Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com

Wednesday, February 12, 2014

KORLAP DEMONSTRAN



KORLAP DEMONSTRAN

Rapat memutuskan bahwa yang menjadi Koordinator Lapangan (KORLAP) saat demonstrasi besok adalah Nisa. Nisa adalah aku. Aku tidak tahu mengapa teman-teman memilihku sebagai korlap demonstrasi. Aku juga heran, apa sebenarnya yang lebih dari diri aku?

Aku, Nisa adalah mahasiswi pada fakultas FISIP jurusan public relations. Sebagian teman-teman mahasiswaku mengatakan bahwa aku ini tomboy. Padahal menurut aku sendiri tidak ada yang berbeda antara aku dan teman-teman mahasiswi yang lain. Memang, dari sisi penampilan aku kurang perhatian. Aku tidak pernah berias terlalu berlebihan. Biasa-biasa saja. Pakek bedak tipis-tipis, dan jarang sekali memakai lipstik. Menurutku, warna bibir alamiku sudah pas.

Aku juga sekali-kali pakek rok panjang. Benar sich, aku paling sering pakek celana. Itu pun celana longgar dan proporsional. Aku tidak pernah memakai celana ketat yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhku. Aku rasa tidak ada yang aneh dalam penampilan diriku.

Apakah karena aku tidak pernah pacaran? Nah, kalau ini alasannya, tentu saja bagiku itu adalah sebuah prinsip. Aku punya alasan sendiri mengapa aku tidak pacaran. Aku punya keyakinan yang mengatur hubungan antar lain jenis. Jadi jelas, prinsipku tiak pacaran karena etika agamaku yang mengatur harus seperti itu.

“Jadi Nisa adalah korlap demonstrasi besok” kata pimpinan rapat akhirnya. Bergemuruhlan para peserta rapat.
“Setuju....setuju....”, membahana suara peserta rapat di auditorium yang cukup besar ini.

Semula aku mencoba untuk protes. Bahwa masih ada teman-teman mahasiswa lain yang lebih pas dalam Korlap demonstrasi ini. Tetapi semua peserta yang hadir tetap aku yang harus jadi koordinator, jadi pimpinan. Akhirnya, aku pun tidak dapat berkutik.

“Sudahlah Nis. Teman-teman lebih percaya kepadamu”, Vivi teman kosku berbisik dari sebelah kiri tempat aku duduk. Aku hanya tersenyum dan mengangguk perlahan. Vivi juga tersenyum dan sedikit mengedipkan mata. Seperti mengisyratkan bahwa aku bisa.

Akhirnya aku maju untuk memimpin rapat lanjutan. Bagaimana pola dan strategi besok di depan istana. Tema yang diusung dalam demonstrasi kali ini adalah masalah KORUPSI. Memang, korupsi sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dengan kemampuan retorikaku, aku mencoba mengatur, mempersiapkan dan tentu saja me-remark formula demonstrasi yang akan berlangsung besok. Masalah perijinan beres. Teman-teman mahasiswa yang punya akses ke kepolisian sudah mengurusnya.

“Mudah-mudahan besok demonstrasi berjalan seperti yang kita inginkan” desahku setelah hampir dua jam lamanya aku memimpin rapat. Sekitar jam 21.00 malam, akhirnya rapat pun usai. Dengan segala sesuatunya beres. Tinggal kita menjalankannya besok. Ya, besok pada saat pelaksanaan demonstrasi. Di depan gedung istana yang megah itu.

Akhirnya aku kembali ke tempat kos. Tentu dengan segala kelelahan yang menyergap. Tapi, dalam hati aku merasa bangga, karena apa yang akan kami lakukan demi tegaknya kredibilitas bangsa. Demi bersihnya negara dari para pejabat yang licik,  para koruptor yang minum darah rakyatnya sendiri.

Betapa masih banyak rakyat kita yang kelaparan. Masih banyak masyarakat yang tidak mampu untuk berobat. Masih banyak di sekitar kita orang-orang yang hidupnya memprihatinkan. Sementara, di sana, di berbagai lembaga negara banyak pejabat yang dengan seenaknya meng-korup harta negara. Maka model pejabat yang seperti ini harus kita berantas, harus kita musnahkan sampai ke akar-akarnya.

Jam masih menunjukkan 21.30. Sejak pulang dari rapat tadi, aku merebahkan diri. Hanya tidur-tiduran untuk melepas penat. Mata masih belum mau diajak tidur. Itu mungkin karena aku pertama kalinya menjadi Korlap demonstrasi.

Aku bangkit dari tempat tidurku. Kulihat Vivi teman kosku juga belum tidur. Mungkin ia juga memikirkan apa yang akan terjadi besok. Dari tadi aku dan Vivi hanya diam membisu. Berbicara hanya dengan alam pikir  masing-masing.

Aku bangkit menuju cermin. Aku bercermin dan memagut-magutkan wajahku di sana. Kuperhatikan raut wajahku. Tidak ada yang istimewa. Cantik sich tentunya, tapi tidak cantik-cantik amat juga kok.

“Vi, megapa teman-temanku memilihku menjadi Korlap besok?”, basa-basi aku memecahkan kesunyian. Padahal sebelumnya aku dan Vivi biasa rancak. Apa saja dibicarakan. Baik masalah kuliah, keluarga, tugas-tugas, dan bahkan acara-acara di stasiun TV. Pokoknya semua pasti aku dan Vivi bicarakan.

Aku dan Vivi sudah seperti saudara. Memang kami dari satu kampung. Tapi rumah Vivi agak jauh dari rumahku. Kalau aku mau ke rumah Vivi, aku masih harus naik taksi yang lumayan lama. Kira-kira dua setengahjaman baru nyampek. Tapi aku dan Vivi sudah sangat dekat.

“Itu artinya Nis, kamu itu tagas. Dan tidak hanya ketegasan yang diperlukan dalam sebuah kepemimpinan. Tapi juga harus punya prinsip. Makanya jangan kecewakan teman-teman kita besok!” jelas Vivi panjang lebar.

Aku tidak terlalu menanggapi apa yang dikatakan Vivi. Aku sudah lelah. Aku mau tidur saja. Takut besok terlambat. Aku dan Vivi pun memutuskan untuk tidur setelah kami melaksanakan sholat isya’ berjamaah.
****

Waktu pun tiba. Banjir gelombang manusia dari beragam perguruan tinggi pun berdatangan. Tumpah ruah menuju depan istana. Berbagai macam atribut dibawa sebagai pendorong dalam wacana demonstrasi. Ciri khas mahasiswa pun dari masing-masing perguruan tinggi berbaur dalam kesatuan aksi. Beragam slogan dan spanduk bertuliskan kecaman dan cacian terhadap koruptor, dan kinerja pemerintah saat ini nampak begitu jelas terpampang di berbagai tempat. Dibawa oleh mahasiswa maupun mahasiswi dari beragam kampus di Jakarta.

Aku pun siap berorasi di atas kap mobil yang sudah disediakan oleh teman-temanku. Aku tampil dengan baju panjang dan jilbab yang dililitkan seperti cadar. Padahal sebenarnya itu bukan cadar. Tapi jilbab biasa yang komodel sedemikian rupa sehingga nampak seperti cadar.  Vivi pun sampat berkomentar,

“Nis, kok seperti teroris saja?!” Vivi nampak heran. Aku hanya tertawa saja mendengar komentar Vivi. Tapi kemudian aku berbisik,
“Biar tidak hitam Vi. Kena sinar mentari” kataku menjelaskan kepada Vivi. Ia terbahak mendengar bisikanku.

Dengan penuh semangat aku dan teman-teman para demonstran berjalan, merayap, menuju depan istana. Di sanalah puncak dan pusara demonstrasi itu, dan aku akan memimpin teman-temanku sambil berorasi. Misi pun dimulai.

Dari atas kap mobil, aku begitu leluasa melihat teman-teman yang begitu antusias. Bersemangat dengan suara tegas, tegar membahana, aku terus memompa semangat teman-teman untuk terus melangkah. Menyuarakan visi dan misi mahasiswa agar korupsi, kolusi, dan nepotisme diberantas dari tiap sisi instansi pemerintah.

“Mari kita suarakan kebenaran ini. Jangan pernah surut selangkah pun untuk terus berjuang mengikis habis para koruptor. Jangan biarkan KPK bersujud di bawah ketiak penguasa....”, dengan semangat dan berapi-api, suaraku membahana ke seantero jagat. Menggelegar membelah dinding-dinding istana, menyusuri telinga-telinga para pejabat yang ada di sana.

Dari atas kap mobil terlihat jelas suasana dan keadaan para demonstran. Ratusan bahkan ribuan aparat keamanan berbaris rapi. Menjaga suasana agar tetap kondusif. Tetap dengan semangat yang manyala-nyala, aku memperingatkan teman-temanku untuk tidak berbuat anarkis. Kita sampaikan aspirasi ini dengan santun dan damai.

Semula memang keadaan dapat berjalan dengan baik. Suasana benar-benar kondusif. Tapi, lama-kelamaan keadaan pun semakin memanas. Terjadi dorong-mendorong antara mahasiswa dan aparat. Semakin lama semakin kacau. Lempar melempar pun terjadi.

“Hai teman-teman sekalian. Sekali-kali jangan kita anarkis. Jaga suasana kondusif. Jangan terprofokasi. Ingat, di sekitar kita banyak profokator yang mengambil kesempatan ini”. Suaraku kembali membahana. Mengingatkan teman-temanku agar tidak anarkis. Dengan nada suaraku yang tegas, akhirnya keadaan pun kembali normal. Kondusif seperti sedia kala. Slogan, dan nyanyi-nyanyi protes dikumandangkan dengan tertib.

Terik matahari begitu garang. Menampar ubun-ubunku dan juga teman-teman demonstran yang lain. Gesekan-gesekan kecil terjadi lagi. Semakin lama semakin bertambah besar. Kekacauan pun terjadi lagi. Tiba-tiba di sekitarku gelap. Entah apa yang terjadi. Gelap...gelap...dan akupun tidak ingat apa-apa lagi.

Dengan sekuat tenaga aku bangkit. Melihat suasana. Memperhatikan keadaan teman-temanku. Keadaan sudah sangat kacau. Botol-botol meneral melayang tidak karuan. Suasana kali ini benar-benar kisruh. Retorika suaraku sudah tidak mempan lagi untuk mengembalikan  suasana.

Tepat di ujung kiri istana, segerombolan mahasiswa mencoba mendobrak pagar. Dengan segala emosi, pintu pagar dirusak dan dijebol. Aparat keamaan pun tidak berkutik. Tembakan peringatan membahana dari senjata aparat. Benar-benar suasana yang mencemaskan.

Tiba-tiba, aparat keamanan menembakkan senjatanya dengan membabi buta. Beberapa mahasiswa rebah bersimbah darah. Raungan dan erangan terdengar dimana-mana. Sungguh sebuah keadaan yang teramat mengerikan.

Tepat di hadapanku, seorang mahasiswi yang memakai jilbab, membawa panji almamaternya tertembak di dada. Dan darah pun tertumpah dan menyemburkan bau anyer dari dada yang tertembus peluru. Aku pun menjerit, melolong, dan meminta tolong.

“Toloo..ng... toloo..ng...”. Aku melompat dari kap mobil untuk menolong temanku itu.
“Nis...Nis...bangun! Kamu sudah sadar?”, Vivi dan beberapa teman yang lain terlihat kuyu dan lesu di sampingku. Bukan suasana demonstrasi, tapi suasana RS. Aku bingung.
“Aku ada dimana Vi?” tanyaku pada Vivi. Aku menoleh ke sana ke mari. Memperhatikan suasana yang sebenarnya.
“Kamu lagi di RS. Di akhir demo tadi kamu semaput. Maka kami pun membawa kamu ke sini”, Vivi menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
“Tidak terjadi bentrokan?” Vivi menggeleng.
“Tidak terjadi tembakan aparat?” lagi-lagi Vivi menggeleng.
“Jadi kekisruhan itu hanya dalam illusiku saat aku kolap?” bisikku lirih. Vivi pun mengiyakan mendengar apa yang aku alami. Akhirnya Vivi dan teman-tamanku yang lain menjelaskan bahwa demonstrasi yang aku pimpin berjalan dengan sukses. Tak kurang suatu apa. Dan teman-teman pun menjabatku dan mengucapkan selamat.
“Alhamdulillahi robbil alamin” sukurku dalam hati.

Tidak berapa lama kemudian aku sudah merasa sehat. Kuajak teman-temanku untuk segara cekout dari RS ini. Ketika tiba-tiba beberapa orang berseragam garang datang ke arahku.

“Saudari kami tangkap!” kata salah satu orang tersebut, yang ternyata dari satuan densus 88. Aku terperangah. Teman-temanku juga terperangah, heran.
“Apa-apaan ini?” Aku mencoba menolak dan bertahan. Teman-temanku juga berusaha menghalang-halangi.
“Saudari ditangkap karena tuduhan terorisme!” Aku dan teman-teman terkejut, heran. Tidak masuk di akal. Dengan alasan apa mereka menuduh saya sebagai jaringan terorisme?

Aku hanya pasrah, ketika kedua tanganku diborgol. Tapi dalam hati aku tersenyum, karena hakikatnya aku sama sekali tidak percaya dengan kejadian ini. Sebelum masuk ke dalam mobil aparat, aku menoleh kepada teman-temanku dan berusaha tersenyum. Dengan lantang aku berteriak,

“Lanjutkan perjuangan!” tersenyum, mengedipkan mata kepada Vivi dan teman-teman yang lain. Kemudian aku masuk ke mobil densus 88 warna hitam. Subhanallah lahaula wala quwwata illa billah.


BIODATA :
Rusdi el Umar tinggal di Sumenep Madura. Membantu mengajar di SMPN 1 Masalembu Sumenep. Pernah menjadi team Redaksi NUANSA di PP. Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura.  Bisa menjalin komunikasi lewat FB (Rusdi el Umar), Twiter (umar_rusdi), Email (rusdiumar@gmail.com) , dan nomor HP. 081234775969.

Tulisan-tulisan pernah dimuat di majalah Ananda, harian Surabaya Pos, harian Jawa Pos, Harian Banjarmasin Pos, majalah MPA, dan Jurnal Edukasi disdik Sumenep.



No comments:

Post a Comment