Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com

Saturday, April 18, 2015

Pelita Hidupku

Pelita Hidupku Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Pikiranku melayang ke masa silam. Hari-hariku terselip dengan berbagai sensasi. Ocehan ibu dan ayah tak pernah terhiraukan dalam nuraniku. Yang hanya terpikir dalam benakku hiruk pikuk canda tawa di setiap hariku.

Sering kali ibu termenung dengan memasang wajah murung hingga meneteskan deraian air mata dari raut wajahnya. Huruf demi huruf merangkai berbagai kalimat yang dipanjatkan setiap menghadap sang khaliq demi mewujudkan kesadaran akan kesesatan dalam jiwa dan raga sang anak.

Rasa bersalah tak pernah tersirat dalam benakku. Maaf yang meluncur dari bibirku tak pernah terdengar oleh sang indera. “Akankah amanah Tuhan mampu aku taklukkan?” kata ibu. Tangisan air mata mengucur di mata ibu.
Semangat itu tdak pernah hilang, pantang menyerah dalam membimbingku. Kesabaran dan ketabahan yang menjadi senjata ibu dan ayah demi menghasilkan generasi yang berkualitas bagi Negara. Cinta dan kasih sayangnya sungguh sangat luar biasa.

Berbagai pelajaran telah kupetik, siraman rohani yang mengalir di sekujur tubuhku. Nasehat telah merasuk di jiwaku. Kepahitan-kepahitan masa silam telah sirna terbawa terpaan angin.

Dalam keheningan aku merenungi semua kesalahan-kesalahan pada masa silam. Goresan tinta hitam melumurui kertas putih kehidupanku. Aku ingin mengubur semua kekhilafanku yang telah lampau.
Penyesalan telah berkibar dalam ragaku. Kesad
... baca selengkapnya di Pelita Hidupku Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Thursday, April 9, 2015

Semangat Toleransi

Semangat Toleransi Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

“Laws alone can not secure freedom of expression; in order that every man present his views without penalty, there must be spirit of tolerance in the entire population. – Hukum pun tak dapat menjamin kebebasan berekspresi; agar setiap orang bebas mengungkapkan pandangannya, maka harus ada semangat toleransi di seluruh penjuru dunia ini.” ~ Albert Einstein

Rangkaian kata Albert Einstein mencerminkan sebuah pandangan tentang arti penting semangat toleransi di dunia ini. Ide untuk membahas tentang semangat toleransi itu pun muncul begitu saja di dalam benak saya saat berkunjung ke Istambul pada tanggal 22 Maret 2007 lalu. Istambul merupakan kota strategis di wilayah Turki.

Dikatakan strategis karena di sebelah utara kota tersebut adalah benua Eropa, sedangkan benua Afrika di selatannya, sementara benua Asia berada di sebelah timur Istambul. Letak yang strategis menjadikan kota tersebut berkali-kali dipilih sebagai ibu kota negara, di antaranya oleh pemerintahan Roman (330-395), Byzantine (395-1204 dan 1261-1453), Latin (1204-1261) dan Ottoman (1453-1922). Kota bersejarah itu juga mendapatkan predikat Joint European Capital of Culture for 2010 berkat keunikannya.

Is
... baca selengkapnya di Semangat Toleransi Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Saturday, April 4, 2015

SESOBEK SURAT KECIL BUAT BAPAK JOKOWI-JK

SESOBEK SURAT KECIL BUAT BAPAK JOKOWI-JK

Tidak pernah terbayangkan dalam benak saya, jika pada akhirnya, Jokowi-JK yang aku pilih, bertekuk lutut pada partai. Jargon yang dia ungkapkan semasa kampanye, hanya sebatas retorik licik berakar politik. Maka, kekecewaan saya pun berlarut, berurat, dan berakar.

Semula, saya banyak berharap dari Pak Jokowi. Kesederhanaannya, membangkitkan asa yang begitu besar. Ditambah lagi dengan 'blusukannya' mengingatkan saya pada Sahabat Umar bin Khattab.

"Inilah presiden yang saya banggakan!"

Begitu kira-kira pikiran saya berharap. Berharap agar rakyat lebih sejahtera. Berharap agar BBM tidak naik, dan tidak naik lagi. Berharap agar bahan-bahan pokok tidak mencekik. Berharap agar korupsi tidak semakin menjadi-jadi. Berharap agar tidak ada kriminalisasi. Berharap agar hukum dan keadilan semakin mumpuni. Dan masih banyak lagi, harapan-haran yang lainnya.

Ahh,,, Ternyata harapan itu sia-sia. Berharap hujan di musim kemarau, berharap mimpi di saat terjaga. Saya semakin apatis terhadap pemerintahan ini, meski tidak sampai pada tingkat nadir. Karena saya masih ingin ada perubahan. Ada kebijakan-kebijakan yang memihak kepada rakyat kecil. Saya pun tidak pernah berhenti berharap, doa yang selalu saya panjatkan. Semoga masih ada oase di padang gersang. Masih berharap embun di puncak kemarau.


Tentu, sesiapa pun presidennya tidak dapat dipastikan terjadi perubahan. Perubahan ke arah yang positif tentunya. Karena presiden kita saat ini, dibayang-bayangi oleh situasi sekitar. Politik terkadang membawa dampak yang absurd. Keinginan pribadi terkebiri oleh kemauan partai yang mengusungnya. Tapi, haruskah kepentingan rakyat ter-marjinal-kan?

Kecewa? Tentu! Karena presiden yang saya gadang-gadang, yang saya sanjung-sanjung, tidak sebagaimana yang saya harapkan. Jokowi-JK tidak seperti yang saya bayangkan. Bukan orang tua yang sayang akan anaknya (baca: rakyat kecil). Bukan sahabat yang akan menolong sahabat lainnya yang 'kelaparan.' Tetapi, mereka berada di balik bayang-bayang partai, penentu kebijakan yang meng-atasnama-kan golongan. Bolehlah saya uangkap sebagai 'boneka', atau sapi perah yang diambil manfaatnya, kemudian digiring ke tempat 'jagal.'

Adakah saya terlalu emosional dalam perkara ini? Bisa mungkin, pun bisa tidak. Apapun alasannya, saya telah memilih. Maka pilihan saya harus saya pertanggungjawabkan. Dengan cara apa? Tentu dengan cara mengingatkan. Meski hanya sebatas Sesobek Surat Lusuh ini, harapan untuk kembali pada jalan kebenaran harus tetap diupayakan.
Saya tidak berharap suksesi di tengah jalan. Karena akan begitu banyak makan korban. Ya, yang terkorbankan adalah rakyat kecil. Rakyat yang tidak tahu menahu tentang politik. Tidak paham dengan kebijakan pejabat. Tidak mengerti dengan kesenjangan-kesenjangan sosial. Mereka terkorbankan oleh kepentingan kelompok, golongan, dan kemauan partai.

Saya juga tidak suka dengan demonstrasi. Apa lagi demo yang dimotori oleh sebungkus nasi. Demonstrasi model ini hanya akan mengganggu stabilitas. Waktu yang terkorbankan. Bulum lagi bentrok fisik yang mengakibatkan lecet, luka, patah, bahkan yang terparah bisa kehilangan nyawa.

Bagi saya, kebijakan yang berpihak pada grassroot, rakyat kelas bawah sudah sangat bagus. Karena dengan kebijakan dan kebijaksanaan ini, rakyat akan merasakan dampaknya. Masyarakat menjadi damai, makmur. Sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD '45.

Lalu, mengapa BBM selalu naik? Dampaknya, kebutuhan bahan makanan pokok pun mencekik rakyat. Mengapa rupiah semakin terperosok ke jurang, ngarai yang paling dalam? Mengapa pula LPJ juga terus merangkak, mendaki? Mengapa kriminalisasi tidak kunjung usai? Mengapa pengadilan berpihak pada 'orang-orang besar?' Mengapa? Mengapa? Mengapa?

Terakhir, apa kabar revolusi mental? Apa kabar hukuman mati untuk kasus narkoba? Apa kabar KPK? Apa kabar POLRI? Dimana dan kemana kebijakanmu 'Jokowi-JK' yang dulu dikampanyekan?

Ahh, rasanya hilang sudah asa di hati saya. Andai saja krisis multi level ini tidak berkesudahan, maka mati berkalang tanah akan jauh lebih menenangkan. Tapi, aku masih percaya Tuhan.


"Janganlah Engkau berputus asa atas Rahmat Allah. Karena sesungguhnya tidak akan berputus asa atas Rahmat Allah, kecuali orang-orang yang kafir." (Alquran)

Jadi, Sobekan Surat Kecil ini tetap disudahi dengan harapan. Harapan perubahan kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil. Karena, merekalah yang pertama kali akan menjerit, melengking hingga menembus langit ketujuh, andai saja kebijakan itu tidak berpihak kepada mereka.

"Wahai Surat Kecil, terbanglah ke angkasa meski tidak ada yang sudi membaca. Karena, angin, bintang, awan, langit, mentari, pelangi, dan sebagainya, yang akan membacakannya untuk para pemangku kebijakan. Terbanglah, bersama asa yang terus berkobar!"

Sumenep, 03/04/2015

Monday, March 30, 2015

AGAMA & MARITAL STATUS

AGAMA & MARITAL STATUS
(Catatan kecil untuk Billy Boen dari bukunya: "Hidupkan Suksesmu."

Salah satu hal yang saya kurang sepaham dengan analisa Mas Billy adalah prihal Agama dan Marital Status. Saya fokus pada identitas agama. What's wrong with religion? Saya rasa tidak ada yang aneh dengan identitas ini. Kalau kemudian Mas Billy beralasan takut terjadi diskriminasi, petanyaan selanjutnya adalah,

"Sejauh mana profesionalitas interviewer?"

Apalagi Mas Billy ini mengkomparasikan kasus identitas agama dengan 'budaya telat/terlambat, masalah kebersihan, dan bahkan masalah korupsi. Bentuk sinerginya dimana? Bukankah identitas agama masalah personal yang tidak berakibat merugikan orang lain? Bandingkan dengan masalah telat, kebersihan, dan masalah korupsi. Yah, hal yang terakhir ini sungguh menyengsarakan banyak pihak. Agama? Identitas? Dimana letak kesalahannya?

Bahkan, maaf ini masih pemahaman saya, identitas agama dicantumkan justru punya hikmah/manfaat tersendiri. Serius? Pingin bukti? Hehee,,...berlagak seperti Mas Billy.

Pada saat seseorang mengajukan CV, kemudian tercantum identitas agama, maka interviewer sudah memahami bahwa perusahaan punya visi dan misi yang tidak hanya sebatas buget, tetapi kesejahteraan pegawainya, termasuk juga kebutuhan rohaninya.

Saya kasik contah, PO Hariyanto mensyaratkan pegawainya, utamanya supir, untuk berhenti memberikan waktu shalat kepada penumpang. Bayangkan, jika saja yang menyodorkan CV tidak mencantumkan agama, maka jika ia bergama Kristen, Hindu, atau Budha, akan merasa keberatan dengan aturan itu. Tetapi, dengan mencantumkan identitas agama, interviewer tinggal bilang,

"Saudara sanggup dengan kondisi ini? Jika ya, monggo silakan. Jika tidak, tentu jangan putus asa, coba di tempat lain."

Benar, seharusnya agama dan marital status tidak mempengaruhi elektabilitas sebuah CV. Tapi jika ada, seperti yang saya tulis di atas, maka profesionalitas penyeleksi perlu dipertanyakan. Dan hendaknya kita patut bersyukur tidak bekerja sama dengan perusahaan yang eleksinya 'sungguh' tidak profesional.

Hal lain yang merupakan hikmah di balik pencantuman agama dalam sebuah CV adalah, penyeleksi akan memahami bahwa di perusahaan ini, misalnya, tidak memandang masalah agama dan bersangkut paut dengan agama itu sendiri. Maka, jika seorang pelamar tidak mencantumkan agama di CV, ia akan sangat kecewa jika pada saatnya nanti di lingkungan perusahaan tersebut terdapat kebiasaan yang bertentangan dengan agama yang ia anut. Kekecewaan semacam ini pula yang harus dipahami, baik oleh penyeleksi CV atau pun interviewer. Jadi, intinya kita bisa mengambil hikmah dari pencantuman identitas agama, maupun marital status.

Oh, ya, kalau pengalaman Mas Billy tidak pernah mencantumkan identitas agama dan marital status, dan tidak pernah bermasalah dalam hal tersebut. Pernahkah terlintas dalam pikiran Mas Billy, ada berapa pelamar yang mencantumkan identitas agama, juga tidak mengalami masalah? Hehe,,,pada dasarnya, pencantuman identitas (apapun namanya) 'seharusnya' tidak mengebiri hak untuk mendapatkan kesempatan selanjutnya. Justru dengan mencantumkan identitas lebih lengkap, akan memberikan peluang yang lebih baik, meski tidak di tempat yang diinginkan sebelumnya.

Catatan ini saya buat sebagai bagian dari ragam pemikiran, tanpa ada maksud untuk membenturkan konsep yang satu dengan lainnya. Problematika argumentatif dengan aneka varian tanggung jawab yang akan berdampak positif. Catatan ini juga bukan sebuah dogma, hingga muncul kalimat,

"Jika dianggap baik, ambillah! Jika ternyata buruk, tinggalkanlah!"

***

Wednesday, March 25, 2015

Suara Sang Kertas

Suara Sang Kertas Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Aku putih, tapi aku juga bisa coklat, bisa juga kuning, hijau dan pink. Tapi mereka menyukai aku bebewarna putih. katanya, putih itu terlihat bersih dan terlihat mahal. padahal, semua warna itu indah. Semua warna mempunyai kecantikan masing-masing.

Kemarin, aku mendapat sebuah cerita yang lucu sekali. cerita itu benar-benar bagus menurutku. tentang perjalanan kisah cinta antara dua remaja, tapi kali ini diuraikan lewat kata-kata atau kalimat-kalimat yang sangat ringan dan penuh humor, sehingga menjadikan cerita itu termasuk dalam kategori romantika comedy.
Di dalam cerita itu dikatakan bahwa ada sepasang kekasih akhirnya harus berpisah untuk waktu yang cukup lama karena sang lelaki mendapat kenyataan kalau dirinya mengidap penyakit CANCER. dia harus dibawa ke luar negri untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi disana.

Aku sempat berfikir, karena dia harus di bawa keluar negri? Apakah disana tidak ada anak bangsa yang berhasil lulusan fakultas kedokteran Dan menyandang gelar dokter? Aku sering mendengar banyak sekali orang-orang pergi keluar negeri hanya untuk general check up berobat disana, Sepertinya mereka lebih percaya kepada tenaga medis si luar negeri daripada tenaga medis di Indonesia. kenapa begitu ya?

Tadi malam kantuk cepat sekali menghampiri tuanku. dia meletakkan benda panjang itu tepat di atas tubuhnku. C
... baca selengkapnya di Suara Sang Kertas Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Filosofi Modal Nol

Filosofi Modal Nol Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Saat ini, masih banyak sekali orang yang ingin menjadi pengusaha, selalu mengeluhkan tentang kesulitan memperoleh modal. Sebab, kebanyakan memang orang-orang masih beranggapan bahwa modal harus selalu dalam bentuk uang. Modal harus berupa hal yang bisa digunakan untuk membeli sesuatu yang kita perlukan untuk memulai usaha. Modal harus bisa diputar untuk mengembangkan usaha. Modal harus ini, modal harus itu.

Hasilnya? Karena merasa modal (baca: uang) belum cukup, kadang seseorang tak berani membuka usaha. Padahal, berbagai buku, tulisan, laporan, berita, hingga berbagai cerita dalam berbagai forum diskusi, seminar, dan workshop, telah menyebut bahwa modal tak harus dalam bentuk uang. Banyak kisah sukses pengusaha yang memulai dari nol.

Memang, hal ini seperti sesuatu yang aneh dan nyaris tak masuk akal bagi sebagian orang. Bagaimana bisa memulai usaha dengan tanpa uang sama sekali? Nol itu jelas-jelas bukan suatu angka yang bisa digunakan untuk membeli apapun. Nol itu adalah angka yang kosong melompong, bagaimana mungk
... baca selengkapnya di Filosofi Modal Nol Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Saturday, March 14, 2015

Empat Obat Mujarab

Empat Obat Mujarab Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Seorang anak muda. Ia telah berusaha memberikan dasar yang kokoh bagi keluarganya. Namun ia menemukan kekosongan di dasar sanubarinya. Ia dilanda kecemasan dan kehilangan arah hidup. Semakin hari situasinya semakin parah. Ia memutuskan untuk pergi ke dokter sebelum menjadi amat terlambat.

Setelah mendengarkan keluhannya, dokter memberikan empat bungkus obat sambil berpesan; ?Besok pagi sebelum jam sembilan pagi engkau harus menju pantai seorang diri sambil membawa ke empat bungkus obat ini. Jangan membawa buku atau majalah. Juga jangan membawa radio atau tape. Di pantai nanti anda membuka bungkusan obat sesuai dengan waktu yang tercatat pada bungkusannya, yakni pada jam sembilan, jam dua belas, jam tiga dan jam lima. Dengan mengikuti resep yang ada di dalamnya aku yakin penyakitmu akan sembuh.?

Orang tersebut berada di antara percaya dan ragu akan resep yang diberikan dokter. Namun demikian pada hari berikutnya ia pergi juga ke pantai. Begitu tiba di pesisir pantai di pagi hari, seme
... baca selengkapnya di Empat Obat Mujarab Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1