Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com

Thursday, February 13, 2014

SEIKAT CINTA MAWAR JINGGA



SEIKAT CINTA MAWAR JINGGA

Seluas mata memandang, taman bunga itu penuh dengan aneka warna. Merah, kuning, hijau, jingga, dan pink. Warna memantulkan gelora rindu. Rindu pada sosok bidadari yang selalu merbakkan wewangi nirwana. Pagi di sebuah taman bunga. Titik embun memantulkan sinar mutiara. Di taman ini, beberapa waktu yang lalu.
***

"Mas, aku suka mawar jingga itu," kata Jeny di suatu senja.
"Mawar yang mana?" Aku mendekatkan kepalaku ke kepala Jeny. Aku pura-pura tidak tahu.
"Itu tuh. Dekat bunga mentari," Jeny memastikan penglihatanku.
"Oh, mawar yang itu. Memang indah," jawabku. "Seindah wajah di sampingku," lanjutku.
"Ihhh,..bohong!" Jeny tersipu sambil mencubit mesra lenganku. Aku merasakan wangi surga. Sungguh kebersamaan yang terikat laksa bunga cinta.

Berlalu sang waktu. Pesonanya masih terus mekarkan kembang rindu. Rindu pada gelimis wajah Jeny. Rindu pada suaranya. Rindu pada wangi tubuhnya. Jeny telah membirukan arti cinta yang sesungguhnya. Dialah mentari hidupku. Rembulam di gelap malamku. Dia pesona kasih luapan rindu, abadi di detak relung nadiku.

"Semoga cinta ini abadi," desahku pada Jeny di sore itu. Awan senja meronakan merah saga. Membentuk keping siluet cinta di ufuk jingga.
"Bukankah cinta kita suci?" Retorik Jeny menjawab keluku.
"Aku tidak meragukan kesucian cinta kita," jawabku.
"Lalu?" Jeny mencoba menyelami arah pikirku.
"Waktu yang akan menjelaskan semuanya," desahku di antara keraguan kalimatku. Jeny terdiam. Senyum mawarnya terkembang. Seindah pelangi di batas cakrawala.

Pada saat itu, seseorang sedang memperhatikanku. Sepasang mata sinis --dalam penglihatanku-- menguak sinar mata tajam. "Ada apa gerangan?" Pikirku saat itu. Tapi aku tidak peduli.
***

Pagi begitu cerah. Betapa nostalgia itu tidak bisa hilang begitu saja. Saat kamilau rindu, bertahta di antara gelora bunga-bunga rindu. Ya, di taman itu, di antara bunga-bunga yang bermekaran, aku dan Jeny mengikat janji. Menjaga kerahasiaan hati masing-masing. Bahwa cinta kita satu untuk selamanya.

Hari 10 November. Aku ingin memberikan hadiah ulang tahun untuk Jeny. Hari ulang tahun Jeny yang juga bertepatan dengan hari pahlawan, ingin aku memberikan kado spesial untuknya. Untuk cinta. Untuk rindu. Untuk kesucian asmaradana.

Dari taman bunga ini, aku petik bunga terindah. Bunga mawar berwarna jingga, kesukaan Jeny. Aku memetiknya sepenuh hati. Sepenuh cintaku untuknya. Untuk rindu dan cinta, selamanya.

Tergesa aku pergi ke rumah Jeny. Dengan sekuntum mawar jingga. Semerbak harum, yang baru kupetik dari taman bunga. Dari lubuk hati yang terdalam.

"Aku rindu mekar bunga mawar ini," suatu hari Jeny berkata padaku. Di taman itu.
"Tunggulah. Sebentar lagi bunga ini akan merekah," jawabku.
"Serekah cinta kita," bisiknya lagi.
"Ya, serekah cinta kita. Abadi untuk selamanya."
"Engkaulah pangeran surgaku," Jeny berkata dengan suara rindu.
"Dan Engkau adalah bunga taman surgaku," jawabku dengan getar suara menahan derai air mata. Haru.
***

Seikat mawar jingga kubawa dengan sepenuh rindu. Harum, semerbak, bak pahlawan yang gugur membela pertiwi.

Aku tiba di depan rumah Jeny. Tapi hatiku bergetar, kala kulihat banyak orang berlalu lalang di rumahnya. Wajah-wajah sendu, mendung, meneteskan air mata. Dan benar saja, Jeny telah berpulang ke hadapan Ilahi.

Innalillahi wainna ilaihi roji'un, kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali.

Lemas sudah hasratku. Lunglailah asa dan harapanku. Seikat bunga mawar jingga yang kubawa, terlepas dari genggamanku. Terhempas oleh ganasnya sang waktu, berserak di antara debu-debu kehidupan.

"Cintaku, mengapa Kau tinggalkan aku," jeritku di samping jenazah Jeny. Kulihat ia tersenyum, damai dalam tidur panjangnya. Air mataku merebah. Menganak sungai, membanjir oleh cinta yang tak kesampaian. Aku meletakkan sisa bunga mawar jingga yang sudah kusut. Di telapak tangan Jeny yang beku. Senyumnya --sepertinya kulihat-- semakin mengembang.
***

Taman bunga ini adalah saksi bisu. Tentang cinta. Makna rindu yang sebenarnya. Aroma cinta Jeny masih mengembang, berbaur dengan harum merbak bunga-bunga setaman.

Jeny meninggal karena kecelakaan. Tubuhnya terpental dan masuk ke dalam jurang, curam, sedalam tujuh meter. Di TKP, nafas Jeny pun melayang. Tak rertolong, meski tak ada luka sedikit pun di sekujur tubuhnya. Allah lebih cinta, dan mengambil Jeny segera. Semoga Jeny bahagia di sana.

Dari olah TKP, Jeny meninggal secara tidak wajar. Ada indikasi kesengajaan. Ada seseorang yang sengaja untuk mencelakakannya.

"Benarkah?" Kata hatiku tidak percaya. "Salah apa Jeny hingga ada yang sengaja mencelakainya?" Masih dalam tanya tak percaya.

Tiba-tiba ingatanku melayang. Menjamah kejadian beberapa waktu yang lalu. Sesosok tubuh dengan sinar mata sinis. Seakan tiada rela bila aku dan Jeny memadu asmara.

"Mengapa Jeny yang menjadi korban?" Aku mencoba menghilangkan bayang-bayang sangka burukku. Aku berharap, "Semoga itu tidak terjadi," aku petik sekuntum bunga mawar jingga. Tiba-tiba merbaknya seharum tubuh Jeny yang damai dalam tidur panjangnya. Di taman surga.

Sumenep, 13 Februari 2014

No comments:

Post a Comment