Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com
Showing posts with label FF. Show all posts
Showing posts with label FF. Show all posts

Sunday, February 23, 2014

KARMA



Sumber gambar: http://completeyourbridge.org/Articles/GPM5%20Karma%20Buster/GPM5_KarmaBuster.htm

Sebenarnya, Rafli adalah anak yang rajin. Anak yang pintar dan cerdas juga. Setiap tugas dan pekerjaan rumah selalu ia kerjakan dengan baik. Dan nilainya pun selalu baik.

Begitulah! Terkadang dalam diri seseorang ada suatu hal yang baik, di samping hal yang kurang dapat dipertanggungjawabkan. Ada yang pintar dengan segudang prestasi, tapi ia orang miskin. Ada juga yang kaya raya, tapi ia nakal dan memanfaatkan kekayaannya untuk hal-hal yang negatif. Ada juga yang tekun belajar dan rajin, tapi otaknya udang. Dan,...masih banyak yang lainnya.

Berbeda dengan Rafli. Ia anak yang cerdas, rajin, semangat, dan berprestasi di bidang akademik. Satu hal yang jelek, yang ada pada karakter Rafli adalah telat, terlambat. Bukan lemot; lemah otak, telmi; telat mikir, lola; loding lama, atau lekir; lemah mikir. Juga buka oda; otak udang. Tetapi, pastinya ia selalu datang terlambat dalam setiap ada acara di sekolahnya.

Entahlah! Tidak ada yang tahu pasti, mengapa Rafli sering datang terlambat. Dan anehnya, ia hanya 'diam' kalau ditanya, mengapa datang terlambat.

"Terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali," suatu waktu Rafli berargument. Tris yang ada di sampingnya tertawa rendah.
"Emangnya Kau gak pernah merasa bosannya menunggu?"
"Gak kok!"
"Tapi, pernahkah Kau menunggu? Atau jangan-jangan selama ini hanya menjadi objek yang ditunggu?"
"Hem,..."
***

Begitulah kebiasaan Rafli. Ia tidak pernah berpikir bahwa kebiasaannya tidak baik. Dan bahkan bisa menyebabkan suatu hal yang bernilai negatif.

Dan akhirnya, karma itu satu persatu menghampirinya.

"Sudah berapa lama aku menunggu?" Ketus, Giska marah pada Rafli.
"Aku gak sengaja, Ka!"
"Tidak sengaja katamu? Setelah aku berkali-kali diperlakukan begini?"
"Maafkan aku, Ka!"
"Tidak! Saat ini juga kita putus!"

Giska, pacar Rafli sudah ada di puncak kesabaran. Ia tidak betah berpacaran dengan Rafli. Keterlambatannya, sering membuatnya menderita. Putus, adalah jalan yang terbaik baginya.

Rafli termangu. Ia tidak percaya dengan apa yang terjadi dalam cintanya. Ia ingin berubah. Ia tidak ingin hal lain yang terburuk terjadi padanya.

Tetapi, betapa sulitnya merubah kebiasaan. Telat dan terlambat masih selalu menyertainya. Meski ia berusaha untuk merubahnya. Kebiasaan itu begitu menyiksa.

"Bis sudah mo berangkat," sms Deri pada Rafli, dalam suatu acara sekolah. Rafli terperanjat. Ia terkejut. Masih belum mandi, belum bersiap-siap. Dengan tergesa-gesa ia mempersiapkan diri. Tapi, apa yang terjadi? Rombongan persahabatan sepak bola itu pun berangkat. Dan Rafli hanya bisa gigit jari. Esoknya, ia jadi tumpuhan kekesalan teman-temannya.

Bukan hanya itu. Rafli masih terus dalam kebiasaan telat dalam aktivitas kesehariannya.

Hingga pada suatu waktu, di sekolah diadakan acara pentas seni. Besok adalah rapat kegiatan tersebut. Bapak pembina OSIS, Bapak Fajar, mengultimatum para pengurus OSIS, bahwa besok jam 07.00 sudah harus berkumpul.

"Besok jam 07.00 sudah harus hadir di aula sekolah," begitu Pak  Fajar mengatakan saat itu.
"Harus disanksi Pak, bagi yang terlambat," Udin ketua OSIS mengusulkan.
"Benar! Bagi yang terlambat, akan dihukum gantung,... di Munas!" Pak Fajar berkata sambil tersenyum, tapi tetap serius. Semuanya menoleh ke arah Rafli. Ia hanya nenunduk.

Bagaimana  pada akhirnya? Apakah Rafli tidak terlambat? Kita tunggu besok di sekolah. Atau jangan-jangan Rafli akan menjadi yang kedua digantung di Munas. Kita lihat aja! Besok!

Sumenep, 15012013

Monday, February 17, 2014

KUTUNGGU CINTAMU DI PINTU SURGA



KUTUNGGU CINTAMU DI PINTU SURGA
 
Sumber gambar: http://ipulstory.blogspot.com/2010/12/cinta-dari-taman-surga.html
Pagi itu angin berhembus lirih. Matahari tidak begitu terik. Awan tipis bergelayut di cakrawala. Ada banyak cerita yang harus kulalui dalam hidup ini. Dan di pagi ini, begitu kuat impianku menjelma bayangan-banyangn masa lalu. Illustrasi wajah Andin, melukis seluruh ingatanku. Di masa lalu.

“Din, sudah lama menunggu?”
“Gak juga kok. Baru saja datang.” Jawab Andin lembut. Bagai derai pesona bidadari di taman firdaus.

Di taman itu. Di sudut kampus tempat aku dan Andin menimba ilmu. Aku berdua dengan Andin menikmati suasana asri. Indah di antara bunga-bunga yang bermekaran. Di antara gemercik air taman yang mengalir perlahan. Ikan-ikan kecil berenang ke sana ke mari, seakan merayakan kometmen kami berdua. Kesepakatan untuk saling mencinta. Merindu, saling memberi dan meminta.

“Aku ingin ikatan yang sempurna.” Dalam hening beberapa saat.
“Maksud Mas?”
“Aku berharap ikatan kita sempurna di sisi Allah.” Andin hanya diam. Menunggu kelanjutan bicaraku. “Begitu juga di mata orang-orang sekitar kita.” Lanjutku.
“Aku juga berharap begitu Mas. Agar kita tidak berdosa dengan khalwat seperti ini.”
“Aku setuju Din.”

Andin adalah gadis sederhana. Kesederhanaan itu melahirkan inner bauty. Pesona aura tingkah lakunya, melahirkan decak kagum orang-orang di sekitarnya. Bukan kecantikan membiaskan nafsu. Tapi sebuah kecantikan yang menebarkan kharisma. Anggun jiwa dan raganya menebarkan sinar Islam yang memesona.

Waktu terus berlalu. Meninggalkan banyak cerita. Tentang hidup dan cinta. Rindu dan kesempurnaan bunga surga.

“Besok aku ke rumahmu Din.” Smsku pada Andin.
“Ada apa Mas?”
“Untuk melamar Kamu, Din.”
“Sudah yakin dengan keputusanmu, Mas?”
“Tidak ada yang perlu aku ragukan.”
“Ya sudah, kalau itu keputusan Mas.”

Hari Jum’at. Aku, ayah dan ibu bersiap-siap. Pagi-pai sekali kami berangkat ke rumah Andin. Untuk menemui kedua orang tuanya. Waktu yang aku tunggu. Untuk mewujudkan cinta aku dan Andin. Dalam sebuah ikatan yang diridhai Allah swt.

Di dalam mobil aku membayangkan wajah Andin. Wajah yang selalu aku rindu. Wajah yang melahirkan larik-larik cinta. Senantiasa menjadi bunga di dalam hari-hariku. Karena jiwaku dalam jelma jiwa Andin. Dan cinta Andin berpadu dalam cintaku.

Sampai di rumah Andin. Ada banyak orang yang keluar masuk di rumah sederhana tersebut. Aku mengira itu bagian dari kedatangan aku dan rombongan. Untuk melamar Andin. Sebagai bagian dari tulang rusukku. Yang telah ditetapkan di lauhul mahfudz. Allahu akbar. Jadikan Andin sebagai hiasan dalam hidup dan matiku.

“Ada apa ini? Kok banyak sekali orang?” tanyaku pada seseorang yang tidak aku kenal.
“Andin telah tiada Dik.”
“Apa? Andin tiada? Maksudnya apa?” tanyaku beruntun. Tersekat dalam tanya yang gamang.
“Ya Dik. Andin telah dipanggil yang Mahakuasa.”

Remuk hatiku melihat keadaan itu. Aku masuk menyeruak di antara kerumunan. Aku tidak peduli. Walau banyak orang yang merasa heran dengan kedatanganku. Hanya kedua orang tua Andin yang memaklumi keadaanku.

“Andin, jangan tinggalkan Mas,...” hanya itu kata keluh yang keluar dari mulutku. Aku melihat lipatan kertas di tangan Andin. Kuambil kertas itu. Dan lentik tulisan cantik tertera di sana.

“Mas Umar, Allah telah mengambil hakku. Hak untuk hidup bersama dirimu di dunia. Tapi aku tunggu dirimu di sana. Di pintu surga. Cintaku selalu ada untukmu.”



Biodata :
Rusdi el Umar tinggal di Sumenep Madura.  Alamat surat  SMP Negeri 1 Masalembu, Jl. Raya Masalima Masalembu Kode Pos 69492. Bisa berkomunikasi melalui FB; Rusdi el Umar atau twiter; umar_rusdi. Alamat email  rusdiumar@gmail.com.






Thursday, February 13, 2014

PANTAI CEMARA



PANTAI CEMARA

Senja di pantai cemara. Sebuah pantai indah yang ada di pulau Masalembu. Pulau kecil dengan keindahan alamnya yang masih asri. Bakau dan pohon cemara berjejer menghiasi bibir pantai. Pasir putih berkilau diterpa sinar mentari senja. Bagai panorama di negeri impian. Tentang sebuah cinta. Bermuara di taman surga.

"Mas, ayo kita ke sana", ajak Fatim katika aku dan dia menghabiskan waktu sunset pada suatu senja.
"Boleh, ke mana sih?" jawabku sambil melihat sebuah tempat yang ditunjuk Fatim.

Senja itu aku dan Fatim menuju tempat yang begitu mempesona. Entahlah, apa yang membuat kami begitu sumbringah. Karena tempat yang indah ataukah karena pesona cinta kami berdua. Hidup sungguh begitu indah.

Nyiur melambai di tepi pantai. Di antara desiran angin senja yang lembut. Selembut hati kami berdua. Berkata tanpa bicara. Berbicara tanpa bahasa. Ungkapan perasaan yang begitu dalam maknanya. Menebarkan semerbak kasturi rindu. Dan alur bahasa pun merenda sebentuk karang yang tegar. Biar pun dihantam badai.

"Mas, coba lihat awan mega di sebelah sana", Fatim menunjuk ke arah awan mega merah saga. Ada rias sinar emas oleh bias sinar mentari. Sungguh sangat romantis.
"Oh iya ya, sungguh senja yang begitu mempesona", sahutku.
"Bukan hanya pesonanya Mas. Coba perhatikan lebih saksama. Tuh kan membentuk love", Fatim semakin memicingkan matanya yang bening. Aku pun mencoba memperhatikan lebih baik. Dan ternyata benar, ada sebentuk awan mega yang menggambarkan cinta kita berdua. Dan jauh di dalam mata Fatim, juga terbentuk pelangi cinta.

Tidak berapa lama dari seluit kata hati yang penuh dengan bunga cinta, dan senyuman yang bertabur nostagia, tiba-tiba dari arah tengah laut menggulung ombak laksana gunung yang menjulang. Dan dalam hitungan detik ombak besar itu menghantan aku dan Fatim. Aku pun terpental. Pegangan tangan pun lepas. Dan aku pun sudah tidak ingat apa-apa lagi.

Binar-binar cinta lepas. Kandas di ujung senja. Gelap. Di sekeliling begitu kelam. Tak nampak siapa-siapa. Fatim pun hilang entah kemana. Aku menangis. Sendiri di atas gelombang. Terpekur di antara badai. Aku hilang ingatan. Dan gelap kembali menyergab.

Hingga kudengar suara, yang kusangka suara kematian.
"Rus...Rus.. Bangun sudah sore!". Ternyata suara temanku, Dika. Ia  membangunkanku yang lagi tertidur di bawah pohon cemara yang rindang di tepian pantai Cemara di Masalembu. Perlahan aku bangkit. Sambil mendesah,
“Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Oh, ternyata aku hanya mimpi. Fatim...Fatim...!".

Melangkah perlahan-lahan. Meninggalkan jejak dan sisa-sisa mimpiku. Aku berharap, Fatim masih setia dalam penantian. Sebagaimana aku juga masih setia dalam penantian yang panjang. Bukan di alam mimpi. Tapi di alam nyata. 

Sumenep, 13 Februari 2014

Wednesday, February 12, 2014

HANTU DI SIANG BOLONG



HANTU DI SIANG BOLONG

Sungguh aku tidak percaya. Bagaimana mungkin ada hantu di siang bolong. Tapi, Doni mengatakan dengan sungguh-sungguh. Tidak terlihat adanya dusta dalam kata-katanya. Benar-benar sangat menciderai logika berpikirku. Sampai  detik ini, aku tidak pernah ketemu, berpapasan, atau bahkan berbincang-bincang dengan yang namanya hantu. Demit pun,  juga tidak. Apalagi kuntilanak, pocong, baung, dindadin, zombie, lychan, dan sejenisnya. Aku tidak pernah percaya setiap kali ada teman-temanku yang bercerita tentang makhluk non-materi tersebut.

“Yang benar Don. Apa ya, ada pocong di siang bolong?” Kiki terlihat penasaran. Bergidik mendengar cerita Doni.
“Kapan aku pernah berdusta?” Jawab Doni tetap dengan mimik serius.
“Tapi kan gak masuk akal, kalau di terik matahari ada pocong?” sergahku.
“Buktinya aku melihatnya. Sungguh apa yang kukatakan benar. Tidak dusta.”

Masih penasaran. Bahkan aku dengan teman-teman ingin membuktikan. Tentu saja tidak serta-merta pocong itu menampakkan diri. Tapi paling tidak, kita ingin memastikan bahwa di persimpangan jalan itu ada atau tidak ada pocong dan sejenisnya.

Siang itu hari Minggu. Aku, Doni, dan Kiki merencanakan sesuatu. Ingin melihat secara langsung demit di persimpangan jalan itu. Di sana, terdapat pohon waringin yang cukup besar. Orang-orang bilang, bahwa pohon itu disenangi sebagai rumah jin. Cerita dari mulut ke mulut, di pohon beringain itu ada penunggunya. Sampai saat ini, aku belum bisa memastikan. Karena belum pernah bertemu dengan penunggu pohon itu.

Di bawah pohon besar itu ada dangau. Bangunan kecil, terbuka, seperti warung. Bangunan itu diperuntukkan sebagai tempat beristirahat bagi orang-orang yang menginginkanya. Atau juga sebagai tempat ngobrol bagi anak-anak muda. Tapi dengan desas-desus ‘penunggu’ tidak banyak orang yang beristirahat di tempat itu.

“Don, ayo berangkat!” ajakku pada Doni.
“Ok. Ayo!” jawab Doni.
“Jam berpa kamu ketemu saat itu?” Kiki yang bertanya.
“Sekitar jam dua belas lebih!” jawab Doni sambil mengayuh sepedanya.

Aku, Doni, dan Kiki berangkat dengan mengendarai sepeda masing-masing. Kami melewati jalan yang tidak biasa. Menembus semak-semak yang tidak pernah orang lewati. Atau jarang sekali orang lewat di tempat tersebut. Hal ini kami lakukan untuk sampai ke tempat persimpangan itu, dari balik rimbun semak. Dari sana aku dan tema-temanku leluasa mengawasi bangunan warung terbuka tersebut.

Tidak berapa lama aku, Doni, dan Kiki sampai di tempat yang dituju. Tidak ada siapa-siapa. Sepi, hanya sepoi angin yang melambai di antara daun beringin yang rimbun. Sudah sekitar sepuluh menit kami tidak mendapatkan siapa-siapa. Apalagi kuntilanak atau pocong yang memang kita incar.

Tiba-tiba seekor burung gagak menyaup. Hinggap di antara dahan dan ranting pohon beringin itu. Pohon besar yang dianggap angker.

“Haarrr......haarrr.....” tiba-tiba si gagak hitam kelam itu berkoar-koar. Orang-rang mengatakan bahwa kalau ada gagak ribut berbunyi itu pertanda ada malapetaka. Aku beringsud mendekati Doni dan Kiki. Di wajah mereka juga nampak ketakutan. Terlihat ketegangan. Mereka juga merasa sangat kwatir.

“Tanang aja!” bisikku pelan dalam ketakutan yang termat sangat. Tapi aku berusaha menutupi. Karena dalam logika sehatku apa yang dikatakan orang-orang tidak benar. Tidak ada yang namanya hantu. Kuntilanak, sundal bolong, dedemit, dan sebagainya.

“Pulang yuk!” Kiki berbisik dengan suara gemetar. Aku berusaha tersenyum.
“Sebentar lagi pasti kunti itu datang.” Doni memastikan. “Soalnya, kemaren yang kulihat pas waktu seperti ini.”

Dalam ketegangan dan ketakutan, tiba-ada sepeda motor meraung-raung datang. Motor itu berhenti pas di bawah pohon besar itu. Aku, Doni, dan Kiki terpekur. Melihat ke arah yang sama. Sundal bolongkah?

Seorang laki-laki turun dari boncengan motor. Setelah menyerahkan lembaran uang, ia berterima kasih. Masuk ke dalam dangau. Motor pun berhambur pergi dengan meninggalkan raungan yang dahsyat.

Sangat jelas terlihat. Siang bolong melompong. Laki-laki itu ternyata Sukirman. Seorang pemuda di desa sebelah. Anehnya, Sukirman mengambil sesuatu dari dari dalam tasnya. Sebuah pakaian wanita. Sebuah wig. Serta peralatan make up yang lumayan banyak. Dengan sangat cekatan ia merubah penampilannya, menjadi seorang waria. Hah,...jadi yang dilihat Doni itu waria?

“Hahaha........” Aku, Doni, dan Kiki ngakak, tertawa terbahak-bahak. Kemudian kami mengambil sepeda masing-masing kabur dari tempat yang katanya angker itu.