Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com
Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Saturday, January 13, 2018

SEPENGGAL EPISODE

Raisa gadis yang cantik, cerdas, dan ramah. Matanya teduh berbulu lentik. Berwajah oval, sebaris bibirnya yang manis berhias senyum. Anggun perawakannya, menyiratkan laksa pesona kemilau pelangi. Sesiapa yang memandangnya, akan berbilur pesona taresna karenanya. 

Aku, dengan segala yang ada, meretas puing-puing rindu di telaga hati yang paling dalam. Dengan wajah gelimis, membentuk raut yang biasa. Hanya memburai debu-debu jalanan, di balik suci cinta yang aku karamkan di hati Raisa. Begitulah! Cinta bermula rindu, dan desah seruling asmara pun bertaut puja, berkalang puji. 

"Aku mencintaimu, Raisa," kataku di saat senja berlabuh. Raisa diam. Berpaling pada raut senja yang mewarna jingga. Ada rasa sesak di dadaku. Entahlah! Raisa mungkin tidak mencintaiku. Aku harus memahami, siapa aku sebenarnya. Wajah awam dan harta pun tak ada. Maka, Raisa tidak mungkin memilihku sebagai kekasih, pangeran, dengan keistimewaan yang mewarna. Tetapi, biarlah, cinta ini berlabuh di dermaga tak berair, tanpa riak gelombang. Aku terhempas di lembah luka, nestapa.
*** 

Waktu menabuh perjalanan. Detak detik pun berlalu bersama garis-garis nasib sang insan. Akhirnya, labuh cintaku berhilir di hati Anna. Dialah tempatku berkeluh kesah. Menumpahkan sisa cinta yang tercampakkan. Dan Anna, menerimaku dengan segala adanya. Cinta pun berpeluk rindu, berkubang asmara. Begitu pun dengan Raisa. Wajahnya yang cantik tidak sulit untuk memperoleh pendamping hidup. Raffi, adalah tempat ia berlabuh. Dengan kemewahan harta yang melimpah. Semula, semua berjalan dengan harap dan asa. Namun, seiring sang waktu, Raffi yang termasuk play boy kelas jet-set, kembali pada gejolak tak puas hanya dengan satu wanita. Raisa pun tersisih, terbuang, dan bahkan tercampakkan. 

"Mau ke mana lagi, Mas?" Malam itu Raisa berkata pada Raffi yang berbaju necis, memasuki mobil avanzanya.
"Urusanku!" Ketus, acuh, Raffi  menjawab tanpa menoleh.
 Dada Raisa bagai dihantam berjuta peluru kendali. Hatinya miris, teriris sakit. Air mata membuncah, jatuh di pipinya yang halus dan cantik. Sesal pun terkuak dari hatinya yang terdalam. 

"Inikah balasan dari salah pilih?" Raisa paham, bagaimana sakitnya hatiku saat ditolak cinta. Bukan! Bukan hanya penolakan, tapi lebih dari itu, sebuah penghinaan. Aku dilecehkan. Aku dihinakan. Hanya karena aku bukan orang berharta. Tentu aku sakit hati. Tapi, begitulah kehidupan. Rencana Tuhan, jauh lebih lebih indah dari yang kita perkirakan. 
"Hanya karena aku miskin?"
"Tentu!"
"Tidakkah harta itu hanya titipan?"
"Itu menurutmu. Menurutku, harta itu yang akan membuatku bahagia!"
"Subhanallah," aku mengelus dada. Sakit!
*** 

Aku bahagia dengan keadaanku saat ini. Meski episode cinta pertamaku adalah Raisa. Tapi, Tuhan memberikan jalan lain untukku. Anna adalah yang terakhir, meski bukan yang pertama. 

"Mas, ada tamu di luar," Anna, istriku berkata pagi itu.
"Siapa?" Jawabku.
"Entah! Coba saja lihat di luar." Jawab istriku. Aku letakkan majalah sastra yang tengah kubaca. Kemudian aku melangkah ke luar. Betapa aku terkejut, ternyata di luar Raisa berdiri dengan raut kesedihan. 
"Kok ada di sini?" Aku bertanya heran padanya. Ia hanya menunduk. Raut wajahnya semakin buram, muram. Ada laksa kepedihan yang ia tahankan. 
"Mas, suruh masuk saja!" Istriku berkata dari dalam. Aku pun mengajak Raisa masuk. Ada rasa enggan pada mulanya. Tapi, setelah dipaksa, akhirnya ia pun mau. 
"Apa yang terjadi dengan dirimu, Raisa?" Di ruang tamu kami berbincang. Raisa terlihat begitu sedih. Dari kelopak matanya yang lentik, air mata membasahi pipi. Masih kelihatan sisa-sisa kecantikannya. Tentu, rasa itu, yang dulu pernah hadir di kelopak hatiku, masih terus membayang. Menampilkan diorama kisah cinta yang lalu terkikis oleh bingkai zaman. 
"Anna adalah bagian dari jiwaku," aku mencoba menenangkan pikirku dengan realitas hidup. 

Kemudian Raisa bertutur. Menceritakan kisahnya yang pilu. Hidup dengan Raffi adalah neraka. Tidak ada keharmonisan. Semua berakhir dengan derai air mata. Ia tercampakkan. Hatinya lebur, hancur oleh ulah suaminya. Kata-kata kotor begitu mudahnya terlontar. Pukulan dan tamparan begitu saja melayang. Begini salah, begitu salah. Tidak ada sejumput harmonis yang bisa ia dapatkan dari pernikahan itu. Raisa menyesal. Menangis di dalam pelukan Anna yang mencoba menenangkannya. Aku galau, di antara persimpangan pikiran yang tak bertuju. 

Entahlah! Aku menatap langit-langit rumahku. Siluet diorama masa lalu terbayang di benakku. Saat aku terdampar, terkapar oleh jalinan cinta yang terbakar. Sementara, di depanku kini, pelakon drama kehidupan cinta itu ada. Mengisahkan segala kemelut keadaan cintanya. Menceritakan penyesalannya. Dengan derai air mata yang terus tertumpah. Aku mengelus dadaku. Begitu sakit, bergetar amarah yang meluap. 

"Tak perlu Kau kasihani!"
"Maafkanlah! Ia telah menyesal dengan perbuatannya."
"Jangan! Ia perempuan yang telah mencampakkanmu!"
"Tidak! Memaafkan itu jauh lebih utama!" 

Begitulah! Keadaan menghentak hatiku. Dadaku bergoncang. Antara marah dan rasa kasihan. Aku berada di persimpangan. Ragu menghantam hatiku. 

"Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?"
*** 

Anna adalah yang terakhir bagiku. Dialah matahariku, mutiara yang selalu merbakkan bunga-bunga cinta. Aku mencintainya. Sungguh, aku adalah jiwanya. Dan dia adalah bagian dari jiwaku. Apa pun yang terjadi, Anna adalah sepenggal napas yang selalu kuhela dalam setiap tarikan detak jantungku. 

"Mas, sudah sekian lamanya kita menikah," kata Anna suatu hari.
"Ya, kenapa?" Jawabku acuh tak acuh.
"Tapi,...kita belum dikaruniai si buah hati."
"Tuhan belum berkenan."
"Aku khawatir, Mas!"
"Sabar, dan terus berdoa!" 

Memang benar. Sampai detik ini aku belum dikaruniai si buah hati. Seorang anak yang akan menjadi pelipur duka. Menjadikan suasana indah bersama celoteh nakal anakku. Itu semua hanya sebuah fatamorgana. Hayalan-hayalan yang terus saja membayang. Menghantam relung hatiku. Meski aku tidak pernah putus pengharapan, karena setiap aku dan istriku memeriksakan diri ke dokter, ia menjelaskan bahwa aku dan Anna, istriku, sehat-sehat saja. Hanya saja, Allah swt belum berkenan memberinya. 

"Aku rela,... Mas menikah lagi," senja ini Anna berkata sambil merebahkan wajahnya di bahu kiriku. Aku tersentak, kaget. Tidak percaya dengan apa yang ia katakan.
"Makdud kamu, An?"
"Raisa mencintaimu dengan sepenuh jiwa." Aku semakin terkejut.
"Tidak!" Kataku tegas. "Aku tidak ingin terluka untuk kedua kali. Dan Engkau tahu itu!" Aku tidak mengerti, mengapa tiba-tiba Anna berbicara begitu. Tentang Raisa, orang yang tidak ingin aku ingat lagi namanya. Tapi ini Anna yang memulai. Istriku yang sudah menjadi bagian dari darah dan dagingku. Aku tidak ingin menyakiti hatinya sedikit pun. Anna telah menyembuhkan luka dalam, di relung hatiku. "Tolong, jangan katakan itu lagi," aku memandang Anna. Di telaga matanya ada bulir air mata. Aku percaya, cinta Anna padaku tak akan pernah surut. Sampai kapan pun. Anna tersenyum. Teduh wajah itu berhias bibir takwa. Sebening biru langit di senja itu. Kemudian ia bertutur. Bahwa Rasul pernah bersabda;

"Cintailah seseorang itu secara biasa-biasa saja, karena bisa jadi orang kamu cinta menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah terhadap seseorang itu secara biasa-biasa saja, sebab bisa jadi orang kamu benci menjadi orang yang kamu cintai." 

Mengapa harus Raisa? Tak adakah wanita lain dari dia? Meski harus kuakui bahwa di balik benci tersimpan cinta, di balik marah ada rindu. Tapi, waktu telah mengikis segalanya. Aku telah berusaha tuk melupakannya. Dan itu bisa dengan datangnya cinta Anna. Oh, betapa sebuah si malakama. Ketika Anna, dengan mahkota cinta suci, menawarkan sebentuk cinta lama. Elegi kasih yang tumpah di alam mayapada. Aku gugu dalam mangu yang sunyi, sepi. 

"Sungguh! Aku ingin Raisa menjadi bagian dari kisah hidup kita." Anna kembali berucap tentang Raisa. Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi antara keduanya. Adakah konspirasi rahasia? Mungkinkah tersirat ikatan janji? Aku masih percaya Anna, sebagaimana ia tidak mungkin berbuat tidak baik terhadapku. Sekian lamanya aku berumah tangga dengannya, pastinya kami sudah paham luar-dalamnya hati kami masing-masing. 
"An, sebegitu pentingkah Raisa dalam hidupmu?"
*** 

Raisa terbaring tidak berdaya di ruang ini. Sebuah Rumah Sakit paling baik di kotaku. Bau obat-obatan khas menyeruak di rongga hidungku. Semula aku menolak diajak Anna untuk menjenguk Raisa. Rasanya sudah tidak perlu lagi. Tapi, Anna begitu merajuk. Ada semacam ikatan batin yang teramat kuat di antara mereka. Aku pun meloloskannya. Kupandangi tubuh Raisa yang tak berdaya. Selang infus menembus lengan kirinya. Tetes-tetes air itu kulihat satu-satu jatuh dari dalam tabung. Mengalir ke tubuh Raisah yang terlihat kurus. Kupandangi matanya, terpejam. Lentik bulu matanya masih terlihat. Bibirnya yang pucat, seakan menerbitkan senyum. Cepat-cepat aku berpaling. Sedikit demi sedikit mata Raisa terbuka. Air mata mengalir di pelupuk matanya. Anna dengan cekatan mengambil tissu dan membersihkannya. Raisa tersenyum. 

"Terima kasih An! Kau mau datang," bisik Raisa hampir tak terdengar.
"Aku datang bersama Mas ***r. Kau harus cepat sembuh!"
"Benarkah?" Sinar matanya berbinar. Wajahnya terlihat cerah. Ada gumpal bahagia karenanya.
"Benar, Raisa!"
"Maafkan aku, An!"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan!"
"Aku telah merepotkanmu!"
"Tidak! Aku tidak merasa repot."
"Tak ada duanya, hati yang setulus hatimu, An!"
"Lupakan saja!" 

Kemudian Anna menarik tanganku. Dipertemukannya tanganku dengan tangan Raisa. Aku menurut saja. Meski ini di luar mauku. Agama pun melarangnya. Tapi, kuanggap ini sebuah mudharat. Aku menggenggam tangan Raisa erat. Seakan kualirkan energi positif kepadanya. Kulihat mata Raisa kembali mengembang. Air mata mengalir deras. 

"Maafkan aku, Mas!" Aku tidak menjawab. Tepatnya, tidak mampu menjawab. Air mataku tumpah. Bagaimana pun, Raisa pernah ada dalam hidupku. Cinta Raisa pernah bersemayam di relung hatiku. Ia pernah mewarnai bilik hatiku dengan cinta. Sepenggal episode yang ia campakkan karena mengira cinta itu terdapat pada harta. Dunia telah menipunya. Tiba-tiba pegangan tangan Raisa lepas. Matanya terpejam. Sekuntum senyum terpaku di bibir indahnya. 
"Tidaaa....k," Anna menjerit sejadi-jadinya. Aku mendesah, "Innalillah wainna ilaihi roji'un." Para awak medis terburu-buru datang. Mereka berusaha merebut nyawa Raisa dari takdir. Bergumul dengan Malaikat Maut. Berupaya mengembalikan napas Raisa yang tersendat. Aku masih sempat melihat, senyum Raisa yang ranum. Dan lirik sinar matanya yang teduh ranau. 

"Adakah aku jatuh cinta lagi?"
***
x

Sunday, September 28, 2014

NYANYIAN HUJAN





Anak itu mendekap tubuhnya yang ringkih. Terlihat raut wajahnya, gigil menahan hempasan dingin yang membakar. Di tangannya, dalam bungkusan plastik kecil hitam, ia menggenggam uang tiga ribu perak. Sesiang ini, hanya satu orang yang menggunakan jasanya. Sewa payung.

Hujan masih terus mengguyur. Di sudut peron ia berdiri gelisah. Bukan! Bukan karena rezeki di hari itu terasa seret. Tetapi, jauh dalam pikirannya, ia gundah. Resah terus bergelayut dalam benaknya.

"Dik! Payung, Dik!" Tanpa disangka seorang ibu muda memanggilnya. Tergesa ia menghampirinya. Ibu muda itu ingin menyeberang, dan menaiki taxi di seberang stasiun.

"Berapa, Dik?"
"Dua ribu," jawabnya sambil mengacungkan dua jari tangan kanannya. Ibu itu menyerahkan uang lima puluhan ribu. Ia terperanjat.
"Tidak ada kembaliannya, Bu!" Ia berkata sambil menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering, di antara gerimis yang terus merinai.
"Ambil saja. Gak usah dikembaliin," jawab ibu itu sambil tersenyum. Cantiknya menghilang setelah pintu taxi rapat tertutup.

Tanpa sengaja air matanya meleleh. Tidak ada yang tahu, karena gerimis masih menghempas saat itu. Ia pun berbenah. Disaksikan kursi-kursi yang diam di peron. Tiang besar atap stasiun yang juga terlihat kuyup. Lelah, berselimut dingin di siang menjelang sore itu.

Sejak pagi ia belum makan. Tapi ia tidak merasa lapar. Tepatnya, ia sanggup menahan lapar. Bukan hanya sehari. Tapi juga bisa lebih dari itu. Tubuhnya, semakin terlihat kurus. Tapi ia tetap lincah di antara derai dan gerimis hujan.
***

"Assalamu'alaikum. Ibu, Adi pulang," suaranya lantang. Ada semacam daya dalam ungkapan katanya.
"Wa'alaikum salam. Tumben siang-siang udah datang?" Parau suara ibu terdengar di balik pintu rumahnya. Bukan rumah ding! Tapi gubuk.
"Ya, Bu. Adi bawa obat untuk ibu. Juga membeli nasi bungkus. Ada ayam goreng kesukaan Fani."

Fani yang masih berumur lima tahun itu mengambil handuk untuk kakaknya. Ia pun menyiapkan air panas untuk sang kakak. Selepas mandi, Adi menceritakan kisahnya di hari itu. Bahwa dari pagi hingga menjelang siang, baru mendapatkan satu pelanggan. Bahwa setelah itu, ada ibu muda yang menggunakan jasanya. Bahwa, ibu muda itu memberikan uang lima puluh ribu dan tidak minta kembalian.

"Alhamdulillah," ibu yang sudah agak sehat itu mengucap syukur. Selama dua hari lamanya ia tidak bisa bekerja. Maka, anaknya, Adi, yang masih duduk di kelas lima itulah yang pontang panting mencari kehidupan.

"Besok, Insya Allah, ibu sudah bisa bekerja. Mari kita nikmati dan kita syukuri rezeki Allah hari ini." Nasihat ibu sambil membuka bungkus nasi hasil kerja anaknya. Adi dan Fina pun makan bersama-sama di sore itu. Gerimis masih terus menghempas. Payung Adi menggantung di balik pintu gubuknya. Hujan masih terus menyanyi.
***

Ah, anak itu membuat aku rindu. Ya, rindu akan celoteh manja seorang anak. Sekian lamanya aku berumah tangga, namun si buah hati belum kunjung ada. Terkadang, gerimis air mata bercucuran di saat malam melanglang.

"Sudahlah Rifka, Tuhan masih belum berkenan," begitulah suamiku selalu membujukku. Untunglah aku punya suami yang sabar. Mengayomi, sekaligus mencintaiku apa adanya.

Hujan mulai reda.
Dari dalam taksi aku melihat gumpalan awan putih. Tetapi gerimis sudah pergi. Mentari masih tertunduk malu di balik sisa awan hujan seharian. Tiba-tiba air mataku menderas. Entahlah!

Beberapa menit kemudian aku sudah sampai di depan rumahku. Ya, rumah yang terbilang mewah. Rumah yang selalu kurindu. Karena pada setiap senja, suamiku datang untuk sebuah cinta yang tulus. Tetapi, masih ada yang kurang. Ya, di rumah besar itu tidak terdengar tangisan anakku.
***

"Ibu,....Adi pulang!" Dari jauh Adi sudah memanggil-ibunya. Ia ingin memperlihatkan nilai rapotnya akhir tahun ini. Ya, Adi masih terus sekolah. Ia pantang menyerah. Ditinggal bapaknya, memang kehidupan Adi berubah. Ia yang sekarang menjadi tumpuan ibu dan adiknya.

"Ada apa, Nak. Kok teriak-teriak dari jauh," jawab ibu saat Adi sudah berada di dekat ibunya.
"Adi dapat juara lagi, Bu. Nih lihat, nilai Adi bagus semua," jelas Adi begitu sumbringah. Terlihat dari sinar matanya yang memancar.

"Syukurlah, Anakku!" Jawab ibu parau. Terharu dengan prestasi anak lelakinya ini. "Andai bapakmu masih hidup," pikir ibu sambil menengadah. Tak kuasa air matanya meruah oleh keadaan yang tidak ingin ia jalani. Tetapi nasib telah menyeret mereka ke dalam penderitaan hidup.
***

Selepas dari sekolah.
Adi bersiap menuju stasiun. Hari begitu gelap. Tumpahan curah hujan mulai meruah satu demi satu.

"Bismillah," langkah Adi menyusuri jalanan becek. Menuju stasiun. "Semoga banyak rejeki hari ini," doanya dalam hati. Adi berjalan kaki menyusuri jalan raya yang tidak begitu ramai. Mungkin karena hari hujan. Hanya sesekali motor dan mobil melintas. Derunya ditingkahi gemuruh hujan yang semakin menderas. Di tangannya, dua payung hitam ia genggam.

Sesaat sebelum menyebrang ke arah stasiun, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya. Adi heran. Ia tidak punya keluarga kaya. Tepatnya, ia tidak tahu. Ibunya tidak pernah menceritakan siapa-siapa. Kecuali bapaknya, yang selalu dibanggakan oleh ibunya.

Pintu mobil itu terbuka. Pas di depan matanya. Adi semakin bingung. Seorang ibu muda, tersenyum ke arahnya.

"Masuklah, Nak!" Ibu muda itu berkata lembut. Tapi Adi bingung. Bahkan mulai timbul kecurigaan.

"Maaf, Bu. Saya harus bekerja," jawab Adi apa adanya. Herannya, Adi tidak kuasa menolak, melihat ibu itu berlinang air mata. Adi semakin bingung, dan menuruti keinginannya.
***

Kupandangi anak itu dengan saksama. Aku merasa ada darahku yang turut mengalir di nadinya. Aku tidak tahu, mengapa hal ini bisa terjadi. Aku melihat kecerdasan pada sinar matanya. Dan itu pulalah yang membuat aku semakin terharu. Aku ingin mendekapnya, bagai anakku sendiri. Tetapi, apakah anak ini suka? Tuhan, pengaruh anak begitu menghunjam nuraniku.

"Makanlah, Nak," kataku bergetar, haru tiba-tiba kembali menyeruak. Adi hanya mengangguk, kemudian.berpaling kepada bapak di sebelahnya. Bapak itu pun tersenyum. Terasa tulus di sudut hati Adi.

"Makanlah, di luar masih hujan," jawab bapak itu tak kalah lembut. Adi semakin salah tingkah. Seakan hari ini ia bersua dengan dua malaikat. Ia pun teringat dengan ibu dan adiknya.

"Tapi,...." Kata Adi tidak melanjutkan.
"Tapi apa? Katakanlah pada ibu." Adi kelihatan ragu. Tapi kemudian ia mengatakannya.
"Saya teringat ibu dan adik di rumah," Adi terlihat menarik napas.
"Oh, itu. Tidak usah kwatir. Nanti adik dan ibumu, kamu bawakan makanan dari sini."

Adi pun tidak ragu. Ia makan dengan lahapnya. Dari pagi, ia memang belum makan. Hanya beberapa jajanan kering saat ia di sekolah.

Aku kembali memperhatikan anak di depanku. Aku tidak berselera makan. Kulihat suamiku juga demikian. Kami terbiasa makan di rumah.

Kembali terngiang celoteh anakku yang tak kunjung datang. Maka, Adi yang sekarang ada di depanku telah menjelma buah hatiku. Meski sampai detik ini, aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Tetapi benang kasih itu telah berurai di setiap tarikan napas Adi.

Kini aku semakin paham, kalau ternyata Adi tinggal bersama adik dan ibunya. Dari cerita Adi, bapaknya telah tiada. Maka, Adi kecil harus mencari uang sendiri. Dengan cara apa saja, yang penting halal. Juga dengan menyewakan payung di musim penghujan.

Hujan di luar restoran mulai reda. Tinggal titik-titik gerimis yang semakin lesap. Adi pun pamit pulang. Karena hari sebentar lagi akan malam. Aku hanya mengangguk, saat Adi ijin pulang. Kuselipkan uang dua ratus ribu di saku bajunya. Kulihat Adi terkejut. Tidak percaya. Tapi, bagiku uang itu tidak seberapa.

Aku lihat Adi berjalan riang. Di antara gerimis yang masih mengundang. Aku dan suamiku saling pandang.

"Bagaiman kalau kita antarkan saja anak itu?" Usul suamiku. Tidak menunggu lama, aku pun mengiyakan.

Tidak berapa lama, karena memang rumah Adi tidak jauh dari tempat itu, akhirnya kami pun sampai. Hujan tak lagi bernyanyi. Benar-benar senja yang indah.

"Ibu,...." Adi berteriak memanggil ibunya sebelum turun dari mobil. Dan seseorang separuh usia beserta seorang putrinya, terpaku heran di ambang pintu. Aku pun turun. Mendekati seseorang yang tidak mungkin aku lupa. Aku pun menghambur, menangis, memeluk embakku sendiri.

"Embaaaa....k,"
*** 

Sumenep, 28092014

Wednesday, September 10, 2014

GEMA MALAM BERTAKBIR



PURNAMA SURGA BERTAUT

Senja di ujung kisah
Menjaring pelangi, runcing mentari
Mendawai mahligai purnama
di telaga maghfirah Ilahi

Sirah sebening istighfar
dendang nafiri berlabuh rindu
pucuk cintanya-Nya, redam angkara
di ruas sang waktu, di bibir malam

Ramadhan!
Bias dendang kelana jiwa
menyuluh kasturi, di rimba kasih
bertaut Rahmat-Mu, menebar cakrawala
melarung keabadian berhulur kasih

Bulanku, purna!

Purnama bergurat syahadat
Gemerlap dedaun, berpadu ampunan
berderai meneriak kawah rindu, melebur jiwa
lelangkah berselip lidah retak
berpucuk tirai sekerat ‘istighfar’

Rmadhan!
Marhaban ya cahaya surga
Tarian bidadari, jamah malaikat
Munajat shalawat, di mihrab cinta
Berkidung nyanyian mahligai rindu

Tirai ampunan, bertalu doa
Bertakbir salam, ya Allah!
Taut rinduku sebening hasrat
Di lembar pucuk ramadhan

‘Pintu ridha-Mu, surga berdawai
siluet tirai maaf, dari kobar nyala api-Mu’

BTP 28072014

Pagi di musim kemarau. Angin sepoi, semilir menggigilkan tubuh ringkihku. Setelah sholat subuh, Mbak mengajakku untuk pergi ke bawah pohon asam (nyandha' accem; Madura). Mengharap ada beberapa buah asam yang jatuh. Tentu, buah asam yang sudah masak, menjadi bagian dari rejeki kami saat itu. Dikumpulkan untuk beberapa hari lamanya. Kemudian dibawa ke pasar untuk dijual ke pedagang.

Embun musim kemarau masih menetes. Aku masih terlalu kecil saat itu, untuk merasakan makna hidup. Maka, ketika kudapatkan sebuah asam, buah kecut itu menggugah seleraku. Aku pun memakannya. Di pagi itu, kala mentari masih belum menampakkan diri.

"Lho, kok dimakan?" Kata Mbakku sambil menggendong adikku yang masih kecil.
"Kenapa?" Aku tidak mengerti.
"Kan kamu puasa?"
"Kan masih malam, Mbak!"
"Tidak boleh!" Jawab Mbakku sambil menjelaskan batasan-batasan puasa.

Ya, benar. Saat itu bulan Ramadhan. Semua orang Islam sedang melaksanakan ibadah puasa. Dalam benakku, puasa hanya tidak boleh makan pada waktu siang. Maksudku, saat matahari pagi belum nampak, aku kira, masih bisa makan dan minum. Maklum, aku masih begitu kecil, belum sekolah. Tapi sudah diajari untuk melaksanakan puasa.

Pada saat musim asam berbuah, di dekat rumahku ada sebuah pohon asam yang sangat besar. Kami, aku dan teman-teman sebayaku, biasa nongkrong di bawah pohon asam besar itu. Menunggu angin lewat, dan beberapa buah asam yang sudah matang berguguran. Dan kami berebutan. Gembira. Meski terkadang buah asam itu hancur karena diperebutkan. Kebahagiaan masa kanak-kanak kami begitu membekas. Tetap terbayang hingga waktu yang tak berhingga.
***

Hari Raya Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi. Seharusnya, kebahagiaan datang menghampiriku. Berangan baju baru, celana baru, songkok baru, dan lain-lain yang serba baru.

Namun, lebaran kali ini kebahagiaan itu harus kupendam. Pasalnya, sampai detik ini, hari raya tinggal dua hari lagi, orang tuaku belum membelikanku pakaian baru. Ingin rasanya aku menangis, bila mendengar teman-temanku membicarakan baju barunya masing-masing dengan rasa bangga. Ya, dengan rasa bangga.

"Bajuku warna merah. Ada garis-garis hitam di depannya." Kata Fudali.
"Kalau bajuku warba hijau. Kerahnya hitam." Arifin menimpali.

Aku hanya jadi pendengar. Aku sudah yakin, lebaran tahun ini tanpa baju baru. Ingin rasanya aku menangis. Berteriak minta dibelikan baju baru. Namun, aku tahu kondisi ayah dan ibuku. Bukan mereka tidak mau membelikan baju baru untukku. Tetapi, uangnya yang tidak memungkinkan. Kemiskinan telah merajai kondusi keluargaku.

Malam hari raya.

Hari Raya Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi. Seharusnya, kebahagiaan datang menghampiriku. Berangan baju baru, celana baru, songkok baru, dan lain-lain yang serba baru.

Namun, lebaran kali ini kebahagiaan itu harus kupendam. Pasalnya, sampai detik ini, hari raya tinggal dua hari lagi, orang tuaku belum membelikanku pakaian baru. Ingin rasanya aku menangis, bila mendengar teman-temanku membicarakan baju barunya masing-masing dengan rasa bangga. Ya, dengan rasa bangga.

"Bajuku warna merah. Ada garis-garis hitam di depannya." Kata Fudali.
"Kalau bajuku warba hijau. Kerahnya hitam." Arifin menimpali.

Aku hanya jadi pendengar. Aku sudah yakin, lebaran tahun ini tanpa baju baru. Ingin rasanya aku menangis. Berteriak minta dibelikan baju baru. Namun, aku tahu kondisi ayah dan ibuku. Bukan mereka tidak mau membelikan baju baru untukku. Tetapi, uangnya yang tidak memungkinkan. Kemiskinan telah merajai kondusi keluargaku.

Malam hari raya.
Aku pasrah tanpa baju baru. Meski hati ini menangis. Meski perasaan begitu membuncah. Harapan sekali dalam setahun. Tak berwujud. Biarlah. Sudahlah.

Di beranda rumah. Aku duduk bersama ibu dan adikku. Ibu dengan cinta mengelus keningku. Kulihat telaga matanya mengembang. Tidak, ibu bukan menangis. Aku tahu, ibu adalah orang yang tegar.

"Sabar Nak!" Kata ibu sambil membelai rambutku. Aku hanya diam. Adikku yang belum bisa bicara bermain mobil-mobilan di lantai. Ya, lantai tanah yang penuh debu. Siang tadi aku buatkan mobil-mobilan untuknya dari buah 'nyamplong'. Dan kulihat adikku menyukainya.

Allahu Akbar...Allahu  Akbar...
Walillahil hamd!

Takbir berkumandang di malam lebaran. Di menara-menara masjid. Di surau dan langgar. Juga di lapangan. Besok, semua orang Islam merayakan kemenangan. Kebahagiaan telah lulus melaksanakan ibadah puasa. Sukses menahan godaan iblis dan setan. Aku pun begitu. Tidak sehari pun aku lepas dari puasa Ramadhan. Alhamdulillah.

Saat semua teman-temanku bergembira. Aku hanya termangu. Ah, tidak. Aku pun bahagia. Aku tetap gembira meski tidak harus berbaju baru. Tidak mengapa. Aku tetap bahagia. Aku tunjukkan kebahagiaanku pada ibu. Dengan menyalakan kembang api yang dibelikan Paman, beberapa hari yang lalu. Oh, ternyata bahagia itu tidak harus berpakaian baru.

"Bu, Ayah kemana?" Dari siang tadi aku tidak melihat Ayah. Aku tidak tahu kemana Ayah seharian, hingga malam lebaran ini pun belum datang.
"Gak tahu," jawab ibu menggeleng. Senyum seakan dipaksakan dari raut bibir ibu.

Belum lama kami membincang Ayah, ia tiba-tiba muncul dari balik gelap malam. Cahaya patromak meyakinkan itu adalah Ayah.

"Ayah,..." Aku berteriak pada pada ibu. Antara gembira dan kegetiran yang tidak menentu.

Dengan wajah sumbringah, ayah membuka bungkusan plastik yang dibawanya. Allahu Akbar, pekikku dalam hati ketika kulihat apa yang dibawa ayah. Baju baru, sarung baru, songkok baru, dan juga sandal jepit baru. Untukku, untuk adikku, juga untuk ibu.

"Alhamdulillah. Ya Allah, terima kasih, telah Engkau berikan padaku Ayah dan Ibu yang menyayangiku tanpa batas!"

Jauh setelah aku besar, baru aku tahu bahwa Ayah mendapat uang untuk lebaran saat itu dengan cara menggadaikan barang berharga milik Ayah. Terima kasih Ayah!

Sumenep, Juli 2014