Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com
Showing posts with label FF/FTS. Show all posts
Showing posts with label FF/FTS. Show all posts

Monday, February 24, 2014

HIKMAH SEDEKAH



HIKMAH  SEDEKAH


“Dik, aku mau berangkat ke pengajian!” Pamitku pada istri selepas sholat isya’ di mushollah dekat rumahku.
“Ya Mas. Pergi dengan siapa?”
“Sendirian saja.” Jawabku. “O ya, ada uang untuk bensin?” lanjutku sambil mengeluarkan vespa, motor bututku yang selalu setia menemaniku dalam segala aktifitas. Istriku masuk ke dalam kamar. Tidak lama kemudian kembali keluar dan memberikan dua lembar uang lima ribuan. “Lima ribu saja!” kataku sambil mengambil satu lembar lima ribuan.
“Tidak kurang Mas?”
“Gak. Cukup kok Insya Allah.” Jawabku.
Aku tidak tau bahwa ternyata bensin di motorku sudah krisis. Empty. Hanya tinggal sisa-sisa kehidupan yang sebentar lagi akan habis. Tapi akau tidak kwatir, karena sudah bawa uang untuk beli bensin.
Benar saja. Di tengah perjalanan, tiba-tiba motorku tersendat. Bahkan tiba-tiba mati dengan sendirinya. Aku mencoba memiringkan motorku. Alhamdulillah, hidup. Aku terus menuju tempat pengajian.
“Biar saja, nanti setelah pengajian aku beli bensin.” Batinku.
Sesampainya di tempat pengajian, aku memarkirkan motor vespaku di tempat yang telah disediakan panitia. Tidak berapa lama kemudian, pengajian pun dimulai. Seperti biasa, acara dibuka dengan acara pembukaan. Membaca surat al Fatihah. Diteruskan dengan pembacaan tilawatil Quran, dan pembacaan shalawat. Dan akhirnya, sampailah pada acara inti. Ceramah agama yang disampaikan oleh ulama kharismatik dari luar daerah.
Dalam cermah membahas tentang pentingnya bersedekah. Bahwa harta yang kita sedekahkan di jalan Allah swt. hakikatnya tidaklah berkurang. Akan tetapi, nanti di sisi Allah akan dibalas dengan berlipat kebaikan.
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah melipat-gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS al Baqarah, 245)
Al Quran Surah al-Baqarah ayat 261, Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir , seratus biji. Allah melipat-gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunianya) lagi Maha Mengetahui.
Di akhir ceramah, panitia menarik sedekah bagi yang berkenan. Dengan beberap wadah kotak, surban, dan wadah lainnya. Beberapa panitia berjalan dari satu orang ke orang yang lainnya. Banyak sekali jamaah yang hadir  memberikan sumbangan. Mereka bagitu yakin dengan pembahasan tentang sedekah yang baru saja usai.
Aku berada di persimpangan. Antara memberikan sumbangan, uang terakhir yang semestinya aku persiapkan untuk membeli bensin. Antara ya dan tidak. Hatiku begitu menggebu ingin memberikan sedekah. Tapi motorku, meminta minum untuk melaju.
“Tidak usah disumbangkan. Kamu mau motormu didorong?” suara illusi di telinga kiriku.
“Sumbangkan saja. Kapan lagi ada kesempatan untuk menyumbang. Percayalah, sumbanganmu tidak akan sia-sia di sisi Allah swt.” di telinga kananku.
Keputusan akhirku adalah menyumbang. Dengan ikhlas. Apa pun yang terjadi dengan motorku, akan aku terima dengan lapang dada. Ada perasaan lega dalam hatiku. Dengan rasa ikhlas aku sumbangkan uang Rp. 5000,- untuk kemaslahatan masyarakat. Atau untuk lembaga keislaman lainnya.
Sekitar jam 10.00 malam, pengajian itu pun usai. Seluruh undangan terlihat puas. Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan satu pemahaman baru, berkenaan dengan sedekah. Aku juga melangkah keluar dari tempat pengajian. Menuju vespa bututku. Dan aku pun pulang dengan hanya sisa bensin yang entah tinggal berapa meter lagi bisa melaju.
Benar saja. Sekitar lima belas meter aku mengendarai motorku, bensin sudah habis. Dan tentu saja aku harus mendorongnya. Tidak mengapa. Aku ikhlas karena Allah semata. Di dalam gelap, aku terus mendorong motorku. Hingga di pertengahan perjalananku ke rumah, tiba-tiba ada mobil berhenti tepat di sampingku. Aku heran. Siapa gerangan punya mobil mewah ini?
“Umar, kenapa motormu?” Fahri, temanku, menyapaku dari atas mobil mewahnya.
“Hee, kehabisan bensin.” Jawabku malu-malu.
“Ayo cari bensin dulu. Titip motormu di dekat warung itu!” Ajak Fahri. Aku sedikit bingung. Tapi akhirnya mau juga.
Tidak tanggung-tanggung. Aku dibelikan 5 liter bensin. Kata Fahri, sisanya biar dibawa pulang. Aku mengucap syukur. Alhamdulillah, masih ada orang baik di zaman seperti ini.
Sebelum pulang, aku diajak Fahri mampir ke rumah makan. Rumah makan mewah dengan aneka menu masakan yang bermacam-macam. Aku disuruh ambil makanan semaunya. Sepuasnya. Aku tahu, Fahri, temanku ini secara materi memang termasuk sukses. Entah di luar itu. Semoga, lahir dan batin juga bahagia. Aku pulang dengan motor penuh bensin, masih ada lagi sisa, serta seporsi makanan untuk istriku yang dibelikan Fahri.
“Ya Allah, hanya dengan uang Rp. 5000, Engkau balas aku dengan berlipat ganda.” Desahku sebelum berpisah dengan Fahri.
****



Sunday, February 23, 2014

KARMA



Sumber gambar: http://completeyourbridge.org/Articles/GPM5%20Karma%20Buster/GPM5_KarmaBuster.htm

Sebenarnya, Rafli adalah anak yang rajin. Anak yang pintar dan cerdas juga. Setiap tugas dan pekerjaan rumah selalu ia kerjakan dengan baik. Dan nilainya pun selalu baik.

Begitulah! Terkadang dalam diri seseorang ada suatu hal yang baik, di samping hal yang kurang dapat dipertanggungjawabkan. Ada yang pintar dengan segudang prestasi, tapi ia orang miskin. Ada juga yang kaya raya, tapi ia nakal dan memanfaatkan kekayaannya untuk hal-hal yang negatif. Ada juga yang tekun belajar dan rajin, tapi otaknya udang. Dan,...masih banyak yang lainnya.

Berbeda dengan Rafli. Ia anak yang cerdas, rajin, semangat, dan berprestasi di bidang akademik. Satu hal yang jelek, yang ada pada karakter Rafli adalah telat, terlambat. Bukan lemot; lemah otak, telmi; telat mikir, lola; loding lama, atau lekir; lemah mikir. Juga buka oda; otak udang. Tetapi, pastinya ia selalu datang terlambat dalam setiap ada acara di sekolahnya.

Entahlah! Tidak ada yang tahu pasti, mengapa Rafli sering datang terlambat. Dan anehnya, ia hanya 'diam' kalau ditanya, mengapa datang terlambat.

"Terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali," suatu waktu Rafli berargument. Tris yang ada di sampingnya tertawa rendah.
"Emangnya Kau gak pernah merasa bosannya menunggu?"
"Gak kok!"
"Tapi, pernahkah Kau menunggu? Atau jangan-jangan selama ini hanya menjadi objek yang ditunggu?"
"Hem,..."
***

Begitulah kebiasaan Rafli. Ia tidak pernah berpikir bahwa kebiasaannya tidak baik. Dan bahkan bisa menyebabkan suatu hal yang bernilai negatif.

Dan akhirnya, karma itu satu persatu menghampirinya.

"Sudah berapa lama aku menunggu?" Ketus, Giska marah pada Rafli.
"Aku gak sengaja, Ka!"
"Tidak sengaja katamu? Setelah aku berkali-kali diperlakukan begini?"
"Maafkan aku, Ka!"
"Tidak! Saat ini juga kita putus!"

Giska, pacar Rafli sudah ada di puncak kesabaran. Ia tidak betah berpacaran dengan Rafli. Keterlambatannya, sering membuatnya menderita. Putus, adalah jalan yang terbaik baginya.

Rafli termangu. Ia tidak percaya dengan apa yang terjadi dalam cintanya. Ia ingin berubah. Ia tidak ingin hal lain yang terburuk terjadi padanya.

Tetapi, betapa sulitnya merubah kebiasaan. Telat dan terlambat masih selalu menyertainya. Meski ia berusaha untuk merubahnya. Kebiasaan itu begitu menyiksa.

"Bis sudah mo berangkat," sms Deri pada Rafli, dalam suatu acara sekolah. Rafli terperanjat. Ia terkejut. Masih belum mandi, belum bersiap-siap. Dengan tergesa-gesa ia mempersiapkan diri. Tapi, apa yang terjadi? Rombongan persahabatan sepak bola itu pun berangkat. Dan Rafli hanya bisa gigit jari. Esoknya, ia jadi tumpuhan kekesalan teman-temannya.

Bukan hanya itu. Rafli masih terus dalam kebiasaan telat dalam aktivitas kesehariannya.

Hingga pada suatu waktu, di sekolah diadakan acara pentas seni. Besok adalah rapat kegiatan tersebut. Bapak pembina OSIS, Bapak Fajar, mengultimatum para pengurus OSIS, bahwa besok jam 07.00 sudah harus berkumpul.

"Besok jam 07.00 sudah harus hadir di aula sekolah," begitu Pak  Fajar mengatakan saat itu.
"Harus disanksi Pak, bagi yang terlambat," Udin ketua OSIS mengusulkan.
"Benar! Bagi yang terlambat, akan dihukum gantung,... di Munas!" Pak Fajar berkata sambil tersenyum, tapi tetap serius. Semuanya menoleh ke arah Rafli. Ia hanya nenunduk.

Bagaimana  pada akhirnya? Apakah Rafli tidak terlambat? Kita tunggu besok di sekolah. Atau jangan-jangan Rafli akan menjadi yang kedua digantung di Munas. Kita lihat aja! Besok!

Sumenep, 15012013

Monday, February 17, 2014

KUTUNGGU CINTAMU DI PINTU SURGA



KUTUNGGU CINTAMU DI PINTU SURGA
 
Sumber gambar: http://ipulstory.blogspot.com/2010/12/cinta-dari-taman-surga.html
Pagi itu angin berhembus lirih. Matahari tidak begitu terik. Awan tipis bergelayut di cakrawala. Ada banyak cerita yang harus kulalui dalam hidup ini. Dan di pagi ini, begitu kuat impianku menjelma bayangan-banyangn masa lalu. Illustrasi wajah Andin, melukis seluruh ingatanku. Di masa lalu.

“Din, sudah lama menunggu?”
“Gak juga kok. Baru saja datang.” Jawab Andin lembut. Bagai derai pesona bidadari di taman firdaus.

Di taman itu. Di sudut kampus tempat aku dan Andin menimba ilmu. Aku berdua dengan Andin menikmati suasana asri. Indah di antara bunga-bunga yang bermekaran. Di antara gemercik air taman yang mengalir perlahan. Ikan-ikan kecil berenang ke sana ke mari, seakan merayakan kometmen kami berdua. Kesepakatan untuk saling mencinta. Merindu, saling memberi dan meminta.

“Aku ingin ikatan yang sempurna.” Dalam hening beberapa saat.
“Maksud Mas?”
“Aku berharap ikatan kita sempurna di sisi Allah.” Andin hanya diam. Menunggu kelanjutan bicaraku. “Begitu juga di mata orang-orang sekitar kita.” Lanjutku.
“Aku juga berharap begitu Mas. Agar kita tidak berdosa dengan khalwat seperti ini.”
“Aku setuju Din.”

Andin adalah gadis sederhana. Kesederhanaan itu melahirkan inner bauty. Pesona aura tingkah lakunya, melahirkan decak kagum orang-orang di sekitarnya. Bukan kecantikan membiaskan nafsu. Tapi sebuah kecantikan yang menebarkan kharisma. Anggun jiwa dan raganya menebarkan sinar Islam yang memesona.

Waktu terus berlalu. Meninggalkan banyak cerita. Tentang hidup dan cinta. Rindu dan kesempurnaan bunga surga.

“Besok aku ke rumahmu Din.” Smsku pada Andin.
“Ada apa Mas?”
“Untuk melamar Kamu, Din.”
“Sudah yakin dengan keputusanmu, Mas?”
“Tidak ada yang perlu aku ragukan.”
“Ya sudah, kalau itu keputusan Mas.”

Hari Jum’at. Aku, ayah dan ibu bersiap-siap. Pagi-pai sekali kami berangkat ke rumah Andin. Untuk menemui kedua orang tuanya. Waktu yang aku tunggu. Untuk mewujudkan cinta aku dan Andin. Dalam sebuah ikatan yang diridhai Allah swt.

Di dalam mobil aku membayangkan wajah Andin. Wajah yang selalu aku rindu. Wajah yang melahirkan larik-larik cinta. Senantiasa menjadi bunga di dalam hari-hariku. Karena jiwaku dalam jelma jiwa Andin. Dan cinta Andin berpadu dalam cintaku.

Sampai di rumah Andin. Ada banyak orang yang keluar masuk di rumah sederhana tersebut. Aku mengira itu bagian dari kedatangan aku dan rombongan. Untuk melamar Andin. Sebagai bagian dari tulang rusukku. Yang telah ditetapkan di lauhul mahfudz. Allahu akbar. Jadikan Andin sebagai hiasan dalam hidup dan matiku.

“Ada apa ini? Kok banyak sekali orang?” tanyaku pada seseorang yang tidak aku kenal.
“Andin telah tiada Dik.”
“Apa? Andin tiada? Maksudnya apa?” tanyaku beruntun. Tersekat dalam tanya yang gamang.
“Ya Dik. Andin telah dipanggil yang Mahakuasa.”

Remuk hatiku melihat keadaan itu. Aku masuk menyeruak di antara kerumunan. Aku tidak peduli. Walau banyak orang yang merasa heran dengan kedatanganku. Hanya kedua orang tua Andin yang memaklumi keadaanku.

“Andin, jangan tinggalkan Mas,...” hanya itu kata keluh yang keluar dari mulutku. Aku melihat lipatan kertas di tangan Andin. Kuambil kertas itu. Dan lentik tulisan cantik tertera di sana.

“Mas Umar, Allah telah mengambil hakku. Hak untuk hidup bersama dirimu di dunia. Tapi aku tunggu dirimu di sana. Di pintu surga. Cintaku selalu ada untukmu.”



Biodata :
Rusdi el Umar tinggal di Sumenep Madura.  Alamat surat  SMP Negeri 1 Masalembu, Jl. Raya Masalima Masalembu Kode Pos 69492. Bisa berkomunikasi melalui FB; Rusdi el Umar atau twiter; umar_rusdi. Alamat email  rusdiumar@gmail.com.






Sunday, February 16, 2014

KUPU-KUPU BERSAYAP PELANGI



KUPU-KUPU BERSAYAP PELANGI
Rusdi el Umar
 
Sumber gambar: http://www.gambargratis.com/gambar/gambar-kupu-kupu
Kupu-kupu telah menjadi sebuah legenda. Warnya indah penuh pesona. Kepak sayapnya lembut menawan. Para pecinta pun menggores liris larik-larik puitik. Kupu-kupu bersayap mega. Menggores gelora purnama di taman persada. Langit pun luruh bersama kelopak bunga telaga.

Tidak banyak yang tahu. Bahwa kupu-kupu punya cerita pilu. Ada kisah duka dalam menjalani kehidupannya. Tetapi semua itu telah berlalu. Dan kini ia menjalani hari-hari  yang sangat indah.

Semula, kupu-kupu tidak lebih daripada seekor larva. Seekor ulat yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya mampu berjalan ke sana ke mari dengan tubuh yang sangat lemah. Dia tidak bisa berbuat banyak. Bahkan untuk sekedar pindah dari satu tempat ke tempat yang lain pun, ia merasa kesulitan. Ulat, bisa jadi hanya sebagai santapan burung-burung pemakan ulat. Ulat, adalah makhluk yang tidak bisa berbuat apa-apa.

“Haha... si Kupu lagi menari”. Suatu hari si Pipit burung kecil dan lincah mengejek si Kupu-kupu sambil terbahak-bahak. Pipit seringkali merasa angkuh di hadapan si Kupu-kupu. Ia selalu mencela, mencemooh, serta merendahkan si Kupu-kupu. Si Kupu-kupu pun menjadi rendah diri. Ia tidak percaya diri. Kadang ia merasa bahwa kehidupan ini tidak adil.
“Pit, apa gak ada kerjaan lain selain mengejek aku?”. Si Kupu-kupu mulai merengek. Ia sudah mulai ingin menangis. Sebenarnya ia sangat marah mendengar celotehan ejekan si Pipit.

“Kupu-kupu cengeng. Kupu-kupu jelek. Kupu-kupu jongos. Kupu-kupu....”. Banyak lagi kata-kata menyakitkan yang dilontarkan si Pipit. Kupu-kupu hanya bisa diam. Diam dalam kesedihan. Diam dalam kemarahan yang amat sangat. Ia malu. Ia merasa hidup tidak berguna.

“Haruskah kuakhiri hidup ini?”. Bisik hati si Kupu-kupu.

Di sebuah dahan pohon yang tinggi.

“Tidak ada gunanya aku hidup”, kata si Kupu-kupu kepada Laba-laba teman dekatnya. Hanya Laba-labalah satu-satunya teman yang bisa diajak curhat oleh Kupu-kupu.
“Ada apa Kupu-kupu? Kok sepertinya sedih banget?” Kata Laba-laba pada saat itu. Laba-laba merasa iba melihat keadaan Kupu-kupu temannya.
“Hidup ini tidak adil”, balas Kupu-kupu dengan pilu.
“Kok berkata seperti itu? Bukankah aku temanmu yang bisa diajak berbagi?”, Laba-laba berkata dengan lembut.
“Ya, aku tau. Hanya kamu Laba-laba satu-satunya teman yang mengerti aku”.
“Makanya, coba ceritakan aja apa masalahmu”.
“Aku sudah bosan hidup”.
“Tidak boleh berkata seperti itu”.
“Aku adalah makhluk yang terjelek di dunia ini”.
“Siapa bilang seperti itu? Kamu, aku, dan makhluk yang lainnya sama kok. Sama-sama makhluk Tuhan. Tidak boleh saling mencela, mencaci, menyakiti, dan saling membohongi”. Panjang lebar si Laba-laba menasihati si Kupu-kupu.

Akhirnya si Kupu-kupu pun menceritakan keluh kesahnya kepada si Laba-laba. Ia menceritakan bahwa si Pipit selalu mencaci dan mencela dirinya. Ia sudah tidak tahan dengan ocehan si Pipit. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia  mahkhluk lemah. Tidak berdaya dan tidak memiliki kelebihan apa-apa.

Si Laba-laba mendengarkan keluhan temannya. Ia sangat perhatian dan mencoba memberikan jalan keluarnya. Ia menyarankan kepada si Kupu-kupu untuk menemui seorang petapa yang berada di lereng gunung. Siapa tau, si petapa bisa memberikan nasihat yang berharga baginya.

“Terima kasih Laba-laba”, kata si Kupu-kupu dengan air mata sembab.

Tempat si petapa yang ditunjukkan oleh si Laba-laba tidaklah dekat. Di bawah lereng gunung Gading. Jauh melewati bukit dan lembah serta hutan belantara yang sangat lebat. Tetapi tekat si Kupu-kupu sudah bulat. Ia berhasrat kuat untuk menemui si petapa. Ia ingin mendapat nasihat darinya.

Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, si Kupu-kupu berjalan melewati lembah, bukit, dan belantara. Panas, dingin, hujan, bahkan duri dan tajamnya batu cadas dan reranting duri tidak ia rasakan. Hanya si petapa yang ada dalam benaknya. Ia ingin segera menemuinya.

Setelah berbulan-bulan berpayah-payah, akhirnya si Kupu-kupu pun sampai di tempat si petapa. Segera ia menceritakan apa maksud kedatangannya.

“Eyang, maaf saya datang dari jauh karena ada suatu maksud”, si Kupu-kupu mengatakan kepada si petapa setelah agak lama ia beristirahat.
“Maksud apa gerangan?”, jawab si petapa lembut, syahdu dalam kharisma yang amat sangat.
“Saya ingin berubah”, jelas si Kupu-kupu gugup.
“Maksud kamu? Berubah?” si Petapa heran.
“Betul Eyang. Saya bosan dengan celaan si Pipit tentang keadaan diri saya yang jelek”.
“Semua makhluk itu sama Nak. Tentu ada kelebihan dan kekurangan masing-masing”. Si Pertapa mencoba menjelaskan. Tapi tekat si Kupu-kupu terlalu kuat. Ia ingin berubah. Tidak hanya berupa ulat yang tidak berdaya. Tetapi, ia ingin mempunyai kelebihan yang bisa ia banggakan.

Akhirnya, si Pertapa memberikan nasihat. Dari olah batinnya, si Pertapa mendapat wangsit, bahwa jika ingin berubah, maka Kupu-kupu harus bertapa. Maka ia memerintahkan kepada si Kupu-kupu untuk bertapa. Dengan bertapa, ia akan menjadi apa yang dia inginkan. Kupu-kupu sangat gembira. Ia pun akan melaksanakan apa yang diperintahkan sang Pertapa.

Sebelum memulai bertapa, si Kupu-kupu membayangkan akan menjadi seperti apa. Ia sebenarnya tidak tau, apa yang ia inginkan. Tapi sedetik sebelum mulai bertapa ia melihat pelangi. Sungguh suatu susunan warna yang begitu indah. Dalam hati si Kupu-kupu berkata,

“Andai tubuhku seindah pelangi”.

Pertapaan pun dimulai. Mula-mula ia berdiam di suatu tempat yang telah dipilih sebelumnya. Sehari dua hari si Kupu-kupu tidak makan dan tidak minum. Ia tahan lapar dan dahaga demi sebuah cita-cita. Ingin menjadi makhluk yang indah, yang tidak lagi dicemooh oleh si Pipit. Burung yang selalu menyakitinya.
Satu minggu kemudian si Kupu-kupu sudah mulai kelihatan perubahannya. Ia telah berubah menjadi kepompong. Tapi perubahan ini tidak ia rasakan. Ia khusyuk dalam pertapaannya. Dari bentuk ulat sudah berubah menjadi kopompong. Tetapi perubahan ini belum selesai. Ia masih terus bermetaforfosis yang pada akhirnya ia pun berubah menjadi Kupu-kupu yang indah bagai warna pelangi.

Setelah menjadi Kupu-kupu yang indah, ia merasa terlahir kembali. Ia memangut-mangutkan wajahnya di sebuah telaga yang bening. Ia pun merasa takjub dengan keadaan dirinya. Lain dari sebelumnya. Sungguh sesuatu yang sangat luar biasa. Ia pun ingin menemui si Pertapa dan akan mengucapkan terima kasih atas nasihatnya.

“Eyang,...Eyang,...”. panggil si Kupu-kupu indah berkali-kali. Tetapi yang dipanggil sudah pergi. Pergi entah kemana. Si Kupu-kupu pun merasa berhutang budi.

Dengan kepakan sayapnya yang gemulai, si Kupu-kupu indah terbang pulang ke asalnya. Pertama-tama ia menemui teman karibnya si Laba-laba. Ia ceritakan bahwa ia dalam perjalanan panjangnya telah menemui si Pertapa. Dan hasilnya,

“Coba lihat sendiri. Tubuhku indah kan?”, kata Kupu-kupu sumbringah. Si Laba-laba pun takjub dengan perubahan temannya yang luar biasa ini.

Dunia telah berubah. Kupu-kupu yang semula berbentuk ulat dan tidak punya kelebihan apa-apa, kini telah menjadi seekor Kupu-kupu yang cantik dan indah. Dan si Pipit pun menyadari, bahwaa selama ini perbuatannya terhadap Kupu-kupu tidak baik. Akhirya ia minta maaf kepada Kupu-kupu.

Benih-benih cinta di hati Pipit terhadap Kupu-kupu mulai bersemi. Tidak diketahui, apakah cinta si Pipit one side love, ataukah si Kupu-kupu indah bersayap pelangi menerinya dengan setulus hati. Adakah yang mengerti?
***