Get Stories: http://mawarberduri99.blogspot.com

Wednesday, February 19, 2014

FABIAYYI AALAAIROBBIKUMA TUKADZDZIBAN (Nikmat Tuhan yang manakah yang Kaudustakan?)



FABIAYYI AALAAIROBBIKUMA TUKADZDZIBAN
(Nikmat Tuhan yang manakah yang Kaudustakan?)
(QS: ARROHMAN)
Penerimaan Hadiah

Maka, nikmat Tuhan manakah yang kaudustakan?

Aku harus bersyukur. Itulah kalimat yang terbayang di benakku saat ini. Semalam, tepatnya Sabtu, 8 Februari 2014, anakku yang sulung, saat ini duduk di kelas 5 Sekolah Dasar (MIN Kolor Sumenep), sedang melaksanakan Khatmil Quran.

Tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri bagiku, sebagai orang tua, ayah dari Fathira Varach Kamila, nama lengkap anakku. Semoga prestasi baca alquran ini, dapat memberi semangat untuk kehidupan yang lebih baik. Menjadi anak shalihah, yang akan menyemai doa-doa untuk kedua orang tuanya kelak di kemudian hari.

Tiara, ---nama panggilan anakku--- sejak kecil sudah kelihatan keseriusannya dalam belajar membaca alquran. Sejak duduk di kelas 1, ia sudah diikutkan dalam kompetisi 'tartil quran'. Meski saat itu ia belum mendapat juara. Dan bukan hanya dalam baca alquran, di bidang yang lain pun ia juga punya bakat.

Ketika duduk di TK (TK Darussalam), Tiara pernah ikut lomba mewarnai. Dan pada saat itu ia mendapat juara 1. Ada kisah menarik dalam lomba ini. Sedianya, Tiara tidak diikutkan (tidak ditunjuk) oleh sekolah untuk ikut lomba. Namun, karena arena lomba di dekat rumah, maka aku menghubungi panitia untuk diikutsetakan sebagai sebuah pengalaman. Panitia setuju, asal ada fotocopy akta lahir. Aku mencoba mencarinya. Tetapi akta lahir tiara tidak ditemukan. Hanya foyocopy KK yang ada. Di sana juga ada tanggal lahir Tiara. Syukulah, panitia menyetujuinya.

Lomba pun dimulai. Tentang corat-coret mewarnai, Tiara sudah biasa. Sejak balita, Pak Denya --Ahmad Basofi-- sudah sering mengajarinya. Jadi, Tiara santai mengikuti lomba mewarnai tersebut.

Alhamdulillah, setelah pengumuman, ternyata Tiara dapat juara 1. Maka nikmat Tuhan manakah yang Kaudustakan? Ini adalah nikmat Allah yang harus aku syukuri, bukan aku dustai.

Kembali kepada Khatmil Quran, Tiara adalah perserta termuda. Umurnya belum genap 10 tahun. Sebelum acara Takhtimul Quran, telah dilaksanakan beberapa lomba dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Dalam beberapa lomba Tiara mendapatkan:

1. Juara 1 lomba Tartil Quran
2. Juara 1 lomba menghafal surah-surah pendek
3. Juara 2 lomba iqamah
4. Juara 2 lomba baca ayat dan hadits beserta artinya

Dalam lomba kali ini, Tiara mendapatkan banyak hadiah. Ada buku (10 buah), rukuh, dan jilbab. Tentu saja, sebagai ayah, aku merasa senang dengan prestasi anaknya. Namun demikian, masih panjang perjalanan ke depan untuk terus diasah guna mendapatkan kebahagiaan hidup, di dunia dan akhirat.

Pada saat Tiara duduk di kelas 4 (MIN Kolor Sumenep), ia dan beberapa temannya yang lain dipercaya untuk mewakili Kab. Sumenep untuk mengikuti ajang lomba paduan suara. Setelah dinyatakan sebagai peserta terbaik di tangkat kabupaten, maka Tiara dan kawan-kawannya diberangkatkan menuju Kota Blitar (tempat terselenggaranya lomba) di tingkat provinsi. Meski di tingkat ini Tiara dkk, tidak mendapat juara, namun telah memberikan kesan tersendiri, sebagai wakil terbaik di tingkat kabupaten.

Hal yang harus aku syukuri, ---di luar anakku sebagai duta paduan suara---, Tiara mendapat pesangon (uang) dari Departemen Agama (Depag). Sepulang dari lomba, kedua adiknya (Farhan Zacky Rusydiansyah dan Ravach Rusydan Aulia) dibelikan oleh-oleh berupa baju bertuliskan Blitar. Rasa sayang dan cinta terhadap adik, diungkapkan lewat oleh-oleh dari hasil keringatnya sendiri.

Maka nikmat Tuhan mamakah yang kaudustakan?

Jika musibah adalah sebagai ujian, maka nikmat pun tidak berbeda. Kebahagiaan karena adanya suatu nikmat juga sebagai koridor uji coba, sejauh mana seseorang menyikapi kebahagiaan, dan bersikap bijak untuk sebuah kesenangan. Tanpa harus bersikap sombong, congkak, tinggi hati, merasa hebat, dan sikap arogansi lainnya.

"Ya Allah, aku berharap cintamu di setiap bahagia dan sengsara yang Engkau ujicobakan terhadapku dan keluargaku."

Sumenep, 9 Februari 2014

Monday, February 17, 2014

13 MALAM PURNAMA



13 MALAM PURNAMA
 
Sumber gambar: http://darknessandy.blogspot.com/2012/02/legenda-werewo.html
“Mustahil dan tidak masuk akal.”
“Tapi ini nyata, Sri!”
“Mana mungkin manusia bisa jadi binatang?”
“Ini terjadi pada diriku sendiri. Apa kamu tidak percaya padaku?”
“Bukan tidak percaya, tapi aneh saja!”

Lycanthropy adalah proses transformasi manusia ke binatang. Dan itu terjadi pada diriku sendiri. Aku tidak mengerti dengan kejadian ini. Pasti orang yang mendengar akan mencemooh. Mengatakan bahwa aku bohong. Orang munafik yang tidak bisa dipercaya.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa angka 13 adalah angka sial. Angka yang tidak diinginkan dalam kehidupan ini. Bahkan dalam kehidupan nyata, di negera-negara maju pun, angka 13 menjadi angka monster. Sehingga hotel berbintang pun enggan meletakkan angka 13 di kamarnya. Solusinya menjadi 12A dan 12B (ganti dari angka 13).

Begitu juga denganku. Setiap tanggal 13 bulan purnama aku akan berubah menjadi seekor serigala. Seekor lycan liar atau kata orang Madura menjadi macan remrem. Ada juga yang mengatakan anjing hutan. Apakah karena tanggal 13?

Malam ini purnama. Begitu juga pas tanggal 13. Itu artinya sebuah kekuatan yang luar biasa akan terjadi dalam diriku. Kekuatan yang tidak bisa kukendalikan. Aku tidak kuasa terhadap transformasi diri menjadi seekor serigala liar. Serigala jadi-jadian yang akan mencari mangsa. Bergidik tubuhku jika ingat apa yang akan terjadi pada diriku malam ini.

“Sri, malam ini malam purnama tanggal 13”.
“Ya, kenapa?” kata Sri santai. Tidak peduli dengan kecamuk hatiku saat ini.
“Kamu tidak percaya kan, bahwa aku bisa berubah menjadi seekor serigala saat malam seperti ini?”
“He eh....”. Sri masih acuh tak acuh.
“Ikut aku malam ini!”
“Boleh....”.

Aku dan Sri, kekasihku menuju ke tanah lapang di hutan. Jauh dari keramaian. Aku akan membuktikan pada Sri, bahwa apa yang kukatakan bukan dusta. Tapi kisah nyata yang akan menjungkir-balikkan ideologi. Akan kutunjukkan pada Sri, bahwa yang mustahil menjadi nyata.

Tengah malam aku dan Sri  sampai di tempat yang dituju. Purnama begitu gagah memancarkan sinarnya. Jam menunjuk 12 malam. Sebuah kekuatan luar biasa telah menyerangku. Tiba-tiba badanku panas luar biasa. Aku menggeliat. Sri jadi bingung melihat aku demikian.

Ketika purnama bertahta di langit dengan gagahnya. Saat itu pula bulu-bulu kasar tumbuh di sekujur tubuhku. Kuku-kuku tajam dan taring juga muncul dengan sendirinya. Entah kekuatan apa yang merasuk dalam tubuhku. Aku meraung, menjerit, mengaum, dan aku sudah bertransformasi menjadi seekor srigala. Sri kaget, tidak menyangka hal yang tidak ia yakini bisa terjadi.

“Auuu..........ghhhhh”.  Aku serigala, macam remrem, dan anjing hutan mengaum. Melolong di tengah hutan, malam purnama tanggal 13.

Sri mulai ketakutan. Dan aku pun mulai menyerangnya. Sri berusaha berkelit. Tapi tenaga perempuan Sri tidak seberapa. Tidak begitu lama aku telah mencabik tengkuknya, dan mengisap darahnya. Sri pun lambat laun tubuhnya menggeliat, mulutnya melolong, menjerit, dan mengaum di kesepian hutan belantara. Transformasi Lycan yang kedua terjadi.

“Auuuu........gghhhhhh”. Aku melolong.
“Auuuu........gghhhhhh”. Sri menempali.

Di tengah hutan dan di bawah sinar penuh purnama, aku dan Sri melolong untuk mencari mangsa yang lain. Berhati-hatilah kepada semua warga di setiap malam purnama tanggal 13. Aku dan Sri serigala haus darah siap menerkam Anda.

Malam semakin larut. Aku dan Sri, dua serigala jadi-jadian berkeliling di tengah hutan. Di bawah sinar purnama. Dari satu bayang kegelapan pohon ke pohon lainnya. Mencari mangsa. Dan haus darah. Lapar, ingin menerkam setiap sisi kehidupan amnusia. Sebuah aspek sosial yang tergadai oleh gendam atau ilmu hitam. Aku dan Sri terus mengaum.

Bulan sudah tinggal separuh. Sebentar lagi fajar akan menyingsing. Aku dan Sri mengibas-ngibaskan ekor. Tidak ada yang bisa dijadikan mangsa lain di malam purnama tanggal 13 ini. Aku dan Sri merasakan sakit yang luar biasa. Bulu-buluk kasar pada tubuhku dan tubuh Sri, sedikit demi sedikit berlepas. Kuku-kuku tajam juga tanggal satu persatu dengan iringan aum yang menyisakan kepedihan. Kesakitan yang luar biasa.

Seiring dengan terbenamnya purnama, dan fajar di arah timur menyingsing, aku dan Sri tergolek lemas di bawah pohon besar di tengah hutan.

“Mas, apa yang terjadi dengan kita semalam?” dengan sisa-sisa tenaganya, Sri berkata heran kepadaku. Aku yang juga tergeletak lemas hanya mampu menggeleng. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jelasnya, aku seperti yang dikendalikan oleh kekuatan di luar kehendakku. Aku mendesah.
“Aku juga bingung. Apa sebenarnya yang terjadi pada diriku, dan juga dirimu.” Aku bergumam. Entah kepada siapa kata itu aku tujukan. Kepadaku, atau kepada Sri kekasihku. Gara-gara aku, Sri juga telah menjadi serigala jadi-jadian. Ia terkontaminasi oleh transformasi gelapku.

Matahari sudah meninggi. Aku dan Sri melangkah pulang. Dengan perasaan yang tidak karuan. Tidak menentu. Bahwa dalam tubuh kami telah mengalir darah hitam serigala. Benar-benar sebuah keadaan yang tidak biasa. Tidak seorang pun yang menginginkan hal ini terjadi pada diri mereka.

Waktu terus berlalu. Tentu dengan warna kehidupan yang terjadi di dalamnya. Sesekali masih mewujud dalam pikiranku akan hakikat transformasi. Mengapa hal ini harus terjadi? Aku hanya bertanya kepada hari-hariku yang terus berlalu. Menghitung detak detik ke menit. Dari hari ke minggu. Dan dari bulan ke tahun. Maka, tanggal 13 bulan purnama pun kembali terulang. Malam yang merasuk tubuhku, dan juga tubuh Sri akan kembali ditayangkan. Aku hanya mampu menghela nafas.

“Mas, apa yang harus kita perbuat?” sehari sebelum 13 bulan purnama Sri berkata sedih kepadaku. Aku hanya mampu menggeleng, mendesah dan memandang cakrawala. Awan hitam bergelantung di ufuk. Kelam, seresah pikiranku yang tidak menentu. Entah apa yang harus aku pernuat agar terlepas dari belenggu manusia serigala.
“Aku juga tidak tahu Sri. Apa yang harus aku perbuat. Aku dan Kamu Sri, tidak bisa lepas dari belenggu manusia serigala ini.”
“Apakah ini sebuah kutukan Mas?”
“Aku tidak mengerti. Kalau memang kutukan,...” aku menarik nafas dalam-dalam, “Kutukan dari mana?”
“Mungkin dari salah satu orang tua kita Mas?”
“Tidak logis, jika kutukan itu harus aku dan Kamu Sri yang harus menanggung akibatnya.”
“Hem, sebuah misteri yang paling mistis,” Sri seperti berkata pada dirinya sendiri. Sebuah gumam yang tidak jelas ke mana arah dan tujuannya.

Senja merona. Membiaskan awan merah yang cerah. Secerah bulan purnama yang sebentar lagi, tanggal 13 akan segera bertahta. Aku dab Sri duduk di sebuah batu besar. Di belakang rumah. Jauh dari pandang, di sana, di bagiab jauh ke dalam, rimbun hutan menyisakan sebuah misteri. Ragam sakral, dan dunia astra begitu kuat eksistensinya. Begitu yang terjadi dan sedang bergayut di alam pikirku saat ini. Begitu juga pikiran Sri. Berkecamuk dunia lycan, di luar alam sadar manusia. Mistis, sekaligus miris.

Senja terus merambat. Tanpa sadar aku dan Sri menuju tanah lapang di dalam hutan. Sungguh begitu saja. Tanpa sadar. Dan tanpa disengaja. Naluri manusia serigala mulai menjalar.

Purnama mulai merayap. Malam tanggal 13 kali ini begitu resah. Resah oleh keadaan yang sebenarnya tidak diinginkan. Keadaan yang sesungguhnya tidak disadari. Begitu saja, dan seketika.

Aku memandaang wajah Sri yang bukan wajahnya. Memperhatikan tubuh Sri yang bukan tubuhnya. Membaca alam pikir Sri yang bukan logikanya. Sri adalah cermin diriku sendiri. Ketika pelan tapi pasti, tubuhnya mulai berubah. Bulu-bulu kasar mulai tumbuh. Semakin lama semakin banyak. Kuku-kuku tajam mulai bermunculan, dan taring yang siap menerkam tiba-tiba saja mengaum.

“Aauuu.....gghhhhhh,” Sri mengaum keras. Berdiri bulu kuduk bagi yang mendegarnya.
“Auuuu....gghhhhhh, “ aku yang juga sudah menjadi pejantan menimpali. Bersahutan, di dalam hutan yang semakin kelam.

Malam ini naluri manusia serigala mengajak mencari mangsa. Tentu di dalam hutan yang lebat ini tidak ada seorang manusia pun. Hanya binatang-binatang kecil, melata yang tidak menjadi target mangsaku dan Sri. Naluri serigalaku mengajak ke luar hutan. Mencari manusia sebanyak-banyaknya. Menjadikan mereka manusia serigala. Semuanya, tanpa kecuali.

“Sri, ayo kita ke luar hutan,” ajakku pada Sri.
“Ayo Mas. Kita cari mangsa sebanyak-banyaknya. Kita jadikan teman semuanya,” seringai Sri. “Aaauuuuu......gghhhhh,” kemudian Sri mengaum keras di antara sepi hutan yang menakutkan.

Tanpa komando, aku dan Sri meloncat. Berlari di antara cerah purnama yang bersinar terang. Dengan mata yang begitu tajam, merah menyala, mencari mangsa di perkampungan. Jeritan dan erangan terjadi dimana-mana. Dari satu mangsa ke mangsa yang lainnya. Dari satu orang ke orang yang lain pula. Dengan sekali gigit, mereka pun seketika berubah menjadi manusia serigala. Dan mereka pun siap mencari mangsa yang lainnya.

Begitulah rantai mangsa memangsa pun terjadi di malam itu. Di malam purnama tanggal 13. Tidak ada seorang pun yang terlepas dari serangan si manusia serigala. Maka malam itu juga, manusia sekampung telah menjadi serigala. Manusia-manusia serigala yang hau darah. Tumpahan dan ceceran darah di mana-mana. Anyir dan bau amis darah telah menjadi keasyikan tersendiri bagi manusia-manusia serigala ini.

Sri menghilang entah dimana. Aku mencoba mencarinya ke sana-ke mari. Tapi aku tetap tidak bisa menemukannya. Ia hilang bagai ditelan bumi. Aku mencoba bertanya dari satu serigala ke serigala yang lainnya. Tapi mereka tidak menmukannya.

“Aauuuuu........ggghhhhh!” aku mencoba memanggil nama Sri. Tetapi yang dipanggil tak kunjung menyahut. Tiak ada sahutan sama sekali. Kecuali jerit dan lolongan serigala lain yang tidak aku pedulikan. Sekali lagi,
“Aauuuuuu.......ggghhhh, (Sri, kemarilah. Jangan tinggalkan aku),” aku mengaum, melolong di bawah cahaya purnama yang semakin berpendar.

Puluhan manusia serigala berpesta. Tidak, bukan hanya puluhan, tapi ratusan atau bahkan ribuan serigala sedang berpesta. Minum darah, atau mencabik daging yang entah daging apa. Menyeringai, mengaum, melolong di antara malam yang semakin larut.

Malam itu dunia telah berubah. Manusia telah menjadi serigala. Tidak tahu teman tidak tahu lawan. Yang kuat yang menang. Yang sadis yang menjadi pimpinan. Tidak ada lagi pertolongan. Tidak ada lagi bantuan. Yang kalah harus tunduk dan mengabdi. Dan yang menang, dengan sendirinya diangkat menjadi raja rimba. Raja manusia serigala.

Hem. Sampai saat ini, detik ini juga, di muka bumi ini masih bertahta nafsu serigala. Manusia berhati serigala begitu banyak memenuhi tanah ini.


KUTUNGGU CINTAMU DI PINTU SURGA



KUTUNGGU CINTAMU DI PINTU SURGA
 
Sumber gambar: http://ipulstory.blogspot.com/2010/12/cinta-dari-taman-surga.html
Pagi itu angin berhembus lirih. Matahari tidak begitu terik. Awan tipis bergelayut di cakrawala. Ada banyak cerita yang harus kulalui dalam hidup ini. Dan di pagi ini, begitu kuat impianku menjelma bayangan-banyangn masa lalu. Illustrasi wajah Andin, melukis seluruh ingatanku. Di masa lalu.

“Din, sudah lama menunggu?”
“Gak juga kok. Baru saja datang.” Jawab Andin lembut. Bagai derai pesona bidadari di taman firdaus.

Di taman itu. Di sudut kampus tempat aku dan Andin menimba ilmu. Aku berdua dengan Andin menikmati suasana asri. Indah di antara bunga-bunga yang bermekaran. Di antara gemercik air taman yang mengalir perlahan. Ikan-ikan kecil berenang ke sana ke mari, seakan merayakan kometmen kami berdua. Kesepakatan untuk saling mencinta. Merindu, saling memberi dan meminta.

“Aku ingin ikatan yang sempurna.” Dalam hening beberapa saat.
“Maksud Mas?”
“Aku berharap ikatan kita sempurna di sisi Allah.” Andin hanya diam. Menunggu kelanjutan bicaraku. “Begitu juga di mata orang-orang sekitar kita.” Lanjutku.
“Aku juga berharap begitu Mas. Agar kita tidak berdosa dengan khalwat seperti ini.”
“Aku setuju Din.”

Andin adalah gadis sederhana. Kesederhanaan itu melahirkan inner bauty. Pesona aura tingkah lakunya, melahirkan decak kagum orang-orang di sekitarnya. Bukan kecantikan membiaskan nafsu. Tapi sebuah kecantikan yang menebarkan kharisma. Anggun jiwa dan raganya menebarkan sinar Islam yang memesona.

Waktu terus berlalu. Meninggalkan banyak cerita. Tentang hidup dan cinta. Rindu dan kesempurnaan bunga surga.

“Besok aku ke rumahmu Din.” Smsku pada Andin.
“Ada apa Mas?”
“Untuk melamar Kamu, Din.”
“Sudah yakin dengan keputusanmu, Mas?”
“Tidak ada yang perlu aku ragukan.”
“Ya sudah, kalau itu keputusan Mas.”

Hari Jum’at. Aku, ayah dan ibu bersiap-siap. Pagi-pai sekali kami berangkat ke rumah Andin. Untuk menemui kedua orang tuanya. Waktu yang aku tunggu. Untuk mewujudkan cinta aku dan Andin. Dalam sebuah ikatan yang diridhai Allah swt.

Di dalam mobil aku membayangkan wajah Andin. Wajah yang selalu aku rindu. Wajah yang melahirkan larik-larik cinta. Senantiasa menjadi bunga di dalam hari-hariku. Karena jiwaku dalam jelma jiwa Andin. Dan cinta Andin berpadu dalam cintaku.

Sampai di rumah Andin. Ada banyak orang yang keluar masuk di rumah sederhana tersebut. Aku mengira itu bagian dari kedatangan aku dan rombongan. Untuk melamar Andin. Sebagai bagian dari tulang rusukku. Yang telah ditetapkan di lauhul mahfudz. Allahu akbar. Jadikan Andin sebagai hiasan dalam hidup dan matiku.

“Ada apa ini? Kok banyak sekali orang?” tanyaku pada seseorang yang tidak aku kenal.
“Andin telah tiada Dik.”
“Apa? Andin tiada? Maksudnya apa?” tanyaku beruntun. Tersekat dalam tanya yang gamang.
“Ya Dik. Andin telah dipanggil yang Mahakuasa.”

Remuk hatiku melihat keadaan itu. Aku masuk menyeruak di antara kerumunan. Aku tidak peduli. Walau banyak orang yang merasa heran dengan kedatanganku. Hanya kedua orang tua Andin yang memaklumi keadaanku.

“Andin, jangan tinggalkan Mas,...” hanya itu kata keluh yang keluar dari mulutku. Aku melihat lipatan kertas di tangan Andin. Kuambil kertas itu. Dan lentik tulisan cantik tertera di sana.

“Mas Umar, Allah telah mengambil hakku. Hak untuk hidup bersama dirimu di dunia. Tapi aku tunggu dirimu di sana. Di pintu surga. Cintaku selalu ada untukmu.”



Biodata :
Rusdi el Umar tinggal di Sumenep Madura.  Alamat surat  SMP Negeri 1 Masalembu, Jl. Raya Masalima Masalembu Kode Pos 69492. Bisa berkomunikasi melalui FB; Rusdi el Umar atau twiter; umar_rusdi. Alamat email  rusdiumar@gmail.com.






Sunday, February 16, 2014

KUPU-KUPU BERSAYAP PELANGI



KUPU-KUPU BERSAYAP PELANGI
Rusdi el Umar
 
Sumber gambar: http://www.gambargratis.com/gambar/gambar-kupu-kupu
Kupu-kupu telah menjadi sebuah legenda. Warnya indah penuh pesona. Kepak sayapnya lembut menawan. Para pecinta pun menggores liris larik-larik puitik. Kupu-kupu bersayap mega. Menggores gelora purnama di taman persada. Langit pun luruh bersama kelopak bunga telaga.

Tidak banyak yang tahu. Bahwa kupu-kupu punya cerita pilu. Ada kisah duka dalam menjalani kehidupannya. Tetapi semua itu telah berlalu. Dan kini ia menjalani hari-hari  yang sangat indah.

Semula, kupu-kupu tidak lebih daripada seekor larva. Seekor ulat yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya mampu berjalan ke sana ke mari dengan tubuh yang sangat lemah. Dia tidak bisa berbuat banyak. Bahkan untuk sekedar pindah dari satu tempat ke tempat yang lain pun, ia merasa kesulitan. Ulat, bisa jadi hanya sebagai santapan burung-burung pemakan ulat. Ulat, adalah makhluk yang tidak bisa berbuat apa-apa.

“Haha... si Kupu lagi menari”. Suatu hari si Pipit burung kecil dan lincah mengejek si Kupu-kupu sambil terbahak-bahak. Pipit seringkali merasa angkuh di hadapan si Kupu-kupu. Ia selalu mencela, mencemooh, serta merendahkan si Kupu-kupu. Si Kupu-kupu pun menjadi rendah diri. Ia tidak percaya diri. Kadang ia merasa bahwa kehidupan ini tidak adil.
“Pit, apa gak ada kerjaan lain selain mengejek aku?”. Si Kupu-kupu mulai merengek. Ia sudah mulai ingin menangis. Sebenarnya ia sangat marah mendengar celotehan ejekan si Pipit.

“Kupu-kupu cengeng. Kupu-kupu jelek. Kupu-kupu jongos. Kupu-kupu....”. Banyak lagi kata-kata menyakitkan yang dilontarkan si Pipit. Kupu-kupu hanya bisa diam. Diam dalam kesedihan. Diam dalam kemarahan yang amat sangat. Ia malu. Ia merasa hidup tidak berguna.

“Haruskah kuakhiri hidup ini?”. Bisik hati si Kupu-kupu.

Di sebuah dahan pohon yang tinggi.

“Tidak ada gunanya aku hidup”, kata si Kupu-kupu kepada Laba-laba teman dekatnya. Hanya Laba-labalah satu-satunya teman yang bisa diajak curhat oleh Kupu-kupu.
“Ada apa Kupu-kupu? Kok sepertinya sedih banget?” Kata Laba-laba pada saat itu. Laba-laba merasa iba melihat keadaan Kupu-kupu temannya.
“Hidup ini tidak adil”, balas Kupu-kupu dengan pilu.
“Kok berkata seperti itu? Bukankah aku temanmu yang bisa diajak berbagi?”, Laba-laba berkata dengan lembut.
“Ya, aku tau. Hanya kamu Laba-laba satu-satunya teman yang mengerti aku”.
“Makanya, coba ceritakan aja apa masalahmu”.
“Aku sudah bosan hidup”.
“Tidak boleh berkata seperti itu”.
“Aku adalah makhluk yang terjelek di dunia ini”.
“Siapa bilang seperti itu? Kamu, aku, dan makhluk yang lainnya sama kok. Sama-sama makhluk Tuhan. Tidak boleh saling mencela, mencaci, menyakiti, dan saling membohongi”. Panjang lebar si Laba-laba menasihati si Kupu-kupu.

Akhirnya si Kupu-kupu pun menceritakan keluh kesahnya kepada si Laba-laba. Ia menceritakan bahwa si Pipit selalu mencaci dan mencela dirinya. Ia sudah tidak tahan dengan ocehan si Pipit. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia  mahkhluk lemah. Tidak berdaya dan tidak memiliki kelebihan apa-apa.

Si Laba-laba mendengarkan keluhan temannya. Ia sangat perhatian dan mencoba memberikan jalan keluarnya. Ia menyarankan kepada si Kupu-kupu untuk menemui seorang petapa yang berada di lereng gunung. Siapa tau, si petapa bisa memberikan nasihat yang berharga baginya.

“Terima kasih Laba-laba”, kata si Kupu-kupu dengan air mata sembab.

Tempat si petapa yang ditunjukkan oleh si Laba-laba tidaklah dekat. Di bawah lereng gunung Gading. Jauh melewati bukit dan lembah serta hutan belantara yang sangat lebat. Tetapi tekat si Kupu-kupu sudah bulat. Ia berhasrat kuat untuk menemui si petapa. Ia ingin mendapat nasihat darinya.

Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, si Kupu-kupu berjalan melewati lembah, bukit, dan belantara. Panas, dingin, hujan, bahkan duri dan tajamnya batu cadas dan reranting duri tidak ia rasakan. Hanya si petapa yang ada dalam benaknya. Ia ingin segera menemuinya.

Setelah berbulan-bulan berpayah-payah, akhirnya si Kupu-kupu pun sampai di tempat si petapa. Segera ia menceritakan apa maksud kedatangannya.

“Eyang, maaf saya datang dari jauh karena ada suatu maksud”, si Kupu-kupu mengatakan kepada si petapa setelah agak lama ia beristirahat.
“Maksud apa gerangan?”, jawab si petapa lembut, syahdu dalam kharisma yang amat sangat.
“Saya ingin berubah”, jelas si Kupu-kupu gugup.
“Maksud kamu? Berubah?” si Petapa heran.
“Betul Eyang. Saya bosan dengan celaan si Pipit tentang keadaan diri saya yang jelek”.
“Semua makhluk itu sama Nak. Tentu ada kelebihan dan kekurangan masing-masing”. Si Pertapa mencoba menjelaskan. Tapi tekat si Kupu-kupu terlalu kuat. Ia ingin berubah. Tidak hanya berupa ulat yang tidak berdaya. Tetapi, ia ingin mempunyai kelebihan yang bisa ia banggakan.

Akhirnya, si Pertapa memberikan nasihat. Dari olah batinnya, si Pertapa mendapat wangsit, bahwa jika ingin berubah, maka Kupu-kupu harus bertapa. Maka ia memerintahkan kepada si Kupu-kupu untuk bertapa. Dengan bertapa, ia akan menjadi apa yang dia inginkan. Kupu-kupu sangat gembira. Ia pun akan melaksanakan apa yang diperintahkan sang Pertapa.

Sebelum memulai bertapa, si Kupu-kupu membayangkan akan menjadi seperti apa. Ia sebenarnya tidak tau, apa yang ia inginkan. Tapi sedetik sebelum mulai bertapa ia melihat pelangi. Sungguh suatu susunan warna yang begitu indah. Dalam hati si Kupu-kupu berkata,

“Andai tubuhku seindah pelangi”.

Pertapaan pun dimulai. Mula-mula ia berdiam di suatu tempat yang telah dipilih sebelumnya. Sehari dua hari si Kupu-kupu tidak makan dan tidak minum. Ia tahan lapar dan dahaga demi sebuah cita-cita. Ingin menjadi makhluk yang indah, yang tidak lagi dicemooh oleh si Pipit. Burung yang selalu menyakitinya.
Satu minggu kemudian si Kupu-kupu sudah mulai kelihatan perubahannya. Ia telah berubah menjadi kepompong. Tapi perubahan ini tidak ia rasakan. Ia khusyuk dalam pertapaannya. Dari bentuk ulat sudah berubah menjadi kopompong. Tetapi perubahan ini belum selesai. Ia masih terus bermetaforfosis yang pada akhirnya ia pun berubah menjadi Kupu-kupu yang indah bagai warna pelangi.

Setelah menjadi Kupu-kupu yang indah, ia merasa terlahir kembali. Ia memangut-mangutkan wajahnya di sebuah telaga yang bening. Ia pun merasa takjub dengan keadaan dirinya. Lain dari sebelumnya. Sungguh sesuatu yang sangat luar biasa. Ia pun ingin menemui si Pertapa dan akan mengucapkan terima kasih atas nasihatnya.

“Eyang,...Eyang,...”. panggil si Kupu-kupu indah berkali-kali. Tetapi yang dipanggil sudah pergi. Pergi entah kemana. Si Kupu-kupu pun merasa berhutang budi.

Dengan kepakan sayapnya yang gemulai, si Kupu-kupu indah terbang pulang ke asalnya. Pertama-tama ia menemui teman karibnya si Laba-laba. Ia ceritakan bahwa ia dalam perjalanan panjangnya telah menemui si Pertapa. Dan hasilnya,

“Coba lihat sendiri. Tubuhku indah kan?”, kata Kupu-kupu sumbringah. Si Laba-laba pun takjub dengan perubahan temannya yang luar biasa ini.

Dunia telah berubah. Kupu-kupu yang semula berbentuk ulat dan tidak punya kelebihan apa-apa, kini telah menjadi seekor Kupu-kupu yang cantik dan indah. Dan si Pipit pun menyadari, bahwaa selama ini perbuatannya terhadap Kupu-kupu tidak baik. Akhirya ia minta maaf kepada Kupu-kupu.

Benih-benih cinta di hati Pipit terhadap Kupu-kupu mulai bersemi. Tidak diketahui, apakah cinta si Pipit one side love, ataukah si Kupu-kupu indah bersayap pelangi menerinya dengan setulus hati. Adakah yang mengerti?
***