Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com
Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts
Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts

Sunday, January 25, 2015

HATI SUCI TAK ADA BENCI



Tadi malam, Selasa malam, 20 Januari 2015 atau tepatnya 29 Robiul Awal 1436 H, saya sempat menghadiri pengajian umum terkait 'maulid Nabi Muhammad saw'. Dalam acara ini diisi dengan ceramah agama oleh KH. D. Zawawi Imron.

Beberapa model oleh-oleh dari ceramah Beliau, membuat saya kembali merenung ke hulu kehidupan saya. Hal mana, sering kali saya dengar bahasa-bahasa ibu yang terdengar ingklusif, aneh, tapi lebih pada titik berat gaya yang indah.

DANG GADANG
Pada kosa bahasa ini, K. Zawawi menjelaskan tentang seseorang (pemuda) yang tidak punya misi kerja. Aktifitasnya nonsense, tidak ada sama sekali. Malas, serta tidak ada visi ke depannya. Dalam bahasa Beliau, 'ka bara' ka temor tada' lakona, nampa cangkem agellu' to'ot'. Persis seperti 'dang gadang', kata K. Zawawi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Madura (KBBM), ada?, dijelaskan bahwa dang gadang adalah orang-orangan, biasanya seram, untuk menakut-nakuti orang lain. Mungkin, orang-orangan sawah termasuk dalam 'dang gadang' ini.

Dalam pemahaman saya, saat saya masih kecil, sering juga disebut 'dang gadang' oleh orang tetua, jika saya melakukan kejahatan (baca: kekerasan) kepada teman lain. Menilik makna (bebas) ini, maka 'dang gadang' juga bisa diartikan 'penjahat'. Heee, tapi entahlah,,,

DALMUS
Kosa bahasa ini asli dari Bahasa Madura. Persis seperti yang saya ungkapkan di atas. Dalmus diungkapkan kepada orang yang malas. Dalam ungkap bahasa lain, juga disebut 'males'. Seorang anak yang jarang ngaji, sekolah, dan atau tidak suka bekerja membantu orang tua adalah masuk dalam kategori 'dalmus'.

Kata dalmus lebih 'tinggi' daripada males. Artinya, seseorang yang malesnya minta ampun, baru masuk dalam kaidah dalmus. Malas di atas malas, 'lampot' di atas 'lampot' tertuang juluk 'dalmus'. Semoga kita terhindar dari kondisi ini.

ABANTAL OMBA' ASAPO' ANGIN
Berdasar lirik lagu 'Tondu' Majang', kita akan diingatkan dengan pribahasa 'abantal omba' asapo' angin'. Sebuah olah kata atau pribahasa yang ditujukan pada para nelayan. Bekerja keras untuk sesuap nasi. Demi kehidupan diri sendiri, atau pun sanak kadang yang dengan cemas menunggu di rumah.

Abantal omba', berarti seorang nelayan yang dalam kesehariannya selalu menantang gelombang. Sebesar apa pun gelombang yang ada, mereka terus menerjang, mencari ikan dengan pukat keteguhan dan kegigihan. Tidak kenal lelah, dan tak kan pernah menyerah.

Asapo' angin, artinya para nelayan sudah akrab dengan badai. Angin yang sering kali menyebabkan kapal terombang, perahu tenggelam. Bahkan jauh lebih dahsyat dari yang kita perkirakan.

ALAKO BERRA' APELLO KONENG
Kalimat indah ini mengingatkan saya pada lirik lagu 'Ka' Sandurinnang'. Salah satu baitnya yang masih saya ingat adalah:

"Ka' Sandurinnang, cungrojung morot bako, e e e.... Ollena alako berra' apello koneng".

KH. Zawawi dalam penjelasannya masih menautkan kerja keras untuk hal-hal yang positif. Hingga Beliau menjelaskan sebuah hadits yang berhubungan dengan hal kerja keras.

"Bekerjalah Engkau untuk duniamu, seolah-olah akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu, seakan Engkau akan mati besok".

ABANTAL SYAHADAT ASAPO' IMAN
Namun, hal yang tidak kalah pentingnya dari semua di atas, adalah ketakwaan dan keimanan. Dalam hal ini, KH. Zawawi menyebutkan dengan bahasa 'abantal syahadat asapo' iman. Hal ini dimaksudkan bahwa apa pun kerja kita, profesi yang beragam macam, jangan sampai melalaikan Tuhan. Karena, sepanjang kehidupan kita, muara akhirnya adalah Tuhan. Berjumpa dalam dengan-Nya dalam purna ketakwaan dan kesempurnaan iman.

Maka, bukan semata-mata abantal omba' asapo' angin, atau bekerja dan berbuat dengan segenap usaha maksimal. Tetapi, di balik itu semua komunikasi dengan Tuhan (menurut KH. Zawawi) dengan cara berjumpa dengan-Nya, melalui shalat lima waktu.

Pada dasarnya, Tuhan adalah Zat yang mudah ditemui. Dengan sholat, yang hanya disyaratkan suci dari hadats, siapa pun dapat menjumpai-Nya. Dalam hal ini, D. Zawawi menceritakan pengalaman pribadinya, ketika diundang ke istana negara. Hampir-hampir urung datang hanya karena tidak punya jas. Cerita jas D. Zawawi ini juga memberikan kesan tersendiri. Bagaimana kisahnya?

HATI SUCI TAK PUNYA WAKTU UNTUK MEMBENCI
Satu lagi kalimat indah yang dapat saya tangkap pada perayaan maulid kali ini. Yaitu, hati yang suci (soklah) tidak ada waktu untuk membenci. Karena hati yang bersih melahirkan energi positif. Energi inilah yang akan membawa rasa ikhlas pada setiap lakon diri.

Menerima dengan rasa tabah pada setiap takdir. Mendekorasi diri dengan kaidah sabar, tawakkal yang penuh ikhtiar. Maka, energi positif tidak lebur oleh lelaku riak, sombong, dan warna negatif lainnya. Insya Allah, Allahumma sholli 'ala Muhammad!

Sumenep, 26 Januari 2015

Monday, March 17, 2014

SAMBUTAN UNTUK DUTA JUARA



SAMBUTAN UNTUK DUTA JUARA
 
Melinda, Zihan, Rizka, dan Nindia
Senin pagi. Tanggal 17 Maret 2014, SMPN 1 Masalembu tidak mengadakan Upacara Bendera. Hal ini terjadi karena adanya pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) untuk kelas 7 dan kelas 8.   
 
Imam, Darul, Rifki, Ihza, Hifni, dan Rizal
Pagi, sebelum pelaksanaan ujian, saya bertemu dengan Jihadal Amanah, yang biasa dipanggil Adah, di depan kelasnya. Semburat kebahagiaan memancar dari raut wajah sumbringah. Aura kegembiraan, karena apa yang ia inginkan selama ini, belajar dan berlatih, tidaklah sia-sia. Adah memperoleh juara 2 dalam lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).

"Bapak, Assalamu'alaikum," sapanya saat saya berpapasan di pagi ceria itu.
"Wa'alaikum salam. Selamat, ya!" Jawab saya. Adah pun salaman, mencium tangan saya sebagai rasa hormat. Perasaan saya begitu berkesan, melihat etika dari siswi yang satu ini. Rendah hati, dan jauh dari terkesan angkuh. Harapan saya, semua siswa-siswi saya memiliki karakter akhlakul karimah.
 
Bersama dewan guru setelah penyerahan hadiah dan piagam
Saya masuk ke kantor. Sudah ada beberapa guru yang datang. Riska Sari dan Royna Zihan datang. Mereka bersalaman dengan saya. Juga dengan guru-guru yang lain. Wajah sumbringah, terpancar dari kedua duta juara ini.

Sedianya, pagi ini akan diadakan penyambutan duta para juara. Namun, karena satu dan lain hal, sambutan untuk para juara ditunda. Rencananya keesokan harinya. Selasa, 18 Maret 2014, sebagai ungkapan rasa syukur, serta harapan untuk menjadikan apa yang telah kita raih, menjadi sebentuk keniscayaan untuk lebih baik di masa yang akan datang.
 
Penyerahan hadiah oleh Kepala Sekolah
Selasa pagi. Cuaca begitu cerah. Mentari bersinar gagah. Jam 6 siswa-siswi sudah berdatangan. Kemaren sudah diumumkan, bahwa pagi ini akan diadakan upacara penyambutan para juara. Jawara intelektual, serta para punggawa Sepak Takraw, yang telah merbakkan lembaga, akan disambut dengan upacara. Hanya sebatas unjuk kebolehan, bahwa setiap kemauan jika diiringi dengan usaha maksimal, setidaknya akan melahirkan jiwa juara, paling tidak, juara sekaligus jawara untuk diri sendiri.

Suasana di lapangan pun ramai. Semua siswa berkumpul dan membentuk barisan. Sebentar lagi, acara penyambutan dan sekaligus penyerahan hadiah akan segera di laksanakan. Maka, sebentar kemudian susunan acara pun dimulai. Dari awal hingga sampailah pada saat penyerahan hadiah. Sebelumya, Kepala Sekolah, Bapak Gatot Rudy Asmu’i, S. Pd. memberikan kata sambutan untuk para duta juara. Juga untuk semua siswa tanpa kecuali.
 
Sambutan Kepala Sekolah


“Upacara ini adalah luar biasa. Tidak sebagaimana biasa, karena dalam pelaksanaan upacara ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur, sekaligus tafakur untuk menjadikan kita lebih baik, dan lebih siap untuk menghadapi kompetisi di masa yang akan datang,...”

Tepuk tangan pun riuh membahana, ketika para duta juara dipanggil satu persatu menuju tempat yang telah ditentukan. Disaksikan para dewan guru, staff Tata Usaha, siswa dan siswi semuanya tanpa kecuali. Mereka memberikan applous, sebagai bentuk dukungan terhadap rekan mereka yang telah mewakili lembaga, dalam kancah percaturan intelktual dan Olah Raga. Semuga mereka, semua anak didik saya mencapai apa yang mereka cita-citakan. Amin!

Sumenep, 18 Maret 2014



Friday, March 14, 2014

DUTA PARA JUARA



DUTA PARA JUARA


Beberapa hari yang lalu, tepatnya Kamis,   6 Maret 2014, siswa-siswi saya berangkat dari dermaga Masalembu menuju dermaga Kalianget. Kali ini, mereka sebagai utusan, duta, dari SMP Negeri 1 Masalembu untuk ikut dalam lomba OSN (Olimpiade Sains Nasional)  tingkat Kabupaten Sumenep. Mereka berbekal 'kecerdasan', paling tidak sebagai juara di lembaga mereka sendiri. Mencoba membelah ganasnya ombak, terjangan badai, sebagai eksistensi akan lembaga pendidikan formal, nun jauh di seberang. Pulau kecil, terpencil, sekaligus 'punya andil'. Hehee,...wat magawat!


Mereka adalah, Riska Sari (Biologi), Melinda Shilatil Fauziyah (Matematika), Anindia (IPS), dan Royna Ziyan Zakiyah (Fisika). Di samping itu pula, ada kelompok sepak takraw dan peserta lomba tilawatil Quran. Untuk yang terakhir pesertanya adalah Jihadal Amanah, dari kelas 7-1.

Dengan kemampuan akademik yang mereka miliki, tidak sebatas pada lomba OSN saja, mereka juga dipersiapkan untuk lomba yang lainnya. Seperti Melinda, misalnya, ia juga dipersiapkan untuk mengikuti lomba desain batik. Riska Sari juga dibina untuk mengikuti lomba cipta puisi.

Satu hal yang masih membekas di benak saya, ketika mereka pamit bersalaman sambil mengatakan, “Sir, pray me for this competition,” sebuah kalimat pengharapan bahwa apa yang mereka emban, untuk keberadaan lembaga pendidikan tercinta, setidaknya tidak mengecewakan, membawa nama baik di rantau, dengan perilaku dan akhlakul karimah.

Dengan perasaan haru, serta pengharapan yang meruah saya jawab, “Sure, I do pray for your success!” Hehee,...padahal sebelumnya, mereka saya marahi karena agak ribut di kelas saat saya menjelaskan sebuah materi Fisika. Maklum, sebentar lagi mereka harus siap-siap berangkat menuju dermaga. Hanya saja, mereka tidak ingin melepas kesempatan sekadar untuk sebuah pelajaran yang saya berikan.

Beberapa hari kemudian, untuk cipta puisi, lomba dilaksanakan pada hari Selasa, 11 Maret 2014. Saya ditelepon Kepala Sekolah, Gatot Rudy Asmu'i, S. Pd. bahwa peserta dari SMP Masalembu dapat juara II. Tentu saja, serta merta saya, sebagai Pembina dalam cabang lomba ini mengucap syukur.

"Alhamdulillah,..."  Rasanya tidak sia-sia saya, juga teman-teman guru yang lain, yang selama ini mengadakan pembinaan, meski kurang maksimal karena terbentur oleh persiapan OSN dan lain semacamnya (mendekati UTS). Riska Sari dalam perpuisian punya talenta. Jika dikembangkan dengan baik, tidak menutup kemungkinan, akan lahir sastrawati dari pulau kecil, Masalembu.

Tidak cukup sampai di puisi, di cabang MTQ pun, Jihadal Amanah meraih prestasi. Ia mendapatkan juara 2 dalam cabang lomba ini. Dan tidak kalah prestisenya, cabang olah raga sepak takraw, tidak tanggung-tanggung, mereka menyabet juara 1 tingkat umum, juara 1 tingkat SLTP, dan juara 2 tingkat SLTP (SMP 1 Masalembu mengeluarkan 2 grup dalam cabang sepak takraw ini).

Semangat telah menguasai jiwa mereka. Siswa-siswi SMPN 1 Masalembu, sebagai duta prestasi, berusaha untuk memberikan yang terbaik. Demi nama baik lembaga, sebagai eksistensi adanya sekolah yang berdomisili di daerah terpencil, tapi tidak mau kalah dalam hal prestasi.

Tentu saja, capaian prestasi ini tidak untuk dibangga-banggakan (baca: sombong). Akan tetapi, sebagai ungkapan rasa syukur, bangga, serta kegembiraan yang meruah, bahwa dari jauh, di seberang samudra, di balik laut lepas, terdapat lembaga pendidikan yang anak didiknya perlu diperhitungkan. Semoga, semua capaian prestasi ini menjadi penyemangat untuk semua siswa, para pendidik, serta masyarakat Masalembu tanpa kecuali. Bahwa kwalitas lembaga pendidikan kita, bertaraf baik. Harapan ini, mudah-mudahan mendapat Ridha dari Allah swt.

Sebagai perwujudan, "Lain syakartum laazidannakum, walaing kafartum, inna 'adzabi lasyadid; andainya kalian bersyukur, maka akan Aku tambahkan nikmat, dan andainya kalian ingkar, maka (ketahuilah) bahwa siksa-Ku teramat pedih". Alquran.

Maka saya ucapkan, "Selamat datang para duta prestasi, semangatmu adalah sebuah kebanggan!" Harapan saya, kesuksesan ini menjadi sebentuk motivasi untuk terus berbuat lebih, untuk generasi gemilang di masa yang akan datang.

“Anakku, di pundakmu aku berharap kesejahteraan bangsa ini!”

Sumenep, 15 Maret 2014
_______________________
Nama-nama peserta lomba:
||Melinda Shilatil Fauziyah||Royna Ziyan Zakiyah||Rizka Sari||Anindia||Jihadal Amanah||Ihza Hanif Rofiful||Imam Busairi||Moh. Darul||Moh. Rifkiyanto||Hifni Aminullah||Ahmad Rizal S.||

Monday, March 10, 2014

Immers, I miss you!

Immers, I miss you!
Direktur (mantan) dengan Kelas Imersi angkatan 2
Ternyata, kelas Imersi (unggulan) menyisakan kenangan tersendiri dalam benak dan pikiran saya. Beberapa waktu yang lalu, sekitar 6 bulan dari sekarang, saya masih disibukkan dengan klas unggulan, kelas imersi, di SMP Negeri 1 Masalembu. Kelas ini telah banyak memberikan kenangan. Memoria yang tidak bisa begitu saja saya lupakan. Sungguh, saya mencintainya, dan saya merindukannya.
Kelas ini telah meruntuhkan seluruh persendian cinta saya. Luruh di beranda rindu yang teramat dalam. Masih jelas terngiang di pendengaran saya, celoteh ‘cas-cis-cus’, anak-anak kami di taman sekolah. Berbahasa Inggris, berkomunikasi aktif sebagai bentuk realisasi dari teori bahasa yang mereka pelajari. Canda mereka, tawa mereka. Serta senyum tulus dari anak-anak saya yang begitu alami. Di antara suasana ‘nginggris’ yang begitu kental. Tetapi, itu semua tinggal kenangan. Lesap, terhapus oleh egoisme personal, atau tergenjet oleh lakon peraturan yang nyata-nyata tidak teratur.
Kelas Bahasa Inggris

Foto bersama setelah sesi class practice
Biasanya, pagi-pagi sekali sebelum masuk kelas, kelas Imersi melaksanakan shalat Dhuha. Shalat sunah ini dibiasakan sebagai model pencerahan Ilahiyah, terhadap anak didik yang telah berusaha untuk berbuat yang lebih baik. Sebagai model sekaligus modal untuk senantiasa dekat dengan sang Khalik. Juga, sebagai sumbangsih spiritualisme terhadap kedua orang tua yang mencari rizki untuk kelangsungan pendidikan mereka, kehidupan mereka di masa yang akan datang. Bahkan, shalat Dzuhur berjamaah pun dilakukan di mushalla SMPN 1 Masalembu. Sehingga, kondisi ruang ibadah ini terjaga, bersih (karena dibentuk piket kebersihan), dan penuh dengan nuansa religi.
Di RRI utusan kelas imersi untuk Smart Contest (Novi, Liza, dan Ida)
Lebih dari itu, Bapak Hubaidi, S. Pd. MM, direktur Kelas Imersi selalu memantau anak-anak ‘khusus’ ini untuk selalu qiyamul lail. Berjaga di seperempat malam. Dengan SMS yang tentu saja memberikan nilai lebih untuk sebuah dasar pemaknaan akan kehidupan bergama. Bentuk perhatian yang sangat toleran ini, memberikan bekas yang begitu mendalam di hati masing-masing siswa. Dan mereka, dengan suka rela melaksanakan realitas makna ayat: Waminallaili fatahajjad bihi nafilatan lak. ‘Asa an yab’atsaka Rabbuka maqaman mahmuda. (Dan sebagian malam maka hendaknya kamu melaksanakan shalat tahajjud. Semoga Tuhanmu akan mengangkat derajatmu ke tingkat yang lebih tinggi). Al-quran.

Tetapi, saat ini, mushalla itu lengang. Kotor, dan serasa tidak terurus. Menangis di antara keliaran anak-anak yang hanya lewat di sampingnya. Entahlah! Mungkin tidak harus disamakan dengan kandang kambing. Karena, sewaktu-waktu, mushalla ini masih bisa digunakan untuk sesuatu yang berkenaan dengan hari-hari besar Agama.
Tentu, yang paling diuntungkan adalah Imersi angkatan pertama. Karena mereka, selama 3 tahun di SMP, mengikuti secara tuntas program Imersi. Mereka kini telah pergi. Pergi untuk menggapai cita-cinta yang mereka inginkan. Mereka tersebar di seantero ujung alam. Menekuri beragam kegiatan, yang tentu saja masih terus bergelut dengan dunia pendidikan.
Ah, sungguh! Saya rindu dengan celoteh mereka. Saya rindu dengan cuap-cuap Bahasa Inggrisnya. Saya rindu dengan shalat jamaahnya. Dalam irama kebersamaan, mereka khusyuk, bersujud kepada Yang Maha Esa. Menyatukan pola pikir dan dzikir. Sebuah pemaknaan hidup yangh tidak semata-mata mengedepankan logika. Tetapi, makan ritualitas yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Anakku! Rindu Bapak kepadamu, adalah rindu yang terus menggebu. Menghantam dinding hati yang kemaruk dengan celoteh ‘nakal’ pikir dan dzikirmu!”
Kelas Imersi kini tinggal kenangan. Sudah habis, lenyap. Tersebab oleh peraturan (yang mungkin sangat tidak teratur?). Padahal, Imersi ada tidak diikat oleh sebuah aturan yang absolut. Tetapi, terlahir dari sebuah pemikiran untuk menjaring siswa-siswi yang berkompeten di dalam sebuah pendidikan plus. Nyatanya, di akhir babak lakon drama kehidupan Imersi, sungguh, tragis, dan miris. Subhanallah!
Bagaimana pun, telah diupaya-dayakan sebuah keinginan untuk melahirkan generasi ‘kuat, gawat’. Jika pada akhirnya terbersit nilai-nilai ‘negatif’, itu bagian dari skenario alam, yang seharusnya tetap diupaya-dayakan, dan dieksiskan untuk menggapai nilai yang lebih baik.
Akhirnya, saya mngucapkan selamat jalan kepada semua siswa-siswi kelas Imersi angkatan pertama. Di pundak kalian generasi gemilang selalu menanti. Bapak hanya bisa berharap, semoga kalian semua, dapat mencapai apa yang kalian harapkan. Jangan lupa, doakan Bapak dalam setiap sujud malammu!
Dan, kepada generasi Imersi angkatan berikutnya, maafkan Bapak! Bapak tidak bermaksud untuk mengkebiri dalam marjinalitas pendidikan kalian. Namun, jalan takdir telah menggariskan titian kehidupan pendidikan yang kita hadapi. Semoga kamu sekalian tidak tergerus oleh zaman kealpaan dan kepalsuan. Bapak titipkan, generasi pendidikan yang kian berkibar di seantero negeri! Sungguh! Bapak cinta kalian semua! Immers, I Love You!

Sumenep, 10 Maret 2014
Nama-nama siswa/siswi kelas Imersi angkatan pertama:
||ACHMAD ROME CHOLIL||DANIEL ILAHI ROBY||EDY FAERUS||FAUZI ALI IQBAL||FEBRI JAFRIYA FINURI||FERA MAULIDINA WIDANTI||HASNIS SIBLI||IDA KHUSMAWATI||ILHAM JAYA KUSUMA||IZZA RIZAL MAULANA||LAILATUZ ZAHROH||MIA RETNOSARI AGUSTINA||MOHAMMAD HABIBULLA||MURNIYATI||NOVIA ALBANIA|| NURUL INAYAH|| NURUL PUJIATI ARDI||RANA MUSZAELA||REZA AR RAODATUL YULANDA||SHONIA AGUSTINA||SITI NURHALIZA||USSISA ALATTAQWA||USWATUN HASANAH||ZAHRATUL UMAMAH||ZIHAN YULANDIA HAND'S||

Wednesday, March 5, 2014

SANG PENAKLUK



SANG PENAKLUK



Manuskrip alam, terhampar
Bergetar cakrawal, menembus samudra

Berjejer, dalam diam, tafakur
Tuhan, dalam pena cinta-Mu
Terlukis sirah langit, bumi melambai
Pada jejak tilas kami,
di puncak bukit berhulu mercusuar

Dalam sengal napas,
Berbaris kenangan, indah melandai
Bergurat tarian ilalang,
rumput pun melarung makna tak berkata

Nanar, mata kami melecut belati
Tajam, menghantar rindu
di altar surga-Mu
di telaga ampunan-Mu

Derit pucu-pucuk pering
menghantar gugusan asa
melipat kenangan guratan abadi

PGM, 02032014
***

Minggu, 2 Maret 2014, jam 07.00 kami para pendaki sudah bersiap-siap untuk sebuah perambahan. Bagiku, ini adalah untuk yang kedua kali. Kali pertama, hari Rabu kemaren, aku gagal dalam pendakian. Karena terkendala oleh fisik yang tidak mumpuni. Kali ini, tekatku menggebu, semangat melecut karena anak-anakku terus memberikan motivasi. "Semoga tidak gagal lagi," doaku dalam hati.




Bekal sudah kami persiapkan. Meski hanya berupa nasi bungkus, sesampainya di puncak akan menjadi menu yang istimewa dan akan sangat berarti. "Nasi bungkus akan menjadi menu Nasi Padang sesampainya di puncak gunung," begitu, seperti yang diutarakan oleh Pak Sulaiman Fajar, sebelum bertolak.

Seperti biasa, kami berangkat menggunakan motor. Sesampainya di kaki gunung, kami pun berdoa. "Semoga dalam pendakian kali ini tidak mendapatkan rintangan yang berarti," kata Kak Maru'ei sesaat dalam doa sebelum pendakian dimulai.

Dengan semangat yang berkobar, kami pun berangkat. Kami terbagi dalam dua kelompok. Kelompok 'marjin', aku, Pak Erwan, dan Pak Satimin (yang terakhir, berjaga-jaga jika aku mengalami kolap, heheee...). Kelompok lainnya, grup jagoan, Kak Maru'ei, Pak M. Rafik, Pak Sulaiman, Pak Mulyadi, dan kelompok anak-anak, siswa-siswi, merekalah semua 'sang penakluk' itu.


Sekitar jam 07.45, tanpa disengaja kami bertemu di tengah perjalanan. Kami sudah terlihat lelah. Terutama peserta baru. Sementara, anak-anak tetap tegar, dengan semangat yang teguh bugar. Seperti tidak terkendala oleh terjalnya bukit.

Aku sendiri sudah lelah. Tetapi masih kuat untuk terus sampai di puncak. Meski dengan sisa-sisa tenaga yang sudah menipis. Dengan dibantu oleh anak-anak, kami terus merambat. Aku menggunakan tongkat yang aku ambil begitu saja di pinggir jalan.

Jam 08.08, kami seluruh rombongan sudah sampai di puncak. Kami pun foto-foto. Mengabadikan seluruh kenangan yang tidak mungkin kami lupakan. Meski dengan tenaga yang sudah terkuras, kami merasa senang, puas, karena dapat menaklukkan gunung tertinggi di Pulau Masalembu.

"Alhamdulillah," aku bersyukur karena mampu menaklukkan gunung ini. Tekatku tercapai, inginku keturutan, kuinjak-injak gunung ini dengan gagahnya. "Akulah, sang penakluk!" (Hee,...padahal napasku udah tinggal satu, dua. Hesss...).



"Oh, indahnya alam ciptaan Tuhan!" Aku berseru lantang. Memandang ke sekitar. Sekeliling, pemandangan bagitu indah. Panorama laut dan pantai, luas menghampar. Pohon-pohon menghijau, rumah-rumah penduduk terlihat kecil, mungil. Langit cerah, membentang, biru laut pun menyapa.

"Selamat datang di puncak Mahaindah, kreasi Sang Maha, dari segala Maha!"

Sebagai pelampiasan, atas kegembiraan yang tertuang, aku memanjat tower. Cagak lampu mercusuar yang berdiri kokoh di atas gunung. Perlahan tapi pasti, kujejaki setiap anak tangga yang ada. Inilah dia, panorama seantero Masalembu dapat kupandangi. Keindahan yang tiada tara. Pesona laut biru, dan derai cantik buih di pantai. Jembatan Proyek dan Masalima, meliuk bagai Anakonda raksasa. "Kreasi Tuhan sungguh melaksa pesona," aku bergumam, sendiri di puncak ketinggian tower yang paling tinggi. "Hahaa,...kali ini aku menang!"

Guys, kami para guru, selain Pak Maru'ei dan Pak Satimin, jam 10.30 sudah kembali di sekolah. Pendaki pemula, tidak mampu untuk menyaingi mereka-mereka yang sudah kenyang dengan pendakian. Anak-anakku yang aku banggakan, sebenar-benarnya sang penakluk, yang dengan semangat menyala, bercita-cita untuk menundukkan Gunung Arjuno, Malang, Jawa Timur.

Sementara, kelompok pendaki yang tangguh (Pak Satimin, Kak Maru'ei, Leo, Roby, Mbul, Iyung, Elfrizq, Ude, Rita, Qila, dan I'ik), meneruskan pendakian dan perambahan tebing. Medan yang curam, atau pun tanah yang terjal. Mereka terus dalam pembinaan lahir dan batin.

Rébus dan rimbunnya duri bukan sebuah penghalang. Mereka menyusuri léké, merambah semak, menuruni curam, dan menapaki tebing yang terjal. Dengan peralatan seadanya, atau pun bahkan dengan tanpa alat apa pun, mereka terus mencoba menaklukkan bukit dari berbagai sisi. Sebuah keberanian yang luar biasa, terlatih untuk sebuah asa. "Menaklukkan Gunung Arjuno"

Sumenep, 2 Maret 2014

Para pendaki kali ini:
Guru:
M. Rafik, Molyadi, Sulaiman Fajar, Erwan PW, Maru'ei, Satimin, dan El-ruzd Ibnu Umar.

Siswa:
Leonardo IS, Roby HM, Hasbullah, Khairul Anam, Frizqi L., Nurul K., Zaqila, dan Ega Desty, serta Rio Rita.