapi tetap saja harus segera menikah, itu kan saran Rasulullah saw bagi pemuda seusia kita. Masa harus puasa terus, sementara usia semakin hari semakin tua.” Kondisi menjadi hening… mereka kembali melihat papan catur. Permainan menjadi hampa dan tidak menarik lagi. Selain karena mereka main catur setiap hari, pikiran mereka melayang kemana-mana. Mereke mulai terusik dengan nasib mereka sendiri. “Iya yah, kita harus segera menikah, itu kan setengah agama. Tapi, siapa yang mau kepada kita yang pengangguran ini.” kata Toni memecah keheningan. Tapi Dedi tidak memberikan respon. Mat....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1