... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Saturday, September 13, 2014
KISAH YUE-YUE YANG TRAGIS DAN DIABAIKAN 18 ORANG
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Friday, September 12, 2014
PAKAIAN KEBAHAGIAAN
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
MENGAPA KUCING SELALU MENGEJAR TIKUS
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
BUBUR 'BUKAN' ALA NURMAN KAMARU
Tadi malam, aku
dan teman-teman kantor menonton reality show, Hitam Putih, dengan host Dedy Corbuzer
dan bintang tamu Nurman Kamaru. Nurman Kamaru adalah mantan anggota brimob dari
Gorontalu yang fenomenal lewat aksinya di youtube, dengan goyang India,
Caiya-caiya.
Nurman Kamaru
sempat menjadi tranding topick. Terkenal menjadi artis dadakan, dan
diperbincangkan diberbagai media, baik cetak ataupun elektronik. Namun, seiring
berjalannya waktu, popularitas spontanitas (edonom) itu meredup, dan tiba-tiba
menghilang bagai tak berbekas. Bahkan, hingga terdengar kabar, bahwa Nurman
Kamaru dipecat dari kesatuannya karena dianggap tidak disiplin dan membawa
pengaruh jelek atas institusinya. Maka, berakhirlah sudah!
Hingga beberapa
hari yang lalu, aku membaca berita di detik.com, kalau Nurman Kamaru, kini
telah menjadi tukang bubur. Berjualan 'bubur Manado' bersama istri tercintanya.
Mungkin saja banyak orang beranggapan, kalau Nurman salah langkah. Keliru dalam
mengambil sebuah keputusan. Bagiku, Nurman Kamaru telah sukses membawa dirinya
lepas dan bebas dari lingkaran yang serba 'terbatas'. Harus begini dan harus
begitu. Mesti kerjakan ini, dan jangan kerjakan itu. Jiwa Nurman telah
benar-benar merdeka.
Kembali ke Hitam
Putih.
Mungkin tersebab
oleh kondisi Nurman Kamaru mengubah haluan menjadi penjual bubur, maka
terbersit dalam benakku untuk membuat bubur. Bukan bubur ala Nurman Kamaru,
tetapi bubur ala aku sendiri.
Selepas dari
shalat Jum'at, aku istirahat. Tidur. Melepas lelah setelah seharian
beraktifitas. Aku beranjak dari pembaringan, dari atas kasur sederhana,
satu-satunya. Tujuannya, untuk membuat bubur.
Pertama (tanpa kedua dan seterusnya).
Aku ambil segelas
kecil beras. Mendekati penuh. Aku cuci, kemudian menjerangnya di atas kompor
listrik, eh kompor gas. Hakikatnya, aku tidak tahu membuat bubur. Dalam
pikiranku, yang penting airnya diperbanyak. Tidak lama, kemudian beras tersebut
sudah terjerang di atas kompor. Api, aku nyalahin yang terkecil saja.
Tidak berapa lama,
air plus beras itu sudah mendidih. Aku aduk terus, dan terus. Hingga akhirnya
menggumpal, serupa bubur. Ah,...emang buat bubur kok. Jlep!
Setelah beberapa
lama, dan dirasa sudah mateng, aku kemudian membuat rempahnya. Beberapa butir
bawang putih, bawang merah, pala, garam, serta penyedap masakan. Kesemua bumbu
diulek, kemudian digoreng. Ehmmm,...bau harum terasa di tenggorokan(?).
Setelah itu, aku
jerang lagi bubur yang sudah masak. Benar gak ya, caranya. Bumbu goreng aku
masukkan semuanya. Dirasa kurang air, aku tambah lagi air. Aiiihh, aneh ya cara
masaknya? Hihihhh, kelihatan kalau bukan koki.
Jrenggg...
Setelah diaduk
rata, bubur ala Nurman Kamaru, eh maksudku, bubur ala masakanku sendiri sudah
siap. Terhidang di depan hidung.
Kalau bubur Nurman
Kamaru, kata Dedy Corbuzer enak, maka bubur buatanku, kataku sendiri, jauh
lebih enak. Wek, enak sendiri aja!
"Enak,"
kata Bung Dedy saat mencicipi bubur Nurman Kamaru. "Hanya ada yang
kurang,..." lanjutnya mandek.
"Kurang
apa?" Jawab Nurman.
"Kurang asin
dan kurang banyak," disambut tawa penonton Hitam Putih.
Terus, menurut
Anda, bubur buatanku enak gak ya? Jika yang mencicipi teman-teman pondokku
dulu, maka jawaban 'enak' sudah pasti. Lho, apa hubungannya? Tanyakan pada
rumput yang bergoyang!
Sumenep,
11092014
Wednesday, September 10, 2014
GEMA MALAM BERTAKBIR
PURNAMA SURGA BERTAUT
Senja di ujung kisah
Menjaring pelangi, runcing mentari
Mendawai mahligai purnama
di telaga maghfirah Ilahi
Sirah sebening istighfar
dendang nafiri berlabuh rindu
pucuk cintanya-Nya, redam angkara
di ruas sang waktu, di bibir malam
Ramadhan!
Bias dendang kelana jiwa
menyuluh kasturi, di rimba kasih
bertaut Rahmat-Mu, menebar cakrawala
melarung keabadian berhulur kasih
Bulanku, purna!
Purnama bergurat syahadat
Gemerlap dedaun, berpadu ampunan
berderai meneriak kawah rindu, melebur jiwa
lelangkah berselip lidah retak
berpucuk tirai sekerat ‘istighfar’
Rmadhan!
Marhaban ya cahaya surga
Tarian bidadari, jamah malaikat
Munajat shalawat, di mihrab cinta
Berkidung nyanyian mahligai rindu
Tirai ampunan, bertalu doa
Bertakbir salam, ya Allah!
Taut rinduku sebening hasrat
Di lembar pucuk ramadhan
‘Pintu ridha-Mu, surga berdawai
siluet tirai maaf, dari kobar nyala api-Mu’
BTP 28072014
Pagi di musim kemarau. Angin sepoi, semilir
menggigilkan tubuh ringkihku. Setelah sholat subuh, Mbak mengajakku untuk pergi
ke bawah pohon asam (nyandha' accem; Madura). Mengharap ada beberapa buah asam
yang jatuh. Tentu, buah asam yang sudah masak, menjadi bagian dari rejeki kami
saat itu. Dikumpulkan untuk beberapa hari lamanya. Kemudian dibawa ke pasar
untuk dijual ke pedagang.
Embun musim kemarau masih menetes. Aku masih
terlalu kecil saat itu, untuk merasakan makna hidup. Maka, ketika kudapatkan
sebuah asam, buah kecut itu menggugah seleraku. Aku pun memakannya. Di pagi
itu, kala mentari masih belum menampakkan diri.
"Lho, kok dimakan?" Kata Mbakku
sambil menggendong adikku yang masih kecil.
"Kenapa?" Aku tidak mengerti.
"Kan kamu puasa?"
"Kan masih malam, Mbak!"
"Tidak boleh!" Jawab Mbakku sambil
menjelaskan batasan-batasan puasa.
Ya, benar. Saat itu bulan Ramadhan. Semua orang
Islam sedang melaksanakan ibadah puasa. Dalam benakku, puasa hanya tidak boleh
makan pada waktu siang. Maksudku, saat matahari pagi belum nampak, aku kira,
masih bisa makan dan minum. Maklum, aku masih begitu kecil, belum sekolah. Tapi
sudah diajari untuk melaksanakan puasa.
Pada saat musim asam berbuah, di dekat rumahku
ada sebuah pohon asam yang sangat besar. Kami, aku dan teman-teman sebayaku,
biasa nongkrong di bawah pohon asam besar itu. Menunggu angin lewat, dan
beberapa buah asam yang sudah matang berguguran. Dan kami berebutan. Gembira.
Meski terkadang buah asam itu hancur karena diperebutkan. Kebahagiaan masa
kanak-kanak kami begitu membekas. Tetap terbayang hingga waktu yang tak
berhingga.
***
Hari Raya Idul Fitri tinggal beberapa hari
lagi. Seharusnya, kebahagiaan datang menghampiriku. Berangan baju baru, celana
baru, songkok baru, dan lain-lain yang serba baru.
Namun, lebaran kali ini kebahagiaan itu harus
kupendam. Pasalnya, sampai detik ini, hari raya tinggal dua hari lagi, orang
tuaku belum membelikanku pakaian baru. Ingin rasanya aku menangis, bila
mendengar teman-temanku membicarakan baju barunya masing-masing dengan rasa
bangga. Ya, dengan rasa bangga.
"Bajuku warna merah. Ada garis-garis hitam
di depannya." Kata Fudali.
"Kalau bajuku warba hijau. Kerahnya
hitam." Arifin menimpali.
Aku hanya jadi pendengar. Aku sudah yakin,
lebaran tahun ini tanpa baju baru. Ingin rasanya aku menangis. Berteriak minta
dibelikan baju baru. Namun, aku tahu kondisi ayah dan ibuku. Bukan mereka tidak
mau membelikan baju baru untukku. Tetapi, uangnya yang tidak memungkinkan.
Kemiskinan telah merajai kondusi keluargaku.
Malam hari raya.
Hari Raya Idul Fitri tinggal beberapa hari
lagi. Seharusnya, kebahagiaan datang menghampiriku. Berangan baju baru, celana
baru, songkok baru, dan lain-lain yang serba baru.
Namun, lebaran kali ini kebahagiaan itu harus
kupendam. Pasalnya, sampai detik ini, hari raya tinggal dua hari lagi, orang
tuaku belum membelikanku pakaian baru. Ingin rasanya aku menangis, bila
mendengar teman-temanku membicarakan baju barunya masing-masing dengan rasa
bangga. Ya, dengan rasa bangga.
"Bajuku warna merah. Ada garis-garis hitam
di depannya." Kata Fudali.
"Kalau bajuku warba hijau. Kerahnya
hitam." Arifin menimpali.
Aku hanya jadi pendengar. Aku sudah yakin,
lebaran tahun ini tanpa baju baru. Ingin rasanya aku menangis. Berteriak minta
dibelikan baju baru. Namun, aku tahu kondisi ayah dan ibuku. Bukan mereka tidak
mau membelikan baju baru untukku. Tetapi, uangnya yang tidak memungkinkan.
Kemiskinan telah merajai kondusi keluargaku.
Malam hari raya.
Aku pasrah tanpa baju baru. Meski hati ini
menangis. Meski perasaan begitu membuncah. Harapan sekali dalam setahun. Tak
berwujud. Biarlah. Sudahlah.
Di beranda rumah. Aku duduk bersama ibu dan
adikku. Ibu dengan cinta mengelus keningku. Kulihat telaga matanya mengembang.
Tidak, ibu bukan menangis. Aku tahu, ibu adalah orang yang tegar.
"Sabar Nak!" Kata ibu sambil membelai
rambutku. Aku hanya diam. Adikku yang belum bisa bicara bermain mobil-mobilan
di lantai. Ya, lantai tanah yang penuh debu. Siang tadi aku buatkan
mobil-mobilan untuknya dari buah 'nyamplong'. Dan kulihat adikku menyukainya.
Allahu Akbar...Allahu Akbar...
Walillahil hamd!
Takbir berkumandang di malam lebaran. Di
menara-menara masjid. Di surau dan langgar. Juga di lapangan. Besok, semua
orang Islam merayakan kemenangan. Kebahagiaan telah lulus melaksanakan ibadah
puasa. Sukses menahan godaan iblis dan setan. Aku pun begitu. Tidak sehari pun
aku lepas dari puasa Ramadhan. Alhamdulillah.
Saat semua teman-temanku bergembira. Aku hanya
termangu. Ah, tidak. Aku pun bahagia. Aku tetap gembira meski tidak harus
berbaju baru. Tidak mengapa. Aku tetap bahagia. Aku tunjukkan kebahagiaanku
pada ibu. Dengan menyalakan kembang api yang dibelikan Paman, beberapa hari
yang lalu. Oh, ternyata bahagia itu tidak harus berpakaian baru.
"Bu, Ayah kemana?" Dari siang tadi
aku tidak melihat Ayah. Aku tidak tahu kemana Ayah seharian, hingga malam
lebaran ini pun belum datang.
"Gak tahu," jawab ibu menggeleng.
Senyum seakan dipaksakan dari raut bibir ibu.
Belum lama kami membincang Ayah, ia tiba-tiba
muncul dari balik gelap malam. Cahaya patromak meyakinkan itu adalah Ayah.
"Ayah,..." Aku berteriak pada pada
ibu. Antara gembira dan kegetiran yang tidak menentu.
Dengan wajah sumbringah, ayah membuka bungkusan
plastik yang dibawanya. Allahu Akbar, pekikku dalam hati ketika kulihat apa
yang dibawa ayah. Baju baru, sarung baru, songkok baru, dan juga sandal jepit
baru. Untukku, untuk adikku, juga untuk ibu.
"Alhamdulillah. Ya Allah, terima kasih,
telah Engkau berikan padaku Ayah dan Ibu yang menyayangiku tanpa batas!"
Jauh setelah aku besar, baru aku tahu bahwa
Ayah mendapat uang untuk lebaran saat itu dengan cara menggadaikan barang
berharga milik Ayah. Terima kasih Ayah!
Sumenep, Juli 2014
THINK WIN-WIN
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Tuesday, September 2, 2014
WAKTU TERUS BERJALAN
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Subscribe to:
Posts (Atom)