... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Wednesday, April 30, 2014
Sunday, March 23, 2014
ANALISIS KONTEKS NASIHAT BIJAK
ANALISIS KONTEKS NASIHAT BIJAK
(Apresiasi terhadap sebuah wacana yang
ditulis oleh Asma Nadia di Repubilka Online)
Tulisan
ini bermula ketika saya membaca sebuah artikel di Republika Online (ROL), yang
ditulis oleh Asma Nadia dengan judul: Nasihat Bijak yang Menyesatkan. Dalam KBBI
saya, kata bijak adalah: selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir. Dengan
demikian, maka nasihat bijak adalah nasihat yang didasarkan pada kebijakan
logika, kepandaian dan kemahiran orang yang memberikan nasihat. Dalam tulisan
Saudari Asma Nadia, nasihat adalah ungkapan dari orang tua terhadap anak. Dari
guru kepada murid, juga dari orang yang lebih tua (senior) kepada orang yang
lebih muda (junior). Maka, jika uangkapan (baca: nasihat) itu menyesatkan, maka
tidak pantas lagi untuk diktatakan sebagai nasihat bijak. Lebih pas, kalau
diungkapkan sebagai nasihat yang seakan-akan bijak, seolah-olah logis, atau
nampaknya baik, tetapi sebenarnya “menyesatkan.”
Lebih
jauh mari kita telaah pembahsana berikutnya. Kalimat “Yang penting kaya jiwa
daripada kaya harta” atau “tidak perlu kaya yang penting bahagia.” Dalam
pemahaman saya, kaya jiwa dan kaya harta adalah sebuah pilihan. Semisal
dikatakan, “Anda suka kaya jiwa atau kaya harta?” Jadi, konteknya dalam hal ini
lebih personal. Betapa banyak orang yang berharta, tetapi dengan harta yang ia
miliki, karena tidak kaya jiwa, maka ia bisa frustasi bahkan yang lebih fatal
bunuh diri (na’udzu biila min hadza). Memang, sebisa-bisanya, kita dapat
memilih kaya jiwa sekaligus kaya harta. Dan ini adalah purna pilihan dari
sebuah konteks penerapan dalam kehidupan. Namun jika tidak, tidak untuk
kedua-duanya, maka kaya jiwa jauh lebih baik dari hanya sekadar kaya harta.
Karena dengan jiwa yang kaya, maka harta masih bisa kita cari dengan usaha.
“Tidak
perlu kaya yang penting bahagia,” ungkapan ini pun saya rasa tidak ada
yang salah. Kebahagiaan dan kekayaan tidak selalu berbanding lurus. Bahkan
Rasulullah saw, merasa kwatir jika ummatnya diuji dengan kekayaan. Dan beliau
tidak merasa kwatir jika ummatnya diuji dengan kemiskinan. Hal ini pun
terbukti, dalam sejarah kemunduran Islam, faktor utamanya adalah berkenaan
dengan masalah harta, kekayaan, dan jabatan. Namun demikian, ikhtiar kita tentu
saja mengacu kepada bahagia dalam kekayaan, atau kaya dalam kebahagiaan.
Rasulullah
saw bukan tidak kaya? Benarkah? Kalau begitu Rasulullah saw kaya? Secara
pemerintahan, Rasulullah saw mempunyai akses keuangan yang sangat luar biasa.
Benar memang. Tetapi, kalau Beliau dikatakan sebagai orang kaya, sebentar dulu.
Dalam sejarah kenabian kita, sudah tidak asing lagi, bagaiman kondisi rumah
tangga Beliau. Bisa jadi hari itu Beliau berpuasa, hanya karena tidak ada
sarapan di pagi harinya. Bahkan suatu ketika, Beliau mengganjal perutnya dengan
bongkahan batu, hanya karena Beliau ingin menahan rasa lapar. Masih pantaskah
Rasulullah saw dianggap kaya? Jika pun pada saat Beliau tidur, bekas pelepah
kurma masih terlihat di tubuhnya. Seorang pemimpin (tertinggi) tidur beralaskan
pelepah kurma? Berbeda jika Beliau berada di pihak rakyat, sebagai pemimpin
pada masanya. Maka, dengan kebijakan ekonomi yang Beliau punya, tidak sedikit
dari orang-orang kaya di sekitar beliau yang rela untuk mentasharrufkan
(membelanjakan) hartanya di jalan fisabilillah. Secara pemerintahan, pada saat
itu Islam berada dipuncak ‘ekonomi’ yang paling mengesankan.
“Rezeki
tidak keman” atau “Memang Belum Rezeki.” Saya memahaminya sebagai ungkapan atau
nasihat agar seseorang tidak tamak. Apa pun harus ia lakukan, dengan beragam
cara, untuk memperolah rezeki. Tentu model karakter personal yang seperti ini
tidak dipandang baik. Setidaknya, sebelumnya terdapat ungkapan pengantar,
“Jangan terlalu berlebihan dalam bekerja. Seimbangkan dengan istirahat, shalat,
dan juga untuk keluarga. ‘Rezeki tidak akan keman, kok!’” Atau juga bisa diberi pengantar,”Jangan
berputus asa. Usahakan lagi dan lagi. Jangan lupa berdoa, karena itu ‘Memang
Belum Rezekimu!’” Ungkapan ini lebih kepada nasihat seseorang kepada orang yang
diberi nasihat agar tidak berputus asa dalam mencari rezeki. Sehingga, ia (yang
diberi nasihat) tetap semangat, berusaha, juga tidak lupa berdoa.
“Kalau
jodoh nggak kemana” atau “Memang bukan jodoh.” Dalam sebuah
keterangan (Hadits?) dijelaskan bahwa ada 3 hal yang telah ditentukan oleh
Allah swt dari sejak azali. Yaitu rezeki, mati, dan jodoh. Maka ungkapan
‘Kalau jodoh nggak kemana’ atau ‘Memang bukan jodoh,’ adalah nasihat kepada
seseorang yang telah berusaha maksimal, dengan segala daya untuk mendapatkan si
dia, akan tetapi pada akhirnya ia gagal. Maka, supaya tidak terjadi hal-hal
yang tidak kita inginkan, semisal frustasi, tekanan batin, atau bahkan bunuh
diri, dan bisa jadi mengeluarkan jurus ‘perdukunan’, maka ungkapan atau nasihat
di atas, rasa-rasanya pantas untuk diberikan. Tentu saja, konteks
permasalahannya bukan kepada keputusasaan, untuk tidak berbuat banyak demi
mendapatkan harapan ‘cinta’ yang ia inginkan.
“Tuhan
saja memaafkan.”
Nasihat ini tidaklah salah. Karena sudah jelas Tuhan itu bersifat Al Ghaffar
(maha pengampun). Tentu saja konteksnya akan lain, jika kalimat bijak
(benar-benar bijak) ini dimaksudkan untuk hanya sekadar alibi terhadap sebuah
kesalahan. Misalnya, seseorang selalu berbuat salah, dan selalu meminta maaf.
Setelah maaf diberikan, lagi-lagi ia berbuat salah. Maka, orang dengan karakter
seperti ini tentu tidak dalam konteks pembahasan maaf memaafkan. Intinya,
memaafkan kesalahan orang lain itu sebuah hak, sedangkan meminta maaf atas
kesalahan diri adalah sebuah kewajiban. Orang tidak akan dikatakan jelek, andai
saja ia menggunakan haknya.
Akhirnya,
tulisan ini tidak dimaksudakan sebagai pembanding dalam sebuah wacana atau
artikel. Hanya sebagai bentuk menemukan korelasi yang benar terhadap sebuah
uangkapan/nasihat. Dan tulisan ini, bukan sebuah kebenaran mutlak, karena
mutlak benar itu adalah tidak mungkin, sedangkan kebenaran mutlak hanya milik
Allah swt. Jabarkan sebuah nasihat bijak, sesuai dengan konteks personal yang
kita hadapi. Insya Allah, wallahu a’lam bisshawab.
Sumenep, 23 Maret 2014
Monday, March 17, 2014
SAMBUTAN UNTUK DUTA JUARA
SAMBUTAN UNTUK DUTA JUARA
Senin pagi.
Tanggal 17 Maret 2014, SMPN 1 Masalembu tidak mengadakan Upacara Bendera. Hal
ini terjadi karena adanya pelaksanaan Ujian
Tengah Semester
(UTS) untuk kelas 7 dan kelas
8.
Pagi, sebelum
pelaksanaan ujian, saya bertemu dengan Jihadal Amanah, yang biasa dipanggil
Adah, di depan kelasnya. Semburat kebahagiaan memancar dari raut wajah
sumbringah. Aura kegembiraan, karena apa yang ia inginkan selama ini, belajar
dan berlatih, tidaklah sia-sia. Adah memperoleh juara 2 dalam lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).
"Bapak,
Assalamu'alaikum," sapanya saat saya berpapasan di pagi ceria itu.
"Wa'alaikum
salam. Selamat, ya!" Jawab saya. Adah pun salaman, mencium tangan saya
sebagai rasa hormat. Perasaan saya begitu berkesan, melihat etika dari siswi yang
satu ini. Rendah hati, dan jauh dari terkesan angkuh. Harapan saya, semua
siswa-siswi saya memiliki karakter akhlakul
karimah.
Saya masuk ke
kantor. Sudah ada beberapa guru yang datang. Riska Sari dan Royna Zihan datang.
Mereka bersalaman dengan saya. Juga dengan guru-guru yang lain. Wajah
sumbringah, terpancar dari kedua duta juara ini.
Sedianya, pagi ini
akan diadakan penyambutan duta para juara. Namun, karena satu dan lain hal,
sambutan untuk para juara ditunda. Rencananya keesokan harinya. Selasa, 18
Maret 2014, sebagai ungkapan rasa syukur, serta harapan untuk menjadikan apa
yang telah kita raih, menjadi sebentuk keniscayaan untuk lebih baik di masa
yang akan datang.
Selasa pagi. Cuaca
begitu cerah. Mentari bersinar gagah. Jam 6 siswa-siswi sudah berdatangan.
Kemaren sudah diumumkan, bahwa pagi ini akan diadakan upacara penyambutan para
juara. Jawara intelektual, serta para punggawa Sepak Takraw, yang telah
merbakkan lembaga, akan disambut dengan upacara. Hanya sebatas unjuk kebolehan,
bahwa setiap kemauan jika diiringi dengan usaha maksimal, setidaknya akan
melahirkan jiwa juara, paling tidak, juara sekaligus jawara untuk diri sendiri.
Suasana di
lapangan pun ramai. Semua siswa berkumpul dan membentuk barisan. Sebentar lagi,
acara penyambutan dan sekaligus penyerahan hadiah akan segera di laksanakan. Maka,
sebentar kemudian susunan acara pun dimulai. Dari awal hingga sampailah pada
saat penyerahan hadiah. Sebelumya, Kepala Sekolah, Bapak Gatot Rudy Asmu’i, S.
Pd. memberikan kata sambutan untuk para duta juara. Juga untuk semua siswa
tanpa kecuali.
“Upacara
ini adalah luar biasa. Tidak sebagaimana biasa, karena dalam pelaksanaan
upacara ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur, sekaligus tafakur untuk
menjadikan kita lebih baik, dan lebih siap untuk menghadapi kompetisi di masa
yang akan datang,...”
Tepuk tangan
pun riuh membahana, ketika para duta juara dipanggil satu persatu menuju tempat
yang telah ditentukan. Disaksikan para dewan guru, staff Tata Usaha, siswa dan
siswi semuanya tanpa kecuali. Mereka memberikan applous, sebagai bentuk
dukungan terhadap rekan mereka yang telah mewakili lembaga, dalam kancah
percaturan intelktual dan Olah Raga. Semuga mereka, semua anak didik saya
mencapai apa yang mereka cita-citakan. Amin!
Sumenep, 18 Maret 2014
Friday, March 14, 2014
DUTA PARA JUARA
DUTA PARA JUARA
Beberapa hari yang
lalu, tepatnya Kamis, 6 Maret 2014, siswa-siswi saya berangkat dari dermaga
Masalembu menuju dermaga Kalianget. Kali ini, mereka sebagai utusan, duta, dari SMP Negeri 1 Masalembu untuk ikut dalam lomba OSN
(Olimpiade Sains Nasional) tingkat
Kabupaten Sumenep. Mereka berbekal 'kecerdasan', paling tidak sebagai juara di
lembaga mereka sendiri. Mencoba membelah ganasnya ombak, terjangan badai,
sebagai eksistensi akan lembaga pendidikan formal, nun jauh di seberang. Pulau kecil,
terpencil, sekaligus 'punya andil'. Hehee,...wat magawat!
Mereka adalah,
Riska Sari (Biologi), Melinda Shilatil Fauziyah (Matematika),
Anindia (IPS), dan Royna
Ziyan Zakiyah (Fisika). Di
samping itu pula, ada kelompok sepak takraw dan peserta lomba tilawatil Quran.
Untuk yang terakhir pesertanya adalah Jihadal Amanah, dari kelas 7-1.
Dengan kemampuan
akademik yang mereka miliki, tidak sebatas pada lomba OSN saja, mereka juga
dipersiapkan untuk lomba yang lainnya. Seperti Melinda, misalnya, ia juga
dipersiapkan untuk mengikuti lomba desain batik. Riska Sari juga dibina untuk
mengikuti lomba cipta puisi.
Satu hal
yang masih membekas di benak saya, ketika mereka pamit bersalaman sambil
mengatakan, “Sir, pray me for this competition,” sebuah kalimat pengharapan
bahwa apa yang mereka emban, untuk keberadaan lembaga pendidikan tercinta,
setidaknya tidak mengecewakan, membawa nama baik di rantau, dengan perilaku dan
akhlakul karimah.
Dengan
perasaan haru, serta pengharapan yang meruah saya jawab, “Sure, I do pray
for your success!” Hehee,...padahal sebelumnya, mereka saya marahi karena
agak ribut di kelas saat saya menjelaskan sebuah materi Fisika. Maklum,
sebentar lagi mereka harus siap-siap berangkat menuju dermaga. Hanya saja,
mereka tidak ingin melepas kesempatan sekadar untuk sebuah pelajaran yang saya
berikan.
Beberapa
hari kemudian, untuk cipta
puisi, lomba
dilaksanakan pada hari Selasa,
11 Maret 2014. Saya ditelepon Kepala Sekolah, Gatot Rudy Asmu'i, S. Pd. bahwa
peserta dari SMP Masalembu dapat juara II. Tentu saja, serta merta saya,
sebagai Pembina
dalam cabang lomba ini
mengucap syukur.
"Alhamdulillah,..." Rasanya tidak sia-sia saya, juga teman-teman
guru yang lain, yang selama ini mengadakan pembinaan, meski kurang maksimal
karena terbentur oleh persiapan OSN dan lain semacamnya (mendekati UTS). Riska
Sari dalam perpuisian punya talenta. Jika dikembangkan dengan baik, tidak menutup kemungkinan, akan lahir sastrawati dari pulau kecil,
Masalembu.
Tidak cukup sampai
di puisi, di cabang MTQ pun, Jihadal Amanah meraih prestasi. Ia mendapatkan
juara 2 dalam cabang lomba ini. Dan tidak kalah prestisenya, cabang olah raga
sepak takraw, tidak tanggung-tanggung, mereka menyabet juara 1 tingkat umum,
juara 1 tingkat SLTP, dan juara 2 tingkat SLTP (SMP 1 Masalembu mengeluarkan 2
grup dalam cabang sepak takraw ini).
Semangat telah
menguasai jiwa mereka. Siswa-siswi SMPN 1 Masalembu, sebagai duta prestasi,
berusaha untuk memberikan yang terbaik. Demi nama baik lembaga, sebagai eksistensi
adanya sekolah yang berdomisili di daerah terpencil,
tapi tidak mau kalah dalam hal prestasi.
Tentu saja,
capaian prestasi ini tidak untuk dibangga-banggakan (baca: sombong). Akan
tetapi, sebagai ungkapan rasa syukur, bangga, serta kegembiraan yang meruah,
bahwa dari jauh, di seberang samudra, di balik laut
lepas, terdapat lembaga pendidikan yang anak didiknya perlu diperhitungkan.
Semoga, semua capaian prestasi ini menjadi penyemangat untuk semua siswa, para
pendidik, serta masyarakat Masalembu tanpa kecuali. Bahwa kwalitas lembaga
pendidikan kita, bertaraf baik. Harapan ini,
mudah-mudahan mendapat Ridha dari Allah swt.
Sebagai
perwujudan, "Lain syakartum laazidannakum, walaing kafartum, inna
'adzabi lasyadid; andainya kalian bersyukur, maka akan Aku tambahkan nikmat, dan
andainya kalian ingkar, maka (ketahuilah) bahwa siksa-Ku teramat pedih".
Alquran.
Maka saya ucapkan,
"Selamat datang para duta prestasi, semangatmu adalah sebuah
kebanggan!"
Harapan saya, kesuksesan ini menjadi sebentuk motivasi untuk terus berbuat lebih,
untuk generasi gemilang di masa yang akan datang.
“Anakku,
di pundakmu aku berharap kesejahteraan bangsa ini!”
Sumenep, 15 Maret 2014
_______________________
Nama-nama peserta lomba:
||Melinda Shilatil Fauziyah||Royna Ziyan
Zakiyah||Rizka Sari||Anindia||Jihadal Amanah||Ihza Hanif Rofiful||Imam Busairi||Moh. Darul||Moh. Rifkiyanto||Hifni Aminullah||Ahmad Rizal S.||
Monday, March 10, 2014
Immers, I miss you!
Immers, I miss you!
![]() |
| Direktur (mantan) dengan Kelas Imersi angkatan 2 |
Ternyata,
kelas Imersi (unggulan) menyisakan kenangan tersendiri dalam benak dan
pikiran saya. Beberapa waktu yang lalu, sekitar 6 bulan dari sekarang,
saya masih disibukkan dengan klas unggulan, kelas imersi, di SMP Negeri 1
Masalembu. Kelas ini telah banyak memberikan kenangan. Memoria yang
tidak bisa begitu saja saya lupakan. Sungguh, saya mencintainya, dan
saya merindukannya.
Kelas
ini telah meruntuhkan seluruh persendian cinta saya. Luruh di beranda
rindu yang teramat dalam. Masih jelas terngiang di pendengaran saya,
celoteh ‘cas-cis-cus’, anak-anak kami di taman sekolah. Berbahasa
Inggris, berkomunikasi aktif sebagai bentuk realisasi dari teori bahasa
yang mereka pelajari. Canda mereka, tawa mereka. Serta senyum tulus
dari anak-anak saya yang begitu alami. Di antara suasana ‘nginggris’
yang begitu kental. Tetapi, itu semua tinggal kenangan. Lesap, terhapus
oleh egoisme personal, atau tergenjet oleh lakon peraturan yang
nyata-nyata tidak teratur.
![]() |
| Kelas Bahasa Inggris |
![]() |
| Foto bersama setelah sesi class practice |
Biasanya,
pagi-pagi sekali sebelum masuk kelas, kelas Imersi melaksanakan shalat
Dhuha. Shalat sunah ini dibiasakan sebagai model pencerahan Ilahiyah,
terhadap anak didik yang telah berusaha untuk berbuat yang lebih baik.
Sebagai model sekaligus modal untuk senantiasa dekat dengan sang Khalik.
Juga, sebagai sumbangsih spiritualisme terhadap kedua orang tua yang
mencari rizki untuk kelangsungan pendidikan mereka, kehidupan mereka di
masa yang akan datang. Bahkan, shalat Dzuhur berjamaah pun dilakukan di
mushalla SMPN 1 Masalembu. Sehingga, kondisi ruang ibadah ini terjaga,
bersih (karena dibentuk piket kebersihan), dan penuh dengan nuansa
religi.
![]() |
| Di RRI utusan kelas imersi untuk Smart Contest (Novi, Liza, dan Ida) |
Lebih
dari itu, Bapak Hubaidi, S. Pd. MM, direktur Kelas Imersi selalu
memantau anak-anak ‘khusus’ ini untuk selalu qiyamul lail. Berjaga di
seperempat malam. Dengan SMS yang tentu saja memberikan nilai lebih
untuk sebuah dasar pemaknaan akan kehidupan bergama. Bentuk perhatian
yang sangat toleran ini, memberikan bekas yang begitu mendalam di hati
masing-masing siswa. Dan mereka, dengan suka rela melaksanakan realitas
makna ayat: Waminallaili fatahajjad bihi nafilatan lak. ‘Asa an yab’atsaka Rabbuka maqaman mahmuda. (Dan
sebagian malam maka hendaknya kamu melaksanakan shalat tahajjud. Semoga
Tuhanmu akan mengangkat derajatmu ke tingkat yang lebih tinggi).
Al-quran.
Tetapi,
saat ini, mushalla itu lengang. Kotor, dan serasa tidak terurus.
Menangis di antara keliaran anak-anak yang hanya lewat di sampingnya.
Entahlah! Mungkin tidak harus disamakan dengan kandang kambing. Karena,
sewaktu-waktu, mushalla ini masih bisa digunakan untuk sesuatu yang
berkenaan dengan hari-hari besar Agama.
Tentu,
yang paling diuntungkan adalah Imersi angkatan pertama. Karena mereka,
selama 3 tahun di SMP, mengikuti secara tuntas program Imersi. Mereka
kini telah pergi. Pergi untuk menggapai cita-cinta yang mereka inginkan.
Mereka tersebar di seantero ujung alam. Menekuri beragam kegiatan, yang
tentu saja masih terus bergelut dengan dunia pendidikan.
Ah, sungguh! Saya rindu dengan celoteh mereka. Saya rindu dengan cuap-cuap
Bahasa Inggrisnya. Saya rindu dengan shalat jamaahnya. Dalam irama
kebersamaan, mereka khusyuk, bersujud kepada Yang Maha Esa. Menyatukan
pola pikir dan dzikir. Sebuah pemaknaan hidup yangh tidak semata-mata
mengedepankan logika. Tetapi, makan ritualitas yang diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari.
“Anakku!
Rindu Bapak kepadamu, adalah rindu yang terus menggebu. Menghantam
dinding hati yang kemaruk dengan celoteh ‘nakal’ pikir dan dzikirmu!”
Kelas
Imersi kini tinggal kenangan. Sudah habis, lenyap. Tersebab oleh
peraturan (yang mungkin sangat tidak teratur?). Padahal, Imersi ada
tidak diikat oleh sebuah aturan yang absolut. Tetapi, terlahir dari
sebuah pemikiran untuk menjaring siswa-siswi yang berkompeten di dalam
sebuah pendidikan plus. Nyatanya, di akhir babak lakon drama kehidupan
Imersi, sungguh, tragis, dan miris. Subhanallah!
Bagaimana
pun, telah diupaya-dayakan sebuah keinginan untuk melahirkan generasi
‘kuat, gawat’. Jika pada akhirnya terbersit nilai-nilai ‘negatif’, itu
bagian dari skenario alam, yang seharusnya tetap diupaya-dayakan, dan
dieksiskan untuk menggapai nilai yang lebih baik.
Akhirnya,
saya mngucapkan selamat jalan kepada semua siswa-siswi kelas Imersi
angkatan pertama. Di pundak kalian generasi gemilang selalu menanti.
Bapak hanya bisa berharap, semoga kalian semua, dapat mencapai apa yang
kalian harapkan. Jangan lupa, doakan Bapak dalam setiap sujud malammu!
Dan,
kepada generasi Imersi angkatan berikutnya, maafkan Bapak! Bapak tidak
bermaksud untuk mengkebiri dalam marjinalitas pendidikan kalian. Namun,
jalan takdir telah menggariskan titian kehidupan pendidikan yang kita
hadapi. Semoga kamu sekalian tidak tergerus oleh zaman kealpaan dan
kepalsuan. Bapak titipkan, generasi pendidikan yang kian berkibar di
seantero negeri! Sungguh! Bapak cinta kalian semua! Immers, I Love You!
Sumenep, 10 Maret 2014
Nama-nama siswa/siswi kelas Imersi angkatan pertama:
||ACHMAD
ROME CHOLIL||DANIEL ILAHI ROBY||EDY FAERUS||FAUZI ALI IQBAL||FEBRI
JAFRIYA FINURI||FERA MAULIDINA WIDANTI||HASNIS SIBLI||IDA KHUSMAWATI||ILHAM JAYA KUSUMA||IZZA RIZAL MAULANA||LAILATUZ ZAHROH||MIA RETNOSARI
AGUSTINA||MOHAMMAD HABIBULLA||MURNIYATI||NOVIA ALBANIA||
NURUL INAYAH|| NURUL PUJIATI ARDI||RANA MUSZAELA||REZA AR RAODATUL
YULANDA||SHONIA AGUSTINA||SITI NURHALIZA||USSISA ALATTAQWA||USWATUN
HASANAH||ZAHRATUL UMAMAH||ZIHAN YULANDIA HAND'S||
Subscribe to:
Posts (Atom)















